Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 72 : Lembaran Baru


__ADS_3

Cup


Ciuman tiada henti Samuel dapatkan sedari tadi dari sang istri tercinta. Tak ada yang bisa memisahkan keduanya sekalipun itu Steve yang sejak tak bisa berkutik di ujung ruangan sana. Tadi, ketika dia dan Yuni sedang berjualan di pasar, Steve menerima telepon dari Adipati jika Samuel telah sadar dan Nada berada di sana.


"Bagaimana?"


Lamunan Steve buyar ketika Adipati menepuk pelan bahunya. Mereka memilih keluar ruangan untuk membicarakan sesuatu yang penting, meninggalkan Samuel yang masih dikerubungi oleh para wanita di atas ranjang sana.


"Ayolah, Ma," bujuk Samuel pada Jasmine yang menggeleng. Bagaimana bisa Jasmine meninggalkan Nada dan Samuel berduaan di dalam kamar? Ia bukan anak kecil yang tak mengerti soal "itu".


"Kau masih sangat lemah, Sam. Istirahatlah dulu. Pulihkan tenagamu," ucap Jasmine pada Samuel yang langsung murung. Ia begitu merindukan Nada, kenapa para orang tua ini tak bisa mengerti kebutuhannya? Pikirnya.


"Sudahlah. Ayo, tidur," kata Nada dengan wajah memerah. Wanita itu masuk ke dalam pelukan Samuel yang mendekapnya begitu erat. Andai saja tubuh Nada bisa dimasukkan ke dalam dirinya, mungkin sedari dulu akan Samuel lakukan.


.........


Hari semakin larut. Cuaca yang tadinya mampu memorak-porandakan hati Samuel, kini telah berganti dengan hamparan bintang di langit hitam sana yang terlihat begitu indah. Lelaki itu sejak tadi terus memandangi wajah cantik Nada yang telah terlelap di dalam rengkuhannya. Beribu ucapan syukur ia utarakan dalam hatinya karena masih diberikan kesempatan melihat sosok yang selalu menjadi tujuan hidupnya itu.


"Terima kasih ..." bisik Samuel lirih sembari mengusap lembut pucuk kepala wanita itu.


"Kau tahu, jika kita memang tak bisa bersama lagi, aku akan menjadi gila. Aku sudah memikirkan jika memang harus melepaskanmu, maka aku akan hidup menyendiri di tengah hutan. Tapi nyatanya, pemikiran egois itu salah besar. Aku tak bisa melihatmu bersama dengan lelaki lain. Aku ... aku tak bisa hidup tanpamu, sayang."


Cup


Samuel mengecup lembut kening Nada yang sebenarnya sejak tadi telah mendengarkan curahan hati itu. Anggaplah ia wanita yang tak waras karena masih ingin bersama lelaki cacat. Namun baginya, Samuel sangat berharga lebih dari apa pun di dunia ini. Lelaki itu tak bisa ditukar dengan harta berlimpah sekalipun. Dan Nada akan menjadi wanita paling bodoh jika melepaskan lelaki sebaik Samuel.


"Maafkan aku atas semua penderitaan yang kau alami. Aku tahu aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu. Aku masih lemah dalam melindungimu. Ditambah dengan kondisiku sekarang, apa aku masih bisa menjadi tempat berlindungimu?" ucap Samuel panjang lebar sembari mendekap lebih erat Nada yang mulai menitihkan air mata.


"Aku begitu mencintaimu, sayang. Tapi sekarang, aku terlalu takut memandang masa depan. Semuanya terlalu abu-abu karena kondisiku. Apa kau tetap hanya akan memandangku saja? Bagaimana jika ada lelaki yang lebih baik dariku? Apa kau akan meninggalkanku?" ucap Samuel dengan suara bergetar.


Nada buru-buru membuka matanya dan menatap Samuel begitu dalam. Bisa ia rasakan jika Samuel begitu takut kehilangan dirinya. Mata ini, mata hitam pekat yang memandangnya penuh rasa cinta dan ketakutan ini, membuat Nada merasa menjadi wanita yang paling beruntung. Samuel, lelaki ini hanya ada satu di dunia.


Cup


Nada mencium sekilas bibir Samuel sebelum ia berkata, "Bagaimana bisa aku meninggalkanmu jika rasa cintaku telah kau rebut seluruhnya, hem? Kau yang pertama dan terakhir untukku, sayang," kata Nada begitu lembut.


"Bukankah sudah aku katakan? Tak peduli kondisimu seperti apa, aku tak akan pernah meninggalkanmu karena kau adalah milikmu sejak 13 tahun yang lalu."


Keduanya tersenyum dengan tatapan mesra yang semakin mengubah atmosfer kamar menjadi lebih romantis. Lampu remang-remang di sisi tempat tidur menjadi saksi sebuah janji setia yang kembali terucap oleh pasangan suami istri yang begitu tak ingin kehilangan satu sama lain.

__ADS_1


.........


2 bulan kemudian


****


"Sayang!! Aku datang!!" teriak Nada sembari berlari ke arah Samuel yang tengah duduk di taman belakang kediaman Admadewa.


