
Admadewa Grup
Pukul 2 siang
Bagian Keuangan
****
Nada memijit pelipisnya untuk merelaksasi otak yang sudah menegang sejak tadi. Ia menepuk-nepuk bahunya secara bergantian, berharap dengan melakukan itu akan menghilangkan sedikit rasa pegalnya.
"Ternyata meskipun pekerjaanku hanya sedikit, tapi sangat melelahkan," ucapnya sambil menghela nafas perlahan.
"Nad, apa kau akan pulang sekarang?" tanya seorang pria padanya.
"Iya, aku harus pergi sekarang."
Nada membereskan meja kerjanya dan berjalan terburu-buru ke arah lift karena tadi Adel mengirimkan informasi padanya bahwa VC Restaurant sedang membuka lowongan pekerjaan untuk bagian chef.
Drett..
Drett..
"Halo, baik. Tunggu sebentar, ya. Saya sedang turun ke bawah."
Sesampainya di lobby, ia langsung berlari ke arah ojek online yang telah menunggunya di depan gedung kantor, namun sebelum ia benar-benar naik ke atas motor, tarikan lembut di lengannya membuatnya terkejut setengah mati.
"Pak!"
"Kau akan langsung pulang?" tanya Samuel yang masih memegang lengannya.
"Ah ... saya harus ke suatu tempat dulu. Maaf, saya buru-buru."
"Aku akan mengantarmu."
Samuel tak memedulikan Nada yang menginterupsi ucapannya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada driver ojek tersebut yang sontak saja dibuat melongo.
Nada akhirnya hanya bisa pasrah ketika tubuhnya ditarik masuk ke dalam mobil mewah itu. Ia merenggut kesal karena Samuel bertindak sesuka hati, bahkan ketika Samuel bertanya tujuannya ke mana, ia pun hanya melengoskan wajahnya.
"Mau ke mana?" tanya Samuel lagi.
"VC Restaurant."
Nada mencoba menghilangkan rasa gugupnya dengan terus memperhatikan jalanan di luaran sana. Entah sudah berapa banyak kendaraan yang ia hitung demi tak melihat wajah tampan lelaki di sebelahnya itu.
Samuel bukannya tak tahu bahwa Nada mencoba menghindari tatapannya, namun ia hanya membiarkan saja dan kembali fokus pada laptop di atas pahanya. Ia sedang memiliki banyak pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan, namun ia tetap bersikeras untuk pergi ke restoran miliknya dengan alasan lapar hingga membuat Leo sangat kesal karena pekerjaannya semakin bertambah.
.........
VC Restaurant
30 menit kemudian
****
"Terima kasih, Pak. Anda bi-"
Nada tak melanjutkan ucapannya karena Samuel langsung berjalan masuk ke dalam restoran mewah itu lalu duduk manis di salah satu kursi kosong. Beberapa staf di sana pun langsung sigap melayani lelaki itu, sedangkan ia yang masih kebingungan di depan pintu sana, baru saja di tegur karena menghalangi jalan.
"Ah, maafkan saya."
Nada berjalan masuk dan bertanya pada pelayan yang berjaga di depan kasir tentang lowongan pekerjaan di sana. Ia sesekali melirik ke arah Samuel yang terlihat menyesap minuman dan fokus memperhatikan layar laptop.
Kenapa dia sangat tampan? Batin Nada.
__ADS_1
"Silakan naik ke lantai 2 dan duduk menunggu di depan ruangan paling ujung sebelah kanan dari tangga."
"Ah, terima kasih, ya."
Nada berjalan menaiki tangga yang memutar, terlihat sangat elegan dan indah. Tatapan kagum pun tak bisa ia sembunyikan lagi. Tak jauh dari sana, Nada bisa melihat ada 7 orang yang diperkirakan melamar kerja seperti dirinya.
Dilihat dari penampilan, sepertinya mereka saingan yang cukup berat. Batin Nada dalam hati sembari duduk di barisan tersebut.
15 menit telah berlalu, kini giliran Nada untuk masuk ke dalam ruangan dan melakukan proses interview.
