
Hotel Maesa
Kompetisi
****
Nada berjalan gontai ke dalam dapur yang sudah dipenuhi oleh para kontestan, juri, dan panitia. 10 menit lagi kompetisi akan dimulai, namun Nada tak menemukan Samuel yang biasanya sudah datang lebih dulu dari dirinya. Ia menatap hampa pada pisau yang terselip namanya. Benda itu diberikan Samuel padanya sebelum berangkat ke Bandung.
Tenang, tenang. Batin Nada.
"Baiklah. Hari ini kita akan memulai tantangan hari ke-3 yang akan berbeda dari tantangan sebelumnya. Para kontestan diwajibkan untuk berbelanja sendiri dengan uang senilai Rp20.000,00. Kalian harus membuat masakan dengan budget kecil, namun layak dijual seharga Rp200.000,00. Kalian juga akan diberi kamera agar dapat merekam sendiri aktivitas tersebut. Di dekat sini ada pasar, jadi silakan kalian pergi berbelanja," ucap salah satu panitia yang menjadi MC hari ini karena Adel tak kunjung datang.
...OLAHAN MAKANAN Rp20.000,00...
5 kontestan yang berhasil lolos itu langsung pergi setelah mendapatkan uang yang tergolong kecil sembari memegang kamera. Mereka berjalan menuju pasar yang terletak sekitar 500 meter dari hotel. Nada, wanita itu telah menyalakan kameranya hingga setiap langkah kakinya dapat ditonton secara live, tak terkecuali Samuel yang melihat wanita itu lewat layar handphone-nya.
"Apa yang harus aku beli dengan harga murah, tapi bisa dijual dengan harga mahal?" Nada berdialog sendiri sembari menelusuri pasar tradisional ini.
Setiap tempat ia telusuri hingga pilihannya jatuh pada menu sederhana, namun begitu digilai oleh banyak orang. Nada kemudian membeli beberapa tambahan agar masakannya terlihat lebih menggugah selera dan yang pasti jika dijual maka harganya akan melambung tinggi.
Nada berjalan cepat menuju hotel karena waktu yang diberikan hanya 30 menit saja. Dia melewati jalan setapak yang sepi demi bisa sampai tepat waktu, namun ...
Bug
Wanita itu hampir tersungkur ke depan karena dorongan dari belakang sana. Nada lalu menegakkan tubuh sembari memeluk belanjaannya agar tak jatuh ke jalan yang kotor, sedangkan kameranya sudah terlempar di pinggir jalan dan masih menyala merekam segalanya.
"Apa yang kalian lakukan?!" geram Nada pada 3 preman yang menatapnya penuh nafsu.
__ADS_1
"Ayo, ikut dengan kami!" seru seorang preman yang berjalan mendekat pada Nada yang melangkah mundur.
"Aku tak ada waktu bermain dengan kalian, tapi karena mood-ku sedang buruk, aku akan meladeni kalian beberapa menit," ucap Nada santai sembari memberi kode berhenti pada 2 orang pria di belakang sana yang diketahuinya adalah pengawal bayangannya. Dua lelaki itu pun terdiam mematung menunggu perintah selanjutnya.
Nada kemudian mengikat plastiknya kencang di tangan kirinya dan tangan satunya sudah terkepal erat siap menyerang. Sedangkan para pengawalnya, sudah dimarahi habis-habisan oleh Samuel yang baru saja menelepon mereka. Lelaki yang sejak semalam dibuat pusing dengan masalahnya, buru-buru berlari keluar dari ruangan yang serba putih dengan bau obat-obatan menyengat itu.
Semua orang yang menonton secara live pun seketika terpana karena aksi Nada yang masih terekam indah. Terlihat dengan jelas jika Nada bergerak begitu gesit menghalangi serangan dari para preman. Dia terlihat menikmati momen tersebut karena bisa melampiaskan kekesalannya pada Samuel.
Bug
Bug
Bug
Tinju dari kepalan tangan Nada mampu membuat ketiga preman itu oleng seketika. Mereka menatap tak percaya pada Nada yang menjelma menjadi wonder woman dengan tangan kiri masih memegang erat plastik belanjaan.
"Hiakk!!"
"Cih! Kalian masih terlalu lemah. Aku bahkan sudah melawan yang lebih lihai dari kalian," ucap Nada sombong. Dia kemudian mengambil kamera yang jatuh lalu berlari menuju hotel karena waktunya sudah habis.
Beberapa saat kemudian
Hosh
Hosh
Hosh
__ADS_1
Nada menarik nafas sembari berjalan ke arah mejanya dengan pandangan semua orang langsung tertuju padanya. Ada yang menatap penuh takjub, ada juga yang menatap sinis, siapa lagi kalau bukan Finna yang geram karena rencananya gagal. Dia sungguh terkejut mengetahui jika Nada bisa bela diri.
Merasa sudah tenang, Nada mulai melakukan pekerjaannya dengan begitu terampil, namun sebelum itu, ia mencuci tangannya bersih agar terhindar dari kuman yang menempel pada tubuh preman tadi.
Waktu yang diberikan sebanyak 40 menit kini telah berakhir hingga lonceng pun berbunyi dengan para kontestan mengangkat tangan ke atas.
Sempurna. Batin Nada tersenyum sembari memperhatikan hasil masakannya kali ini.
Para juri kemudian berjalan menghampiri 5 meja itu secara bergantian hingga tiba giliran Nada yang masih tersenyum cerah tak memedulikan Samuel yang sejak tadi menatapnya bersalah. Ya, lelaki itu datang beberapa detik setelah Nada. Dan tentu Nada membuang muka tak ingin menatap sang suami.
"Ini ... bukankah indomie goreng?" tanya salah satu juri setelah mencicipi masakan Nada.
"Kenapa kau memasak indomie goreng? Meskipun kau menambahkan topping seperti ini, namun jika dijual harganya tak akan menyentuh angka Rp200.000,00."
Semua juri heran dengan pilihan Nada. Kontestan yang lain memilih membeli daging ayam atau ikan dengan harga murah lalu dipotong filet untuk dibuat steak, namun tentu Nada sudah memprediksi hal itu dan dia tak ingin sama dengan kontestan lain. Untuk itu Nada memilih makanan kesukaan rakyat Indonesia lengkap dengan 1 potong paha ayam, telur mata sapi setengah matang, selada, dan tomat.
"Tantangan kali ini tak menjelaskan jika hanya mencakup negara Indonesia saja, bukan? Dengan menjual indomie goreng seperti ini maka harganya pun bisa melebihi Rp200.000,00 jika dijual di luar negeri tentunya," jawab Nada yang langsung membungkam para juri.
"Total seluruh belanjaan saya pun tak sampai Rp20.000,00. Harga 1 bungkus Indomie goreng jumbo Rp3.500,00. Harga 1 potong paha ayam Rp7.000,00. Harga 1 lembar selada dan 2 potong tomat hitunglah Rp1.000,00. Harga 1 butir telur Rp2.000,00. Lalu, jika menghitung total 1 porsi makanan ini, biaya tambahkan gas, air, garam, minyak hitunglah Rp3.000,00. Biaya tenaga memasak Rp3.000,00. Jadi, totalnya sebesar Rp19.500,00," sambungnya panjang lebar hingga semua yang mendengarnya melongo tak percaya.
Deg
Wanita ini memang sangat pintar bermain kata-kata. Batin Samuel terpana.
****
..."Penghargaan tertinggi dari kerja keras bukanlah pada apa yang kamu hasilkan melainkan bagaimana kamu berkembang karenanya."...
__ADS_1
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...