
"Kak Andre!" panggil Nada kecil.
"Ada apa, hem?" jawab Andre lembut sembari mengusap kepala Nada.
"Minggu depan ulang tahunku, aku mau hadiah. Boleh?" ucap Nada dengan mata yang dikedipkan berulang kali, sukses membuat Andre gemas.
"Boleh. Mau hadiah apa?"
"Kalau hadiahnya sebuah puisi. Bagaimana, Kak?" pinta Nada pada Andre yang terlihat tengah berpikir.
"Hm, baiklah. Bagaimana kalau sekarang?"
"Ih, ulang tahunku bukan sekarang, Kak," sungut Nada hingga Andre tertawa.
"Tak apa-apa. Anggap saja kakak membayar hutang lebih awal," sahut Andre yang akhirnya disetujui Nada.
Keduanya sedang berbaring di bawah pohon mangga beralaskan koran. Pohon itu terletak persis di samping rumah Nada. Malam hari yang terasa begitu indah bagi dua bocah yang menikmati hidup mereka dalam kesederhanaan. Langit malam di atas sana ditaburi ribuan bintang serta bulan yang berbentuk bulat sempurna.
...☆☆☆...
...Adikku adalah hidupku...
...Karena alasanku bertahan adalah dirinya...
...Dirinyalah cahaya yang bisa kulihat di hitamnya hidup yang kuhirup...
...Dirinyalah yang bisa kutatap...
...Aku tiada ingin kehilangannya...
...Tiada ingin berpisah dengannya...
...Karena dia adalah nyawa kedua...
...Setelah aku mati dulu...
...Mati karena di bunuh oleh kejamnya takdir...
...Adikku adalah harapanku...
...Aku sudah menjadi hitam arang...
...Yang kupunya sekarang hanya sakit di sudut hati...
...Aku ingin hidupnya lebih baik dariku...
...Aku sudah mati dua tahun lalu...
__ADS_1
...Mati di bunuh rasa sakit yang memotong hati...
...Di telan sakit yang tiada obat...
...Iya hidup dan takdir bersekutu untuk menghancurkanku....
...Saat itu aku sekarat...
...Ku mengiba pada hati yang mati...
...Yang kudapat hanya kecewa...
...Yang kudapat hanya hitamnya kenyataan...
...Adikku tidak boleh merasakan pahit...
...Adikku harus tetap menjadi manusia...
...Tuhan kumohon bantu aku...
...Bantu aku menjaganya...
...Bantu aku membahagiakannya...
...☆☆☆...
Mata Nada kecil berkaca-kaca. Ia begitu ingat kejadian dua tahun yang lalu ketika ia dan semua anggota keluarganya mencari Andre yang menghilang sejak pulang sekolah. Kala itu, Andre yang baru kelas 1 SD, tak kunjung pulang ke rumah padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Kakak ..." panggil Nada sembari menangis. Ia langsung memeluk Andre yang membalasnya tak kalah hangat. Nada begitu tahu bahwa kejadian itu telah mengubah Andre yang biasanya hangat pada semua orang, berubah menjadi sangat dingin, kecuali pada keluarganya.
"Kau kakak terbaikku," ucap Nada menatap wajah Andre yang begitu tampan. Andre memiliki wajah yang begitu khas. Mata bulat dengan bulu mata lentik menjadi ciri khas Andre. Ditambah dengan senyum kotak yang tak semua orang punya.
"Ya, aku tahu," ucap Andre sombong mengundang tawa keduanya di malam yang indah itu.
"Sayang," panggil Samuel yang terus berada di samping Nada yang terbaring lemah di atas kasur Mikael. Lelaki itu begitu khawatir karena Nada terlihat menangis sembari memanggil nama Andre.
"Kakak ..." panggil Nada masih menutup mata. Tadi setelah mendengar fakta yang begitu mengejutkan, Nada langsung jatuh pingsan tepat pada saat Yuni datang terburu-buru hingga menghancurkan vas bunga di ruang tamu.
