Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 16 : Pertunangan Samuel dan Finna


__ADS_3

Nada terus memperhatikan Samuel hingga mobil yang mengantarkan lelaki itu akhirnya pergi. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tak menangis, namun itu justru membuat dadanya semakin terasa sakit. Dia pun tak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Tatapan lelaki itu seakan memorak-porandakan hati dan pikirannya. Apa yang salah?


Sedangkan tak jauh dari sana, Yuni tengah berada dalam pelukan Steve. Wanita itu menangis tertahan di balik lemari buku. Mereka berdua mendengar semua percakapan Nada dan Samuel yang sungguh mengiris hati mereka yang tahu seperti apa kisah masa lalu keduanya.


Nada berlari ke arah kamar dan mengurung dirinya. Ia memukul dadanya dan akhirnya menangis kencang di dalam sana. Meluapkan rasa yang ia pun bingung mendeskripsikannya seperti apa.


"Vio ..." panggilnya lirih.


"Si-siapa kau sebenarnya? Aku selalu merasa bahwa kau sangat dekat denganku ...."


"Tapi siapa? Kenapa aku tak bisa mengingatmu?" ucapnya frustasi sambil menangis.


Nada memang tak mengingat masa kecilnya seperti apa. Hanya ada sedikit masa lalu yang diingatnya seakan banyak hal yang sengaja dihapus dari dalam otaknya. Lama ia menangis hingga membuatnya lelah dan akhirnya tertidur.


.........


💕Mimpi Nada💕


"He'em ... hai," sapa seorang bocah lelaki padanya yang sedang memetik bunga di taman belakang restoran tempat ayahnya bekerja.


"Kakak tampan," batin Nada kecil yang berpura-pura mengacuhkan bocah lelaki itu.


Ia sungguh malu dan buru-buru berlari ke dalam restoran. Bocah lelaki itu terlihat bak pangeran berkuda karena memakai setelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu, sedangkan Nada kecil hanya memakai baju daster rumahan bahkan ia pun belum mandi sejak pagi tadi.


Samuel kecil yang ditinggalkan seorang diri di sana merasa sangat kesal. Bocah itu bersungut-sungut sambil menendang kerikil yang ada di dekat kaki, mengundang tatapan geli dari Nada kecil yang ternyata mengintip dari balik pintu sana.


Selama beberapa hari, Samuel kecil berusaha mendekatinya hingga momen yang telah dinantikan pun akhirnya tiba.


"Aku Samuel. Namamu siapa?" tanya Samuel Kecil.


"Nada ..." ucap Nada kecil pelan.


"Wah ... namamu sungguh indah. Lalu apa yang sedang kau makan itu?" Samuel bertanya karena buah tersebut sangat asing baginya yang memang tak begitu menyukai buah-buahan.


"Ini namanya buah cherry, Kak," ucap Nada sambil memberikan satu untuk Samuel yang dengan senang hati menerimanya.


"Aku sangat menyukai ini. Kata papaku, ini bagus untuk kesehatan otakku karena mengandung ... apa ya itu namanya?" tanya Nada sambil mengangkat salah satu jari telunjuk untuk mengetuk-ngetuk kepala kecil miliknya.


"Ah, vitamin A, vitamin B, dan mineral seperti kalsium dan fosfor. Ini juga bagus untuk meningkatkan memori kita," ucap Nada panjang lebar. Samuel yang mendengar pun sontak dibuat melongo.


"Kau masih kecil, tapi sangat pintar. Berapa usiamu?"


"Aku sudah besar, Kak. Umurku sudah 8 tahun."


"Besar?"


Samuel mencoba menahan tawanya karena Nada terlihat sangat menyombongkan umurnya itu. Terbukti dengan gadis cilik itu menepuk dadanya yang ia busungkan sedikit ke arah depan.


Kelakuan bocah itu semakin membuatnya gemas. Di mata Samuel, Nada sangat cantik meskipun hanya memakai baju santai berwarna pink dengan motif dora.


