
Di dalam sebuah ruangan kerja mewah terlihat seorang pria mengacak rambutnya frustasi karena pekerjaannya bertambah kali lipat, sedangkan sang empunya lebih memilih mendampingi bidadari cantik itu.
Samuel memang sudah menyelesaikan pekerjaan selama 4 hari ke depan, namun untuk perusahaan sebesar ini, sudah dipastikan akan ada agenda mendadak hingga membuat Leo berteriak kesal di dalam sana.
"SAMUEL!!!!"
Berbanding terbalik dengan lima orang paruh baya yang sedang fokus menatap TV berukuran 84 inci yang semalam baru dibeli oleh Adipati, hanya untuk menonton menantunya.
Steve, Yuni, Jasmine, Adipati, dan Pak Ujang sejak pagi tadi sudah ruwet di depan TV itu sembari memakan pop corn lengkap dengan minuman soda, namun Adipati langsung menyemburkan pop corn di dalam mulutnya ketika melihat Nada melakukan sesuatu yang epik di TV sana.
.........
Hotel Maesa
Kompetisi
****
Finna yang berada di barisan ketiga tersenyum licik ketika melihat Nada sedang bergerak gelisah, namun beberapa detik kemudian, Finna membulatkan mata ketika Nada bergerak begitu cepat ke meja sebelahnya dengan serbet yang sudah dipotong menjadi 4 bagian.
Beberapa peserta yang menyadari hal itu hanya saling pandang sejenak lalu melanjutkan masakan mereka karena waktu semakin menipis, sedangkan Samuel dibuat terpaku di depan sana bersamaan para juri yang teralihkan karena pertunjukkan menarik ini.
Nada meletakkan 1 helai serbet yang telah terbakar itu ke atas kompor dan mulai memanaskan wajan untuk menggoreng ayam yang sudah dibumbui dengan beberapa bahan, termasuk terasi yang baru selesai ia bakar. Nada menunggu sejenak hingga akhirnya minyak telah panas lalu buru-buru memasukkan 5 potong ayam dengan tetap memperhatikan api di bawah sana.
__ADS_1
Memotong serbet menjadi beberapa bagian, mempermudah dirinya untuk mengatur besarnya kobaran itu. Sesekali Nada akan melihat sekitarnya, ada beberapa orang yang sudah hampir selesai.
Begitu ayam telah matang dengan sempurna, Nada langsung mengangkat dan mengurangi minyak di wajan. Sedetik kemudian, ia memasukkan bahan untuk membuat sambal, yaitu cabai merah, cabai hijau, bawang putih, bawang merah, dan daun bawang.
Wangi semerbak begitu menusuk indera penciuman beberapa orang di sana. Mereka memperhatikan Nada yang bergerak cepat dengan memasukkan penyedap rasa. Wanita itu terlihat memejamkan matanya sejenak berusaha meresapi rasa tersebut.
Sempurna. Batin Nada.
Melihat waktu yang tersisa tinggal 5 menit lagi, Nada bergegas menata hasil masakannya di atas piring keramik putih polos kotak berukuran 25x20 cm. Ia menyusunnya dengan sangat rapi dan cantik, bertepatan dengan bunyi lonceng pertanda waktu telah habis.
Nada mengusap keringat di dahinya sembari menatap serbet yang telah berubah warna itu. Dia sebenarnya tak menyangka akan melakukan hal tersebut, namun ketika ia melihat Samuel mengeluarkan sapu tangan dari saku kemeja dan membersihkan wajah dengan benda itu, Nada langsung menemukan ide gila ini.
Nada melirik ke arah depan dimana sang suami mengacungkan dua jempol secara diam-diam padanya. Keduanya tersenyum haru karena Nada berhasil menyelesaikan tantangan hari ini dengan heroik. Sungguh, Samuel semakin bangga pada istrinya itu.
Kini kelompok itu telah berdiri di hadapan sebuah masakan yang dikenal dengan nama Ayam Goreng Oseng Bawang. Makanan itu sangat sederhana, berbeda dengan masakan para kontestan lain yang berlomba-lomba membuat ayam dengan resep yang jauh lebih susah.
Para juri saling pandang sejenak sebelum akhirnya mencicipi masakan Nada yang dibuat menegang di tempat. Semua juri terdiam beberapa saat dengan Samuel yang ikut mencicipi masakan istri hebatnya ini.
"Sangat enak," ucap salah satu juri yang langsung disetujui oleh yang lain.
"Ayam ini sangat wangi dan empuk. Saya seperti bernostalgia pada masa kecil saya. Apa kau menggorengnya dengan daun jeruk?" tanya seorang juri dengan Nada yang membenarkan hal tersebut.
"Tadi saya melihat kamu membakar sesuatu ....”
__ADS_1
"Ya, kompor saya tak bisa menyala. Jadi saya menggunakan serbet untuk bisa menghasilkan api. Hmm ... nanti serbetnya akan saya ganti," ucap Nada polos hingga mereka tertawa lucu, sedangkan Samuel rasanya ingin mencium ganas bibir merah yang tengah tersenyum kikuk itu.
"Kau sangat hebat bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Bagi mereka yang bekerja dibagian dapur, kecerdikan dan mental sangat dibutuhkan jika menghadapi suatu masalah ketika bekerja," puji Samuel hingga Nada berusaha menyembunyikan rona merahnya.
Para juri dan Samuel pun melanjutkan penilaian mereka dengan berakhir pada total skor yang beda tipis di antara beberapa kontestan. Penilaian yang dilakukan terbilang cukup ketat karena nantinya yang menjadi pemenang akan diutus ke Singapura.
Beberapa saat kemudian, semua skor telah dirangkum oleh Adel di layar besar sana membuat semua orang begitu gugup bersamaan dengan beberapa teriakan bahagia karena berhasil melanjutkan ke babak selanjutnya.
Nada berdiri goyah ketika namanya berada diperingkat ke-12 yang artinya dia berhasil lolos menuju ke tantangan hari kedua, sedangkan Finna berada urutan ke-3. Bukankah ini pencapaian yang biasa? Jika dibandingkan dengan para seniornya di sana, Nada diibaratkan telur yang baru bermetamorfosis sebagai larva, sedangkan kontestan lain telah menjadi kupu-kupu.
Sementara itu, di kediaman Nada terjadi kehebohan luar biasa setelah membaca nama Nada ada di papan peringkat sana. Wanita itu akan melanjutkan ke babak selanjutnya bersama 14 orang lainnya yang meraih poin tertinggi.
Steve terlihat mengusap sudut matanya. Dia akhirnya sadar bahwa Nada memang keturunan Mikael. Chef handal yang berhasil menyabet peringkat kedua di lomba kuliner internasional 13 tahun yang lalu sebelum insiden naas itu terjadi.
"Kau berhasil, nak."
****
..."Percayalah dan ambilah tindakan seakan-akan hal tersebut tidak mungkin gagal."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
__ADS_1