
"CHERRY!!" teriak Samuel kencang.
Samuel baru saja terbangun dari mimpinya. Ia bermimpi menjadi kecil kembali dan mencari Nada kecil di sebuah pasar malam. Di sana sangat indah, namun fokus Samuel hanya mencari Nada.
Hatinya menggerakkan setiap langkahnya hingga ia berhasil menemukan Nada yang juga sedang berjalan ke arahnya. Samuel bahkan memeluk tubuh mungil itu begitu erat.
"A-ayo kita pulang, hem?" ajaknya pada Nada yang tersenyum cantik ke arahnya.
"Ya, Kak Vio. Mari kita pulang."
Mimpi itu terasa sangat nyata hingga membuat Samuel tak ingin bangun lagi. Namun seketika matanya membulat karena baru menyadari bahwa di sekelilingnya tak ada sosok yang ia peluk dalam mimpinya.
Deg
Samuel menegang di atas tempat tidur yang berukuran kecil itu. Kenapa dia bisa ada di sini? Di mana Nada? Apa yang terjadi? Ruangan itu berwarna serba putih dan hanya ada sebuah sofa di pojok ruangan.
"Nada!!"
Ia buru-buru turun dari sana dan berlari keluar ruangan. Kenapa di sini sangat sepi? Ke mana semua orang pergi? Berbagai pikiran negatif tiba-tiba muncul di pikiran Samuel hingga ia mempercepat langkah kaki menuju ke ruang operasi yang membuatnya ikut merasakan kehilangan nyawa.
Brak
Samuel terdiam mematung beberapa detik sebelum akhirnya ia berlari masuk dan menggeledah tempat itu. Nafasnya semakin sesak ketika tak menemukan objek yang ia cari. Samuel bahkan memeriksa di bawah meja operasi, di balik tirai, di belakang monitor seperti orang linglung.
"Di mana? Di mana dia?" Kakinya sudah bergetar hingga ia langsung tersungkur di bawah lantai.
"Ja-jangan bilang?! Na-nada!!!"
Samuel menghancurkan semua barang-barang yang ada di sana. Ia seakan kesetanan menumpahkan segala rasa menyakitkan itu.
"Sam!!"
Adipati buru-buru menghampiri putranya yang sebentar lagi akan menancapkan sebuah pisau ke dada lelaki itu. Sungguh Adipati dibuat terheran-heran dengan anaknya yang sedikit-sedikit ingin mengakhiri hidup.
"Pa, Nada ... di-dia pergi, Pa! Kalian membawa tubuhnya ke mana?!" sentak Samuel kasar dan mendorong kuat tubuh Adipati hingga terjungkal ke belakang sana.
"Sial!" umpat Adipati menatap tajam ke arah Samuel yang masih mencari-cari bidadari itu.
"Kami sudah menguburkannya. Kau telah pingsan selama 2 hari," ucap Adipati datar.
"APA??!!!!!"
__ADS_1
Samuel sungguh syok. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat berat hingga lelaki lemah itu jatuh pingsan dengan cara mengenaskan.
"Ya, pingsan lagi."
Adipati hanya menertawakan putranya yang sudah menjadi budak cinta selama 13 tahun. Sungguh lucu, pikirnya. Mungkin Adipati tak menyadari bahwa sifat itulah yang ia turunkan pada Samuel.
"Sam!!" teriak Jasmine.
Wanita itu berlari menghampiri putranya yang tak sadarkan diri di atas lantai dengan posisi yang sangat lucu. Setengah badan lelaki itu entah bagaimana bisa berada di bawah kasur dengan satu kaki berada di atas monitor yang jatuh.
"Kau!!"
Jasmine menatap geram ke arah Adipati yang langsung menunjukkan wajah polosnya berharap melakukan itu Jasmine tak akan marah. Namun ...
Bug
"Kau yang melakukan ini pada anakku, kan?!"
Jasmine langsung memukul bahu Adipati dengan sendal miliknya karena lelaki paruh baya itu sudah mulai menunjukkan sisi dirinya yang lain. Mungkin sifat usilnya itu lebih mengarah pada rasa bahagia karena Adipati bukan lelaki yang gampang menunjukkan ekspresi.
"Dia tak akan apa-apa, sayang. Aku tadi hanya menakutinya sedikit, tapi dia terlalu lemah hingga jatuh pingsan."
Cup
Ingatan Jasmine kembali pada dua hari yang lalu. Ketika Samuel sedang lengah dan fokus berbicara dan memperhatikan Nada yang sudah tak bernyawa, Adipati langsung menyuntikan obat penenang yang ia ambil diam-diam di samping meja operasi.
