Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 58


__ADS_3

Devita kini tiba di kediaman Asih. Ya, selama ini Kia tinggal bersama Asih dalam mengurus Zayn. Bagaimanapun juga banyak alasan wanita itu memilih tinggal di rumah adik kandung Reyhan itu, salah satunya karena Kia yang tidak pandai memasak.


"Bisa aku bertemu dengan Rey sebentar?" tanya Vita meminta persetujuan Kia.


"Untuk apa kamu meminta ijin dariku terlebih dahulu, Vita. Dia itu bukan siapa-siapa ku." sahut Kia sembari tertawa.


"Aku tahu kalian ada something." celetuk Vita meninggalkan Kia dan pergi ke teras untuk mendatangi Rey berbincang sebentar.


"Boleh aku bicara denganmu?" tanya Vita yang kini sudah berdiri di hadapan Rey.


"Ada apa?" tanya Rey sedikit acuh, wajahnya terlihat datar.


"Aku akan mencabut tuntutan tentang peringatan boleh tidaknya Kia bertemu dengan Zayn." sahut Vita.


"Oh, ya? Apa kamu sudah berdiskusi bersama suamimu?" tanya Rey.


"Sudah, dan dia menyetujui apa yang aku katakan." ujar Vita membuang muka ke sembarang arah.


"Bagus lah kalau begitu." sahut Rey singkat.


"Terima kasih." tambah Rey. Vita pun menatap Rey sembari mengerutkan kening.


"Mengapa kamu berterima kasih?" tanya Vita.


"Terima kasih karena memberi kemudahan untuk Kia bertemu dengan Zayn. Sebenarnya selama ini Kia nggak benar-benar ingin melaporkan kalian ke pengadilan. Dia hanya ingin Zayn yang selalu hadir dalam hidupnya. Dia juga nggak akan menguasai Zayn, karena dia sadar kalau dia itu bukanlah Ibu kandung Zayn. Sebesar itu rasa cintanya kepada anakmu, berbuatlah adil. Bagaimanapun Kia yang sudah membesarkan Zayn setulus hati, tanpa meminta apapun dari kalian." jelas Reyhan membuat air mata Devita menggenang.


"Aku sadar, selama ini aku salah. Hanya saja aku malu untuk mengakuinya. Aku juga ingin meminta maaf kepadamu, Rey." ujar Vita sembari mengusap air mata yang sempat menitik di bawah matanya.


"Untuk?" tanya Rey tidak mengerti.

__ADS_1


"Maaf untuk beberapa tahun yang lalu, tentang diriku yang mengkhianati mu." ungkap Vita.


"Ah, itu ya? Sebenarnya aku nggak pernah mempermasalahkan itu." sahut Rey datar.


"Kenapa?" tanya Vita lagi.


"Karena aku pernah mengungkapkan perasaan pada orang yang salah, dan aku juga nggak mau membuatmu malu, makanya kita bisa menjalin hubungan, itu semua hanyalah kesalahan." jelas Rey sementara Vita memandang lelaki di hadapannya dengan tatapan bingung.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Vita yang tidak mengerti.


"Sebenarnya aku dulu ingin mengungkapkan perasaanku kepada Kia. Waktu itu aku mencari nomor telepon Kia, dan temanku malah memberi nomormu. Dan saat itu aku langsung menghubungimu untuk kita bertemu, aku nggak begitu melihat wajahmu, aku langsung mengungkapkannya begitu saja tanpa meneliti dulu siapa wanita di hadapanku, kamu ingat 'kan seberapa kaget wajahku saat kamu menerima pernyataan cinta dariku?" tanya Rey dan Vita pun mengingat-ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Ah, iya. Aku saat itu juga bingung. Kamu mengungkapkan perasaanmu tanpa memandang wajahku, aku pikir kamu malu melihat wajaku. Ah, ternyata aku salah sangka, kamu malu untuk melihat Kia. Ternyata hubungan kita berawal dari kesalah pahaman." ujar Vita datar karena baru mengetahui kebenaran.


"Ternyata takdir sudah tersusun sedemikian rupa, membuat hidup kita seperti terombang ambing deburan ombak dan akhirnya kembali ke tepian saat berhasil menghadapinya." Rey berujar seraya menghela nafas.


"Apa Ismail memperlakukanmu dengan baik." tanya Rey akhirnya setelah mereka berdiam beberapa saat.


