
"Nada!!"
Adel langsung memeluk Nada yang masih berbaring di atas kasur ditemani oleh suaminya yang tak pernah meinggalkannya sedetik pun. Lelaki itu terus menempeli Nada yang harus kembali pasrah karena Samuel tak ingin membagi dirinya pada orang lain.
Para orang tua bahkan tak diberikan kesempatan untuk hanya sekedar berbicara sebentar dengan Nada. Alasan Samuel pun sungguh tak masuk akal, "Nada harus segera istirahat. Dia sangat lelah."
Bukankah Nada lelah karena perbuatanmu, Sam?
"Adel!"
Kedua wanita itu saling melepas rindu, menelantarkan Samuel yang sudah menunjukkan wajah kesalnya. Lelaki itu hanya ingin bermesraan dengan istrinya meskipun belum bisa melakukan malam pertama, namun mencicipi sedikit seharusnya tak masalah, pikirnya.
"Aku sangat merindukanmu, Nad. Syukurlah kau kembali sehat dengan sangat cepat," ucap Adel tersenyum haru.
"Ya, semua berkat Samuel."
Nada menatap penuh cinta pada sang suami yang tengah bersandar di sisi ranjang itu. Entahlah, Nada selalu bersyukur karena diberikan lelaki sebaik Samuel.
"Ya, kau sungguh beruntung," ucap Adel sambil melirik suami sahabatnya yang tengah memijit lembut lengan Nada.
"Oh iya, selamat ya karena telah menjadi suami istri. Semoga sakinah mawaddah warahmah," lanjutnya lagi.
"Terima kasih, Del," jawab Nada tersenyum cerah hingga tak memperhatikan Adel yang terus mencuri pandang pada Samuel yang bersikap acuh tak acuh.
"Bagaimana dengan resepsi?" tanya Adel yang sudah duduk di kursi samping ranjang.
"Itu gampang. Yang penting kesehatan Nada dulu yang dipikirkan," sahut Samuel sembari memperbaiki rambut Nada yang berantakan.
Wajah wanita itu sudah memerah karena Samuel mengumbar kemesraan di depan Adel yang hanya tersenyum ringan saja meskipun bola matanya terus tertuju ke arah lelaki tampan itu.
"Sayang, apa kau tak lapar?" tanya Nada yang terkesan mengusir halus Samuel. Lelaki itu langsung memicingkan matanya merasa tak dibutuhkan lagi setelah sahabat istrinya datang.
"Kau mengusirku?" tanya Samuel dingin.
Glek
Nada langsung menelan ludahnya kasar karena aura Samuel sudah berubah 180 derajat. Terlihat sangat menyeramkan dan sesuai dengan kegelapan yang terlihat dari luar jendela sana.
"Bu-bukan begitu. Ini sudah malam. Kau belilah makanan, hem?" bujuk Nada pada Samuel yang tak berkutik sama sekali.
Nada menarik nafasnya pelan dan tersenyum canggung pada Adel. Wanita itu sangat menyukai drama yang terjadi di depannya.
"Sudahlah. Sebaiknya aku pergi. Malam ini kan malam pertama kalian. Aku tak ingin mengganggu, bye."
Adel buru-buru pergi dari sana karena Samuel sudah menatapnya horor. Sangat terlihat jika Samuel tak menyukai kedatangannya di waktu yang tak tepat seperti sekarang ini.
Samuel kemudian mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana dan mengetik sesuatu di sana sebelum akhirnya naik ke tempat tidur dan memeluk Nada yang sedang memijit pelipisnya.
Cup
"Kepalamu sakit?" tanya Samuel lembut. Tak ada lagi aura menakutkan yang ditebarkan seperti tadi. Wajah Samuel langsung tersenyum dengan binaran mata penuh cinta.
"Ya, aku sakit kepala karenamu!" sahut Nada ketus.
__ADS_1
"Loh, kenapa aku?" tanya Samuel dengan wajah polosnya.
"Sudah lupakan."
Cup
"Sayang," panggil Samuel dengan sensual di telinga Nada yang seketika merinding.
"Ini malam pertama kita, tapi aku tak akan memaksamu karena kau juga tidak boleh terlalu lelah," ucapnya penuh pengertian hingga Nada semakin takjub pada suami tampannya itu.
"Hmm ... tapi, kalau seperti semalam bagaimana? Orang tua kita tak akan datang malam ini. Tak akan ada yang mengganggu kita. Bisakah kita hm ...."
