
"Selamat pagi, ayo bangun Zayn anak Mama yang paling tampan." Kia menepuk pelan wajah anaknya itu.
"Zayn masih mengantuk, Ma." sahut Zayn dengan malas, anak itu ingin uring-uringan saja di atas tempat tidurnya.
"Mama sudah masak 'loh, Zayn harus jadi orang pertama yang memakan masakan Mama. Mama ini jarang-jarang bisa masakin Zayn. Sekarang ayo bangun." Kia mengangkat tubuh Zayn agar duduk. Dengan malas Zayn mengikuti perintah sang mama.
"Tumben Mama masak." celetuk Zayn membuat Kia mencubit pipi itu gemas.
"Kan spesial untuk Zayn. Mama 'kan sekarang nggak kerja, jadi babu Zayn sehari nggak apa-apa lah." sahut Kia tertawa. Zayn pun tersenyum memeluk tubuh Kia.
"Baiklah, tapi Zayn mau mandi dulu, Ma." ujar Zayn dalam mode manja dan mulai merengek.
"Ayo, Mama antar ke kamar mandi." ujarnya sembari menarik tangan Zayn turun dari tempat tidur.
"Tapi Zayn pakai baju apa, Ma? 'Kan Zayn ke sini nggak bawa baju." Zayn menggaruk kepalanya dan Kia juga melakukan hal yang sama.
"Kalau di perhatikan, kalian seperti Ibu dan Anak kandung saja." celetuk Rey yang baru saja masuk melihat keduanya bergerak dengan cara yang sama.
"Eh, Rey. Kamu datang tiba-tiba berbicara membuat kita kaget aja." ketus Kia sembari mengelus dada karena sempat terkejut karena ulah Rey.
"Iya, iya maaf. Ini aku bawakan pakaian untuk Zayn. karena aku tau, Zayn emang kabur tanpa membawa apapun. Iya 'kan, Bro?" ujar Rey menyodorkan sebuah paper bag berisi pakaian.
"Makasih, Om. Wah, bajunya bagus, ada gambar spider man nya." ujar Zayn kegirangan saat membuka paper bag yang ternyata berisi gambar baju yang di sukainya, persis seperti kamarnya.
"Sama-sama, cepatlah mandi. Setelah itu kita sarapan. Om juga beli makanan untuk kalian. Oh, iya Asih di mana?" Rey terus berbicara tanpa jeda membuat Kia menggaruk kepala, "Apakah dia masih Rey yang sama? Cerewet sekali pagi ini." celetuk Kia dalam hati.
"Asih pergi keluar, dia mau membeli bahan makanan yang sudah habis, kebetulan tadi pagi-pagi sekali aku menghabiskan bahan makanannya, aku sudah masak dan kamu malah beli makanan." jelas Kia dengan ekspresi tak nyaman.
"Astaga, ternyata kamu bisa masak?" ledek Rey, Kia pun memukul pelan lengan Rey karena tidak terima.
"Ah, aku baru belajar tadi. Aku juga nggak tau rasanya bagaimana." ujar Kia tersenyum paksa.
Rey pun tertawa, melihat ekspresi Kia membuatnya yakin jika tadi dia terus mengulang masakannya.
"Ya sudah, ayo ke meja makan. Aku nggak sabar mencicipi masakanmu." Rey berlalu lebih dulu menuju meja makan. Dia pun langsung mengambil sendok dan mulai memakan masakan Kia pagi ini.
__ADS_1
Kia pun menatap Rey yang mulai memakan masakannya. Antara takut dan merasa tak enak, tapi bagaimanapun dia sudah berusaha keras kali ini.
"Hmm, rasanya nggak begitu buruk, lumayan lah untuk pemula sepertimu." ujar Rey tersenyum.
Karena penasaran, Kia pun menyendok pula makanan itu dan mulai mencicipi sendiri. Ekspresi Kia berubah menjadi kecut, menelan paksa dan meminum air putih hingga habis dua gelas.
"Astaga, Rey. Kenapa kamu nggak bilang kalau ini asin?" lirih Kia berkata.
"Kan aku sudah bilang, lumayan lah untuk seorang pemula. Untung saja cuma asin, tampilan dan kematangan sayur sudah pas." Rey berusaha menghibur Kia.
