Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 11 : Takdir yang Sangat Kejam


__ADS_3

Yes! Kau memang hanya milikku, Sam! Batin Finna girang.


Ia akan melakukan apa pun demi mendapatkan lelaki itu. Sejak masih SMA, dia sudah mengagumi Samuel karena lelaki itu sangat tampan dan kaya. Dia juga yang selalu mem-bully para wanita di sekolah yang dengan terang-terangan menggoda Samuel. Baginya, Samuel adalah miliknya seorang.


Sedangkan Nada yang berada di pojok sana, mencoba mencari pegangan untuk menopang tubuhnya yang hampir roboh. Kakinya seakan tak berpijak lagi di atas lantai, tubuhnya terasa sangat ringan, dan perlahan tubuhnya tumbang di dalam pelukan seseorang.


.........


Keesokan harinya


Pukul 6 pagi


Kediaman Nada


****


"Asshh."


Nada terbangun di dalam sebuah kamar yang di dominasi warna pink. Semakin lama penglihatannya semakin jelas dan mengetahui bahwa ia sedang berada di kamarnya sendiri.


Ia ingin menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sebelum akhirnya ia merasakan bahwa seseorang sedang tertidur lelap di sampingnya dengan posisi duduk.


"Pa," ucapnya lirih, namun tersirat nada kekecewaan dari ucapannya, seakan ia mengharapkan orang lain yang menunggunya di samping ranjang single bed itu.


Steve yang merasa kepalanya sedang dielus pun seketika terbangun dan mendapati anaknya tersenyum tenang. Ia langsung mendekap erat tubuh lemah itu, memeluknya dengan sangat-sangat erat hingga Nada kesulitan bernafas.


"Pa-pa," ucap Nada terbata-bata.


"Ah ... maafkan papa, Nak. Bagaimana? Apakah masih ada yang sakit?" tanya Steve khawatir.


"Tidak, Pa. Aku hanya merasa sangat lelah saja. Oh iya, semalam bukankah aku sedang bekerja?" tanya Nada penuh kebingungan karena ia tak mengingat sama sekali bagaimana dia kembali ke rumah.


Steve menarik nafasnya dan mengusap wajah tampannya meskipun sudah tak muda lagi. Ia mengingat kejadian semalam ketika Samuel berteriak memanggil namanya dan istrinya.


"Om Steve! Tante Yuni!" teriak Samuel lantang memenuhi rumah minimalis itu.


Wajahnya sudah pucat pasih dengan keringat dingin yang sudah membasahi seluruh setelan jas miliknya. Di dalam gendongannya, ada seorang wanita yang masih lengkap dengan baju setelan chef-nya.


Ceklek


Pintu rumah terbuka, dan Yuni langsung histeris melihat kondisi Nada yang sudah seperti mayat hidup, sedangkan Steve langsung berlari dari arah belakang rumah karena ia tadi sedang membersihkan kandang burung.


"Nada! Kenapa dia, Sam? Apa yang terjadi padanya?" tanya Steve sangat khawatir, sedangkan Yuni sudah menangis kencang.


"Di mana kamarnya?"


Samuel tak menjawab pertanyaan Steve dan langsung berlari ke arah kamar Nada yang ditunjuk Steve, di ikuti semua orang. Pak Ujang yang mengantarkan Samuel masih berdiri di depan rumah menunggu kedatangan dokter pribadi yang telah merawat Nada sejak peristiwa itu.


Samuel meletakkan tubuh lemah itu dengan hati-hati di atas kasur empuk milik Nada. Ia berjongkok dan memegang erat telapak tangan dingin itu, sedangkan Steve dan Yuni tak ia izinkan mendekati Nada. Ia menguasai tubuh wanita itu seutuhnya dan tak ingin berbagi dengan orang lain meskipun itu adalah orang tua Nada sendiri.

__ADS_1


"Samuel, jelaskan!" tekan Steve geram. Ia sangat takut dan marah kalau-kalau yang ia pikirkan adalah benar.


"Ma-maafkan aku."


Hanya itu jawaban yang bisa Samuel berikan dan langsung mendapatkan pukulan maut dari Steve yang dengan cepat menariknya menjadi dari tubuh lemah di atas kasur sana.


