Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 27


__ADS_3

Merasa rindu yang sudah menggebu, Kia menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya menuju rumah lamanya yang sudah terampas, dia sangat ingin menemui Zayn.


Sesampainya di sana, halaman rumah yang sangat sepi, bahkan pintu tertutup rapat. Kia berinisiatif untuk mengetuk pintu.


"Zayn! Mbak Asih!" teriaknya sambil mengetuk pintu dengan keras.


Mendengar namanya di panggil  Zayn terbangun dan menuruni anak tangga menuju sumber suara wanita yang amat sangat dia rindukan.


Berbeda dengan Zayn yang sangat bahagia, justru Vita yang sedang berada di dapur pun segera mengecek dan mengunci pintu dengan ketakutan. Melihat itu, Zayn pun berteriak.


"Kenapa Aunty malah mengunci pintu? Biarkan Mama masuk!" Zayn mencoba mengambil kunci yang sudah Vita cabut dari tempatnya.


"Jangan keluar, ya Sayang." Vita menahan Zayn.


"Zayn mau ketemu sama Mama!" Zayn berontak menuju pintu sedangkan Vita malah menggendong Zayn membawanya kembali ke kamar.


"Zayn, ini Mama, Nak. Mama rindu sama Zayn!" teriak Kia dari luar hingga berteriak mengarahkan suaranya ke jendela kamar Zayn.


Zayn berlari ke arah jendela, melihat wanita yang merawatnya sejak bayi sedang menangis meneriakkan namanya. Vita malah menarik Zayn dan mencoba menutup tirai jendela, hingga Zayn kembali memberontak menarik tirai jendela kamarnya hingga terlepas dari balok rel tirai tersebut.


Melihat Zayn yang di perlakukan kasar, Kia mengepalkan tangan, karena merasa sangat tidak terima. Emosinya mulai mengepul di ubun-ubun kepala.


"Wanita kurang ajar! Kau apakan anakku? Berani-beraninya kamu bersikap kasar padanya, aku yang merawatnya nggak pernah sedikitpun memperlakukannya seperti itu!" teriak Kia dari bawah hingga membuat Vita melepas cengkraman tangannya dan Zayn pun berlari ke arah jendela itu.


"Mama! Zayn kangen sama Mama!" luruh air mata anak laki-laki itu memandang Sang Mama yang terhalang jendela dan jarak. Ingin sekali memeluk namun Zayn tak bisa apa-apa.


"Zayn, Mama juga kangen sama kamu, Sayang. Beritahu Mama jika wanita jahat itu memperlakukanmu kasar, Mama akan mengambilmu apapun caranya!" teriak Kia lagi, suaranya mulai terdengar serak sekarang.


Zayn memutar otak bagaimana caranya untuk bertemu dengan Kia. Dia pun memukul tangan Vita dengan kuat hingga wanita itu mengaduh kesakitan hingga sebuah kunci terjatuh dari genggamannya. Selagi ada kesempatan,  Zayn mengambil kunci tersebut dan menuruni tangga dengan cepat membuka pintu menemui wanita yang sudah Zayn anggap ibu kandungnya sendiri.


"Mama!" Zayn berlari keluar dan memeluk pinggang Kia. Kia pun berjongkok untuk memeluk erat anak laki-laki yang sangat amat dia sayangi itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mama bisa bertemu denganmu, Nak. Mama rindu sekali." Kia pun mencium seluruh wajah Zayn tanpa terkecuali untuk menyalurkan rasa sayang dan rindunya.


"Mama jangan tinggalkan Zayn lagi, ya." air mata Zayn semakin tak terbendung, begitu juga dengan Kia. Mereka berdua saling menumpahkan air mata. Tak ada yang tahu bagaimana rasa hati mereka saat ini. Bahkan ibu kandungnya Zayn saja belum tentu tahu seberapa besar rasa cinta Zayn terhadap Kia.


Sementara itu, Vita menelepon Ismail untuk mengadu kalau di rumahnya sekarang ada Kia. Vita merasa kerepotan sendiri karena Bella dan Wati sekarang sedang shoping menghamburkan uang yang sudah dia dapatkan.


"Bagaimana ini, Mail. Kia datang menemui Zayn! Aku takut Kia akan membawa pergi Zayn. Cepatlah pulang." desak Vita dalam rasa ketakutannya.


"Sebisa mungkin kamu halang dia, oke!" sahut Ismail dari seberang sana.


Ismail pun menutup telepon itu dan beranjak dari tempat duduknya. Menghadap ke seluruh pegawainya yang sibuk bekerja dia pun membuka mulutnya.


