
"Dok, bagaimana kondisinya?" cecar Adipati yang sedari tadi tak pernah beranjak dari sisi Samuel yang tengah tidur.
"Kondisinya cukup baik. Hanya saja dia perlu melakukan terapi untuk mengembalikan fungsi otot tubuhnya," sahut sang dokter seraya menatap Adipati dan Jasmine bergantian. Kedua orang tua itu terlihat sedikit lega meskipun mereka harus siap menerima amukan dari Samuel yang belum menyadari kondisinya yang sebenarnya.
"Ma ..." panggil Samuel lirih.
Jasmine buru-buru berjalan mendekat menuju ranjang sedangkan Adipati pergi keluar ruangan bersama sang dokter.
"Hm ... kenapa, Nak? Ada yang kau butuhkan?"
"Istriku ...."
Deg
"Di-dia tak di sini lagi, Nak." Jasmine langsung memeluk Samuel untuk menyembunyikan air matanya, "biarkan dia mencari jalannya sendiri, begitu pun denganmu," pinta Jasmine.
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin Nada. Aku tak ingin yang lain, Ma," ucap Samuel sembari berusaha menggerakan kakinya, namun ia tak bisa merasakan apapun.
Dengan perlahan, Samuel mencoba menyingkap selimut yang menutupi kakinya. Jasmine yang memperhatikan gerakan itu, secara releks menahan selimut hingga Samuel mengerutkan dahinya.
"Kenapa, Ma?" tanya Samuel bingung.
"Hm ... kau beristirahat saja. Mama akan mencoba menghubungi Nada," ucap Jasmine dan langsung disetujui Samuel.
Beberapa saat kemudian
Samuel menatap sendu ke arah luar jendela sana. Cuaca begitu mendung dan hujan pun mulai turun rintik-rintik. Semakin lama, hujan itu semakin deras seiring dengan perasaan Samuel yang makin tak menentu.
"Aku sangat merindukanmu, sayang."
Ia kemudian menyingkap selimutnya, namun tiba-tiba kepalanya seperti dihantam sebuah batu besar.
Deg
"A-apa ini?"
Samuel dengan cepat menekan tombol di sisi ranjang untuk menaikan kepala ranjang secara otomatis. Lelaki itu beberapa kali mengusap matanya, berharap apa yang dilihatnya hanyalah sebuah mimpi.
"Ti-tidak!"
PRANGGGGG
Ia melempar gelas di atas nakas sana hingga Adipati yang baru kembali dari ruangan dokter, secepat kilat berlari dan membuka kasar pintu kamar Samuel.
Deg
"Sa-sam ...."
Adipati berjalan perlahan sembari menelan ludahnya kasar karena Samuel tengah memandanginya penuh dengan amarah dan kekecewaan.
__ADS_1
"Kenapa dengan kakiku, Pa?" tanya Samuel dingin.
Glek
"Ma-maafkan kami. Kakimu harus diamputasi karena telah membusuk," ucap Adipati membuat Samuel langsung tertawa mendengar pengakuan itu. Bagaimana bisa mereka memotong kakinya tanpa persetujuannya?
"Kau jangan bercanda, Pa." Samuel terus tertawa hingga ucapan Jasmine mampu membuatnya bungkam seketika.
"Itu benar, Nak. Kami telah menyiapkan kaki palsu untukmu. Mama harap kau bisa mengerti posisi kami," ucap Jasmine lembut menahan air mata.
Deg
Samuel menatap hampa kaki kirinya yang hanya sebatas lutut saja. Tak ada lagi kaki yang biasa digunakannya untuk berlari menuju Nada. Tak ada lagi kaki yang digunakannya untuk memberi pelajaran bagi orang-orang jahat yang ingin membahayakan keluarganya maupun Nada.
"Ta-tapi ... ba-bagaimana aku bisa bertemu Nada jika aku cacat seperti ini?" tanya Samuel lirih. Bukan nama baik yang dipikirkan lelaki itu, namun perasaan Nada jika melihat dirinya yang sekarang. Bisakah Nada menerima dirinya apa adanya?
"Dia pasti akan mengerti. Tapi, mungkin jika kau bertemu dengannya, dia tak akan bisa mengenali dirimu, Nak. Apa kau tak masalah?" tanya Adipati yang telah duduk di sisi ranjang Samuel yang terdiam kosong sebelum akhirnya membalas dengan suara bergetar.
"A-aku ... tak ingin bertemu dengannya lagi. Biarkan di-dia hidup dengan kehidupannya yang baru," sahut Samuel mengundang rasa sesak bagi Adipati dan Jasmine.
.........
"Sayang!" teriak Samuel sembari berlari menghampiri Nada yang tengah merentangkan kedua tangannya, siap menyambut sang suami.
Grep
Lelaki itu memeluk dan mengangkat tubuh ramping Nada yang terlihat sangat menikmati moment berharga itu. Keduanya saling pandang penuh cinta dan kebahagiaan.