"Ah benar, mungkin aku perlu belajar untuk meningkatkan keterampilan masakku." sahut Kia lalu membawa makanan itu menuju tempat pencucian piring.
"Kenapa di buang?" tanya Rey mengerutkan keningnya.
"Nggak enak, mending di buang saja." Kia pun memasukkan masakan ke dalam tempat sampah.
"Astaga, padahal nggak begitu asin dan bisa aja di akalin jika ingin menghabiskannya." ujar Rey.
"Dengan cara apa?" tanya Kia kembali ke meja makan.
"Kembung iya." ujar Kia malas.
"Zayn sudah selesai, Ma." ujar Zayn mendekati mereka dan ikut bergabung.
"Wah, tampannya anak Mama." Kia memuji Zayn sembari menata makanan yang di beli oleh Rey.
"Ayo kita sarapan." ujar Rey. Mereka pun sarapan dengan mengobrol ringan.
***
Sesuai janji, Zaskia dan Riska pun bertemu empat mata di sebuah cafe. Riska lah yang lebih dulu menunggu di sana.
"Hai, Ris. Sudah lama?" sapa Kia dan ikut duduk di hadapan Riska.
"Enggak 'kok, Bu Kia." sahut Riska dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu nggak kerja?" tanya Kia yang melihat jam sudah pukul sepuluh pagi.
"Masuk kantor sekarang sudah nggak sedisiplin dulu, Bu Kia. Sekarang bebas, sama seperti Pak Ismail yang datang dan pergi sesuka hatinya." jelas Riska dan Kia pun menggelengkan kepalanya.
"Jadi, bagaimana perusahaan sekarang?" tanya Kia lagi.
"Sangat buruk, Bu. Aku takut jika terus seperti ini bisa-bisa kita bangkrut, Bu." jelas Riska dengan air wajah yang sedih.
Kia menghela nafas panjang, sedih sekali rasanya meninggalkan perusahaan bukan pada orang yang tepat.
"Jadi, sebenarnya mengajakku ke sini ada hal apa, Riska? Apa ada kaitannya dengan perusahaan?" tanya Kia untuk menyingkat waktu, bagaimanapun Riska harus pergi bekerja.
"Saya mau memberikan ini, Bu Kia." Riska memberikan sebuah Flashdisk.
"Apa ini?" Kia mengerutkan kening saat menerima flashdisk itu.
"Ini rekaman CCTV kantor yang merekam tentang liciknya Pak Ismail dan mertuanya itu untuk merebut perusahaan milik Ibu Kia." jelas Riska.
"Apa kamu nggak takut ketahuan mereka?" tanya Kia.
"Nggak, Bu. Mereka nggak akan tau, karena aku datang pagi-pagi sekali dan sempat menyalinnya." sahut Riska percaya diri.
"Baiklah, aku hargai usahamu. Tapi aku nggak mungkin 'kan memenjarakan suamiku sendiri. Memang kami sudah pisah ranjang, pisah atap. Tapi status dia masih suamiku." ujar Kia seraya menghela nafas.
"Apakah Ibu Kia akan memaafkan kesalahan Pak Ismail?" tanya Riska ragu-ragu.
"Sebenarnya aku marah dan benci kepadanya, tapi aku tau dia melakukan itu untuk keluarganya, terutama Zayn. Bagaimanapun Zayn itu anaknya. Tapi aku tetap akan mengambil bukti ini, siapa tahu benda ini berguna kedepannya." ujar Kia menepuk punggung tangan Riska.
"Bagaimana dengan mertua Pak Ismail?" tanya Riska berhati-hati.
"Ah, wanita tua itu jangan kamu tanyakan. Kalau pembunuhan itu halal, sudah aku cekik dia sampai mati." sahut Kia dengan gemuruh emosi yang bergelora.
"Kebetulan, di Flashdisk itu ada bukti tentangnya, dan bisa Ibu Kia laporkan wanita itu ke polisi." ujar Riska yang sama kesalnya.
"Baiklah terima kasih, kalau begitu aku permisi. Semoga keadaan segera membaik dan kita bisa menjadi patner kerja kembali." ujar Kia menepuk pundak Riska dan pergi meninggalkannya.
__ADS_1