
Ismail masuk dan melihat Zayn yang sedang asik berbincang bersama Rey. Baru kali ini lelaki itu melihat kedekatan Zayn dengan orang lain.
Menyadari tatapan Ismail yang seolah bingung, Rey pun memanggil Ismail untuk duduk di sebelahnya. Rey pun menjabat tangan Ismail.
"Jangan heran, Bro. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan Zayn, makanya kami bisa seakrab ini." jelas Rey sambil merangkul bahu kecil Zayn.
"Zayn pernah liburan bersama Mama dan Om Rey." ungkap anak laki-laki itu.
Ismail menatap ketiganya dengan tatapan bingung. Sementara Kia dan Rey pun tersenyum. Kemudian Kia siap-siap untuk menjelaskan.
"Aku pernah mengajak Zayn pergi berlibur saat kamu mengatakan akan cerai denganku. Saat itu, kami nggak sengaja bertemu Rey. Dan akhirnya kami menikmati liburan itu bersama-sama." jelas Kia dan mendapat anggukkan oleh Ismail.
"Aku nggak masalah soal itu. Maafkan aku yang sudah menyusahkan kalian selama ini." ujar Ismail dengan tulus.
"Nggak apa-apa, semua sudah berlalu." sahut Kia dengan tersenyum.
"Zayn senang yaa, bermain bersama Om Rey?" celetuk Asih membuat semua mata tertuju pada Zayn dan Rey yang sedang bersenda gurau.
"Om Rey punya selera yang sama dengan Zayn, makanya Zayn suka sama Om Rey." sahut anak laki-laki itu dengan polos.
"Oh, ya? Apa itu?" tanya Asih memancing.
"Sama-sama suka dengan Mama." sahut Zayn membuat semua orang melongo kaget akan jawaban anak laki-laki itu.
Sementara itu, Rey hanya bisa memijat pangkal hidungnya. "Ini pasti kerjaan Asih, awas aja kamu nanti!" decak Rey dalam hati.
Melihat beberapa orang merasakan canggung, Ismail tahu benar apa maksud percakapan mereka tadi. Segera Ismail membuka suara guna menghilangkan kecanggungan tersebut.
"Zayn, malam ini kamu boleh ikut dengan Mama Kia." ujar Ismail membuat hati Zayn berteriak hore.
"Benarkah? Zayn boleh ikut Mama?" tanya Zayn lagi untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Terima kasih, Ayah dan Ibu." ucap Zayn memeluk Ismail lalu memeluk Devita.
__ADS_1
"Apa aku nggak salah dengar?" tanya Kia akhirnya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya namun dirinya masih tidak bisa percaya begitu saja.
Devita mengangguk lalu memeluk Kia. Sudah lama sekali rasanya mereka berselisih paham hingga membuat hubungan keduanya renggang.
"Aku sudah berbicara dengan Ismail. Dia mengikuti semua perkataanku dan aku memilih untuk bersikap adil. Aku juga sekarang sadar, kalau tindakanku selama ini sudah cukup membuat Zayn terkekang. Aku nggak mau melakukan hal yang sama lagi. Cukup di masa lalu saja aku melakukan hal bodoh, sudah cukup aku di hantui rasa menyesal." ungkap Devita panjang lebar.
Pelukan mereka terlerai, Devita pun mensejajarkan tingginya dengan Zayn. Mengelus kepala anak itu dengan lembut sambil berkata, "Jangan nakal ya selama tinggal sama Mama Kia." petuahnya sebelum pergi. Zayn mengangguk lalu mencium tangan Ibu kandungnya itu.
"Aku pulang dulu," pamit Vita.
"Terima kasih, Vita." ucap Kia tulus. Vita mengangguk dan memberi salam. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut semua orang yang ada di sana. Sementara Ismail lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Berhati-hati lah dengan Ibumu. Sebenarnya Zayn bukan pergi karena kabur, Zayn berada di sini karena ulah Ibumu. Dia bisa saja melakukan hal licik lainnya setelah ini." pesan Kia dan di anggukki oleh Vita. Dia sangat yakin dengan pesan Kia, hal itu pasti benar. Bagaimanapun Ibunya memang tidak menyukai Zayn dan Ismail. Bisa saja dia merencanakan hal lain lagi setelah membuat Zayn pergi.
