Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 43


__ADS_3

Usai menyelesaikan pekerjaan nya, Devita memacu mobilnya menuju rumah. Hari sudah sore, dirinya ingin segera pulang dan mengistirahatkan badan.


Di dalam kamarnya, Vita menggeretakkan tubuhnya hingga bunyi tulang-tulangnya terdengar renyah di telinga.


"Ah, rasanya sudah lama aku nggak bermain bersama Zayn, saking sibuknya." Vita pun berniat menghampiri kamar Zayn. 


"Zayn," panggilnya namun Vita tidak melihat keberadaan Zayn.


"Mungkin dia ada di dapur." Vita masih berusaha berpikiran positif dan bergegas menuju dapur. Namun hasilnya masih sama, Zayn tak ada di sana.


Masih dengan pikiran tenang, Vita menyurusi semua ruangan yang ada di sana. Terakhir, wanita itu pun keluar rumah dan mencari Zayn di halaman rumah.


Karena masih tak melihat anak kandungnya itu, pikiran Vita mulai bercampur aduk, hati dan pikirannya mulai kacau. Di remas remas telapak tangannya sendiri sambil terus mencari keberadaan Zayn.


"Zayn!!" teriaknya dengan keras, namun tak ada jawaban dari sang pemilik nama.


Vita mulai menangis, pikirannya kalut hingga tergesa mengambil kunci mobil berniat untuk mengunjungi rumah Zaskia. Hingga di pertengahan jalan dirinya baru tersadar, bahkan tempat tinggal Kia saja dirinya tidak tahu. Ponsel miliknya pun juga tertinggal di kamar. Mau tak mau, akhirnya terpaksa dia harus kembali menuju perusahaan, guna menemui suaminya.


"Zayn nggak ada di rumah!" ujar Vita saat membuka pintu ruangan khusus suaminya.


"Nggak ada bagaimana, bukannya kamu mengurung dia di rumah setiap hari? Mungkin dia lagi bosan, dan sekarang sedang bermain bersama Bella." sahut Ismail tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer di hadapannya.


"Aku serius, Mail. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi nggak ada!"


"Coba kamu cari di sekolah, siapa tau kamu mengantarnya ke sekolah tadi pagi dan kamu lupa." sahut Ismail tidak begitu antusias.


"Nggak mungkin, Mail. Aku nggak pernah mengantar dia ke sekolah beberapa waktu ini." sanggah Vita karena seingatnya memang tidak mengantar Zayn pergi kemana-mana.


"Ini salahmu sendiri, Vita. Jika kamu nggak mengekang Zayn dan membiarkan dia bersekolah, mungkin Zayn nggak akan kabur-kaburan seperti ini!" Ismail mulai naik pitam, pikirannya sedang rumit karena pekerjaan dan sekarang dirinya harus mendengarkan berita kehilangan Zayn.


"Oh, jadi kamu menyalahkan aku!" suara Vita tak kalah tinggi. Perdebatan pun terjadi dalam ruangan itu.


"Iya, ini salahmu! Salahmu karena alasan takut yang nggak mendasar! Salahmu karena terlalu mengekang anak kita!" bentak Ismail.


"Kamu bilang takutku nggak mendasar? Cih, kalau bukan karena istri pertamamu yang menginginkan Zayn, apakah aku akan merasa takut?" Vita berusaha berontak, karena baginya juga ini bukan sepenuhnya salah dirinya.

__ADS_1


"Bisa nggak, jangan membahas orang lain di setiap permasalahan kita?" ujar Ismail seraya menggebrak meja membuat Vita terhentak kaget, namun emosinya wanita itu juga malah ikut tersulut.


"Dia bukan orang lain, dia masih istrimu!" bentaknya.


"Shitt! Terus maumu apa sekarang?" Ismail merenggangkan dasi yang melingkar di lehernya. Sesak, begitulah rasanya hingga tanpa sadar dia mengucapkan kata kasar pertama kalinya.


"Sekarang cari Zayn sampai ketemu. Kalau sampai kamu nggak menemukannya, jangan harap kamu bisa melihatku lagi!" Vita pun keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu.


"Sayang!" teriak Ismail berharap sang istri kembali, namun nihil. Vita sudah terkuasai oleh emosinya.


Dengan dada naik turun karena emosi yang masih membuncah, Ismail mengambil kartu nama milik Rey yang pernah dia tinggalkan dan segera menelepon nomor yang ada di sana.


"Ada apa, Mail?" tanya Rey tanpa basa-basi walau hanya untuk memakai kalimat pembuka obrolan seperti 'Hallo'.


"Kamu punya masalah apa denganku, hah?" teriak Ismail hingga Rey menjauhkan ponsel itu dari daun telinganya.


"Maksudnya apa, Mail, kamu menelepon tiba-tiba dan marah tanpa sebab?" tanya Rey tidak mengerti.


"Jangan pura-pura nggak tau, Rey. Zayn sedang bersama dengan Kia kan sekarang? Bilang padanya, tolong segera kembalikan anakku!" titah Ismail dengan berapi-api, setelah itu langsung mematikan ponselnya tanpa aba-aba.


