
Dulu cintaku sederas air hujan, aku menari riang di bawah rintiknya. Sampai aku lupa sederas apapun hujan, akan ada saatnya reda.
Begitupun dengan orang yang begitu aku percaya, saking tulusnya sampai tak satupun ada yang ku tutupi. Sampai aku lupa setulus apapun dia, akan ada saatnya mengkhianati.
***
Malam hari di kediaman Wati terasa begitu ramai. Bagaimana tidak, Wati dan Bella seperti biasa akan menyeletuk hal tak jelas hingga terjadi sedikit keributan.
Dada Wati sedikit bergemuruh kala Bella bercerita tentang Zaskia yang pernah menginjakkan kaki ke rumah mereka dan sempat mengamuk pada Ismail karena menganggap Bella adalah istri kedua Ismail. Di saat itu juga Ismail baru saja pulang entah dari mana.
"Dari mana saja kamu, seharian nggak di rumah?" tegur Wati ketika Ismail melewati ruang tengah.
"Dari luar, Bu. Aku mau ke kamar dulu, capek." sahut Ismail dengan malas ingin meninggalkan mereka.
"Ismail! Sini kamu!" gertak Wati. Ismail pun berbalik,
"Ada apa sih, Bu?" tanya Ismail memasang wajah jengah.
"Kapan perceraian kalian selesai di urus? Aku nggak mau perempuan itu ganggu ketenangan di rumah ini lagi." pekik Wati.
"Sedang aku urus. Sabarlah dulu." balas Ismail.
"Sabar, sabar dan sabar. Sudah tujuh tahun lamanya aku di suruh untuk bersabar. Tapi lihat lah, kamu masih seperti ini, 'kan?" ledek Wati dengan bersedekap dada.
"Haruskah aku melapor ke polisi atas tindakan nya yang menjadi pengganggu ketenangan orang lain, sehingga menjadikan bukti agar perceraian mu di permudah?" gertak Wati.
"Ini hanyalah masalah sepele, Bu. Nggak perlu memanggil polisi segala." ujar Ismail tak suka.
"Tapi perempuan itu sepertinya mulai gila. Kamu nggak takut, dia bisa aja melakukan apapun untuk mengganggu kami." gerutu Wati.
"Lalu, Ibu mau aku melakukan apa?" Ismail menghela nafas semakin malas menjawab.
"Kamu malah balik bertanya? Ya apa susahnya mempercepat perceraianmu? Oh, ya, satu lagi, suruh perempuan itu keluar dari rumah nya, karena aku ingin dia merasakan apa yang di rasakan istrimu." gertak Wati.
__ADS_1
"Dasar sintingg!" gerutu Ismail pelan sambil meninggalkan Wati yang masih mengomel.
"Ingat, aku sedang menagih apa yang sudah kamu janjikan padaku!" teriak Wati pada Ismail yang sudah tak terlihat dari pandangannya.
***
Usai sarapan, Zaskia memacu mobilnya memacu mobilnya menuju suatu tempat pusat perbelanjaan melewati jalur jalan tikus guna menghindari kemacetan, karena pagi ini ada klien penting yang akan bertemu dengannya.
Sesampainya di sana, mereka langsung berbincang dan membahas beberapa proposal. Pertemuan tersebut berjalan dengan lancar, dan pihak klien pun bersedia untuk bekerja sama dengan Perusahaannya.
Saat hendak keluar dari tempat tersebut, ada seseorang yang memanggil Kia. Hingga langkah Kia pun terhenti dan menoleh ke sumber suara.
"Hai, Zaskia. Long time no see." ujar Pria tersebut menyapa.
"Sorry, who are you?" balas Kia dengan tersenyum.
"Apa kamu sudah lupa denganku?" tanyanya dan Kia hanya menggeleng seraya menaikkan bahu.
"Lihat baik-baik wajahku." ujarnya kemudian Kia melihat wajah tersebut dengan seksama.
"Ya, nggak masalah. Lagian aku memang nggak akan pernah kamu ingat, sebab dulu kamu mengejekku cupu dan nggak pantas ada di dunia ini." terang Hakim kepada Kia.
"Maafkan aku, dulu aku terlalu labil sampai menghinamu seperti itu." ujar Kia dengan menyesal.
