Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 19 : Bukan Wanita Lemah


__ADS_3

"Lukas? Berarti maksudnya tadi ... urusan di sini?" ucap Nada menggaruk tengkuk yang tak gatal.


Nada bersama keluarganya tengah berada di dalam barisan untuk memberikan ucapan selamat bagi Samuel dan Finna. Namun, karena matanya yang sejak tadi terus fokus ke satu titik di atas sana, ia bisa menangkap sosok Lukas yang tengah memberikan selamat kepada dua orang yang baru saja bertunangan. Ia bisa mengenali Lukas meskipun penampilan lelaki itu sedikit berbeda.


Perlahan, barisan itu semakin maju ke depan dan mengikis jarak hingga membuat Nada menahan nafas sejenak.


Aku bisa, aku bisa. Batinnya.


Begitu pun dengan lelaki yang baru saja bertunangan itu. Matanya sejak tadi memperhatikan Nada. Tatapannya sayu dan penuh kesakitan, namun terselip rasa cinta yang luar biasa. Kini Nada tengah berdiri di hadapan Samuel yang berusaha memberikan senyum terbaiknya, namun malah terlihat aneh karena senyum itu menggambarkan dengan jelas perasaan Samuel yang sebenarnya.


"Selamat untuk kalian," ucap Nada tulus dan tersenyum lembut ke arah Samuel yang tak sanggup membalas uluran tangan Nada.


Sedangkan Finna, ia sudah menatap tajam pada Nada sejak wanita itu menginjakkan kaki di atas panggung. Dia sangat panas melihat Nada yang terlihat sangat cantik dengan balutan busana sederhana itu. Finna menyesal karena tak bisa mengenali Nada pada pertemuan pertama mereka di restoran. Baginya, Nada telah berubah menjadi wanita yang sangat cantik, lebih cantik ketika mereka SMA dulu.


Nada sendiri merupakan adik kelas Samuel, Leo, dan Finna. Kala itu, Nada yang sedang kebingungan melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMA, tiba-tiba mendapatkan beasiswa di SMA terfavorit di Jakarta.


Nada sangat bersyukur karena selalu mendapatkan beasiswa penuh sejak SD. Bahkan ketika berkuliah pun dia juga mendapatkan beasiswa. Entah keberuntungan dari mana yang Nada peroleh.


Tapi yang jelas, Nada selalu berterima kasih pada Tuhan. Berkat bantuan itu, ekonomi keluarga Abiyaksa pun selalu stabil, seperti Steve dan Yuni yang bisa mendirikan toko di Pasar Senen. Toko itu menjual berbagai kue kering dan basah yang bisa dikirim ke seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri sekalipun.


☆Kembali ke laptop ☆


Perlahan Samuel membalas uluran tangan Nada yang masih terus menunjukkan senyum cantiknya, tapi justru membuat Samuel semakin sesak nafas. Mata lelaki itu sudah berkaca-kaca. Kalau saja Nada tak memberikan tatapan menakutkannya, sudah dipastikan bahwa air bening itu kembali luruh.


Kini jabatan tangan itu sudah terurai, meninggalkan rasa hampa yang seketika menyerang hati keduanya. Namun bedanya, Samuel dengan kekecewaannya, sedangkan Nada dengan sikap optimis karena sebentar lagi dia akan memulai permainan.


Tatapan Nada beralih pada Finna yang sudah menatapnya penuh kebencian. Sejak dulu Nada adalah saingan terberatnya di sekolah. Finna merupakan primadona di SMA sebelum akhirnya wanita dengan wajah polos dan cantik itu menjadi siswi di kelas 1.


"Selamat," jawab Nada datar dan terkesan arogan.


Hal itu semakin memantik emosi Finna yang sudah tak bisa menahan rasa kesalnya. Tangan Finna mulai terangkat ingin menampar Nada, namun Samuel buru-buru mencegahnya.


"Hei, j*l*ng sialan! Jangan berani kau menyentuhnya! Kubunuh kau!" tekan Samuel pada Finna yang seketika mematung dengan wajah mengeras karena Nada tengah tersenyum mengejek. Tentu Nada berani mengintimidasi Finna saat itu karena ia tahu Samuel akan membelanya.

__ADS_1


Sebenarnya, ketika pertemuan Nada dan Finna pada waktu proses seleksi di VC Restaurant, Nada cukup terkejut mendapati kenyataan bahwa Finna adalah atasannya di sana. Namun, mencampuradukkan pekerjaan dan urusan pribadi, bukankah itu sangat tak profesional?


Nada hanya akan menghormati Finna ketika berada di lingkungan VC Restaurant saja. Namun di luar itu, jangan harap seorang Nada akan menghormati orang yang pernah menindasnya dulu.


Ingatan Nada kembali ketika ia baru duduk di kelas 1 SMA. Kala itu, ia sedang bersantai di bawah pohon sambil membaca buku pelajarannya untuk mengisi waktu istirahat. Namun tiba-tiba, datang tiga orang gadis yang wajahnya biasa-biasa saja menurut Nada, dengan berani memaki dan menjambak rambut panjangnya.


"Dasar kau udik! Beraninya kau menebar bibit pelakormu di sekolah ini!" teriak seorang wanita yang beberapa kali mengusilinya.