Samuel tak mengindahkan dan terus berputar hingga akhirnya keduanya jatuh di atas rumput hijau yang lebat. Tempat itu sangat indah. Di dekat sana ada sebuah danau yang memantulkan indahnya langit jingga di atas sana serta bayang-bayang burung yang melintas, terlihat begitu sempurna.
Cup
"Aku merindukanmu, sayang," ucap Samuel sembari memeluk erat Nada yang tengah memandang langit. Wanita itu memutar kepalanya menghadap Samuel yang terlihat berkaca-kaca. Lelaki itu tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Nada setelah setahun berpisah.
"Bukankah kita selalu bertemu?" ucap Nada lembut sembari mengusap wajah tampan sang suami.
"Tidak. Kita telah lama tak bertemu. Kau kemana saja, hm?"
Nada tak menjawab dan hanya tersenyum begitu cantik pada Samuel yang mulai merasa aneh dengan keadaan ini.
"Bangunlah," ucap Nada.
"Bangun?" tanya Samuel kebingungan, "bukankah aku sudah bangun? Hm ... Ayo, kita berenang dulu, sayang," sambungnya lagi pada Nada yang langsung menggeleng.
"Ayo, bangun. Kau hanya bermimpi."
Deg
"Mi-mimpi?"
__ADS_1
"Ya, sayang," ucap Nada tersenyum cantik.
Perlahan, mata dengan bulu mata lentik itu pun terbuka. Samuel buru-buru melihat ke segala arah, namun ruangan itu kosong. Tak ada sosok yang begitu ia rindukan.
"Sa-sayang ..." panggil Samuel lirih. Ia menghapus air matanya yang telah jatuh sembari menatap keluar jendela. Di sana, cuaca begitu buruk seperti halnya dengan hatinya saat ini.
Ceklek
Waktu terasa berhenti sepersekian detik. Dunia yang awalnya dikira Samuel runtuh, seakan kembali berwarna karena sosok cantik jelita yang memandangnya penuh keterkejutan di depan pintu sana.
Nada. Batin Samuel bahagia.
Namun, semua harapannya sirna ketika ia mengingat kondisi fisiknya yang tak sempurna lagi. Apa Nada bisa menerima lelaki cacat? Apa Nada akan bahagia bersamanya jika ia hanya menjadi beban bagi wanita itu?
"Sa-sayang!!" Nada berlari secepat kilat pada Samuel yang menatapnya biasa saja.
Lelaki itu mengubah cepat raut wajah bahagianya tadi dengan wajah sedingin es. Tak ada lagi sosok hangat seperti dahulu. Setidaknya itulah yang Nada rasakan sekarang hingga rasa kecewanya naik ke permukaan ketika Samuel berkata begitu kejam.
"Aku belum menikah. Kau jangan menipuku!! Pergi dari sini!!! Pergi!!!" teriak Samuel.
Deg
"Ke-kenapa kau berkata begitu? A-aku istrimu ...."
"Cih! Dasar kau penipu!" sarkas Samuel langsung berpaling menahan sesak di hatinya. Lelaki itu tak menyadari jika di belakang sana, Nada telah bersiap menyerangnya.
Bug
Bug
Bug
"Lelaki brengsek! Aku mencintaimu, bodoh! Berhenti berpura-pura! Kau pikir aku tak tahu?!"
Deg
"Meskipun tubuhmu hanya tinggal setengah pun, aku tetap akan menerimamu. Aku akan menjagamu dan mengurusmu dengan baik. Sekarang giliranku yang akan melindungimu. Tak peduli orang lain berkata apa, kau tetap lelaki sempurna bagiku maupun keluarga besar kita. Aku di sini, aku ada untukmu," ucap Nada menggebu sembari menangis kencang.
"Sa-sayang ...."
Grep
****
..."Mencintai adalah ketika kita mampu menerima segala kekurangan pasangan kita. Tak meninggalkannya seorang diri ketika ia terpuruk, selalu ada untuk mendukungnya, selalu mendoakan yang terbaik untuknya."...
...- Caca -...
.......
__ADS_1
Hai, maaf Caca baru nongol lagi. Sebulan ini kegiatan sangat2 padat. Waktuku terkuras banyak di rl. Nulis 1 bab ini butuh perjuangan hampir sebulan krn memang sesibuk itu. Maafin Caca ya. Awalnya rencananya akan rutin up stlh slsai wawancara, tapi masa depan gk ada yg tau. Jadinya baru bisa up skrg 🤧 Maaf yg udh nunggu lama. Maaf beribu maaf 🙏🙏🙏🙏 Dan yg nanya, knpa wktunya dipercepat krna Caca gak suka bertele2. Semua yg ditulis dsni adalah berdasarkan perhitungan yg matang 🙏🙏🥰🥰