Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 41


__ADS_3

Sejak pagi, Zayn uring-uringan, kemudian bermain sendiri dalam kamarnya. Bosan memghampiri Zayn saat ini. Dia pun bergegas turun, kebetulan tak ada orang dalam rumahnya, entah kemana ayah dan ibu serta nenek dan aunty nya. Zayn pun membuka pintu belakang dan bermain di halaman rumah.


Tak lama kemudian salah satu tetangga datang menghampiri Zayn, menanyakan apa yang menjadi beban pikiran orang itu selama ini.


"Hai, Zayn sendirian aja? Ibu Kia kemana, lama tante nggak melihat dia." tanya Ibu itu berbasa-basi.


"Mama sudah di husir nenek." sahut Zayn dengan wajah datar.


"Nenek? Nenek yang mana, Zayn?" tanyanya lagi.


"Nenek, ibunya aunty Vita." jawab anak laki-laki itu dengan polosnya.


"Astaghfirullahal'adzim, apa yang terjadi dengan keluarga mereka, ya." Ibu itu bertanya-tanya dalam hati. Hendak mengorek informasi namun semua itu ia telan dalam dirinya sendiri.


"Tante, bolehkah Zayn minta tolong?" ujar Zayn dengan wajah polosnya yang memelas.


"Boleh, bilang saja sama tante apa yang Zayn inginkan." sahut Ibu itu dengan tersenyum, rasa penasarannya mungkin bisa terjawab setelah ini.


***


Rey menelepon Kia memberitahukan bahwa dirinya akan bertemu Ismail hari ini untuk memberi surat panggilan sebelum menyerahkan kasus ke Hakim pengadilan.


"Surat panggilan untuk apa?" tanya Kia.


"Surat panggilan untuk kasus penuntutan. Tuntutan untuk pengembalian Zayn dan perusahaanmu." ujar Rey sembari mengancing kemeja yang di kenakannya karena dirinya baru berpakaian seusai mandi.


"Penuntutan untuk mengembalikan itu semua, apakah lelaki itu mau?" tanya Kia sambil menghela nafas. Mati-matian laki-laki itu menipu Kia demi mendapatkan semua ini, apakah mungkin dirinya mau mengembalikannya secara suka rela? Begitu pikir Kia.


"Entahlah, terus terang aku nggak begitu yakin. Karena Hakim pasti memasang strategi dan persiapan yang matang."

__ADS_1


"Namun kita hanya bisa bertindak seperti ini saat mereka merencanakan ide gilanya, kita beri ancaman terlebih dahulu." tutur Rey dan Kia mengangguk mengerti.


"Namun kamu jangan khawatir, Kia. Jika mereka bersikeras nggak mau mengembalikannya, kita akan membawa kasus ini ke pengadilan, aku akan membawa bukti yang lebih bisa membuat mereka mati kutu." tambah Rey sementara Kia terdengar menghela nafas panjang.


"Sudah sering aku katakan, aku nggak butuh harta apapun, sekarang aku hanya ingin Zayn yang mereka kembalikan." Kia menegaskan kembali keinginannya.


"Aku akan berusaha, Kia. Berusaha untuk semuanya kembali lagi kepadamu." sahut Rey setelah itu mengakhiri panggilan itu.


Tiba-tiba ponsel Kia berdering kembali, sebuah nomor asing membuatnya mengerutkan kening, lama dia menimbang apakah harus mengangkat atau tidak. Kedua kalinya berdering, Kia pun mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Assalamualaikum." Kia mengawali pembicaraan.


"Waalaikumsalam, Mama. Ini Zayn." sebuah suara dan nama yang selama ini dia rindukan pun terdengar saat ini, Kia langsung terperanjat dari duduknya. Matanya kembali menggenang, namun senyumnya mengembang saat ini.


"Zayn, benarkah ini Zayn anak mama?" tanya Kia untuk meyakinkan.


"Maaf, Ibu Kia. Sebenarnya apa yang terjadi? Bolehkah aku bertanya sedikit hal yang menjadi privasi ini?" tanya Ibu itu.


"Apa aku boleh berkunjung ke rumah Ibu? Biar aku jelaskan di sana. Tapi bisakah aku meminta tolong untuk menahan Zayn di rumahmu? Aku sangat merindukannya." pinta Kia kepada Ibu itu.