"Sayang, jangan begini ..." ucap Samuel yang ikut menangis melihat Nada begitu tertekan. Ia terus memeluk sang istri yang akhirnya terbangun setelah berteriak begitu kencang mencari Andre.
"Kakak! Kakak! Di mana kau?!" Nada seperti orang linglung mencari ke segala tempat. Ia dengan sigap turun dari kasur dan berkeliling kamar mencari kakaknya. Samuel berusaha mencegah, namun wanita itu tak bisa dihentikan lagi.
"Nada!" teriak Adel yang sudah tiba bersama Jasmine dan Adipati. Semua orang yang tadinya duduk berdiskusi di ruang tamu, dibuat terkejut karena Nada berlari secepat kilat menuju rumah Steve yang tak jauh dari sana.
"Sial!!" umpat Samuel mengejar langkah Nada.
Sementara itu, Nada yang baru saja tiba di depan pintu rumah Steve, dibuat tertegun sejenak menatap halaman rumah itu. Halaman yang menyimpan sejarah kelam bagi keluarga mereka karena ia harus kehilangan ayah dan kakak yang begitu ia sayangi.
__ADS_1
BRAK
Nada mendobrak kasar pintu tersebut. Entah bagaimana bisa ia memiliki kekuatan sekuat itu hingga Samuel yang berdiri tak jauh darinya pun begitu terkejut.
"Kakak!! Nada pulang!!" teriak Nada bahagia.
Dia seperti anak kecil tanpa beban, namun mata polos berair serta senyuman itu justru membuat Samuel ketakutan jika mental Nada kembali terganggu seperti 13 tahun lalu.
Dengan langkah gemetar, Samuel berjalan perlahan ke kamar yang ia tahu milik Andre karena dulu mereka sering bermain bersama di rumah sederhana itu.
Deg
"Sa-sayang ..." panggil Samuel lirih. Hatinya sangat teriris melihat Nada yang memegang boneka lusuh yang dulu diberikan Andre. Inilah yang sangat ditakutkan Samuel jika ingatan Nada kembali.
"Hei ...."
"Aku punya boneka cantik, loh," sahut Nada dengan suara anak kecil.
"Sangat ca-cantik," balas Samuel hampa.
Samuel mengusap lembut kepala Nada yang mencium boneka itu. Kebahagiaan, kesedihan, putus asa, dan kekecewaan, semua itu tergambar jelas di mata bulat Nada. Sedangkan tak jauh dari sana, para orang tua dan Adel ikut menangis melihat kondisi Nada yang akhirnya harus kembali seperti dulu.
"Nak ..." panggil Yuni yang telah duduk di samping Nada.
"Bibi, lihat. Kak Andre memberikan aku ini," sahut Nada girang. Yuni langsung memeluk tubuh Nada yang masih tersenyum cerah.
"Oh iya, kak Andre belum pulang sekolah ya? Aku ingin mengajaknya bermain ke kebun. Bibi apakah ingin memanen singkong? Ayahku menunggu kita di rumah," ucap Nada.
"Sayang, lihat aku," pinta Samuel memegang kedua pipi Nada yang langsung menatapnya.
"A-apa kau mencintaiku?"
"Tidak," kata Nada setelah ia memperhatikan lebih teliti wajah Samuel. Nada masih berada di dunianya sendiri hingga tak mengenali Vio dewasa.
Deg
Samuel terdiam kaku di tempat. Dia tahu jika waktunya tiba dan kondisi psikologis Nada terganggu maka wanita itu akan melupakannya seperti dulu.
"Kumohon, jangan lagi ..." ucap Samuel semakin menangis sembari memeluk erat Nada.
****
..."Dalam hidup, terkadang tuk bisa merasa lebih baik, kamu hanya harus menerima kenyataan bahwa kamu tak akan selalu merasa baik."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
__ADS_1
.......
❤ Puisi karya : Rayhandi ❤