
Finna menegang di tempatnya. Ia sangat terkejut mendengar bisikan Nada di telinganya hingga tubuhnya bergetar sangat hebat. Keringat dingin mulai bercucuran di wajah cantiknya. Matanya menjadi tak fokus karena sakit kepala yang tiba-tiba datang menerjang. Kejadian 7 tahun yang lalu menyusup masuk ke dalam otaknya. Bayang-bayang seorang wanita yang memohon ampun pun mulai menari-nari di pelupuk matanya.
Ti-tidak, apakah Nada mengetahui sesuatu? Batin Finna gelisah.
Melihat rajut wajah Finna yang sangat ketakutan membuat Nada tersenyum senang dan melangkah menjauh dengan sangat anggun. Sedangkan Samuel, lelaki itu tak memedulikan Finna yang sudah pucat pasih. Fokusnya hanya pada Nada yang kini telah berdiri di hadapan Adipati dan Jasmine.
.........
"Selamat Nyonya dan Tuan," ucap Nada tersenyum hangat tanpa takut sedikit pun pada Jasmine yang sudah menatapnya bak harimau.
"Kau sudah lihat, bukan? Samuel sudah bertunangan dengan Finna. Jadi, berhentilah menggoda anakku!" ucap Jasmine ketus.
Jika orang lain memperhatikan lebih teliti, maka mereka akan melihat dengan jelas bahwa mata wanita paruh baya itu tengah berkaca-kaca. Jasmine sekuat tenaga tak menumpahkan air matanya di hadapan Nada. Baginya, akan lebih baik jika Nada tak mengetahui semua yang terjadi di masa lalu.
Membiarkan Nada dengan kehidupannya sekarang, itu akan jauh lebih aman daripada mereka harus melihat Nada kembali terluka lagi dan lagi. Sudah cukup semua penderitaan yang wanita itu rasakan, biarlah Nada mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan mereka semua akan melindunginya dari balik layar.
Jasmine dengan perlahan membalas uluran dari tangan mulus itu. Ia seakan ingin menarik Nada ke dalam pelukannya dan membawa wanita itu pergi dari sana. Sedangkan Adipati, ia hanya menunjukkan wajah datarnya, namun percayalah, tangan pria paruh baya itu terkepal sangat kuat di bawah sana.
Nada, meskipun ia tersenyum cerah bak mentari pagi, namun tatapan dari mata jernih dan polosnya tak mampu membohongi dua orang yang berdiri di hadapannya itu. Seandainya takdir berubah haluan dan memberikan kesempatan bagi Nada dan Samuel untuk bersama, tentu para orang tua itu akan bersorak bahagia.
Perlahan jabatan tangan itu terurai hingga Jasmine mere mas lengan Adipati yang langsung membelitkan tangan kekarnya di pinggang istrinya. Dua paruh baya itu menatap hampa ke arah Nada yang sudah melangkah pergi.
"Sayang, apakah aku sudah mirip dengan mertua yang kejam seperti film semalam?" tanya Jasmine lirih.
"Ya, sayang. Selamat, kau sebentar lagi akan memenangkan Piala Oscar," sahut Adipati sembari membelai surai hitam Jasmine. Mata keduanya terus mengikuti langkah kaki Nada yang tengah berjalan ke arah Leo.
.........
Nada memutuskan pergi ke taman belakang ditemani Leo. Hatinya tak akan kuat lagi jika berlama-lama di dalam sana. Pasangan itu berjalan santai dengan tangan yang saling bertaut. Senyum keduanya pun semakin menghiasi keindahan langit di malam hari.
Ratusan bintang di atas sana, bunga-bunga yang indah, cahaya remang-remang yang menghiasi sepanjang jalan mereka melangkah adalah kebahagiaan luar biasa bagi Leo.
Sudah lama ia memimpikan hal ini. Berjalan bersama wanita yang sangat ia cintai dan menggandengnya mesra. Seketika ingatan Leo kembali pada beberapa hari lalu ketika Nada bersedia menerima dirinya.
