
Seorang wanita cantik tengah tertidur pulas dalam keheningan yang ia ciptakan sendiri. Ruangan yang menampung dirinya itu terlihat penuh dengan alat medis. Hanya bunyi alat monitor jantung yang menemani seorang pria yang sejak tadi diam mematung.
"Hei ..." ucap lelaki itu lirih.
Matanya berkaca-kaca dengan isakan yang tiada henti keluar dari bibir seksinya seakan menelan semua sifat arogan lelaki itu.
"Kenapa belum bangun, hem? Ini sudah 1 minggu kau tidur ...."
Tangannya sejak tadi tak berhenti menggenggam tangan mungil wanita yang ia cintai. Wajah lelaki itu terlihat sangat lelah dan tak terurus dengan bulu-bulu tipis yang bertumbuh di rahang tegasnya, namun semakin membuat ia terlihat seksi di mata para perawat yang bersiap melakukan pemeriksaan rutin bagi Dianada. Ya, wanita yang masih setia dengan mimpinya itu adalah Nada.
"Maaf, Tuan. Kami harus memeriksa nona dulu."
"Kalian tinggal periksa saja."
Para perawat saling pandang dan menggelengkan kepala. Lelaki itu sudah seminggu ini tak pernah beranjak dari posisinya sekarang. Meskipun ia tetap terlihat tampan, namun Samuel sudah tak mandi sejak seminggu yang lalu. Bagaimana bisa seorang presdir perusahaan ternama di Indonesia tak mandi selama seminggu?
"Kenapa?" tanya Jasmine yang baru saja datang bersama suaminya.
"I-ini, Nyonya. Kami ingin melakukan pemeriksaan, ta-tapi tuan muda tak memberikan akses," sahut gagap salah satu perawat di sana karena Samuel sudah siap menerkamnya.
Jasmine memijit pelipisnya yang tak sakit. Mereka semua sudah berusaha membujuk Samuel untuk pulang dan beristirahat, namun lelaki itu hanya akan memberontak dan mencaci mereka. Sungguh arogan, pikirnya.
"Sam," panggil Jasmine yang sudah duduk di samping Samuel yang terlihat mencium lembut tangan Nada. Seketika ide usil muncul di dalam pikiran Jasmine.
"Sam, kau sebaiknya pulang," ucap Jasmine.
"No!" pekik Samuel kencang
"Kau yakin?"
"Ya, aku ingin di sini. Bagaimana kalau Nada bangun dan tak melihatku?"
"Tapi apa kau ingin ia melihatmu yang sangat jelek begini? Lihat bawah matamu sudah menghitam, kulitmu kusam karena daki yang sudah menumpuk," ucap Jasmine sambil melirik ke arah Adipati yang langsung mengerti.
"Betul, Nak. Kau sudah tak tampan lagi. Apa kau yakin Nada akan mengenalimu? Memangnya kau tak ingin terlihat ke-"
Belum sempat Adipati menyelesaikan perkataannya, Samuel sudah berlari secepat kilat menuju pintu keluar. Seketika tawa terdengar di dalam ruangan itu.
"Astaga, kenapa dia sangat lucu?" ucap Jasmine mengusap sudut matanya yang berair.
"Sebaiknya kalian cepat memeriksanya sebelum lelaki itu berubah pikiran," titah Adipati.
"Baik, Tuan."
.........
Langkah kaki Samuel terhenti di taman ketika ia melihat sosok yang sudah seminggu ini menghilang entah ke mana. Samuel menarik nafasnya halus dan mulai melangkah ke objek yang sedang termenung kosong itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
__ADS_1
Lama keduanya terdiam sebelum akhirnya Leo menjawab pertanyaan Samuel.
"Aku hanya merenung tentang kesalahanku saja ..." ucap Leo lirih.
Keadaan lelaki itu juga sama berantakan seperti Samuel karena terlalu mengkhawatirkan kondisi Nada yang baru saja melewati masa kritis.
"Maafkan aku," ucap Samuel sambil menepuk pundak Leo yang turun.
Samuel sadar dirinya memang keterlaluan karena memukul Leo sampai babak belur. Samuel hanya memikirkan kondisi Nada saja hingga ia melupakan bahwa Leo juga pasti sama terlukanya seperti dia.
"Aku juga minta maaf. Seharusnya aku yang tertembak bukan dirinya. Seharusnya a-"
Samuel langsung memeluk tubuh Leo yang bergetar. Lelaki itu terlihat sangat tertekan dan penuh rasa bersalah. Leo bahkan tak bisa memakan apa pun selama seminggu ini karena ia ingin mati secara perlahan.
"Sudahlah. Tak perlu kau bahas lagi. Semua sudah berlalu, Leo. Sekarang kau pergilah ke kamarnya. Dia membutuhkanmu," ucap Samuel dan langsung melangkah pergi dari sana.
"Apa maksudmu?"
Leo berlari mengejar langkah Samuel untuk memperjelas situasi di antara mereka. Leo sudah memikirkan matang-matang bahwa ia akan mundur demi Samuel dan Nada karena kedua orang itu memang sudah saling terikat sejak dulu.
"Apa?"
Samuel menghentikan langkahnya dan memandang penuh kebingungan pada Leo yang masih menahan langkahnya.
"Nada lebih membutuhkanmu. Aku memang mencintainya, tapi kau yang sejak dulu selalu melindunginya. Kau yang selalu membantunya melalui aku ketika kita SMA dulu. Kau jangan menyerah," ucap Leo memelas.
