
Nada berjalan keluar dari dapur dengan senyum cerah ceria setelah berhasil masuk tiga besar, berbanding terbalik dengan Samuel yang mengekorinya sejak tadi dengan wajah ditekuk. Wanita itu tak memedulikan Samuel yang terus berusaha berbicara dengannya hingga lelaki itu mengacak rambutnya frustasi.
Sang istri melangkah menuju lift dengan Samuel yang ikut masuk ke dalam sana. Tak ada yang bersuara sejak tadi karena ada beberapa orang di lift hingga sampailah mereka di lantai 23 kelas VVIP. Nada berjalan acuh menuju kamar meninggalkan Samuel yang memikirkan cara menjelaskan pada Nada. Dia sudah diwanti-wanti oleh Steve sejak semalam agar tak mengatakan apa pun pada Nada. Mereka takut wanita itu akan khawatir dan membuatnya tak bisa fokus dalam kompetisi.
Semalam, ketika Samuel dan Adel sedang membahas tentang Leo di lobby hotel, ia dikejutkan oleh telepon dari rumah sakit yang mengatakan jika Adipati, Jasmine, Steve, Yuni, dan pak Ujang mengalami kecelakaan. 5 orang paruh baya itu tadinya ingin mengunjungi Nada dan memberikan semangat secara langsung, namun naas, hujan lebat membuat jalanan licin hingga mobil mereka tergelincir dan langsung menabrak sisi jalan dengan begitu keras. Hanya Steve yang mendapat luka ringan, sedangkan yang lain terluka cukup parah.
"Sayang," panggil Samuel lembut pada Nada yang berdiri menghadap jendela besar sana. Langit semakin terlihat indah dengan matahari yang perlahan bersembunyi malu.
Samuel kemudian memeluk Nada dari belakang. Dapat dia rasakan tubuh langsing itu bergetar kecil hingga ia buru-buru membalikkan tubuh Nada.
Deg
Wanita itu tengah menangis tertahan membuat jantungnya dirasa tertusuk pisau. Nada sangat terluka dengan segala pikiran buruk yang diciptakannya sendiri tanpa mendengar penjelasan Samuel terlebih dahulu.
Srekk
Samuel langsung menarik Nada ke dalam pelukannya dan memejamkan mata menghirup aroma khas dari tubuh Nada yang dia rindukan sejak semalam. Dia mengecup seluruh wajah yang tengah basah itu dengan penuh kasih sayang sembari mengucapkan seribu kata maaf.
Nada yang tak bisa marah lama pun akhirnya hanya terdiam dengan pertanyaan yang hanya sampai di ujung lidah. Ia bingung harus menanyakan hal ini atau tidak, namun jika tak mendapat jawabannya sekarang, Nada takut akan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga mereka.
"A-apa kau memiliki hubungan dengan Adel?"
Deg
Samuel menegang dengan raut wajah gugup yang tak bisa disembunyikan, sedangkan Nada yang menangkap bahasa tubuh itu langsung salah mengartikan.
"Ke-kenapa? Kalian melakukan itu di belakangku? Padahal aku percaya pada kalian. Aku bahkan tak bisa marah meskipun tahu kalian bermain di belakangku ..." ucap Nada lirih sembari menunduk. Dia tak berani mengangkat wajahnya karena setiap kali melihat wajah Samuel, ingatan semalam akan kembali datang.
"Apa maksudmu?" tanya Samuel setelah berhasil tersadar dari keterkejutannya.
"K-kau berselingkuh dengan Adel, bukan?"
Deg
Sekali lagi Samuel menegang. Bagaimana bisa Nada berpikir demikian? Adel adalah adiknya sendiri. Adel adalah Kia. Adelia Azaskia Admadewa. Adik yang sengaja diutusnya demi menjaga dan memantau Nada secara dekat.
__ADS_1
"Kau bodoh, Sam! Tentu saja Nada tak akan tahu karena kalian menyembunyikan segalanya dari wanita malang itu," ucap Caca. ๐๐๐๐๐
Ingatan Samuel kembali pada beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika Nada baru saja masuk ke salah satu SMP ternama di Jakarta. Kala itu, Kia yang bersekolah di Amerika, ditarik paksa oleh Samuel agar segera pindah ke Indonesia karena dia sangat sibuk belajar tentang perusahaan. Sejak kecil, Adipati selalu menekannya belajar dengan giat agar bisa menjadi penerus yang hebat.