"Boleh, datanglah sekarang ke rumahku. Aku takut nanti ada yang melihat, Zayn bilang bahwa nenek dan ibunya sangat mengekangnya sampai-sampai anak ini nggak masuk sekolah lagi." jelas Ibu itu.


"Astaghfirullahal'adzim, tega sekali mereka. Baiklah tunggu aku." Kia pun menutup panggilan tersebut dan segera bersiap untuk pergi ke sana.


***


Riska berangkat menuju kantor, sepanjang perjalanan dirinya termenung, harus dengan cara apakah dirinya membantu mantan pemimpin perusahaannya itu.


Otaknya kini bak sebuah layar yang memutar adegan menyakitkan itu, air mata seorang perempuan yang mengalir karena pengkhianatan suami dan sahabatnya.

__ADS_1


Sesampainya di perusahaan dengan pikiran linglung dan langkah gontainya dia berjalan masuk. Mengitari seluruh perusahaan berharap ada suatu hal yang bisa membantunya.


Hari masih pagi, sejak berganti pemimpin, jam masuk kerja pun menjadi lebih siang sehingga saat ini tak banyak orang di kantor, dia duduk di tempat duduknya dengan layar komputer di atas meja yang belum menyala. Riska melihat bayangan sebuah benda di pojok atas dalam layar komputer yang masih mati itu.


Gadis itu tolehkan pandangannya pada benda itu, sebuah cctv. Ya, sebuah benda yang mungkin bisa dia gunakan untuk membantu wanita yang menjadi korban pengkhianatan itu.


Gadis itu menganggukkan  kepalanya, meyakini jika cctv itu adalah benda yang bisa dia gunakan untuk menolong Zaskia nanti.


Tanpa ragu, Riska pergi menuju ruang khusus komputer yang menampilkan semua titik tertentu yang di hasilkan oleh puluhan cctv, tak terkecuali ruangan Ismail saat ini.


Gadis itu sempat mengunci ruangan itu dari dalam sebelum mengotak-atik komputer di sana. Beruntung dirinya pandai dalam urusan komputer, beberapa menit kemudian komputer itu menampilkan apa yang dia cari.


Hakim, Wati beserta menantunya, Ismail, sedang berbincang serius dalam ruangannya. Kejadian ini adalah beberapa hari sebelum Ismail memecatnya dari perusahaan itu.


"Perusahaan ini bukan milikku, kalian tau? Sahamku pun pemberian mendiang ayah mertuaku. Itu pun bukan saham terbesar di perusahaan ini." ujar Ismail mengawali pengorekkan cctv hari ini.


"Jangan putus asa! Ingat, setelah kamu resmi bercerai dengannya, kamu bisa saja menyingkirkannya dari perusahaan ini." sahut Wati dengan bahasa tubuh yang berapi-api.


"Siapa bilang aku akan menceraikan Zaskia?" sanggah Ismail.


"Begini, jika kamu nggak bercerai dengannya, aku akan mengambil Devita kembali kepadaku. Jangan harap kamu bisa menyentuh anakku lagi." ancam Wati membuat Ismail mendengus kesal.


"Astaga, Ibu. Untuk apa bercerai dengannya jika kita masih bisa menikmati hartanya?" Ismail memandang jengah Ibu mertuanya.


"Ingat, kalau kamu nggak menceraikannya, bisa saja dia mengetahuinya pernikahan keduamu suatu hari, kamu tau kan resikonya? Mengetahui dirimu bermain cinta di belakangnya membuat dirinya yang lebih dulu menceraikanmu, sementara itu kita akan menjadi gembel jalanan." jelas Wati dengan sangat kesal.


"Maka dari itu, aku dan Hakim ada di hadapanmu ingin membahas rencana yang menguntungkan untuk kita semua." Wati tersenyum menyeringai dan menyuruh Hakim untuk menjelaskan rencananya.


"Pindahkan beberapa sahamnya kepadamu secara berkala, untuk menghindari kecurigaan. Setelah itu terjadi, pecatlah dia dari perusahaan ini. Untuk urusan rumah itu juga, kamu harus mengganti nama kepemilikannya menjadi nama Devita agar menghusirnya nggak begitu sulit." terang Hakim dan di balas senyuman oleh Wati. Sementara itu Ismail memikirkannya dengan ragu, antara ingin dan takut menjadi satu.

__ADS_1


__ADS_2