"Nad, bagaimana dengan pertanyaanku kemarin? Apa aku sudah boleh mendapatkan jawabannya?" tanya Leo gugup.
Dia sedang berkunjung ke rumah Nada setelah mengetahui bahwa semalam Nada jatuh pingsan.
"Kenapa kau ingin aku menjadi pacarmu, Kak?" tanya Nada yang sudah duduk di depan Leo. Ia bisa melihat jelas wajah lelaki itu memerah bak kepiting rebus.
"He'em ... a-aku ingin menjagamu."
Nada seketika terdiam. Mungkin jika pria lain yang mendapatkan pertanyaan seperti itu, mereka akan menjawab, "Karena aku menyukaimu." Namun, Leo lelaki yang berbeda.
Leo yang melihat Nada hanya diam pun langsung mengambil tindakan cepat. Lelaki itu tak ingin perjuangannya selama ini tak mendapatkan hasil apa pun.
Nada yang sedang tak fokus dibuat kaget ketika Leo sudah berlutut di depan kursinya. Lelaki itu dengan berani memegang lembut tangan Nada seolah meyakinkan wanita itu bahwa dirinya yang terbaik.
"Apa kau bisa menerimaku? Kalau kau belum bisa mencintaiku itu bukan masalah. Cukup aku yang mencintaimu. Aku tak akan menuntut apa pun darimu, Nad," ucap Leo lembut.
"Mungkin aku bukan lelaki yang baik karena seperti yang kau tahu, sejak kita SMA aku selalu berkelahi. Tapi aku bisa menjadi lelaki yang baik untukmu ...."
__ADS_1
"Kau hanya perlu menerima kasih sayangku, sisanya biar aku yang berusaha dan menjagamu," sambungnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
Nada semakin merasakan sesak. Entah mengapa ia sangat sulit menerima karena sejujurnya, hati Nada tak sama seperti dulu terhadap Leo.
Mungkin saja, apa yang Nada rasakan dulu hanya sekedar rasa kagum dan tak lebih dari itu, namun melihat ketulusan Leo membuat Nada tak tega menolak lelaki baik itu.
"Bagaimana? Kau mau, kan?" tanya Leo sedikit memaksa.
"A-aku tak bisa ..." ucap Nada lirih.
"Please, berikan kesempatan untukku. Kalau nyatanya kau tetap tak mencintaiku dan tak bahagia bersamaku, mari kita menjadi teman kembali," sahut Leo memberikan opsi.
"Ta-tapi ...."
"Kumohon ...."
"Ba-baiklah."
☆Kembali ke laptop☆
Leo mengajak Nada untuk duduk di kursi taman tepat di bawah lampu yang menerangi keduanya. Dengan jantan, Leo memakaikan jas hitam miliknya ke pundak Nada karena hawa yang semakin dingin.
"Terima kasih, Kak," ucap Nada tersenyum indah.
"Sama-sama. Apakah besok kau sudah kembali masuk ke kantor?"
"Ya, sudah cukup 3 hari aku beristirahat. Aku tak ingin makan gaji buta," ucap Nada sembari tertawa hingga Leo pun ikut tertawa.
"Nad...."
Leo memanggil lirih nama Nada hingga wanita itu menatap tepat di bola mata Leo yang sedikit berkaca-kaca.
"Kenapa, hem?"
Nada membelai lembut pipi Leo yang sangat menyukai belaian tangan lentik itu. Ini adalah momen terindah seumur hidup Leo karena ia bisa memiliki Nada, wanita satu-satunya yang mampu membuat ia berdebar.
"Aku sangat mencintaimu."
Mendengar kalimat yang sama sebanyak dua kali di malam yang sama dengan dua lelaki berbeda, bukankah itu seperti cerita dongeng? Namun nyatanya, seorang Nada bisa mendapatkan itu.
"Ya, aku tahu."