Glek
Bayang-bayang liar yang semalam mereka lakukan membuat Nada sangat gugup dengan wajah memerah. Meskipun tak melakukannya secara langsung, namun Nada masih sangat malu melakukan hal-hal vulgar.
"Ya?" pinta Samuel dengan nafas yang kian berat.
"A-aku lelah. Aku harus istira-"
Cup
Cup
Nada kelabakan menerima ciuman bertubi-tubi dari Samuel yang tak bisa menahan na*su jika berdekatan dengannya.
"Sa-sayang ssshh ...."
"Vi-vio ...."
Nada menggigit bibir bawahnya menahan des*han agar tak keluar karena Samuel sudah mengelus bagian bawahnya. Lelaki itu sangat menyukai suara lembut Nada jika tengah melakukan adegan favoritnya.
"Sstt .... aku tak akan lebih dari ini, hem? Belum waktunya," ucap Samuel dengan suara serak.
Samuel sudah berkonsultasi dengan dokter yang merawat Nada. Meskipun dokter sudah mengizinkan asalkan bergerak perlahan, namun Samuel tak ingin mengambil risiko jika terjadi sesuatu pada Nada akibat ulahnya sendiri.
Dan begitulah mereka, hanya saling memuaskan lewat sentuhan-sentuhan manja.
Skip 🤣
.........
Adel masih duduk terdiam di kursi panjang yang ada di depan kamar Nada di rawat. Pikirannya berlanglang buana ke segala arah seakan tengah memikul beban yang sangat berat.
Dret
Dret
"Halo ... hm, dia baik-baik saja ... ya, aku yakin ... Haruskah?" sahut Adel menjawab pertanyaan dari orang di seberang sana.
"Hm, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dia mendapat penjagaan yang ketat.”
Tut
__ADS_1
Adel menatap pintu kamar Nada dengan pandangan yang sangat sulit diartikan sebelum akhirnya dia melangkah pergi dari sana.
.........
Singapura
Pukul 10 malam
****
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang pria pada dokter yang sejak tadi terus merawat kakaknya
"Sudah lebih baik, Tuan."
"Hmm."
Kini hanya ada lelaki itu di dalam kamar mewah tersebut. Dia hanya diam dan terus memandangi wajah lebam itu sebelum akhirnya getaran dari benda mungil yang ia pegang membuatnya tersentak.
Dret
Dret
"Halo."
"Apa Dika sedang bersamamu? Aku sudah menghubunginya sejak seminggu lalu, tapi dia tak mengangkat teleponku sama sekali ...."
Suara wanita itu terdengar putus asa hingga membuat ia yang mendengarnya sangat prihatin. Kakaknya sangat keterlaluan menyakiti wanita sebaik Ketty. Kakak iparnya itu tak mengetahui apa pun kelakuan gila yang dilakukan suaminya. Dika seorang pembunuh dan berselingkuh dari Ketty bertahun-tahun lamanya, hanya demi membalas dendam pada Samuel dan Nada.
Dia pun sama, dia juga seorang pembunuh. Tapi dia hanya akan membunuh jika keadaan sudah sangat mendesak. Darah ayah mereka tak bisa dihilangkan dari tubuh keduanya. Sifat dan karakter sang ayah sudah mendarah daging, namun kakaknya, Dika, dia sudah tak terkontrol lagi.
"Dia bersamaku. Kau tak perlu khawatir, hem? Jagalah para keponakanku dengan baik. Oh ya, kapan kau melahirkan?"
"2 minggu lagi kata dokter," sahut Ketty di seberang sana.
"Baiklah. Aku akan usahakan untuk menemanimu," balasnya lembut pada Ketty yang langsung terdiam. Keduanya memiliki hubungan di masa lalu, namun akibat ulah kakaknya sendiri, ia harus mengikhlaskan wanita yang sangat dicintainya itu.
Kakaknya terlalu tamak hingga merebut apa yang sudah menjadi milik adiknya sendiri. Dia pun sempat membenci kakaknya, namun sekali lagi, hanya Dika yang dia miliki di dunia ini. Dia memegang prinsip bahwa seburuk apa pun keluarganya, dia tak boleh menyimpan dendam sedikit pun. Itulah setidaknya yang Ketty katakan dulu padanya.
"Terima kasih, Lukas," ucap Ketty lembut.
Tutt
****
..."Balas dendam adalah bukan hanya menyakiti orang yang dibenci, tapi juga menyakiti semua orang, bahkan dirimu sendiri."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
.......
Sampe sini udah ngerti ya siapa Lukas, siapa Dika? wkwkwk
__ADS_1