"Hati-hati!!" Samuel buru-buru menerjang tubuh Nada yang hampir jatuh karena menabrak kursi di dekat situ.


"Bisakah kau jangan berlari, hah? Setiap hari kau membuatku jantungan," cecar Samuel mencoba bersabar. Entah mengapa akhir-akhir ini Nada selalu menguji emosinya. Wanita itu pun selalu meminta hal-hal aneh padanya maupun pada semua orang yang tinggal di sana.


"Sayang ..." rayu Nada seraya bergelayut manja pada Samuel yang hanya bisa menarik nafas pasrah. Setelah ini sudah dipastikan akan ada yang menjadi korban.


"Kenapa, sayang? Kau ingin apa, hem?" tanya Samuel lembut sembari merapikan rambut Nada yang tengah duduk di atas pahanya.


"Tadi Pak Ujang baru kembali dari pasar. Dia membawakan mangga muda sesuai pesananku."


"Hm, lalu?" Samuel masih belum mengerti arah pembicaraan ini hingga Nada yang merasa Samuel tak peka akhirnya menangis. Sontak saja Samuel menjadi gelagapan. Ia terus membujuk Nada yang menangis semakin kencang.


"Hei, aku salah apa? Maafkan aku. Kau ingin apa? Katakan saja, sayang. Aku tak akan tahu jika kau tak mengatakannya."


Deg


"A-apa? Ta-tapi itu sa-sangat asam," kata Samuel seraya membayangkan, "ba-baiklah, berhenti menangis, hem?" Ia buru-buru menyetujuinya karena tangisan Nada semakin menyayat hati.


Samuel sebenarnya merasa sedikit aneh dengan perubahan sikap sang istri, namun karena ia pun harus menyelesaikan segala pekerjaan kantor yang begitu banyak hingga ia tak memiliki waktu luang untuk membahas hal ini. Ditambah, Nada juga tak menunjukan gejala-gejala berbahaya. Mungkin setelah ini dia akan membawa Nada ke dokter, pikirnya.


"Ayo, sayang," ajak Nada girang pada Samuel yang tersenyum lucu.


"Ayo," sahut Samuel sembari menggendong sang istri. Kondisi kaki Samuel telah dipasangi kaki palsu yang terbuat dari bahan terbaik hingga terlihat begitu mirip dengan wujud kaki aslinya.


.........


Kediaman Admadewa


Pukul 8 malam


****

__ADS_1


"Ha-hamil?!" seru Nada tak percaya. Ia tadinya jatuh pingsan karena terlalu lelah melayani hasrat sang suami yang tak henti-henti menggempurnya.


"Sa-sayang ..." panggil Nada pada Samuel yang terlihat diam mematung dengan bulir bening itu telah berjatuhan. Benarkah? Benarkah dirinya akan menjadi seorang ayah? Benarkah istrinya tengah mengandung benihnya? Samuel bahkan tak bisa berkedip untuk waktu yang lama saking terkejutnya.


Bug


"Aawwww!!" teriak Samuel kencang karena Adipati memukul keras kepalanya dengan sendal jepit.


"Kau bodoh?!! Bagaimana bisa kau tak mengatakan apapun!!" geram Adipati yang langsung mendapat cubitan dari Jasmine yang sudah menangis terseduh-seduh.


Grep


"Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih banyak," ucap Samuel begitu tulus sembari memeluk Nada yang menangis haru. Kini kebahagiaan datang perlahan pada orang yang patut mendapatkannya. Sungguh, usaha dan pengorbanan tak akan pernah menghianati hasil.


.........


1 minggu berlalu


****


"Kau siap?" tanya Samuel pada Nada yang memandang gedung mewah di luar sana. Semua orang telah sepakat bahwa Nada akan tetap menjadi perwakilan dari VC Restaurant pada kompetisi kuliner internasional yang akan diadakan 2 minggu lagi di Singapura.


Setahun yang lalu, VC Restaurant tak mengirimkan kandidatnya dikarenakan musibah yang menimpah keluarga itu. Dan hari ini, sang petarung telah kembali dengan keahlian yang jauh lebih baik.


"Ya, aku siap!" seru Nada penuh semangat.


Nada bukannya tak memperdulikan kehamilannya, namun ia ingin bisa mewujudkan mimpinya sebelum melahirkan nanti. Bukankah ini adalah kesempatan istimewa? Tuhan masih memberinya kesehatan sampai sekarang agar ia bisa mengejar cita-citanya yang sempat tertunda. Tentu Samuel pun akan selalu memantau dan menjaga istri dan calon anaknya itu.


Akhirnya, lembaran baru pun dimulai. Tak ada lagi yang bisa menghalangi wanita itu karena sang pelindung pun telah berubah semakin kuat seiring banyaknya tantangan yang semakin mendewasakan.


"Kau pasti bisa!! Dianada Safaluna Abiyaksa, SEMANGAT!!!" seru Samuel membara.


****


..."Menggapai cita-cita bukanlah melompat melewati samudera, tapi berjalan setapak demi setapak menuju puncak."...


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2