Tatapan keduanya semakin lekat hingga dengan perlahan Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Nada yang terdiam mematung. Bukan karena ia sedang terpesona, namun di belakang Leo ada seorang pria yang ia kenal tengah mengacungkan sebuah senjata api.
Dor
Bug
Tubuh Leo terlempar di sisi jalan taman karena Nada yang mendorong kuat tubuh lelaki itu agar terhindar dari peluru yang melaju sangat cepat ke arah mereka.
Deg
__ADS_1
Waktu terasa berhenti ketika Leo melihat Nada masih di posisi yang sama, namun dadanya mengeluarkan darah segar.
"Na-nada!!!!" teriak Leo kencang.
Taman itu sangat sepi karena semua orang sedang mengikuti acara di dalam sana, namun teriakan dan bunyi letusan senjata api itu seakan sampai ke telinga seseorang yang sejak tadi diam melamun di atas panggung.
Samuel, lelaki itu berlari keluar ruangan. Hatinya seakan tahu bahwa belahan jiwanya sedang membutuhkan dirinya.
"Nada!!" teriak Leo lagi dengan menekan luka Nada.
Dia tak bisa meninggalkan Nada sendirian di sana untuk mencari bantuan. Luka itu harus tetap di tekan agar tak semakin banyak darah yang keluar, sedangkan lelaki yang menembak tadi sudah hilang entah ke mana. Leo tak ada waktu untuk mengejar si brengsek itu karena kondisi Nada sungguh sangat mengerikan.
"Sam!! Samuel!!" teriak Leo sangat kencang berharap Samuel mendengarkan teriakannya.
Leo mengumpat kesal karena handphone miliknya tertinggal di bashboard mobil.
"Sial! Sial! Sial!"
Lelaki itu tak punya pilihan lain selain berlari kencang menuju tempat parkir dengan membawa tubuh Nada, namun sebelum tindakan itu terjadi, Samuel langsung menerobos ke sisi lain dengan tubuh bergetar hebat.
Nada, wanita itu sudah tergeletak tak berdaya. Dengan kaki yang tak bisa menopang kuat, Samuel menggendong tubuh lemah itu diikuti Leo yang menyalahkan dirinya sendiri. Mereka langsung berlari ke arah mobil Samuel dan melaju dengan sangat cepat menuju rumah sakit terdekat.
Di kursi belakang, Nada menatap sayup-sayup wajah Samuel yang terlihat menangisinya. Kepala wanita itu berada di atas paha Samuel yang masih tetap menekan luka di dadanya.
"Kau harus tetap sadar. Jangan menutup matamu!!"
Samuel membentak Nada yang terlihat mulai memejamkan mata indahnya. Tubuh itu sangat dingin hingga membuat Samuel semakin ketakutan.
"Ma-maaf aku tak menjagamu, hem? K-kau harus bertahan. Leo lebih cepat!!!" teriak Samuel menggila pada Leo yang semakin mempercepat benda baja itu.
"Vi-vio ... Lu-kas ..." ucap Nada lirih dengan nafas yang semakin lemah hingga tangan Nada yang tadinya berada di dada Samuel seketika luruh seperti tak bertulang dengan mata yang sudah terpejam erat.
Wanita itu telah berhenti bernafas.
****
..."Kau tahu, kesalahan terbesarku karena aku tak bisa mengenali dirimu sejak awal. Kekasihku, Vio milikku."...
...- Dianada Safaluna Abiyaksa -...
...♡♡♡♡...
●●●●
Terima kasih buat teman2 yang sudah mendukung karya Caca dgn memberikan vote, like, komentar, dan hadiah.
Tetap dukung Caca ya, spya Caca bisa lebih semangat lagi utk memberikan karya yg lebih baik ke depannya.
Dan mohon maaf jika novel ini masih banyak kekurangan. Caca masih penulis pemula dan perlu bljar banyak dari kakak2 author yg lain.
Sekali lagi, terima kasih atas dukungan kalian semua. Sayang kalian banyak-banyak. ❤❤❤
__ADS_1
☆Menulis dengan hati☆