Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 45 : Bertemu dengan Musuh


__ADS_3

Samuel menatap kesal pada mamanya yang terlihat tak merasa bersalah sedikit pun. Wanita paruh baya itu tengah memberikan beberapa oleh-oleh untuk Nada yang hanya pasrah menuruti Jasmine.


"Pa, kenapa kalian harus pulang sekarang?" sewot Samuel yang langsung mendapatkan lemparan bantal dari Adipati.


Bug


"Dasar anak kurang ajar," sahut Adipati.


Samuel mengacak rambutnya frustasi memikirkan nasib adik kecilnya yang batal dipijit.


"Kenapa? Memangnya kalian sedang apa?" goda Adipati hingga Nada yang mendengar pun menjadi memerah.


"Kau seperti tak pernah muda, Pa," sahut Samuel malas.


"Sudahlah. Ayo, ke ruang kerja sebentar. Ada yang ingin papa bicarakan denganmu," ajak Adipati yang langsung diangguki Samuel setelah pamit pada Nada.


......


...


Ruang kerja Samuel


****


Dua lelaki tampan dengan usia berbeda itu terlibat percakapan serius di dalam sana. Terlihat sang putra memegang pelipisnya yang berdenyut sakit.


"Kau yakin, Pa? Bukankah itu akan berbahaya bagi kesehatannya? Dan bagaimana jika om Steve tak menyetujuinya?"


"Hei! Kau suaminya. Kau lebih berhak daripada Steve. Papa yakin Nada hanya akan mengikuti apa perkataanmu."


"Ya, aku memang suaminya. Tapi aku tak ingin terjadi apa pun padanya, Pa."


"Sudahlah. Kita tak boleh egois. Nada berhak mengetahui segalanya. Meskipun itu menyakitkan, namun Mikael akan sedih jika sampai mati pun Nada tak mengetahui siapa ayah dan ibunya yang sebenarnya."


"Hm, baiklah. Aku akan bertanya padanya dulu."


"Ya, seharusnya memang begitu. Papa sudah merenovasi lebih luas rumah itu, tapi rumah Nada masih berdiri tegak di tempat yang sama."


"Terima kasih, Pa," ucap Samuel tersenyum.


Jasmine dan Adipati memang pergi ke rumah masa kecil Nada. Mereka memperbaiki dan menambah gedung baru di halaman itu hingga terlihat lebih megah. Semua mereka lakukan demi Nada.


......


...


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Samuel sambil memeluk Nada yang tengah berbaring menghadap langit kamar.


"Aku menunggumu. Apakah semuanya baik-baik saja?"


Nada memiringkan tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Samuel yang memberikan kecupan singkat di keningnya.


Cup

__ADS_1


"Ya, semua baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir, hem?"


Samuel menepuk pelan punggung Nada seperti menidurkan anak kecil. Tubuh keduanya menempel dengan tatapan penuh rasa sayang.


"Sayang," panggil Samuel pada Nada yang terlihat mulai mengantuk.


"Hem, kenapa?"


"Kalau kita pindah rumah, apa kau mau?"


"Ke mana pun kau pergi, di situlah aku berada. Sekali pun kau miskin dan harus tidur di bawah kolong jembatan, aku akan tetap menemanimu."


Samuel yang mendengar betapa bijaknya sang istri merasa semakin bersyukur memiliki wanita ini. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Nada di hatinya sampai kapan pun. Tapi bagaimana jika Nada yang meninggalkannya? Mampukah Samuel bertahan sekali lagi?


"Terima kasih, sayang. Tidurlah."


Cup


......


...


Keesokan harinya


Gudang tua milik Samuel


****


Lukas berjalan keluar dari sana dengan tampilan yang berantakan. Ia baru saja dibangunkan dan disuruh pergi. Mungkin Nada sudah menjelaskan semuanya pada Samuel, pikirnya.


"Halo Lukas," sapa Ketty di seberang sana.


"Hai, apa kau baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Aku mencoba menghubungimu, tapi nomormu tak pernah aktif."


"Maaf, aku sibuk. Aku akan segera menemuimu. Sebentar lagi kau akan melahirkan, bukan?"


"Ya, kau benar. Apa aku menyusahkanmu?"


"Tentu tidak. Aku akan datang hari ini."


Tut


Lukas buru-buru melangkah pergi, namun telepon genggamnya berdering yang ternyata dari anak buahnya yang menjaga Dika di Singapura.


"Halo."


"Tu-tuan, maaf tuan Dika telah kabur tadi malam."


Deg


.........

__ADS_1


Admadewa Grup


Pukul 11 pagi


****


Nada menjalani harinya dengan senyum ceria hingga membuat beberapa orang yang duduk di dekatnya menatapnya jengah.


Dret


...Sayang, datang ke ruanganku sekarang. Aku merindukanmu.


...


Isi pesan dari Samuel membuat Nada tersenyum geli. Padahal baru beberapa jam saja mereka berpisah, namun sang suami sudah merindukannya. Nada pun bergegas pergi untuk melepas rindu bersama Samuel yang sudah merajuk memintanya segera datang.


"Hei, cupu!" panggil seorang wanita yang tempo lalu bertengkar dengannya di dalam lift yang ternyata satu lantai dengannya bekerja.


"Ada apa?" sahut Nada malas.


"Bukankah kau mencari pak Lukas dua hari lalu? Dia tadi berpesan padaku jika ia menunggumu di depan gedung kantor."


"Benarkah?" Nada sedikit terkejut. Berarti Samuel sudah membebaskan lelaki itu. Sebaiknya dia melihat keadaan Lukas dulu, pikirnya.


"Terima kasih."


Ting


Lift di sebelah kiri terbuka hingga Nada dengan secepat kilat masuk dan menekan tombol 1. Ia mengirim pesan lebih dulu pada Samuel untuk menunggunya sebentar lagi.


Ting


Nada berjalan keluar menuju gerbang perusahaan sembari melayangkan tatapannya mencari Lukas yang terlihat baru saja keluar dari sebuah mobil hitam. Dia kemudian berlari kecil menuju ke arah Lukas yang tengah tersenyum itu.


"Hai, apa kau baik-baik saja?" tanya Nada meneliti penampilan Lukas.


Lelaki itu memakai baju biasa, namun bukankah Lukas terakhir kali memakai baju cleaning service? Apa mungkin dia sudah berganti pakaian?


Lukas hanya diam dan memperhatikan Nada dengan lekat sebelum akhirnya wanita itu menyadari satu hal. Lipatan mata ini tak setebal Lukas yang asli.


Jangan-jangan?


"K-kau!" Nada tiba-tiba merasa nafasnya semakin sesak ketika enam orang pria dengan badan kekar telah mengelilinginya.


"Hai, sayang. Kita bertemu lagi," ucap lelaki itu yang ternyata adalah Dika.


Bug


****


..."Dalam hidup manusia, selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan."...


...- Mochtar Lubis -...

__ADS_1


...♡♡♡♡...


__ADS_2