Di seberang sana, Rey pun mengerutkan keningnya.  Rey sangat tahu bagaimana sifat Kia. Wanita itu tidak akan bertindak gegabah apalagi sampai berani membuat kacau rencana yang dia buat.


***


Di rumah Ibu Lia, Kia sedang mengajarkan pelajaran yang sudah di tinggalkan Zayn beberapa waktu ini. Hari sudah sore dan keduanya pun memutuskan untuk mengakhiri sesi tanya jawab yang sudah mereka lakukan beberapa jam lamanya.


"Jadi bagaimana apa yang mama ajarkan, apakah sudah menempel di otak Zayn?" tanya Kia sambil mencubit gemas pipi Zayn.


"Zayn sudah mengerti, Ma. Terima kasih." ucap Zayn sambil mengecup singkat pipi Kia.


"Betapa bagusnya kalau Zayn hidup bersama dengan Mama terus, Zayn pasti akan terus bersekolah." Zayn tertunduk sedih.


"Mama memang nggak bisa selalu bersama Zayn, tapi kalau Zayn perlu, Zayn boleh meminta Mama datang menjenguk Zayn." ujar Kia membuat Zayn kembali tersenyum.


"Bolehkah aku merepotkan Ibu Lia lagi kedepannya?" tanya Kia dengan pandangan yang teralih ke wajah Ibu Lia.

__ADS_1


"Sudah sepatutnya kita saling membantu, Ibu Kia. Karena jika saya berada di posisi Ibu Kia. Mungkin Ibu Kia akan melakukan hal yang sama seperti saya." sahut Ibu Lia dengan pandangan teduh membuat mata Kia menggenang.


"Terima kasih, Bu Lia. Semoga Allah membalas kebaikanmu." ucap Kia dengan tulus dan Ibu Lia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Perempuan yang waktu itu bilang Zayn ganteng, bagaimana ya sekarang kabarnya?" goda Kia membuat Zayn menutup wajah menggunakan tangan mungilnya.


"Ih Mama. Kan waktu itu Mama sendiri yang nggak mau kalau Zayn punya pacar." ucap Zayn polos sementara Kia dan Ibu Lia pun tertawa bersamaan mendengar kalimat tersebut.


"Zayn tau aja kalau Mama cemburu." sahut Kia mengacak rambut Zayn gemas.


"Kan Zayn sayangnya cuma sama Mama." Zayn pun mengedipkan sebelah matanya.


"Ih, Zayn sudah bisa menggombal ya, sekarang. Mama sampai pangling 'loh, apakah Zayn yang di hadapan Mama ini masih orang yang sama?" ledek Kia membuat Zayn tersipu.


"Ih, Mama. Ini Zayn, anak Mama." sahutnya membuat Kia kembali tertawa.


"Ma, kenapa semua orang di rumah membahas kalau Zayn ini bukan anak Mama? Papa juga memaksa Zayn untuk memanggilnya Aunty Vita dengan sebutan Ibu. Apakah boleh, Ma?" pertanyaan yang membuat raut wajah Kia yang tadinya tersenyum kini menjadi pudar.


"Bo-boleh 'kok, Sayang." sahut Kia dengan ekspresi yang sulit di jelaskan. Wajahnya memang tersenyum namun hatinya terluka.


"Hah, kenapa boleh, Ma?" tanya Zayn karena tak percaya jika jawabannya seperti itu yang akan di dengarnya.


Kia menghela nafas, bagaimana pun sudah waktunya Zayn mengetahui kebenaran bersumber dari dirinya sendiri. Dengan mata terpejam Kia mengucap basmallah terlebih dahulu.


"Karena wanita itu memanglah ibu kandung Zayn, dia yang sudah melahirkan Zayn. Meskipun bukan dia yang membesarkan Zayn, tapi dia benarlah ibu kandung Zayn. Dan Mama hanyalah orang yang membesarkan Zayn dari masih bayi. Paham sekarang, Sayang?" jelas Kia selembut mungkin walau dengan hati yang semakin tersayat.


"Kalau Ibu Vita adalah Ibu kandung Zayn, kenapa bukan dia yang merawat Zayn dari masih bayi?" tanya Zayn membuat Kia kembali menghela nafas. Rasanya memberi tahu anak kecil harus extra bersabar dan mencari banyak jawaban baik agar pikirannya tidak menjadi kotor akibat salah kata.


Tiba-tiba ponsel Kia berdering, Rey yang meneleponnya. Kia pun segera mengangkatnya.


"Hallo, Rey?"


"Kamu di mana? Apa kamu sedang bersama Zayn? Apa kamu sudah kacau, sampai lupa apa yang sudah aku bilang?" Rey segera memberondong pertanyaan.


"Istighfar, Rey. Aku belum bertanya apapun, kamu sudah bertanya bagaikan orang kesetanan." ledek Kia dan Rey semakin mendengkus kesal.

__ADS_1


"Aku serius, Kia." sahutnya lagi seperti orang yang ingin marah.


"Ya, aku bersama Zayn." sahut Kia datar.


__ADS_2