Samuel yang akhirnya mengerti arah pembicaraan itu langsung tertawa hingga Leo yang melihatnya malah bingung sendiri. Apa karena Nada masih koma membuat Samuel menjadi tak waras?
"Kau salah. Aku tak akan melepaskannya lagi. Aku sudah mengalah selama 13 tahun untukmu agar dekat dengannya, tapi nyatanya kau tak bisa menjaganya dengan baik sekalipun kau sedang berada tepat di sampingnya. Kau telah membuang kesempatan yang aku berikan jadi sekarang tak akan ada lagi kesempatan untukmu," ucap Samuel panjang lebar dan buru-buru melangkah kembali karena badannya sudah sangat gatal.
"Hem, kau benar," ucap Leo pada angin.
Leo sama sekali tak sakit hati dengan perkataan Samuel karena ia mengakui bahwa dirinya masih terlalu lemah menjaga Nada. Wanita itu butuh seseorang yang kuat dan bisa melindunginya dari bahaya apa pun. Tentu Leo tahu bahwa Samuel adalah lelaki yang paling tepat.
Meskipun Samuel kadang bersikap lemah dan gampang menangis, namun itu semua menunjukkan betapa seorang Samuel sangat tulus mencintai seorang Nada. Lelaki itu rela mengorbankan perasaannya hanya demi melihat Nada bisa bahagia dan melupakan masa lalunya yang kelam. Rela memandangi cinta pertamanya dari kejauhan selama 13 tahun dan menahan sakit seorang diri.
Samuel adalah definisi dari kesempurnaan cinta itu sendiri. Mencintai seseorang adalah ketika Samuel menganggap bahwa kehadiran Nada begitu penting dalam hidupnya. Hidup Samuel tak akan lengkap tanpa Nada karena keberadaan Nada mampu membuat hidup Samuel menjadi utuh.
Tentu saja sebagai sahabat dan saudara yang baik, Leo tak akan sampai hati menghancurkan hati Samuel yang sejak kecil sudah memikul beban yang sangat berat.
Leo terus memperhatikan Samuel yang perlahan menghilang di balik tembok sana meninggalkan rasa lega di hati Leo seakan beban terberat dalam hidupnya menghilang seketika.
"Kau memang yang terbaik, Sam."
Perlahan Leo menegakkan kembali punggungnya dan berjalan ke dalam gedung rumah sakit yang terlihat mewah itu. Langkah kakinya menuntun ke sebuah ruangan tempat ia akan mengakhiri segala kemelut hatinya.
Deg
Untuk pertama kalinya, Leo bisa melihat wajah cantik yang sudah merona indah setelah seminggu dirinya dilanda gundah gulana. Langit di luar sana sangat cerah dan hanya perlu menunggu sang empunya terbangun menambah keceriaan di tengah cuaca terik ini.
__ADS_1
"Leo," sahut Jasmine girang.
"Tante, maaf aku baru datang."
Leo membalas pelukan hangat dari Jasmine. Ia tahu Jasmine sangat menyayangi dirinya dan tak pernah membedakan antara dia dan Samuel.
"Dasar kau ini. Panggil aku mama!" titah Jasmine dengan berkacak pinggang.
"Ampun, Ma."
Leo memeluk gemas tubuh langsing itu hingga Adipati yang melihatnya langsung berlari memisahkan keduanya. Bukan karena Adipati cemburu, namun ia memang tak suka berbagi dengan orang lain.
"Ups, ada pawangnya di sini," ucap Leo seraya mengangkat tangan menyerah.
Plak
"Aww!! Kenapa memukulku, Pa?" sungut Leo mengelus belakang kepalanya yang sakit.
"Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri dan melupakan orang tuamu. Dasar anak durhaka!!" teriak Adipati.
Plak
Leo hanya menerima nasibnya saja ketika kepalanya dipukuli lagi dan lagi oleh Adipati. Leo merupakan anak angkat di keluarga Admadewa. Pertemuan pertama antara Samuel dan Leo di panti asuhan, menjadikan keduanya dekat dan berakhir menjadi saudara.
"Sudah, ayo kita pergi," ajak Jasmine karena mengetahui jika anaknya itu ingin menemui Nada.
"Leo, setelah ini kau harus datang ke rumah utama. Ada yang ingin kami bicarakan."
"Baik, Ma."
Kini di kamar itu hanya tersisa Leo yang menatap hampa ke arah ranjang sana.
"He'em ... h-hai," sapa Leo gugup.
Meskipun Nada tak bisa mendengar suaranya, namun tetap saja membuat Leo dirundung rasa malu dan rasa bersalah sekaligus.
"K-kau harus segera bangun, hem? Kami semua telah menunggumu ... dan ... soal hubungan kita, sebaiknya tak diteruskan lagi, hem? Meskipun ini sangat singkat, tapi aku sungguh bahagia. Terima kasih, Nad. Sekarang aku kembalikan kau pada orang yang berhak atas dirimu. Samuel. Kau tahu? Kalian bahkan sudah dijodohkan sebelum kau lahir," ucap Leo tersenyum.
Leo sendiri baru mengetahui fakta itu ketika Jasmine memberitahukan beberapa hari yang lalu. Insiden yang terjadi pada ibu Nada membuat perjanjian itu seakan tenggelam dan tak muncul lagi ke permukaan.
"Apa maksudmu?"
Deg
****
... "Bahagia itu sederhana, sesederhana melihat orang yang kita sayangi bahagia."...
...- Anonim -...
__ADS_1
...♡♡♡♡...