Nada hanya diam membisu karena ia tak mengerti apa kesalahannya. Memang, sejak pertama kali Nada memasuki gerbang sekolah itu, ia selalu menjadi incaran para kakak kelas pria. Visualnya yang sangat cantik membuat seisi sekolah geger karena kedatangan siswa baru yang memiliki wujud seperti bidadari.


Plak


Satu tamparan melayang ke pipi mulus Nada waktu itu. Sudut bibirnya berdarah, rambutnya acak-acakan hingga mengundang tawa dari tiga gadis remaja yang mem-bully-nya. Nada tetap diam dan tak bersuara. Dia sudah cukup lelah dengan hidupnya karena sejak kecil, Nada sudah berkali-kali dihadapkan dengan kematian.


Dulu ia pernah diculik dan disekap di ruang bawah tanah ketika umurnya 10 tahun, namun seorang lelaki asing dengan badan penuh luka berhasil menyelamatkannya. Bahkan kalau Nada tak salah lihat, darah bercucuran dari kepala sampai kaki lelaki itu. Namun seakan tak merasakan sakit apa pun, lelaki itu menggendongnya dan berhasil keluar dari sana. Pemandangan di luar pun sangat mengerikan. Darah bercucuran dimana-mana.


Lelaki itu mengenakan masker putih yang telah bercampur dengan bercak-bercak kemerahan hingga Nada tak bisa melihat jelas wajah itu. Beberapa saat kemudian, Nada pun pingsan karena terlalu lelah dan lapar. Ia telah disekap selama 2 hari tanpa makanan dan minuman.


Hampir saja nyawanya melayang akibat kekurangan banyak darah. Dan sekali lagi, lelaki asing kembali menyelamatkannya yang sudah terkapar lemah di samping pagar itu. Nada tak bisa melihat wajahnya karena lelaki itu memakai masker dan kacamata.


Hingga kejadian yang paling memilukan terjadi kembali pada usianya yang ke 15 tahun, ketika libur sekolah dan semua murid diwajibkan untuk berkemah di hutan selama 3 hari.


Nada memang tak memiliki banyak teman. Dia termasuk anak yang introvert. Mungkin karena pengalaman hidup yang keras membuatnya tak mudah dekat dengan siapa pun.


Kecuali satu lelaki. Lelaki yang sedang membantunya mendirikan kemah di sana, Leo Oliver Prakasa.


Entah bagaimana Nada bisa mempercayai Leo begitu saja. Leo sendiri berada di urutan ke-2 pria populer di sekolah, sedangkan di urutan pertama adalah Samuel Oktavio Admadewa, lelaki tampan yang misterius.


Pertemuan pertamanya dengan Leo ketika pada saat Nada hampir pingsan karena mengikuti kegiatan ospek seharian penuh. Leo datang berlari ke arahnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Lelaki itu bahkan memaki panita di sana hanya karena Nada. Akhirnya, Nada dan Leo menjadi teman dekat. Di mana ada Nada, di situ akan ada Leo.


Namun malam itu, entah bagaimana Nada tengah berada di samping tebing yang sangat curam dengan tangan dan kaki terikat. Malam hari, hutan akan menjadi sangat gelap. Namun entah kenapa, Nada yakin bahwa 10 cm ke depan tak ada lagi tempat berpijak.


"Mati kau!" geram seorang wanita yang suaranya sangat familiar di telinga Nada.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba sebuah tangan mendorongnya jatuh ke bawah bersamaan dengan suara yang berteriak sangat kencang. Itu bukan suara Leo, tapi suara lelaki asing yang terdengar familiar bagi Nada.


Tubuh Nada terjun bebas hingga ia hanya bisa pasrah dengan nasib selanjutnya. Namun, sebuah tangan berhasil meraihnya sebelum tubuh Nada jatuh membentur permukaan air di bawah sana.


Pelukan hangat yang terasa begitu melindunginya. Bahkan tubuh tegap itu menjadi tameng bagi Nada dan menukar posisi Nada ke atas tubuhnya. Lelaki itu memeluk Nada sangat kencang dengan tubuh keduanya bergetar hebat.


Bbbbyyyuuuurrrrr


Air sungai di sana membentuk gelombang besar karena hantaman kuat itu.


Tiiitttttt


Nada tak mengingat bagaimana cara ia keluar dari sana. Ketika ia terbangun setelah 2 hari pingsan, Nada hanya melihat ruangan serba putih dengan infus di tangan mulus miliknya. Anehnya, Nada sedikit pun tak merasa trauma. Baginya itu adalah hal biasa. Atau apakah ada kejadian yang lebih kejam dari itu yang telah terjadi di masa lalu?


Sejak saat itu, Steve memaksa Nada untuk belajar bela diri agar putrinya bisa menjaga diri dari serangan berbahaya yang sewaktu-waktu datang menyapa. Entah siapa yang berniat mencelakai wanita itu sejak dulu.


☆Kembali lagi ke laptop☆


Nada tersenyum miring ke arah Finna yang membalasnya tak kalah tajam. Mungkin jika ini adalah cerita fantasi, sudah ada cahaya merah dan biru yang saling berbenturan keluar dari mata kedua wanita itu.


"Pembunuh!"


Deg


****


..."Keringat yang mengalir di medan latihan adalah penebus darah di medan pertempuran"...


...- Anomin -...


...♡♡♡♡...


Sampe sini ada yang udah bisa nebak gak jalan cerita sebenarnya gimana? wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2