Bug
Tubuh Samuel langsung jatuh lunglai seperti kertas yang terbang mengikuti arah angin. Jasmine yang datang dan berniat ingin membujuk Samuel malah menemukan putranya terpejam dengan mulut terbuka lebar.
Awalnya Adipati mengira jika Samuel hanya akan tertidur selama 2 jam saja, nyatanya putra tampannya itu tertidur selama 2 hari karena dosis yang sangat tinggi. Jasmine bahkan langsung mengomeli suami tampannya itu yang tak pernah berpikir sebelum melakukan sesuatu, sedangkan Adipati hanya bisa menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Namun, ada baiknya lelaki itu tertidur lama karena sudah dipastikan Samuel akan mengacau kembali. Semua orang akhirnya sepakat bahwa Nada akan dimakamkan hari itu juga tanpa Samuel.
Nada terlihat sangat cantik. Tubuhnya sudah dimandikan hingga wanita itu menjelma menjadi putri tidur seperti di negeri dongeng. Tubuh kaku yang sudah berlapis kain kafan itu dibaringkan diatas kasur lantai. Orang-orang yang hadir hanya kerabat terdekat saja hingga acara itu berjalan sangat khusyuk dan hanya diiringi dengan doa serta tangisan dari para wanita.
Sedangkan Leo, lelaki itu tak berkata satu kata pun. Pandangan matanya kosong seperti tak memiliki semangat hidup lagi. Seandainya Steve terlambat sedikit saja untuk menyelamatkannya, mungkin hari ini akan ada dua orang sekaligus yang dimakamkan.
Di samping mayat Nada, terlihat beberapa kerabat tengah berdoa sambil menangis karena Nada yang selalu penuh semangat itu tak lagi bergerak, namun Adel yang duduk sejajar dengan wajah Nada, mendapati sesuatu yang aneh. Entah kenapa kain tipis yang menutupi wajah Nada bergerak naik turun di area mulut.
Adel yang ternyata memperhatikan hal itu seketika dibuat penasaran. Tangannya dengan perlahan mengusap wajah di balik kain putih itu, namun tiba-tiba Adel menegang ketika merasakan tubuh Nada telah kembali menghangat.
__ADS_1
Adel seketika gemetar dengan jari telunjuk ia letakkan tepat di atas mulut Nada yang mengeluarkan angin yang terasa hangat, hingga ...
Deg
Di-dia bernafas? Batin Adel tak percaya.
Adel mencoba meletakkan kembali tangannya dan itu benar. Nada, wanita itu bernafas kembali? Saking terkejutnya, Adel bahkan tiba-tiba menjadi gagap dan hanya tangannya yang mampu bergerak. Ia menepuk keras pundak Yuni yang ada di sebelahnya dan menunjuk tubuh Nada berulang kali.
"Kenapa, Del?" tanya Yuni masih seseggukan.
"Ta-tan-te," ucap Adel gagap.
"Kau kenapa?" Kali ini Jasmine yang bertanya karena melihat Adel yang seperti melihat hantu karena wajah wanita itu sudah pucat pasih dengan mata bergerak tak fokus.
"Na-nada."
"Ikhlaskan dia, hem? Biarkan dia pergi dengan tenang," sahut Yuni mengusap lembut pundak Adel yang seketika menggeleng, namun justru semakin disalah artikan oleh mereka semua.
"Ikhlaskan, Del," sahut Jasmine yang kembali menangis.
Adel memijit pelipisnya yang sakit. Entah bagaimana ia bisa menjadi bodoh begini hanya karena terlalu syok mendapati Nada yang ternyata kembali bernafas.
"Na-nada, Tante," ucap Adel lagi menunjuk ke arah Nada yang masih setia menutup mata.
"Iya, kenapa dia?" tanya Jasmine mengerutkan dahinya.
"Na-nada ... Nada, masih hidup!!" teriak Adel hingga mampu menghentikan waktu bagi semua orang yang terdiam mematung di tempatnya.
“A-apa?!!”
“NADA MASIH HIDUP!!!”
Deg
****
..."Tidak ada perjuangan tanpa rasa sakit, tapi percayalah sakitnya sementara dan bahagia akan terasa selamanya."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
__ADS_1
Caca udh turutin kemauan kalian biar Nada tetep hidup, loh. Jadi, jangan lupa like dan koment ya 🥰🥰