"No problem, Kia. Bagaimana kabar Ismail?" tanya Hakim basa-basi.
"Kami akan bercerai." sahut Kia datar.
"Really? Haha, kalau aku jadi Ismail, aku pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan, tidak ada celah sedikipun setelah nya untukmu hidup dengan tenang." sarkas Hakim, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Kia yang merasa tertusuk karena kalimat yang keluar dari mulut pria itu.
Zaskia segera membuang jauh-jauh pikiran buruk yang sedang menghasutnya bahwa Ismail akan melakukan sesuatu yang membuat hidupnya sengsara. Kia pun segera memacu mobil nya membelah jalan raya yang lumayan padat kendaraan menuju perusahaan.
Sesampainya di sana, Kia segera melangkahkan kaki menuju ruang yang bertuliskan CEO di pintu kaca nya. Tatapan aneh dari para pegawai membuatnya merasa heran. Tak biasanya mereka menatap dengan begitu intens, seolah dirinya telah melakukan kesalahan. Namun, Kia terus berfikir positif.
__ADS_1
"Riska!" panggil Kia sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangannya.
"Iya, Ibu Kia. Ada apa?" tanya Riska dengan berjalan ke arah Kia.
"Aku ingin mengadakan rapat dengan kalian semua. Karena aku ingin membahas hal penting mengenai perusahaan." jelas Kia.
"Oh, Ya? Sama, aku juga akan membahas hal penting tentang jabatan di perusahaan ini." ucap Ismail lantang, dari arah luar mendekati Kia.
Kia dan seluruh pegawai yang mendengar pun terkejut akan kedatangan Ismail bersama seorang pria di belakangnya, yang tak lain adalah Hakim.
"Tidak perlu mengadakan rapat, kita bahas saja langsung." titah Ismail dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru perusahaan.
"Mulai hari ini, Jabatan CEO Zaskia akan di cabut!" Cetus Ismail membuat semua orang di dalam ruangan itu berbisik dan beradu argumen.
"Sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Aku menginginkan Zaskia untuk keluar dari perusahaan ini." tambahnya lagi, sementara Zaskia menggeleng tak percaya.
"Apa maksudmu, Ismail! Kamu nggak ada hak untuk memecatku. Di sini aku yang memegang saham terbesar, bukan kamu!" jerit Kia dengan dada yang naik turun karena emosi mulai bergemuruh.
"Hahaha, itu dulu, Kia. Hakim, silahkan jelaskan padanya." Ismail tertawa penuh kemenangan sebelum mempersilahkan Hakim untuk berbicara.
"Begini, Ibu Zaskia. Yang perlu anda tahu adalah Ibu Zaskia bukan lagi pemegang saham terbesar di sini karena Pak Ismail sudah membeli semua saham anda." jelasnya sembari menyerahkan sebuah map coklat kepadanya.
Zaskia segera menyambar dan membuka map tersebut, dia baca baik-baik apa saja yang tertulis dalam lembaran kertas putih itu. Sesekali Kia menggeleng tak percaya dan tak terima apa yang dia baca.
"Ini nggak mungkin! Aku bahkan nggak pernah menandatangani ini!"
"Tapi itu benar-benar tanda tanganmu, 'kan?" tanya Ismail dengan santai.
"Tapi- "
"Kalau begitu, sudah saatnya menunjuk CEO baru. Sebagai pemegang saham terbesar, aku menunjuk diriku sebagai CEO yang baru. Dan jabatan COO saya sebelumnya yang telah kosong, akan saya alihkan kepada istri kedua saya, Devita." jelas Ismail dengan lantang tanpa ragu sedikitpun, dan menyebut nama Devita saat wanita tersebut baru saja tiba di ruangan itu.
Semua orang tercengang, mereka tidak percaya bahwa Ismail memiliki dua istri. Dan yang paling menghebohkan adalah Devita itu sahabat baik Zaskia.
__ADS_1
Jangan di tanya seberapa kaget Zaskia, sampai-sampai dirinya harus berpegang pada meja di hadapannya, saat kakinya terasa lemas tiba-tiba karena mendengar kejutan yang di berikan dari Calon Mantan Suaminya.