Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 55


__ADS_3

Devita menghela nafas panjang. Hah! Rasanya jantung sangat tidak aman jika terus-terusan menghadapi Ibunya sendiri.


"Dengar, Bu. Aku mau, besok Ibu tinggalkan rumah ini. Aku nggak mau hal yang paling aku takutkan terjadi lagi di kemudian hari." ujar Devita dalam keadaan kesal dan marah yang menyerang seluruh hati dan pikirannya.


"Kamu mengusir Ibumu sendiri?" tanya Wati tidak percaya.


"Benar! Ibu 'kan yang membuatku tega melakukan hal seperti ini? Aku lelah, Ibu. Aku capek menghadapi Ibu yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tanggaku. Dan aku paling tidak suka Ibu berusaha menyingkirkan Zayn dari kehidupanku!" Devita membentak Ibunya sambil menangis, hatinya sudah tidak kuat lagi untuk berlarut-larut dalam masalah.


"Kapan Ibu berubah? Apa Ibu nggak capek menjadi orang yang nggak punya hati seperti ini?" tanya Devita dalam tangisnya.


Wati tidak menjawab sepatah katapun apa yang sudah Devita keluarkan. Wanita tua itu malah memainkan kuku, hatinya memang sekeras batu. Perlu di pukul dengan besi tajam jika ingin pecah.


"Karena itu, Bu. Sebelum semua semakin menjadi keruh, lebih baik Ibu keluar dari rumah ini." ujar Devita dengan tegas.


"Vita, Vita. Dengar, kalau kamu berani mengusirku dari sini, aku bisa membuat hidup kalian menderita. Jangan lupa aku ini siapa." ancam Wati. Devita pun menyeka air matanya yang percuma dia tumpahkan pada wanita kejam di hadapannya ini.


"Ibu mengancamku? Aku nggak perduli, Bu. Silahkan Ibu buat hidup kami menderita. Namun asal Ibu tahu, aku bisa saja membuat Ibu kehilangan segalanya, membuat semua orang meninggalkan Ibu dan Aku bisa saja mencebloskan Ibu ke penjara jika aku mau. Karena apa? Karena aku lelah hidup bersama Ibu sepertimu." Devita pun meninggalkan Ibunya sendirian di ruangan itu. Sungguh kalimat yang di ucapkan Devita barusan rasanya menyayat hati Wati. Wati pun terduduk karena kakinya terasa lemas.


Sedari tadi rupanya Bella mendengarkan percakapan orang dewasa itu dari balik pintu.


"Semoga ancaman kakak bisa membuat Ibu sadar. Aku nggak mau Ibu berlarut-larut dalam kejahatan." lirih Bella berkata dan mulai membuka pintu lalu pergi menuju kamarnya sendiri.


***


Pagi harinya, Devita pun mengecek kamar Ibunya dan tidak ada lagi wanita itu di sana. Dia pun bergegas pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk Suaminya.


"Wanginya. Hmm, masak apa, Sayang?" Ismail pun memeluk Devita dari belakang. Devita pun menepuk punggung tangan suaminya yang sudah berada di perutnya.


"Jangan peluk-peluk, aku lagi masak. Sana duduk dulu, sebentar lagi aku hidangkan." ujarnya sambil mematikan api kompor. Ismail pun menurut, duduk di hadapan meja makan sambil memandang istri tercintanya hingga Devita duduk di hadapannya pun pandangan itu tidak beralih sedikitpun.

__ADS_1


"Ada apa pandang-pandang aku begitu? Apa muka ku kotor?" tanya Vita sembari mengelus wajahnya.


"Nggak kotor, tapi cantik." ujar Ismail sambil tersenyum.


"Cih, om-om kalau gombal biasanya ada maunya!" cibir Vita membuat Ismail tertawa.


"Aku cuma merasa tenang setelah Ibu pergi." ucap Ismail tanpa rasa bersalah.


"Kenapa ngomong begitu, dan kok bisa tau Ibu nggak ada di rumah?" tanya Vita tak suka dan menatap suami sambil menyelidiki.


"Nggak ada apa-apa, Sayang. Aku cuma bilang tenang, biasanya suara Ibu menggelegar membuat rumah ini serasa ingin roboh. Tadi pagi-pagi sekali aku melihat Ibu pergi." sahutnya dengan terkekeh.