Di dalam sana, Nada cukup gugup karena meskipun ia memiliki passion dalam memasak, rasa percaya dirinya langsung turun drastis karena baru mengetahui bahwa para kandidat sebelumnya telah memiliki pengalaman kerja lebih dari 5 tahun.
"Nona Dianada, apa alasan anda terjun ke dalam dunia kuliner?" tanya sang pewawancara.
"Alasan yang pertama karena saya ingin mengasah kemampuan saya agar lebih bisa menghasilkan makanan yang enak, indah, memikat, dan sehat sehingga orang lain bisa bahagia memakan apa yang saya masak," ucapnya sambil menatap lurus ke depan.
"Kedua, karena saya ingin membuktikan kepada ayah saya bahwa saya bisa menggapai cita-cita sebagai Master Chef."
Nada berbicara dengan sungguh-sungguh tanpa menutupi apa pun. Sang pewawancara pun terdiam sejenak dan memandang lekat wanita yang duduk di hadapannya itu.
Dret..
Dret..
"Halo ... cih, dasar pencemburu."
Lelaki itu baru saja menerima telepon dan langsung dihadiahkan teriakan dan ancaman dari seorang pria di seberang sana. Ia menarik nafasnya sejenak dan mulai berbicara kembali.
"Hm ... saya lihat di dalam CV milikmu, penampilanmu sangat berbeda dengan yang sekarang," tanyanya penuh rasa ingin tahu.
Temannya itu memang sungguh keterlaluan. Bagaimana bisa Samuel mengubah wanita cantik ini menjadi cupu? Ia bisa menilai bahwa Nada adalah wanita yang sangat cantik dibalik tampilannya sekarang.
"Ah ... itu ... apakah penampilan saya bermasalah, Pak? Kalau begitu, saya akan memperbaiki kembali penampilan saya," ucap Nada was-was.
"Cih, bisa-bisanya aku mengikuti permainannya!" batinnya kesal.
"Baiklah ... 30 menit lagi kami akan melakukan test untuk menguji kemampuan memasak kalian. Sebelum dimulai, kau bisa berkeliling restoran terlebih dahulu dan kembali ke sini pada waktu yang sudah ditentukan," ucapnya memberi instruksi.
Nada berjalan keluar dan mulai melangkah sesuai apa yang hatinya mau. Restoran ini sangat indah dan mewah, kalau dia bisa berhasil dalam test nanti, bukankah itu adalah awal yang baik?
Nada melangkah menuju rooftop yang berada di lantai 4. Hari yang semakin sore membuat langit di atas sana terbingkai dengan sangat indah, menambah suasana di tempat itu semakin terasa menyejukkan.
Perlahan, Nada hanyut dalam kesendirian sebelum akhirnya sebuah sentuhan lembut ia rasakan di bahunya, membuatnya mengalihkan pandangan pada sosok pria yang mana terlihat berkali lipat lebih tampan karena terkena sinaran matahari.
"Suasana di sini sangat indah, bukan?" tanya Samuel yang sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Ya, di sini sangat indah."
"Lebih indah karena ada dirimu," gumam Samuel pelan sambil menatap Nada yang telah melayangkan pandangannya ke arah depan.
Gedung tinggi di pusat Kota Jakarta yang di desain dengan gayanya masing-masing, membentuk lukisan indah dan terasa sangat pas di bola mata indah wanita itu.
"Anda berkata apa?" tanya Nada yang ternyata tak mendengar jelas ucapan Samuel.
Melihat Samuel yang tak menanggapi, ia pun memilih diam dan hanyut kembali dalam lamunannya. Ia tak menyadari semua orang yang berada di lantai 4 telah menghilang secara misterius.
"Kau tahu, aku sangat menyukai buah cherry," ucap Samuel membuka bercakapan kembali, mengundang bola mata bulat itu kembali tertuju padanya.
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Jantung wanita itu berdetak sangat cepat ketika benturan tatapan mereka seakan menusuk sampai ke relung hati yang paling dalam. Nada mengerutkan dahi pertanda dia sedang memikirkan sesuatu.
