
Pasti ada hikmah atas apa yang telah terjadi padamu. Kamu tidak perlu memahaminya hari ini. Kamu akan memahaminya sendiri nanti.
***
"Kenapa nasib kita malang begini. Makin lama makin tertekan aja kerja di sini." keluh beberapa karyawan saat mereka pergi ke dapur perusahaan untuk menyeduh kopi.
"Benar. Aku pernah dengar dari mantan pekerja di sini, dulu mendiang ayahnya adalah orang yang sabar dalam menghadapi karyawannya. Bahkan sampai memberi bimbingan langsung ke mereka. Berbeda dengan Ibu Kia yang kejam, sampai mereka memilih resign daripada tertekan." jelas salah satu karyawan yang dulu pernah mendapat rekomendasi perusahaan dari mereka yang sudah resign.
"Wah, wajar aja kalau banyak yang resign. Aku sendiri sebenarnya nggak tahan, tapi aku tau rasanya mencari pekerjaan itu susah." Riska berkata lirih.
"Sabar ya, Riska. Semoga dapat hidayah tu orang. Menyangkut orang tua aja dia nggak kasih toleransi. Apalagi soal lain. Aku sampai suudzon 'loh sama Ibu Kia. Apa jangan-jangan ayahnya tertekan karena menghadapi sikapnya yang keras kepala itu, terus tiba-tiba serangan jantung lalu meninggal dunia." celetuk James yang baru selesai menyeduh segelas kopi hitam.
"Bener. Nggak lama Pak Ismail tuh korban selanjutnya. Kalian liat sendiri 'kan, bagaimana perlakuan Ibu Kia ke Pak Ismail. Kasihan di perlakukan layaknya orang lain, bukan sebagai suami. Apa dulu Pak Ismail nggak punya pilihan lain apa, selain Ibu Kia." sambut yang lain.
"Husstt ... Nggak baik suudzon kaya gitu sama orang. Apa yang kita fikirkan belum tentu benar. Siapa tau memang lagi banyak masalah pekerjaan jadi nggak bisa berfikir tenang dan malah jadi emosian. Sebaiknya kita Do'akan aja, semoga Ibu Kia hatinya segera melembut." sahut Riska dan di aamiinkan oleh teman-temannya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang mendengarkan pembahasan mereka dari awal hingga akhir dengan kepala mendidih. Segera wanita itu kembali ke ruangannya, mengambil tas selempang kecil yang hanya muat ponsel dan beberapa printilan lainnya kemudian bergegas keluar setelah membubarkan semua karyawan.
Semua merasa bahagia, sudah cukup lelah hati dan fisik menanti kata "silahkan pulang" dari mulut Zaskia.
Kia duduk di dalam mobil, termenung memikirkan apa yang salah dengannya. Namun ego tetaplah ego. Siapapun itu, jika hanya merasa diri sendiri benar, walau semua orang menyalahkan baginya tetaplah benar.
Kia membuka sosial media dalam ponselnya berniat menghilangkan penat di kepalanya, namun sialnya adalah yang muncul rata-rata postingan tentang ceramah masalah rumah tangga. Bahkan sampai salah satunya adalah menjelaskan hukum seorang istri yang tidak menghormati suami.
"Seorang istri tidak akan masuk surga apabila terhadap suaminya dia tidak hormat. Bahkan tega mempermalukan di khalayak ramai hingga suaminya diam menahan diri karena sakit hati ... " Kia membanting ponselnya, kemudian menyalakan mesin mobilnya lalu melaju meninggalkan halaman perusahaan.
"Semua orang bahkan menghakimi ku. Aarrgghhh!!" Kia memukul-mukul stir mobilnya.
__ADS_1
***
Di sebuah rumah yang baru saja selesai di bangun, bau cat masih menusuk rongga penciuman. Namun beberapa perabot rumah sudah tertata rapi di sana.
"Ini cantik sekali, bu, rumahnya. Mewah dan cocok untuk anak muda yang suka tampilan estetik." ujar Bella memuji.
"Rumah ini memiliki tiga kamar. Dua di sebelah sana, dan satunya di lantai dua atas sana. Ini dapurnya, di sana ruang kerja. Dan di sini ruang keluarga." Sales itu menjelaskan secara rinci dan menunjukkan ruang yang di maksud.
