
"Serahkan saja anak itu pada Kia. Apa lagi yang kamu tunggu, bukannya setelah bercerai kalian akan terbebas darinya?" ujar Wati memberi saran.
"Aku nggak akan menyerahkan Zayn, sampai kapanpun. Jangan pernah mencoba untuk membujukku. Karena aku yang melahirkan Zayn!" sela Vita tak terima.
"Kamu bisa melahirkan anak baru yang lucu-lucu, relakan saja anak itu, bukannya dia pernah kamu buang?" dengan enteng Wati menyahut.
"Ibu!" pekik Vita.
"Terserah kalian, aku sudah menasehati kalian. Silahkan nikmati hidup kalian yang akan terus terusik." Wati melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
"Pasti ada cara lain, Ibu." sela Ismail sambil mencoba memikirkan jalan keluar.
"Kalau ini jalan buntu? Apa harus Ibu yang mengantarkannya langsung ke hadapan Zaskia?" berang wati.
"Apa Ibu pikir dengan menyerahkan Zayn, hidup Ibu akan tenang? Apa Ibu lupa, rumah ini bukan rumah kita yang sebenarnya. Bagaimana jika Zayn besar nanti mengetahui semua kejahatan yang kita lakukan padanya?" tolak Vita.
"Kamu memilih untuk memudahkan proses perceraian ini atau aku yang bertindak?" gertak Wati.
"Ibu cukup!" pekik Vita lagi.
Mendengar suara pertengkaran terus menerus, Zayn menutup telinganya dan menutup kepalanya dengan bantal. Dia merasa ketakutan, bagaimanapun juga selama ini Zayn selalu merasa rumah yang dia tempati dari kecil itu sangat tenang. Mendengar suara Sang Nenek yang terdengar mengejutkan, akhirnya anak laki-laki itu berteriak keras.
"Mama! Zayn takut, Ma. Mama kapan pulang?" mendengar Zayn berteriak, Vita pun menaiki anak tangga tersebut menuju kamar Sang Anak.
"Ada apa, Zayn?" Vita mengusap kepala Zayn yang telinganya masih dia tutup.
"Zayn mau ketemu Mama!" katanya dengan suara serak.
"Kan ada Ibu di sini." sahut Vita.
"Aku mau Mama, bukan Aunty!" jerit Zayn.
"Tapi aku ini Ibu kamu, Sayang! Ibu yang melahirkanmu." sela Vita dengan mata yang menggenang.
"Zayn, panggil dia Ibu!" titah Ismail yang baru saja tiba di kamar itu.
"Tapi Papa!" Zayn memelas.
"Nggak ada tapi-tapian, dia ini Ibu kandung Zayn. Jadi, mulai sekarang, panggil aku dengan sebutan Ayah, dan panggil dia Ibu!" titah Ismail tak ingin di bantah.
"Sudah, biarkan Zayn tenang dulu. Ayo kita kembali ke kamar." Vita bangkit dan menarik lengan Ismail.
"Ayah harap, kamu mendengarkan apa yang Ayah perintahkan. Sekarang Zayn tidur." titah Ismail lagi sebelum meninggalkan Zayn yang masih menangis.
Semenjak saat itu mental Zayn menjadi sedikit terganggu, dia hanya menurut apa yang Ayah, Ibu, dan Neneknya perintahkan karena merasa ketakutan.
***
Sudah beberapa hari berlalu, sudah habis masa nya Kia tinggal di hotel. Tanpa menghubungi Reyhan, wanita itu menggendong tasnya keluar dari hotel yang sudah sepuluh hari dia tinggali. Dengan langkah gontai dia berjalan menyusuri jalan raya tanpa tahu arah.
Hingga Kia berjalan di tempat yang sepi, wanita itu tak menyadari jika sedari tadi ada sepasang lelaki berbonceng menggunakan sepeda motor sedang mengintai pergerakannya.
Saat mendapat kesempatan, lelaki tersebut merampas tas yang di gendongnya dengan brutal, hingga mereka berhasil dan badan Kia terhempas di badan jalan. Kia mengaduh kesakitan saat terbangun, kakinya yang sedikit terluka tak dia hiraukan. Sekuat tenaga Kia berlari mengejar, namun nihil karena para jambret tersebut membawa sepeda motornya melaju dengan kencang.
__ADS_1
Beruntung, ponsel dan dompetnya dia letakkan pada saku celananya. Wanita itu pun mengeluarkan ponselnya dari saku tersebut dan menelepon seseorang, sebelumnya Kia sudah bersembunyi terlebih dahulu takut jika ada jambret lain yang mengintainya.
"Aku di jambret." ujar Kia dengan nada sendu.
"Bagaimana bisa di jambret, memang kamu di mana sekarang?" tanya orang dalam telepon.
"Sudah sepuluh hari aku tinggal di hotel, bukannya aku sudah harus keluar dari sana?" sahut Kia.
"Astaga, Kia. Maafkan aku, aku lupa. Ya sudah, kamu sharelock sekarang aku akan menjemputmu."
"Terima kasih." ucap Kia sebelum memutus panggilan tersebut.
