Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 48


__ADS_3

Hakim bergegas menemui Wati, guna membahas hal ekstrim yang di lakukan wanita itu. Baginya Wati hanya akan menghambat rencana jahatnya yang sudah di susun dengan rapi sejak lama.


"Aduh Ibu Wati, bagaimana bisa anda mengusir Zayn? Ini akan menjadi perkara sulit, tahu tidak!" ujar Hakim dengan suara mulai meninggi.


"Terserah aku dong! Itu rumah anakku yang sebentar lagi akan menjadi rumahku. Hanya gara-gara perebutan hak asuh yang menghambat semuanya. Sekarang kalau Zayn hilang, kita nggak perlu repot-repot mengurus hal itu lagi." jelas Wati tak terima.


"Astaga, kenapa Tua Bangka ini menjadi keras kepala sih! Dasar orang tua bodoh! Dia pikir kita hidup di zaman batu, hidup dalam hutan yang kalau hilang tak akan di temukan akibat di makan binatang buas!" gerutu Hakim dalam hati, puas memaki-maki wanita tua itu.


Hakim memijat pelipis dan pangkal hidungnya bergantian, rasa-rasa otaknya akan hangus terbakar jika terus berdebat dengan wanita ini.


"Begini, Ibu Wati. Memang benar cara anda ini simple dan berguna. TAPI- tapi kalau Devita dan Ismail mencari Zayn, lalu melaporkan kasus ini kepada polisi, apa bukan anda yang menjadi tersangka atas hilangnya Zayn?" ujar Hakim dengan menekankan kata-katanya.


"Urusan itu nggak perlu khawatir, biar aku yang tangani semuanya. Kamu tinggal mengurus pelan-pelan pemindahan saham atas namaku. Ingat itu!" titah Wati dengan mata membesar melototi Hakim yang terlihat pasrah.


"Tapi bagaimana caranya, apakah anda bisa mengatasi itu sendirian?" tanya Hakim.


"Aku bilang jangan khawatir! Wanita jahat seperti ku ini banyak akal. Semua akan beres dengan sendirinya." sanggah nya dengan percaya diri.


"Astaga, baiklah. Aku pergi dulu." pamit Hakim langsung meninggalkan Wati seorang diri.


Hakim kini tiba di perusahaan milik Ismail. Segera dia temui Ismail dalam ruangan kerjanya. Ingin menyampaikan beberapa hal yang harus dia urus terkait perintah dari Wati.


"Ada apa, Hakim." tanya Ismail sembari mengerutkan kening, tak biasanya Hakim datang tanpa mengabari terlebih dahulu.


"Begini-" Hakim tak melanjutkan, seolah bingung apa yang harus dirinya katakan.


"Ada apa, Bro? Bicarakan saja, aku akan mendengarkanmu." ujar Ismail menatap kawan yang sekaligus menjadi pengacaranya.

__ADS_1


"Begini, aku datang atas perintah Ibu mertuamu." sahut Hakim.


Ismail menghela nafas, Lagi-lagi Ibu Mertuanya mencampuri segala urusannya. Sampai-sampai pengacaranya pun harus bersusah payah demi wanita itu.


"Apa lagi yang di inginkan wanita tua itu? Selalu saja dia mencari masalah denganku, nggak ada habis-habisnya mengacaukan hidupku!" ujarnya sambil marah-marah.


"Begini, Ibu mertuamu ini ingin kamu memindahkan sisa saham Zaskia untuk Devita, tetapi dia juga ingin mengganti nama pemilik rumah itu menjadi namanya sendiri, itu aja." jelas Hakim sedetail mungkin.


"Hanya itu? Nggak ada hal lain, seperti meminta mobil baru, rumah baru, atau tanah kubur sekalian?" ujar Ismail yang masih kesal.


"Benar, hanya itu Mail." sahut Hakim dengan mengangguk kepalanya.


"Why? Apa dia masih merasa belum cukup dengan semua yang aku berikan?" Ismail menggerebak meja dengan kuat.