"Bagaimana, apa semua sudah membaik?" tanya Ismail saat istrinya masuk ke dalam mobil.
"Maksudnya apa?" tanya Ismail sembari melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah.
"Ibu yang sudah mengusir Zayn." lirik Vita berkata, bagaimanapun dia sangat malu memiliki seorang Ibu yang tidak mempunyai hati dan rasa kasihan.
"Memang benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah hal yang pernah aku lakukan dulu kepada Zayn, anak yang aku kandung selama sembilan bulan lamanya." sesal Vita sembari mulai menangis.
Ismail menepikan mobilnya, memeluk erat Istrinya itu agar tenang. Setelah agak tenang, Vita pun menggenggam tangan Ismail.
"Maafkan segala kekhilafan dan semua kesalahan yang aku perbuat selama ini. Aku mohon ridhoi makan dan tempat tinggal yang aku nikmati, semua fasilitas maupun hal yang aku gunakan dari ujung rambut sampai ujung kuku." ujar Vita kemudian mencium punggung tangan itu.
"Aku halalkan semuanya, Sayang. Aku juga minta maaf belum memberikan segalanya dengan cara yang baik. Aku mohon terima diriku yang serba kekurangan ini. Aku akan belajar untuk menjadi lebih baik lagi." ujar Ismail juga mencium tangan wanita itu.
"Aku juga mohon maaf atas kesalahan Ibuku. Untuk sekarang, aku ingin berbakti sekali lagi untuknya dengan menyadarkan dan memberikannya pelajaran, agar Ibu bisa menjadi seorang wanita yang baik. Aku nggak mau Ibu berlarut-larut dalam rencana jahatnya." Vita menatap mata Ismail, memohon agar memberi maaf dan membantunya lagi.
"Aku sudah maafkan dan aku akan menuruti semua permintaanmu." sahut Ismail dengan tersenyum.
__ADS_1
Lama berbincang dan larut dalam drama kehidupan di dalam mobilnya, mereka pun tertawa saat sebuah mobil melintas dan meneriaki mereka.
"Woy, kalau pacaran jangan di pinggir jalan dong!" teriak pengendara tersebut.
"Sudah, ayo kita pulang. Sebelum polisi menggebrek kita lagi." ucap Vita sambil terkekeh mengingat peristiwa dulu saat mereka berpelukan di dalam mobil setelah hampir terjadi kecelakaan.
"Let's go!" ujar Ismail memacu mobilnya menuju rumah tempat mereka bernaung.
***
Dalam ruang kamar yang sudah di bersihkan oleh Asih, Kia dan Zayn duduk berdua di pinggiran ranjang.
"Akhirnya kita bisa tidur bersama!" teriak Kia bersemangat.
"Mama harus bernyanyi sebelum Zayn tidur." titah anak laki-laki itu.
"Siap bos!" Kia pun memposisikan tangannya seperti sedang hormat. Mereka berdua pun tertawa.
Sementara itu di ruang tamu, Asih dah Rey masih duduk di sana. Hening, membuat keduanya merasa bosan.
"Pulang lah, Kak. Mereka nggak akan keluar kalau sudah asik berdua." usir Asih secara tidak langsung.
"Ya, aku tau. Tapi apa kamu nggak kangen dengan Kakakmu yang tampan ini?" goda Rey memainkan alisnya sehingga Asih memutar bola matanya.
"Cih, bukan kangen. Aku malah merasa malas melihat wajah Kakak." decak Asih sambil mencebikkan bibir.
"Kapan kamu ada niat untuk pulang?" tanya Rey dengan wajah serius.
"Aku lelah di kekang oleh Ayah, Kak. Lebih baik aku bekerja di rumah Kia menjadi Asisten Rumah Tangga daripada harus belajar Hukum bersama Ayah." ucapnya kesal.
"Ayah nggak akan mendesakmu lagi. Karena sudah ada Kakak yang menggantikanmu." sahut Rey sembari menepuk dadanya dengan sedikit sombong karena menunjukkan dirinya yang kini membantu sang adik.
"Paling-paling setelah aku pulang, Ayah akan menyuruhku menikah."
__ADS_1