"He'em ... berarti kita hanya berbeda 3 tahun saja."


"Kalau begitu, kau akan aku panggil Cherry mulai sekarang agar kau selalu mengingatku. Bagaimana?" lanjutnya lagi penuh harap.

__ADS_1


"Hm, boleh. Itu sangat cantik. Aku suka ... lalu kakak aku panggil apa? Siapa nama kakak tadi? Samuel, ya?" tanya Nada sambil menguyah dua buah cherry sekaligus hingga bibir mungilnya maju beberapa cm ke depan.


"Kalau aku panggil El, bagaimana?" sambungnya lagi menatap sekilas ke arah Samuel yang terus memperhatikannya sedari tadi.


"No, sudah banyak orang yang memanggilku dengan sebutan pasaran itu." Samuel kecil buru-buru protes. Wajahnya terlihat sangat kesal, namun justru semakin tampan di mata Nada yang terlihat membulatkan mata besarnya.


"Namaku Samuel Oktavio ... kau tentukan sendiri ingin memanggilku apa."


"Hm ... kalau Samu, bagaimana?" tanya Nada yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari bocah lelaki itu.


"Enak saja! Nama bagus milikku harus menjadi jelek seperti tukang ojek!" protes Samuel mengundang tawa Nada yang merasa lucu.


"Muel? Okta? Avi?" tanya Nada kecil beruntun.


"Vio?"


Mendengar nama terakhir yang diucapkan entah mengapa membuat Samuel langsung menyukainya. Ia pun langsung menyetujui hal itu dengan wajah yang berseri-seri.


"Baiklah, Vio dan Cherry," ucap Samuel kecil sambil mengulurkan tangannya berkenalan.


"Ya, Vio dan Cherry," sahut Nada kecil tersenyum lalu membalas jabatan tangan itu.


Hahhh...


Hahhh...


Nada terbangun dari tidurnya dan menarik nafasnya dalam-dalam. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Selama 13 tahun, baru kali ini dia bisa bermimpi indah karena biasanya hanya akan ada mimpi samar-samar yang terlihat sangat mengerikan.


.........


Royal Club


Pukul 1 dini hari


****


Di sebuah sudut ruangan yang penuh dengan asap rokok serta pemandangan yang menjijikkan bagi orang yang awam di dunia malam, terlihat seorang pria dengan pakaian berantakan miliknya sedang meneguk minuman keras. Beberapa wanita penghibur datang silih berganti, namun mereka langsung berlari pergi karena lelaki itu memaki mereka habis-habisan.


"Sam!"


Leo menghampiri Samuel yang sudah diambang batas kesadarannya. Lelaki itu terlihat menyandarkan tubuh lemahnya dan terus meneguk lagi dan lagi. Entah sudah berapa botol yang dihabiskan Samuel hingga matanya memerah dan sayu-sayu. Tubuhnya bergetar hebat karena ini adalah kali pertama baginya mengonsumsi minuman haram itu.


"Apa yang kau lakukan? Dasar bodoh! Apa kau ingin mati?! Kau tak bisa minum, tapi berlagak sok jagoan!!" sarkas Leo dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu seberapa berat beban yang lelaki itu pikul sejak dulu dan sekarang adalah titik terendah dari seorang Samuel.


"Nada ... Leo ... aku mau Nada," ucap Samuel serak dengan isakan yang mulai terdengar.


Deg


Samuel menarik kerah baju Leo dan berkata di depan wajah lelaki itu. Wajahnya menyiratkan luka mendalam, namun Leo pun sama terlukanya. Sejak dulu, Leo hanya menjadi figuran. Bisakah sekali saja dia menjadi pemeran utama? Kenapa Samuel tak bisa memahaminya?


Leo mengunci mulutnya rapat-rapat dan dengan sigap Leo mengangkat tubuh mabuk Samuel agar segera pergi dari sana.