Bug


Bug


"Apa yang kau lakukan?! Sialan!"


Steve memukul Samuel membabi buta, namun lelaki itu berusaha tak terpancing emosi. Meskipun semua itu bukan salahnya, namun ia rela disalahkan karena tak ingin memperkeruh suasana. Baginya, kesehatan Nada adalah yang terpenting saat ini.


"Bukankah kita sudah sepakat?! Aku mengizinkanmu muncul di hadapannya lagi, namun tidak dengan membuat ia ingat akan masa lalu itu!!"


Bug


"Kau sudah menyetujui itu, tapi kau melanggar janjimu sendiri!" teriak Steve terus memukul Samuel yang tak pernah mengahlikan tatapannya dari objek di atas kasur sana.


"Tuan!" teriak Pak Ujang langsung berlari memisahkan Steve dari Samuel yang sudah babak belur.


"Sudah hentikan!" teriak Yuni yang memeluk erat putrinya itu.


"Dokter, tolong kau periksa anakku," ucap Yuni penuh permohonan.


"Kalau dia mengingat kejadian 13 tahun yang lalu, apa kalian bersedia?" tanya dokter tua itu.


"Tidak! Jangan biarkan dia mengingat hal itu!" ucap Steve tegas.


"Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan jika mengetahui kebenaran yang sudah mati-matian kami sembunyikan," sambungnya lagi sambil menatap tajam ke arah Samuel yang sudah berdiri di sampingnya.


"Apakah efeknya akan seperti yang kau bilang dulu?" tanya Samuel dengan terus menatap wajah lemah itu.


"Ya, besar kemungkinannya seperti itu." Dokter itu menarik nafasnya berlahan dan memijit pelipisnya yang sakit. Masalah ini terlalu berat, pikirnya.


"Kalau dia tak mampu menerima kenyataan yang sebenarnya maka dia bisa mengalami gangguan jiwa dan yang lebih parah, ia akan mencoba bunuh diri," sambung dokter itu sembari menatap wajah Nada. Ia sungguh prihatin dengan masa lalu Nada karena dia lah orang yang paling tahu sebesar apa trauma Nada dulu.


"Ini beberapa obat yang perlu ia konsumsi." Sang dokter memberikan beberapa obat pada Yuni yang langsung menerimanya.


"Usahakan agar dia tak banyak pikiran dan jaga pola makannya. Kalau tidak ada keperluan lagi, saya permisi dulu, Tuan," tuturnya lagi lalu pamit undur diri setelah diizinkan pergi oleh Samuel.


Kini hanya tersisa 3 orang yang masih menatap lekat pada Nada yang sedikit mengigau tak jelas. Steve menatap Samuel dan Nada secara bergantian dan menarik nafasnya kembali. Ia pun mengajak Yuni untuk pergi keluar kamar karena dia ingin memberikan lelaki itu waktu sebentar bersama putrinya.


Samuel dengan perlahan memegang tangan lentik itu dan menciuminya lembut. Ia menatap wajah lemah penuh kesakitan itu dengan tatapan penuh cinta dan penyesalan mendalam. Lima menit telah berlalu dalam keheningan dan hanya suara kicauan burung yang terdengar samar-samar dari arah belakang rumah.


Ia menyandarkan wajah tampannya di atas perut Nada yang sudah sejak lama sangat ingin ia lakukan. Samuel mengambil tangan Nada yang satunya lagi dan diletakkan di atas kepalanya, sedangkan satu tangan wanita itu ia genggam dan kecup berulang kali.


"Cherry, kau ingat? Ah ... aku lupa kau tak akan ingat. Baiklah ... karena kau tak ingat, aku akan mengatakannya padamu ..." ucapnya lirih.

__ADS_1


"Pertemuan pertama kita di taman restoran waktu itu sebenarnya bukan kali pertama aku melihatmu. Itu adalah kesekian kalinya aku melihatmu meskipun kau selalu melupakanku."


Samuel berbicara dengan terus menatap wajah Nada yang terlihat sudah lebih baik daripada sebelumnya.


"Kau membuatku terpesona, gadis kecil dengan baju kuning, bola mata bulat , dan gigi kelinci sedang berlagak seperti pahlawan karena berani memarahi pengunjung yang berbuat onar di restoran," ucapnya sambil mengenang masa itu.