"Apa Ismail nggak mau mengesahkan pernikahan kalian? Kenapa selama ini kamu nggak protes kepadanya." Rey bertanya yang sebenarnya menyindir.


"Dulu Ismail hendak melakukan itu, tapi aku terlalu takut menghadapi kenyataan. Aku akhirnya menolak." sahut Vita.


"Kalau sekarang?"


"Aku akan mengikuti apa katanya. Walau sebenarnya aku belum begitu cinta kepadanya, tetapi akhir-akhir ini aku mulai menyadari cintanya untukku begitu dalam, sampai-sampai dia menjadi salah langkah karena hasutan Ibuku." ujar Vita dan Rey memanggut-manggutkan kepala.


"Ya kamu benar, Ibumu memang orang yang seperti itu bahkan Ibumu pernah mengata-ngataiku karena tidak menyukaiku yang miskin." Rey tertawa mengingat-ingat kejamnya sosok perempuan yang melahirkan Vita.


"Ya, begitulah. Sampai sekarang wanita itu nggak berubah, malah semakin berulah. Sekarang aku nggak tau harus apa. Aku sampai mengusirnya dari rumah karena melihatnya hanya akan membuatku marah." ungkap Vita.

__ADS_1


"Semua itu percuma, jika dia masih memiliki patner seperti Hakim." kata Rey menghela nafas.


"Memangnya Hakim orang yang seperti apa?" tanya Vita yang mulai duduk di seberang Rey karena dia rasa pembahasan ini sangatlah penting.


"Hakim nggak akan berhenti sampai semua yang dia inginkan tercapai. Aku yakin, mereka bersekongkol bukan hanya untuk menjauhkan Kia dengan Ismail. Tapi memang ada rencana lain yang membuat mereka harus melakukan ini." jelas Rey.


"Aku yakin, ini masalah harta dan kepemimpinan di perusahaan milik mendiang Ayah Kia." tebak Vita.


"Kamu benar, karena Hakim yang memberi ide untuk memindahkan semua saham Kia menjadi nama Ismail, nama rumah yang menjadi kepemilikanmu dan juga tentang proses perceraian yang harus segera di lakukan." Rey mengangguk saat menyusun semua teka teki tentang semua yang sedang mereka hadapi.


"Sekarang aku juga yakin, Ibuku nggak akan tinggal diam. Apalagi aku mengusirnya dari rumah. Dia semakin bebas untuk bertemu Hakim." Vita menghela nafasnya.


"Andai kita punya bukti untuk membuat mereka berhenti melalukan kejahatan lebih banyak lagi." lirih Vita bergumam.


"Aku punya buktinya." tiba-tiba Kia datang mendekati mereka berdua.


Rey membulatkan matanya dah menatap Vita, Vita yang paham seakan bisa berbicara secara batin, "Sejak kapan Kia ada di sana, apa dia mendengar dari awal atau setelah membahas tentang Ibumu?" tanya Rey dengan tatapan mata saja. Vita pun menggelengkan kepala dan mengangkat kedua bahunya sedikit, Rey malah menjadi panik.


"Bukti tentang apa?" tanya Vita agar tidak membuat Rey canggung.


"Tentang kejahatan Ibumu dan juga Hakim." Kia menyodorkan ponselnya. Semalam Kia sempat melihat isi dari flashdisk pemberian Riska dan juga Riska mengirimkan rekaman yang dia punya saat di cafe.


Vita pun meraih ponsel Kia, memutar semua rekaman yang ada di ponsel itu dan meletakkannya di atas meja agar Rey juga dapat melihat.


Vita tercengang bukan main melihat Ibunya sudah seperti pejabat licik yang biasa muncul dalam serial TV.


"Kita nggak bisa menghukum Hakim sendirian jika Ibumu juga terlibat dengan permainan Hakim." ujar Rey memijat pelipisnya. Dirinya tidak mungkin 'kan membuat Ibunya Vita mendekam di penjara?


"Hukumlah mereka semua, Ibuku juga pantas di berikan hukuman." ujar Vita dengan suara yang terdengar tegas.

__ADS_1


"Hah?" Rey dan Kia terkejut bersamaan, bingung dengan keputusan Vita yang malah menyuruh untuk menghukum Ibunya juga.


__ADS_2