"Kenapa, Kak?" tanya Kia pada saat itu.
"Bisakah kau membantu kakak? Kau tahu, kakak tak bisa menjaga Nada secara dekat. Jadi, kakak bermaksud mengirimmu bersekolah bersamanya di sini. Apakah kau mau?"
"Hmm ... tak masalah, Kak. Aku juga sudah merindukan Nada. Apa dia belum mengingat kita?"
Sebelum kejadian naas itu, Kia dan Nada memang sudah saling mengenal sejak keduanya berumur 8 tahun, bahkan mereka adalah sahabat. Kia yang memang memuja Leo sejak kecil, tak ingin semakin kecewa karena lelaki itu secara terang-terangan mengacuhkan dirinya dan bersikap lembut pada Nada hingga akhirnya Kia memutuskan ke luar negeri.
"Ya, dia belum mengingat siapa kita sebenarnya. Kau dekatilah dia. Kakak pikir akan mudah berdekatan dengannya karena kalian sudah sangat dekat sejak dulu."
"Baiklah, Kak. Tapi ... bisakah kakak mendukung aku untuk bersama kak Leo?"
Pletak
Samuel langsung menyentil kasar kening Kia yang seketika berteriak keras membuat Jasmine dan Adipati buru-buru berlari ke ruang tamu sana.
"Ma, kakak memukulku!" adu Kia sembari menangis terseduh-seduh. Anak manja itu memang tak bisa dikasari sedikit saja. Mungkin itu yang menyebabkan Leo memilih pindah dari kediaman Admadewa karena takut tak bisa mengontrol emosinya pada Kia yang selalu menempelinya.
Bug
Adipati langsung melempar bantal sofa pada Samuel yang tak sempat menghindar.
"Ya, ampun. Kakak hanya menyentilmu sedikit, Kia," bela Samuel tak ingin disalahkan.
"Sudahlah. Aku akan tetap membantu kakak, tapi jangan lupa kesepakatan kita tadi," ucap Kia si ratu drama karena ia menangis demi mendapat pembelaan mama dan papanya.
"Membantu apa, Nak?" tanya Adipati bingung.
"Ini loh, Pa. Kakak menyuruhku bersekolah bersama Nada."
"Kau yakin?" Kali ini Jasmine yang bertanya.
__ADS_1
"Ya, Ma. Aku juga sudah sangat merindukannya."
"Tapi, kau tak bisa memakai nama Admadewa. Dan jika Nada bertanya tentang dirimu, katakan padanya kau berasal dari Bandung. Dan juga, kau tinggal di Jakarta bersama ibu Asmi, kakak tertua dari pak Ujang."
"Baiklah, Kak!" seru Kia penuh semangat.
"Deal?"
"Deal!!"
.........
Finna berjalan memasuki restoran mewah dengan pakaian seksi yang terlihat menggiurkan bagi para lelaki mata keranjang. Dia datang ke sana untuk bertemu lelaki sewaannya yang sedang duduk manis di sudut ruangan sana.
"Hai, sayang," sapa Finna.
Cup
Mereka pun mulai menikmati makanan yang tersaji dengan tangan saling meremas di bawah meja. Lelaki yang masih muda itu dengan gencar menyelipkan tangannya ke dalam dress Finna yang seketika meremang. Jari lelaki itu tengah mengaduk-aduk bagian intinya hingga beberapa saat kemudian tubuhnya bergetar sembari menahan suara des*han. Setiap meja memiliki pembatasnya hingga perbuatan tercela itu tak diketahui oleh tamu lain.
"Kau sangat hebat," ucap Finna penuh nafsu.
Mereka pun buru-buru pergi dari sana untuk menuntaskan hasrat yang tak bisa ditunda lagi, namun sebelum Finna beranjak dari sana, percakapan di sebelah mejanya itu sungguh mengejutkan dirinya yang terdiam mematung berusaha mencerna sembari membuka pendengarannya baik-baik.
Deg
Nada? Wanita jal*ng itu? Wah, sungguh menarik. Batin Finna tersenyum licik.
****
..."Meskipun berbohong demi kebaikan, namun itu jelas salah karena tetap akan menimbulkan sebuah luka."...
...- Anonim -...
...โกโกโกโก...
__ADS_1