Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 34 : SAH!


__ADS_3

Hotel Singapura


Pukul 9 malam


****


"Sial!! Aku harus mencari pria lain. Aku tak bisa sendirian seperti ini," ucap Finna frustasi.


Sejak kejadian mendebarkan kemarin malam, ia harus memperpanjang waktu menginapnya di hotel bintang lima itu menggunakan uangnya sendiri. Finna memilih memesan kamar yang baru karena kamar sebelumnya sudah luluh lantah.


Dengan langkah buru-buru, ia melangkah keluar kamar untuk mencari lelaki yang bisa memuaskan na*sunya yang sudah sampai di ubun-ubun itu. Finna tak memperhatikan seorang wanita yang tengah berdiri di ujung lorong sana, hingga tiba-tiba...


Bruk


“Awww!! Sialan!!” Finna berteriak kencang karena tersungkur dengan mengenaskan akibat ulah wanita yang sengaja menabraknya itu.


"Ups," ejek wanita itu.


"Apa kau tak punya mata, hah?!!" teriak Finna sembari berdiri. Wanita di hadapannya itu hanya bersikap acuh dan tak mengucapkan maaf sama sekali hingga membuat Finna semakin geram.


Finna kemudian menatap lebih intens wanita yang sedang memakai kemeja pink dengan rok hitam selutut itu. Ia merasa pernah melihat wanita ini hingga ingatannya kembali pada masa SMA. Seketika mata Finna membulat dan beberapa detik kemudian menatap tajam ke arah wanita yang tengah memainkan kuku cantiknya.


"Kau?!! Bukankah kau teman wanita jal*ng itu?!"


"Jal*ng? Bukankah kau yang jal*ng?!"


"Cih! Apa yang kau lakukan di sini. Apa kau ingin menjual dirimu seperti temanmu itu, hah?!"


"No ... tentu saja aku datang untuk membalas perbuatanmu," ucap wanita itu dengan senyuman misteriusnya.


Deg


.........


Keesokan harinya


Kamar VVIP Nada


Pukul 6 pagi


****


Dret


Dret


Nada menggeliat di dalam pelukan Samuel yang sejak semalam merengek untuk segera menikah hingga membuat Nada merasa geli. Lelaki ini hanya terlihat gagah dari luarnya saja, namun jika sudah bersamanya maka Samuel akan menjadi bayi yang sangat manja.

__ADS_1


Seperti sekarang ini, wajah lelaki itu tengah masuk ke ceruk lehernya dengan bibir yang masih memangut lembut daging yang ada di sana membuat leher jenjangnya memerah tak karuan.


Semalam, demi menghilangkan gairah Samuel yang sudah memuncak, Nada terpaksa mengikhlaskan lehernya yang langsung di raup bak kesetanan hingga Nada yang polos menjelma menjadi dewi yang penuh ilmu pengetahuan. Nada membantu Samuel menuntaskan hasratnya menggunakan tangannya dengan mengelus sang adik kecil dari luar celana.


Seketika wajahnya memerah mengingat berbuatan keduanya yang sudah kelewatan batas. Dalam hati, Nada mengutuki Samuel dengan sumpah serapah, namun tentu ia mengerti posisi lelaki itu.


"Sayang, bangun. Ambilkan handphone-ku dulu."


Blup


Bunyi sesapan yang terlepas membuat Nada menutup matanya sejenak.


Cup


"Pagi, sayang," ucap Samuel dengan wajah yang berbinar cerah. Lelaki itu sungguh bahagia karena kemampuannya dalam dunia dewasa telah meningkat pesat.


"Pagi juga. Tolong ambilkan handphone-ku dulu," pinta Nada dengan wajah memerah karena Samuel terus memandanginya.


Samuel kemudian mengambil benda mungil di atas nakas itu dan memberikan pada Nada yang langsung buru-buru menjawab.


"Kau! Sungguh keterlaluan! Sejak aku sadar kau tak pernah menjengukku!" ketus Nada pada orang di seberang sana yang hanya tertawa.


"Maafkan aku. Aku harus kembali ke Bandung karena keluargaku sedang ada sedikit masalah."


"Masalah? Kau baik-baik saja, kan Del?"