"Dia memaksaku menceraikan Zaskia, sudah aku lakukan. Dia ingin aku mengambil posisi Zaskia di perusahaan ini, sudah ku laksanakan. Setelah itu, dia menyuruhku untuk mengusirnya dari rumahnya sendiri, sudah juga aku turuti inginnya. Sekarang, merasa masih belum puas dia menyuruhku menganti semua nama aset menjadi namanya dan keluarganya? Apa gunanya selama ini aku bersusah payah jika masih di perlakukan seperti ini?" bentaknya tak terima kepada Hakim. Hakim hanya duduk terdiam mendengarkan curahan hati Ismail.


"Apa wanita tua itu pikir Zaskia adalah wanita bodoh yang membiarkan semua aset miliknya bisa di ambil begitu saja?" Ismail terus mengeluhkan isi kepalanya.


"Aku rasa Ibu mertuamu hanya khawatir dengan masa depan Devita." Hakim berusaha membela pemikiran Wati.


"Kurang ajar! Masa depan Devita aku yang tanggung, bukan dia. Malah sebaliknya, dia yang akan menghancurkan masa depan anaknya sendiri." sanggah Ismail dengan emosi yang sudah memenuhi ubun-ubun kepalanya.


"Tolong bilang kepada Ibu mertuaku, Dirinya sudah tua, sudah bau tanah. Sebentar lagi dia akan mati, jangankan membawa semua aset, perhiasannya pun nggak akan ada satupun yang ikut dengannya. Beritahu dia, Jangan lagi mengurus urusan harta. Perbanyak ibadah agar hidupnya tenang!" tambahnya lagi.


"Sekarang aku sudah muak, muak dengan segala yang ada. Tolong kamu pergilah dari sini, biarkan aku menenangkan pikiranku dulu." usir Ismail dengan menuntun Hakim keluar dari ruangannya. Mau tak mau, Hakim pun terpaksa keluar dari sana tanpa jawaban yang memuaskan.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Riska merekam obrolan mereka. Pengumpulan bukti semakin banyak, dirinya yakin rekaman ini akan membantu Zaskia nantinya.

__ADS_1


***


"Sebenarnya rahasia apa yang di sembunyikan oleh Vita hingga menutup dirinya dariku." tanya Kia pada dirinya sendiri. Dirinya sedang duduk di halaman rumah, menikmati pemandangan malam berbintang.


"Karena Zayn, makanya Vita menikah dengan Ismail." ujar Rey yang baru datang dan langsung duduk di sebelah Kia.


"Zayn? Maksudnya apa?" tanya Kia tak mengerti.


"Untuk menutupi aib keluarganya, Vita menikahi Ismail akibat desakan Ibunya." sahut Rey lagi.


"Aib? Maksudnya Zayn hasil-" Zaskia tak meneruskan kalimatnya karena Rey lebih dulu mengangguk.


"Aku sudah mencari tahu kebenarannya. Kamu ingat, saat acara reuni dan kita menyanyi di atas panggung berdua saat itu. Mereka bilang sudah pulang, ternyata main di belakang kita." ungkap Rey.


"Astaghfirullahal'adzim, apa itu benar, Rey? Kamu nggak mengada-ada kan?" tanya Kia lagi tak percaya.


"Tenang, berita ini akurat. Aku sudah menyelidikinya, dan memang benar adanya." sahutnya yakin.


"Astaghfirullahal'adzim, Vita. Aku nggak menyangka dia bisa melakukan hal seperti itu." ujar Kia lirih.


"Kamu tahu, aku dapat informasi awal dari siapa?" Rey membuat Kia penasaran.


"Siapa?" tanya Kia menatap lekat mata Rey.


"Bella." sahutnya singkat.


"Bella adiknya Devita?" tanya Kia lagi.

__ADS_1


"Benar. Beberapa waktu yang lalu, aku sedang mengikuti seminar dan kebetulan aku bertemu dengan Bella di sana. Saat acara selesai, aku mengajak Bella untuk makan siang bersama. Aku nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, dan dari situ aku mulai bertanya. Dia menceritakan secara detail waktu kejadian itu, dan saat aku mengingat-ingat, waktu itu memanglah saat kita sedang menghadiri acara reuni. Dan aku mencari tahu tempat kejadian itu, beruntung sekali tempat itu belum tutup dan masih beroperasi sampai sekarang. Dan hasilnya memang benar." jelas Rey membuat Kia menepuk keningnya sendiri.


"Aku nggak menyangka Rey, sungguh." ungkap Kia dengan menggelengkan kepalanya.


__ADS_2