"Sebenarnya aku nggak tega, tapi biarlah dulu seperti ini untuk sementara." ujar Vita lalu mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Lama mereka hening dan menyelesaikan sarapan paginya. Vita pun meneguk minumannya dan mulai membereskan piring kotor itu.


"Boleh, Sayang. Ada apa?" tanya Ismail menatap mata sang istri.


"Aku ingin kita mengembalikan harta milik Zaskia, dan kita mulai kehidupan baru kita sendiri dari nol." ungkap Vita balas menatap mata sang suami.


"Setelah semua yang terjadi, aku yakin sebenarnya kita nggak begitu paham mengurus ini. Dan juga aku nggak mau lagi menghalangi Zayn bertemu dengan Zaskia, bagaimanapun juga Zayn sudah di besarkan olehnya. Cinta dan kasih sayang Zayn lebih besar untuk Zaskia." jelas Vita mengeluarkan seluruh isi hatinya.


"Aku sudah lelah bertengkar dengan Zaskia, dan aku ingin kita semua kembali seperti dulu lagi. Membimbing Zayn menjadi pribadi yang lebih baik lagi." ujar Vita lagi karena Ismail hanya diam mendengarkannya.


"Baiklah, aku mengikuti apa katamu saja." sahut Ismail singkat.


"Begitu saja?" tanya Vita yang merasa kurang puas akan jawaban suaminya.


"Kan kamu sudah buat keputusan, Sayang. Aku ini cinta sama kamu, jadi apa yang kamu katakan akan aku lakukan." jelas Ismail membuat Vita tersipu.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan mengajaknya bertemu dan mendiskusikan hal ini dengannya." ujar Devita dengan wajah yang berseri-seri. Ismail pun ikut tersenyum, sudah lama dirinya tidak memandang wajah itu. Karena wajah itulah yang membuatnya cinta pada pandangan pertama.


***


Di belahan bumi yang lain, saat ini Hakim bersama dengan Wati. Mereka berbincang di teras rumah lama Wati.


"Mereka pikir aku takut dengan ancaman mereka. Huh!" keluh Wati sembari menghembuskan nafasnya kasar.


"Jangan marah-marah Ibu Wati, nanti anda cepat tua." ujar Hakim mencoba mencairkan suasana namun berbeda dengan tanggapan Wati.


"Kamu bayangkan anakku sendiri mengusirku dari rumah itu, sekarang aku sangat sakit hati dan kamu membuatku marah, dasar pengacara nggak berguna!" bentaknya kasar. Hakim pun mengusap wajahnya, menyesal karena salah menggunakan kata.


"Bagaimana pun Ibu Wati tetaplah salah karena mengusir anak itu dari rumahnya sendiri." ujar Hakim berhati-hati.


"Kamu menyalahkan aku, semua menyalahkan aku. Hah, cukup! Sekarang aku mau tanya, apa kamu sudah melakukan apa yang pernah aku suruh?" tanya Wati mengesampingkan emosinya karena banyak hal yang perlu dia perhatikan.


"Sudah, aku sudah bertemu dengan Ismail kemarin." sahut Hakim datar


"Lalu dia menjawab apa?" tanya Wati penasaran dan segera memasang pendengarannya baik-baik. Bagaimanapun baginya ini adalah hal yang sangat penting.


"Aku nggak yakin ingin menyampaikan hal ini padamu, Bu Wati." ujar Hakim sembari menggaruk kepala belakangnya.


"Katakan saja, Hakim. Aku ingin dengar!" titah Wati.


Hakim pun menghela nafasnya, ah dirinya baru kepikiran untuk membawa penutup telinga. Sial sekali hari ini karena terus mendengar ocehan wanita tua ini.


"Tolong bilang kepada Ibu mertuaku, Dirinya sudah tua, sudah bau tanah. Sebentar lagi dia akan mati, jangankan membawa semua aset, perhiasannya pun nggak akan ada satupun yang ikut dengannya. Beritahu dia, Jangan lagi mengurus urusan harta. Perbanyak ibadah agar hidupnya tenang!" Hakim pun meniru gaya bicara Ismail.


"Kurang ajar!" teriak Wati membuat Hakim ingin pingsan saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2