"Ya, aku baik-baik saja. Nanti malam aku akan kembali ke Jakarta. Apa kau menginginkan sesuatu, hem?


"Tak ada. Segeralah datang. Aku merindukanmu, Adel ...."


Kerinduan yang Nada rasakan pada sahabatnya itu sangat besar. Apalagi akhir-akhir ini Adel terlihat sangat sibuk. Entah apa yang dilakukan wanita itu hingga tak bisa diam di tempat.


"Cup cup, jangan sedih. Aku akan segera datang. Tunggulah sebentar."


Tut


Percakapan singkat itu berakhir dengan Adel yang buru-buru mematikan sambungan telepon tersebut.


"Cih! Kenapa sih dia itu?!" geram Nada.


"Aahh! Vio." Nada tiba-tiba mend*sah karena Samuel kembali menyesap lehernya. Lelaki itu seakan memiliki hobi baru, yaitu menggoda Nada meskipun dirinya juga ikut tergoda.


Samuel mengangkat wajahnya dan mencium kening Nada yang merasa begitu disayang.


"Hari ini kita akan menikah," ucap Samuel tersenyum indah.


"K-kau serius?!" pekik Nada dengan bola mata yang membesar.

__ADS_1


"Tentu saja."


Samuel buru-buru berdiri dan membersihkan diri di kamar mandi sana, meninggalkan Nada dengan segala pikirannya.


"Sial! Lelaki itu tak pernah sabaran! Sudahlah, bodoh amat dengan semua ini. Cepat atau lambat kami juga akan menikah. Masalahku, akan kami pikirkan berdua. Hari ini aku akan menikah! Serius? Menikah?!"


Nada tersenyum dan bermonolog sendiri sembari memandang keluar jendela. Langit semakin indah karena sang surya dengan penuh semangat memanjat ke tempat yang lebih tinggi.


Tiba-tiba ...


"Nada!!" pekik Yuni terkejut.


Tadi ketika ia masuk, Yuni hanya mendapati Nada seorang diri di atas kasur, namun yang menjadi perhatiannya adalah leher Nada yang sudah bersisik.


"Ma, kenapa?" tanya Nada setelah berhasil menormalkan detak jantungnya karena teriak Yuni. Kondisi Nada pulih dengan sangat cepat, berkat perawatan yang dilakukan oleh para ahli yang didatangkan langsung dari Amerika. Tentu saja itu semua ulah pangeran tampan miliknya.


"Samuel!!" teriak Yuni lantang hingga lelaki itu langsung berlari keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar indah di pinggang seksinya.


"Kenapa?!" sahut Samuel panik.


Dia berjalan ke arah Nada tanpa memedulikan Yuni yang sungguh terkejut luar biasa. Lelaki itu sungguh tampan. Pantas saja banyak wanita yang memperebutkannya. Dan Yuni sangat bersyukur bahwa anaknya yang mendapatkan lelaki dengan sejuta pesona itu.


"Pakai bajumu!" tekan Nada pada Samuel yang seketika sadar dengan tampilannya.


"Hm, biarkan saja. Sebentar lagi kita akan menikah. Ma, apa semua sudah siap?" tanya Samuel pada Yuni yang kembali dari travelling-nya.


"Ya, sebentar lagi mereka datang," ucap Yuni tersenyum hangat dan menghadiahi Nada dengan kecupan cinta di keningnya.


Percakapan mereka terhenti ketika Adipati datang dan langsung memanggil Yuni dan Samuel yang sudah berganti pakaian rapi untuk pergi ke ruangan sebelah, meninggalkan Nada seorang diri di kamar itu.


Beberapa saat kemudian


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Samuel Oktavio Admadewa dengan seorang gadis bernama Dianada Safaluna Abiyaksa binti Mikael Abiyaksa sebagai orang yang mewakilkan kepadaku dengan mas kawin berupa uang senilai 1.402.000 dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Dianada Safaluna Abiyaksa binti Mikael Abiyaksa dengan mas kawin yang disebutkan dibayar tunai," ucap Samuel dalam satu tarikan nafas.


"Sah?"


"SAH!!!"


****


..."Pernikahan adalah selalu bersama dan tetap dalam satu tujuan, meski dengan cara yang terkadang berbeda."...


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2