Tatapan ini, di mana aku pernah melihatnya? Batinnya berkecamuk.
Samuel sedang menatapnya dalam, penuh cinta serta kerinduan yang sangat besar. Nada tak salah mengenali tatapan itu. Tatapan seorang pria kepada wanita yang sangat dicintainya. Nada berusaha mengingat, namun semakin kuat ia coba, hanya sakit yang menghantam kepalanya.
Siapa? Siapa lelaki ini sebenarnya? Batin Nada sambil memegang kepalanya yang semakin berputar.
Yang kutahu dia teman Leo ketika SMA dulu, tapi ... bukan itu ... tatapan ini, jauh sebelum aku bertemu dengannya di depan gerbang sekolah. Batinnya lagi mencoba menahan sakit di kepalanya.
"Hei ... kau tak apa-apa?" tanya Samuel sangat khawatir, "sial! Aku kelewatan batas," umpatnya pelan.
"Aku tak apa-apa, Pak. Hanya sedikit lelah dengan pekerjaan di kantor tadi," ucap Nada mencari alasan, namun jawaban dari Samuel sungguh diluar dugaannya.
"Kalau begitu, kau tak pergi masuk kerja selama seminggu. Istirahatlah di rumah dan jangan memaksakan dirimu bekerja," sahut Samuel tegas tak ingin menerima bantahan.
Nada memijit pelipisnya yang semakin sakit karena sikap semena-mena lelaki itu. Dia baru sehari bekerja dan sudah memiliki musuh hampir di setiap sudut kantor, lalu bagaimana jika ia harus mengambil libur selama seminggu? Bisa-bisa dirinya akan dikuliti hidup-hidup oleh para penggemar fanatik Samuel.
"Tidak. Itu tak perlu. Aku harus segera kembali ke bawah. Permisi." Nada buru-buru pergi dari tempat itu. Jika semakin lama bersama Samuel, sudah dipastikan ia akan langsung ditarik pulang oleh lelaki itu.
Jangan salahkan Samuel dalam hal ini, ia hanya ingin menjaga wanita itu agar kejadian 13 tahun yang lalu tidak terulang lagi.
.........
"Apa kalian siap?" tanya Finna yang menjadi juri kali ini. Ia tadi buru-buru datang ke VC Restaurant setelah mendapatkan kabar bahwa Samuel berada di sana.
"Siap!" ucap serempak para kandidat test.
"Silakan buka tudung di depan kalian."
Para kandidat langsung membuka tudung tersebut dan semua membulatkan mata, termasuk Nada yang berdiri di barisan paling ujung sebelah kanan.
"Hari ini, kalian harus membuat menu makanan dengan bahan tersebut. Kalian hanya bisa menambahkan 2 bahan lainnya sebagai pelengkap. Waktu kalian 10 menit dari sekarang," ucap Finna.
Para kandidat mulai bergerak cepat, namun berbeda halnya dengan Nada yang diam mematung.
Tomat, aku harus membuat apa dengan bahan ini? Batin Nada kebingungan.
Samuel yang melihat Nada cukup kesulitan pun akhirnya masuk ke dapur dan mulai angkat bicara. Ia memberi semangat kepada para kandidat meskipun tujuan sebenarnya ditujukan kepada Nada.
Wanita cupu itu pun mulai bergerak dan mengambil bahan yang sekiranya dirasa cocok.
Kau pasti bisa, Cherry! Batin Samuel.
****
..."Memasak melibatkan banyak Indera. Ia dibuat untuk mata, mulut, hidung, telinga, dan jiwa. Tidak ada seni lain yang serumit ini."...
...- Pieree Gagnaire -...
...♡♡♡♡...
Translate :
Interview \= Wawancara
Passion \= Suatu perasaan semangat luar biasa ketika melakukan sesuatu
Rooftop \= Atap
.......
Menurut kalian, kira-kira Nada mau masak apa nih agar bisa lolos test? Koment di bawah ya 👇❤
__ADS_1