"Dari sini kalian bisa melihat pemandangan secara keseluruhan." jelasnya ketika berada di balkon lantai dua.
"Ini adalah rumah terbaik yang kami punya. Bagian dalam oke, cukup luas. Apalagi kalau di gabung dengan area luar, kira-kira sekitar lima ratus meter persegi luasnya. Cukup besar bukan?" tambahnya lagi.
"Woow, benar! Luas sekali memang." sahut wanita paruh baya yang wajahnya masih terlihat sangat cantik dan muda untuk orang seusianya.
"Jadi ibu. Apakah Ibu tertarik membeli rumah ini?" tanya sales tersebut
"Aih aih, kakak? Sejak kapan Ibu memaksa orang untuk memanggil ibu dengan sebutan kakak?" Sanggah Bella dengan memutar bola mata menampakkan wajah jengah.
"Bodoh! Dengarkan aku baik-baik. Untuk apa perawatan mahal-mahal kalau masih ada yang memanggilku Ibu. Aku perlu di hormati juga dong." seru nya masih tak terima.
"Baik lah. Terserah saja. Intinya aku mau rumah ini." Bella tak perduli. Namun ibunya menarik tangan Bella menjauh dari sales itu.
"Dengar, rumah ini pasti mahal. Ayo kita kembali." tuturnya membuat Bella memicingkan mata.
"Ehm.. Berapa harga rumah ini?" tanyanya pada sales rumah itu dengan mencebik sombong.
"Harganya murah, cuma 3M kok Kakak yang cantik." seketika mata mereka berdua membulat dengan mulut yang menganga lebar.
__ADS_1
"Apa? Hahaha. Murahnya! Cih, aku nggak sudi beli rumah murahan. Bye, kami mau cari yang lain." Bella dan Ibunya pun pergi meninggalkan sales rumah yang sedikit terkejut.
"DASAR SOMBONG!" pekiknya setelah Bella dan ibunya pergi.
Tak lama setelahnya, Bella dan Ibunya sudah tiba di perkarangan rumah miliknya. Bella yang kesal pun langsung keluar dan membanting pintu mobil milik Ibunya.
"Dasar anak kurang ajar! Kamu kira mobilku ini barang rongsokan yang semaunya kamu bisa perlakukan!" bentak Ibunya yang bernama Wati.
"Biar. Mobil tua, yang sebentar lagi jadi rongsokan juga." celetuk Bella lalu merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Heh, mending kamu telpon laki-laki nggak berguna itu. Katakan padanya, kita habis melihat-lihat rumah baru. Oh, iya sebutkan sekalian dengan harga rumah itu." titahnya.
"Aiss, laki-laki mana pula?" Bella tak mengerti siapa yang di maksudnya.
"Siapa lagi kalau bukan menantuku yang pelit itu!" pekiknya dengan malas.
Bella dengan patuh mengusap layar ponselnya, mencari nama yang tertera di deretan kontak miliknya kemudian menekan kata 'Panggil'.
Tuuttt ... Tuuuttt ... Bunyi tanda terhubung. Beberapa detik menunggu tak ada jawaban hingga terdengar suara wanita yang mengatakan bahwa nomor yang di tuju tidak menjawab.
"Nggak ada jawaban, Bu." kata Bella setelah memutuskan panggilan tersebut.
"Haish, aku tau dia itu takut kalau aku minta uangnya. Makanya dia nggak mau angkat. Orang lain bilang menantuku kaya. Tapi mereka nggak tau kalau dia itu pelit. Hah! Sia-sia menikahkan dia dengan anakku! Malah mendapat menantu nggak berguna!" keluh kesah yang tak ada habisnya di utarakan di hadapan Bella.
"Panjangnya ... Ibu lagi hapal teks dialog drama?" celetuk Bella.
"Iya! Ini monolog tentang mertua yang tak di hargai!" tekannya. Membuat Bella menepuk bahu Ibunya lalu berkata, "Semoga Ibu segera tenang di alam sana." cibirnya dengan wajah pura-pura sedih.
__ADS_1
"Berani-beraninya kamu ngatain Ibumu sendiri! Kalau kamu masih kecil, sudah ku masukkan lagi ke dalam rahimku!" berang Wati kepada Bella. Bella pun bergidik lalu meninggalkan Ibunya yang masih emosi.