
"K-kau!"
"Ssstttt ... ikut aku."
Nada yang masih belum sadar dari keterkejutannya tak menyadari dirinya berada di dalam pelukan seseorang yang sangat ingin ia temui.
"Kenapa kau di sini, Lukas? Dan pakaianmu?" tanya Nada setelah berhasil sadar dan memberi jarak di tubuh keduanya.
Lukas saat ini memakai pakaian cleaning service dengan kumis tipis dan kacamata baca. Entah bagaimana Nada bisa mengenalinya.
"Akan aku jelaskan nanti. Ayo, kita harus pergi dari sini sebelum Samuel menemukan kita. Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu. Apa kau percaya padaku?"
Nada menatap intens mata Lukas yang terlihat lembut. Tatapan lelaki itu seketika membuat Nada meragukan hipotesisnya selama ini tentang perbuatan Lukas. Lukas yang Nada kenal adalah pria yang sangat baik dan lembut padanya. Beberapa kali Lukas membela dirinya ketika mendapatkan perlakukan tak baik dari para karyawan kantor.
Jika Lukas memang berniat mencelakainya, bukankah akan lebih gampang membunuhnya ketika mereka hanya duduk berdua di kantin dengan meracuni makanannya? Lukas terlihat sangat berbeda dengan Lukas di insiden malam itu yang mana wajahnya terlihat penuh amarah dan sangat mengerikan.
"Ya, aku percaya padamu," ucap Nada tersenyum.
Mereka harus meluruskan masalah ini jika tak ingin berlarut-larut terjadi kesalahpahaman. Kalau pun Lukas memang berniat dan sengaja menembaknya, Nada akan mencoba memahami setelah mendengar penjelasan dari lelaki itu.
"Terima kasih," ucap Lukas tersenyum hangat.
Keduanya buru-buru masuk ke mobil Lukas yang terparkir tak jauh dari sana membuat Nada sangat ketakutan. Wanita itu bahkan beberapa kali menengok ke belakang demi memastikan tak ada yang melihat aksi mereka.
"Kita akan ke mana? Bukankah tadi kau menyuruhku pergi ke Youth Cafe?" tanya Nada sembari memakai sabuk pengaman.
"Ya, tapi aku sangat khawatir jika kau tak akan sampai ke sana karena para pengawal itu. Sejak pagi tadi aku telah memantau dan sengaja menyamar sebagai cleaning service jadi aku mengetahui tentang hal tersebut," jawab Lukas sambil menjalankan mobilnya menuju kafe yang terletak 5 km dari Admadewa Grup.
Nada langsung terdiam dan memandang keluar jendela. Sebenarnya ia sudah tak tahan untuk bertanya, namun Nada tahu pembicaraan mereka akan sangat berat dan butuh tempat yang nyaman untuk bisa berdiskusi.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di Youth Cafe dengan Lukas yang bergerak cepat memarkirkan mobil dan langsung mengajak Nada masuk ke sebuah ruangan yang sebelumnya telah dipesan oleh Lukas.
"Jadi kenapa kau menembakku?" tanya Nada to the point. Ia sungguh tak sabaran mendengar alasan dari Lukas.
Mereka saat ini tengah berada di private room yang berada di lantai 3 kafe mewah itu.
"Maafkan aku. Aku akan menjelaskannya perlahan dan aku harap kau mendengarkan aku baik-baik dan tak memotong ucapanku sebelum aku selesai menjelaskan. Kau mengerti?"
Nada langsung menganggukkan kepala dan memasang telinga baik-baik, sedangkan Lukas menarik nafas perlahan.
__ADS_1
"Pertama, bukan aku yang menembakmu. Kakakku, dialah pelakunya. Namanya Dika dan kami adalah kembar identik."
Melihat Nada yang terdiam mencoba mencerna semuanya, Lukas buru-buru mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto dua orang bocah lelaki yang memiliki wajah yang sama persis. Namun, jika diperhatikan lebih teliti yang membedakan dari keduanya adalah lipatan mata Lukas lebih tebal dibandingkan Dika.
"Kau lihat dan perhatikan baik-baik."
Kini Lukas beralih pada foto ketika pernikahan Dika dengan Ketty. Dua lelaki yang tumbuh dewasa dengan wajah dan postur tubuh bagai pinang dibelah dua, namun aura dari keduanya sangat jauh berbeda.