"Perhatian semua, karena saya sedang ada urusan pribadi di rumah. Jadi saya mohon tetap kerjakan pekerjaan kalian. Oh, iya Riska, kamu handel meeting sore ini, ya." ujar Ismail pandangannya mengarah ke arah Riska.


"Sa-Saya Bos? Ta-Tapi- Saya-" ujar Riska.


"Saya hanya menerima hasil, bukan penolakan!" potong Ismail dan segera meninggalkan seluruh pegawainya yang sedang memaki dalam hati.


"Sabar, Riska. Kita harus bertahan." ujar James menepuk bahu Riska.


"Baiklah." Riska memanyun, wajahnya tertekuk dan sangat tidak bersemangat.


~


"Sayang, kenapa badanmu hangat? Mbak Asih mana?" tanya Kia sembari menyatukan kening mereka.


"Zayn nggak tau, Ma. Tadi Zayn teriak-teriak tapi Mbak Asih nggak menyahut, biasanya Zayn panggil pasti cepat naik menemui Zayn." Zayn mengadu.


"Zayn sudah minum obat?" tanya Kia dengan wajah cemas.


"Sudah, Ma. Mama beberapa hari ini kemana aja? Apa Mama nggak kasihan sama Zayn yang sendirian di rumah?" tanya Zayn lagi dengan memelas.

__ADS_1


"Maafkan Mama, Nak. Mama sedang berusaha untuk nggak akan meninggalkan Zayn lagi. Jadi, Zayn harus sembuh, ya." bujuk Kia membuat Zayn kembali tersenyum.


Melihat kedekatan Zayn dan Kia, Vita terngiang kata-kata yang di ucapkan oleh Mbak Asih. Dia tersadar, saat ini hanyalah Kia yang mampu membuat Zayn tersenyum.


Kini dia bersembunyi dari balik pintu dan memperhatikan mereka lewat jendela.


"Vita! Keluar kamu, pengecut sekali! Berani-beraninya kamu membuat anakku sakit! Perempuan macam apa kamu itu, hah? Mengaku ibu kandung tapi nggak becus merawat Zayn." gertak Kia dari luar, walau suaranya sudah hampir habis, sebisa mungkin dia meneriakkan keluh kesahnya.


Tiba-tiba sebuah mobil masuk halaman dan memarkir sembarang arah. Seorang wanita bersama anak gadisnya turun dari mobil dan mendekat ke arah Kia.


"Hei perempuan! Jangan nekat kamu membawa pergi Zayn dari sini, ya! Pergi kamu dari sini!" titah Wati sembari menatap tajam mata Kia.


"Aku nggak pernah membuat masalah denganmu, tapi kenapa kamu selalu mencari masalah denganku, hah?" Kia menggertakkan gigi hingga otot rahangnya terasa kaku.


"Gali kuburan ibumu jika ingin tau apa masalahku denganmu. Selama kamu nggak punya jawabannya, ku harap terima saja nasibmu sekarang. Jadi, aku mohon pergilah dari sini!" usir Wati dengan mengibas tangannya.


"Aku nggak perduli dengan masalah anda dan harta yang kalian ambil. Aku hanya ingin mengambil Zayn saat ini, dia harta terbesar yang aku miliki saat ini!" Kia menatap sengit.


"Justru karena kamu mengganggapnya harta terbesar, maka semakin pula kami nggak akan membiarkanmu mengambil dia." Wati ingin menarik Zayn, tetapi Zayn malah bersembunyi di balik tubuh Kia, memeluknya dengan erat karena ketakutan.


"Aku yang merawatnya dari kecil, nggak bisakah berterima kasih dengan menyerahkannya padaku?" Kia mencoba bernegoisasi.


"Terima kasih banyak, Zaskia. Tapi aku nggak bisa menyerahkannya begitu saja. Meski kamu membawa kasus ini ke pengadilan, kamu akan kalah!" ledek Wati membuat Kia mengerang karena amarah.


"Apa yang harus aku lakukan agar kalian menyerahkan Zayn padaku?" tanya Zaskia yang tak menyerah.


"Percuma, pertanyaanmu nggak akan pernah mendapatkan jawaban." Wati terus menjawab dengan ketus.


"Kalau begitu aku akan mengambilnya secara paksa!" Zayn semakin mengeratkan pelukannya pada Kia.


"Langkahi dulu mayatku, cantik!" Wati mencoba menghadang.

__ADS_1


"Apa kamu nggak takut Allah mengambil nyawamu dalam keadaan dzolim, belum tentu tanah kubur menerimamu!"


__ADS_2