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya orang yang dia tunggu yaitu Rey, sudah tiba di depan Kia yang sedang duduk menunduk di pinggir jalan karena mengantuk.
"Bangun, hobby sekali membuatku khawatir!" ujar Rey mengacak rambut Kia.
"Maaf, aku sudah banyak menyusahkanmu." ujar Kia sambil mendongakkan kepala melihat Rey.
"Aku akan merasa kesusahan saat kamu berbuat sesuatu tanpa memberitahuku! Bagaimana kalau jambret tadi mencelakaimu? Apa kamu pikir aku akan tenang? Bisa nggak, meminta bantuan orang lain sekali saja!" bentak Rey dengan nada tinggi. Rey benar khawatir.
"Maaf, Rey." ucap Kia lirih.
"Sudahlah, aku sedang marah!" Rey menarik Kia untuk masuk dalam mobil.
"Apa yang harus aku lakukan biar kamu nggak marah lagi?" tanya Kia saat keduanya sudah duduk dalam mobil dan Rey mulai menyetir.
"Entahlah." sahut Rey datar sambil fokus berkendara.
"Hemm."
"Jangan marah." bujuk Kia.
"Sedang aku usahakan." ujar Rey malas.
Zaskia tertunduk, memutar otaknya agar Rey mau memaafkannya. Wajahnya terlihat sendu, Kia yang biasanya berwatak keras kini berubah seratus delapan puluh serajat bila dia bersama Reyhan.
Tak berapa lama, mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang terlihat sangat nyaman dengan halaman rumah penuh dengan rumput jepang dan tanaman pagar pucuk merah sebagai pagar halaman rumah tersebut.
"Ayo masuk!" titah Rey setelah mereka turun dari mobil.
"Ini rumah siapa?" tanya Kia sambil memandang rumah tersebut.
"Rumahku atau bukan, tinggal saja sesukamu." ucap Rey masih ketus.
"Rey, aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir, aku janji nggak akan mengulanginya lagi. Tolong, ya, maafkan aku." Kia memohon, menampakkan bulat matanya dengan tatapan iba.
"Ya, baiklah. Aku maafkan." sahut Rey mengalah.
"Benarkah?" binar mata Kia memancar.
"Iya."
"Senyum dulu, baru aku percaya." titah Kia.
__ADS_1
"Kia! Kamu ini, suka sekali ya?" Rey mencubit gemas pipi Kia.
"Sakit." keluh Kia sambil memusut pipinya sendiri.
"Biarin, biar tau rasa." ejek Rey.
"Sekali lagi aku tanya, ini rumahmu?" tanya Kia lagi.
"Bukan, ini rumah teman aku." ujar Rey menjawab.
"Apa nggak masalah aku tinggal di sini." tanya Kia.
"Dia akan merasa bermasalah kalau kamu membakar rumah ini." goda Rey.
"Cih, mending rumahnya buat aku daripada harus di bakar." Kia mencebik.
"Makanya, berhenti mengoceh. Aku baru menyadari kalau kamu ini orangnya sangat cerewet." ujar Rey jujur.
"Aku, cerewet? Heh, jangan asal menuduh!" gerutu Kia.
"Makanya jangan banyak bertanya!" pekik Rey mulai merasa jengkel.
"Terakhir, Rey. Apa dia nggak marah kalau aku mengaduk isi rumahnya?"
"Kia!" pekik Rey sembil membulatkan matanya menatap tajam ke arah wanita itu.
"Ampun bosku!" Kia pun bergeser menjauh dari Rey sambil mengangkat dua jarinya.
"Ayo masuk." kata Rey setelah membuka pintu rumah tersebut.
"Wah, rumah ini terlihat sangat mewah." sahut Kia dengan pandangan mengitari isi rumah tersebut.
"Kamu suka?"
"Jangan di tanya, kalau aku masih kaya raya aku akan membeli rumah ini." sahut Kia sambil mengkhayal.
"Dasar!" Rey mengusap kasar wajah Kia lalu berjalan menuju salah satu pintu di sana.
"Ini kamarmu!" ujarnya sambil membuka pintu tersebut.
Sebuah kamar dengan nuansa biru langit membuat Kia berdecak kagum. Matanya mengitari seluruh sudut ruangan, dari luar rumah ini terlihat sederhana, namun jika masuk di dalam rasanya seperti istana.
"Sebentar, Rey. Bagaimana kalau temanmu itu datang saat aku sedang nyaman-nyamannya dengan rumah ini." katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk berukuran king.
"Dia nggak akan datang." sahut Rey datar membuat alis Kia hampir menaut.
"Apa yang bikin kamu yakin?" tanyanya sambil memandang lelaki itu.
"Karena aku adalah temannya." ujar Rey sambil tersenyum, membuat wajah serius Kia berubah menjadi garang.
"Rey, Kamu!" Kia berdiri hendak menoyor jidat laki-laki itu.
"Hahahahaha." Rey berlari sambil tertawa menghindari Kia, mereka pun akhirnya saling mengejar dengan tawa yang tak hilang dari wajah keduanya.
__ADS_1