Dika memiliki wajah yang sangat licik dengan sorot mata yang tajam, sedangkan Lukas memiliki wajah dan tatapan yang lembut.
Deg
Nada terkejut melihat foto itu. Dika, lelaki inilah yang sebenarnya dia lihat tengah mengacungkan senjata api padanya dan Leo.
"Ja-jadi di malam pertunangan Samuel, kau yang datang atau Dika?"
"Aku dan Dika datang ke sana. Kau ingat di depan toilet waktu itu? Itu adalah aku yang sengaja datang dan ingin berbicara denganmu tentang Dika, namun Leo datang dan langsung menarikmu pergi."
"Dan Dika lah yang masuk ke acara pertunangan Samuel dan Finna. Aku tak bisa ikut masuk karena Dika mengancamku akan membuat acara itu kacau jika aku tetap nekat muncul di sana."
"Jadi, sekarang masuk akal. Aku melihatmu, maksudku, aku melihat Dika memberikan ucapan selamat pada Samuel dan Finna di atas panggung dengan penampilan yang sedikit berbeda dari tampilanmu di depan toilet itu," ucap Nada menimpali.
Deg
"Benarkah?!" pekik Nada terkejut.
"Ya, dan Dika selama ini menggunakan namaku untuk menipu Finna hingga sampai detik ini, si jal*ng itu mengetahui bahwa yang bersama dengannya adalah lelaki yang bernama Lukas, padahal dia adalah Dika, kakakku. Dika melakukan itu untuk menipu semua orang termasuk Leo yang mengira lelaki yang dipukulinya bernama Lukas. Dika ingin semua tuduhan kalian tertuju padaku."
"A-aku tak tahu soal Leo memukul Dika." Nada memang tak mengetahui tentang hal ini karena semua orang tutup mulut, "ta-tapi bagaimana bisa kakakmu seperti itu?" sambungnya lagi.
"Bisa kalau itu adalah Dika. Dia sangat licik jadi kau harus berhati-hati dengannya. Kau sudah dapat membedakan kami, bukan?"
Nada langsung mengangguk hingga Lukas tersenyum hangat.
"Jadi namamu adalah benar Lukas? Apa kau masih menutupi hal lainnya?"
"Namaku sebenarnya adalah Diki. Dika dan Diki. Tapi ada beberapa hal yang membuatku mengubah namaku menjadi Lukas. Dan aku tak tahu jika Dika menggunakan nama Lukas sebagai penyamaran. Aku mengetahui itu juga dari mata-mataku bertahun lalu. Hm ... itu urusan kami, aku tak bisa mengatakan lebih padamu," ucap Lukas lembut.
"Hm, aku mengerti. Lalu kenapa Dika ingin membunuhku? Apakah dia orang yang sama yang selama ini melukaiku?" Jelas saja Nada memiliki pikiran seperti itu, apalagi dengan perbuatan Dika padanya.
__ADS_1
"Ya, dia orang yang sama."
Deg
Sekali lagi Nada dibuat sport jantung dengan kenyataan yang baru didengarnya itu.
"Ta-tapi a-apa salahku?"
"Aku tak bisa menceritakannya padamu karena aku takut salah menjelaskan dan kau akan salah paham kembali. Lebih baik kau bertanya pada Samuel."
Deg
Lagi dan lagi Nada menegang di tempatnya.
"Sa-samuel? Ke-kenapa dengannya?" tanya Nada dengan keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya.
"Aku tak tahu. Bertanyalah padanya, hem?"
Lukas sebenarnya ingin menceritakan tentang kejadian 13 tahun yang lalu, namun ia tahu jika semua orang telah mati-matian untuk menutupi kenyataan itu dari Nada. Dan tentu itu bukan ranahnya untuk angkat bicara.
"Ta-tapi-"
Belum selesai Nada berbicara, suara gaduh dari luar sana mengganggu konsentrasi keduanya, hingga akhirnya ...
Brak
Pintu itu didobrak dengan sangat kuat memperlihatkan seorang pria tampan dengan wajah merahnya menahan amarah yang sangat besar.
"Sa-sayang ... " Nada seakan berhenti bernafas melihat suaminya memandangnya penuh kekecewaan.
"TANGKAP DIA!!!" teriak Samuel lantang.
Deg
****
..."Kadang-kadang, persepsi adalah sebuah perangkap. Dan tafsir kita terhadap sesuatu sering keliru."...
...- Anonim -...
__ADS_1
...♡♡♡♡...