"Saat itulah pertama kali aku melihatmu ...."


"Aku sedang berada di lantai dua mengerjakan tugas sekolah bersama Leo ketika objek berwarna kuning itu menunjukkan aksi karate lucunya, hahaha. Itu sungguh lucu," ucap Samuel tertawa, namun hatinya menangis.


"Dan sejak saat itu aku selalu memantaumu ketika kau datang bersama ayahmu di restoran. Memastikan tak ada yang mengganggumu ketika kau sedang meminum jus mangga milikmu. Aku selalu dibuat gemas dengan tingkahmu," ucapnya lagi sambil mencium lembut tangan Nada.


"Kakimu masih pendek, tapi kau selalu duduk di kursi tinggi di pojok ruangan. Kakimu bergerak bergantian ke depan dan ke belakang, sambil menggambar pemandangan gunung dengan matahari di tengahnya ...."


"Semua itu masih terekam indah di kepalaku. Lalu apakah kau memiliki ingatan tentang diriku walaupun hanya sedikit saja?" ucap Samuel lagi dengan isakan kecilnya.


"Tanggal 14 februari ...."


"A-aku melihatmu di taman belakang restoran sedang memetik bunga di sana. Dengan keberanian yang aku kumpulkan dengan susah payah, akhirnya untuk pertama kalinya aku menyapamu dan kau hanya mengacuhkanku. Cih, dasar!" sungut Samuel sambil mencubit lembut pipi wanita itu.


"Kau tahu, tidak ada wanita yang berani menolak pesonaku, tapi kau dengan terang-terangan berjalan meninggalkanku. Kau sungguh keterlaluan," sungutnya lagi penuh kekesalan, namun air matanya tak pernah berhenti mengalir.


"Dengan susah payah akhirnya aku bisa berteman dengan gadis cuek itu. Aku juga memperkenalkanmu dengan Leo yang seketika memonopoli dirimu dan mengacuhkanku kembali ...."


"Apa dia lebih tampan dariku, hem? Kau tahu ... pria lain mungkin bisa aku singkirkan dari sisimu, tapi Leo adalah pengecualian. Dia adalah keluargaku dan aku menyayanginya," ucapnya panjang lebar tanpa henti.


"Kalau jalan takdirku tak bisa bersamamu ...."


"Bisakah kau bersama dengannya saja? Jangan dengan lelaki lain karena aku tahu Leo adalah lelaki yang sangat baik dan bisa melindungimu. Aku tak bisa mempercayakan kau kepada pria lain ...."


"Jadi ... kalau setelah ini aku berhenti mengejarmu, tolong pertimbangkan dirinya. Aku akan berbahagia untuk kalian berdua meskipun aku yang menanggung rasa sakitnya seorang diri."


Samuel membenamkan wajahnya semakin dalam di perut datar wanita itu agar orang lain tak mendengar tangisannya yang sangat menyayat hati. Dia menumpahkan seluruh isi hatinya pada malam itu.


Cinta pertamanya yang harus kandas di tengah jalan. Bukan salahnya untuk berhenti, namun takdir yang selalu kejam dan tak pernah berpihak padanya. Meskipun ia berharap bisa terus menggenggam erat tangan itu, nyatanya semua ini tak berjalan sesuai keinginannya.


Samuel perlahan mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah cantik polos itu. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut kening Nada dan berdoa dalam hati agar wanita itu selalu baik-baik saja.


"Sampai kapanpun hanya kau satu-satunya orang yang ada di dalam hati dan ingatanku. Aku jatuh cinta terlalu cepat dan terlalu dalam padamu, sekali lagi."


Perlahan, ia menjauhkan dirinya dan berdiri sekuat tenaga. Berjalan menjauh dan semakin jauh dengan kaki dan pundak yang bergetar, meninggalkan wanita itu yang tengah menangis di dalam mimpinya.


****


..."Tolong, biarkan aku hanya mengingat kenangan yang bahagia saja karena jika itu adalah kenangan yang menyakitkan, aku tak akan sanggup pergi dan akan berlari kembali menuju ke arahnya."...


...- Samuel Oktavio Admadewa -...


...♡♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2