Bagi orang penting seperti Samuel, tempat itu sangat berbahaya karena bisa saja ada pesaing atau musuh yang mengincar lelaki itu ketika Samuel sedang rapuh. Seperti sekarang ini, terlihat seorang lelaki yang tadinya sudah berjalan ke arah Samuel dengan sebilah pisau lipat di tangannya, harus memutar arah kembali karena kedatangan Leo yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Sial!" umpatnya lalu melangkah pergi.


.........


Skip


Ballrom Hotel Monalist Jakarta


Pukul 7 malam


Acara pertunangan Samuel dan Finna


****


Bunga berwarna putih dan rose gold tengah memenuhi setiap dinding ruangan tersebut. Kerlap kerlip lampu yang disusun sangat indah di bagian atas langit ruangan, terlihat seperti salju yang berjatuhan.


"Kita sambut pasangan yang sudah sejak tadi kita tunggu-tunggu ... Tuan Samuel dan Nona Finna!" teriak sang MC diakhir kalimat.


Tepuk tangan meriah dan pujian terlontar dari mulut para tamu yang hadir pada acara tersebut.


Sang wanita langsung menunjukkan senyum paling memikat miliknya. Ia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih tulang yang sangat pas di badan ramping itu. Wajahnya dirias dengan make up bold yang menambah kesan seksi pada dirinya. Cahaya yang terpantul dari taburan kristal kecil disetiap inci gaun itu membuatnya senada dengan lampu di atas sana.


Sedangkan sang pria memakai tuxzedo berwarna senada. Rambutnya disisir ke belakang hingga penampilannya itu membuat setiap wanita di sana berdenyut minta ditiduri. Sangat sempurna, pikir mereka.


Finna berjalan dengan melenggokkan tubuh semampainya. Berbeda dengan Samuel yang berjalan dengan wajah datar khas miliknya. Lelaki itu harus mengikhlaskan tangan berharganya untuk ditempeli kuman di sebelahnya itu.


Semua adegan tersebut tak luput dari sepasang mata dengan bulu mata lentik natural miliknya. Mata itu berkaca-kaca dan kakinya bergerak gelisah, sedangkan lelaki di sebelahnya pun mati-matian bertahan dengan rasa sakitnya sendiri.


Leo kemudian menggenggam erat telapak tangan Nada seakan menunjukkan betapa takutnya dia kehilangan wanita itu. Begitu juga dengan seorang wanita yang berada di pojok lain ruangan. Matanya sudah menumpahkan bulir air mata yang tak mampu ia tahan lagi.


.........


"Para hadirin, acara akan dibuka dengan pesta dansa terlebih dahulu. Dimohon untuk mempersiapkan pasangan masing-masing. Silakan Tuan Samuel dan Nona Finna untuk memulai," ucap sang MC penuh semangat.


Finna langsung menyerahkan tangannya ke arah Samuel yang hanya acuh. Finna tetap menunggu dengan senyum menawannya, namun beberapa detik kemudian wajahnya mengeras emosi.


Bagaimana tidak?


Samuel perlahan meninggalkan dirinya sendirian di atas panggung. Lelaki itu terus berjalan penuh karisma ke arah tempat duduk yang sejak tadi membuat fokus Samuel terahlikan. Tatapannya tak sedetik pun putus dengan mata yang juga tengah memandanginya itu.


Kini kaki jenjangnya berhenti tepat di depan seorang wanita yang terlihat begitu cantik dalam kesederhanaannya. Wanita itu menggunakan gaun rose gold sebatas lutut. Rambutnya disanggul dengan manis serta make up tipis yang menyempurnakan visualnya yang memang sudah cantik sejak lahir.


"Ayo," ajak Samuel lembut mengulurkan tangannya pada wanita cantik itu yang langsung terdiam mematung.


Deg


****


..."Terkadang hati melihat apa yang tidak terlihat oleh mata."...


...- H. Jackson Brown -...


...♡♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2