
Dret
Dret
Wajah yang awalnya mampu menarik keberanian semua orang, hanya dalam beberapa detik berubah menjadi lembut penuh kasih sayang setelah melihat bidadarinya menghubungi lewat video call.
Leo yang berada di samping pria bucin itu seketika mendapatkan tatapan tajam dari Samuel karena berusaha mencegatnya menjawab panggilan itu.
"Kenapa?!" ketus Samuel.
"Kau bodoh?! Lihat bajumu penuh darah. Kau ingin Nada mengetahui perbuatanmu?" sahut Leo membuat Samuel langsung kelabakan.
Lelaki itu secepat kilat merampas jas milik anak buahnya yang hanya pasrah akan kelakuan tuan mudanya.
"Hai, sayang," sapa Samuel tersenyum manis.
Di seberang sana, Nada mengerutkan keningnya sedang berpikir, bukankah tadi Samuel memakai jas abu-abu? Kenapa malah sekarang berubah warna hitam?
Samuel yang merasa terancam pun dengan terlatih memberikan alasan yang cukup masuk akal hingga Nada tak bertanya lagi.
"Kenapa meneleponku, sayang?" tanya Samuel lembut. Ia sedang berdiri di bawah pohon pinus mencari udara segar setelah sejak tadi dibuat mendidih oleh Dika.
"Aku merindukanmu, sayang," jawab Nada lembut, "oh iya, kamu lagi di mana?" tanyanya penasaran.
"Aku juga merindukanmu. Aku di depan gedung kantor, sayang. Hm ... aku akan segera pulang,” ucap Samuel sembari berlari ke arah mobilnya, namun langkahnya terhenti ketika mendengar teriakan Nada yang menyuruhnya tetap di kantor.
"Kenapa?" tanya Samuel kesal. Ia ingin mengulang pergumulan panas dengan Nada, namun wanita itu sudah mengomelinya lebuh dulu. Tentu saja Nada tak ingin kembali lelah. Bagian intinya saja masih sakit.
"Aku butuh istirahat, sayang. Oh iya, apa aku bisa ke VC Restaurant?" Nada sebenarnya ingin menanyakan soal Dika, namun rasanya ia tak sanggup mengucapkan nama si brengsek itu.
"Katanya sakit?"
"Iya, tapi aku ingin berlatih. Kata Adel, restoran akan membuat lomba antar chef di seluruh cabang VC Restaurant. Dan kalau berhasil maka orang tersebut akan menjadi perwakilan restoran untuk mengikuti lomba kuliner internasional yang akan diadakan di Singapura," ucap Nada penuh semangat.
"Oh ya?"
Samuel tersenyum lucu seraya bersandar di mobilnya. Wanita ini meskipun sudah banyak mengalami kejadian menakutkan, namun dia selalu penuh semangat dan pantang menyerah.
"Ya, ini kesempatan emas. Kalau aku berhasil, bukankah kau akan bangga padaku?"
__ADS_1
"Hmm, baiklah. Yang penting selalu perhatikan kondisimu. Aku akan sering ke sana."
"Terima kasih, sayang," sahut Nada memberikan ciuman jarak jauh dengan bibir bengkaknya, membuat Samuel langsung menegang.
Sia! Aku ingin memakannya. Batin Samuel geram menatap bengkakan di bawah sana.
.........
VC Restaurant
Pukul 11 siang
****
Suasana restoran terlihat ramai karena memasuki jam makan siang membuat Nada buru-buru melangkah ke arah dapur dengan tampilan cupunya. Entahlah, ia sudah terlanjur nyaman dengan penampilan seperti ini.
"Nada!"
Adel langsung memeluk sahabatnya itu yang terlihat sedikit pucat dengan beberapa lebam memudar di pipinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Adel bergetar.
"Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir," jawab Nada sambil memberi jalan pada tamu yang ingin ke toilet.
"Tapi kenapa jalanmu seperti itu?" tanya Adel membuat semburat merah muncul di pipi Nada. Wanita itu ia buru-buru meninggalkan Adel yang menatapnya bingung.
Beberapa saat kemudian
"Wow, lihat nyonya kita ini. Datang dan pergi sesuka hati. Kau pikir restoran ini milikmu, hah?!" geram Finna mencari gara-gara pada Nada yang sedang merapikan alat masak.
"Cih! Dasar ******. Berhentilah menggoda tunanganku. Kau pikir dirimu pantas untuk Samuel?" Finna berbicara sembari memperlihatkan cincin perak di jari manis kirinya.
Dia sangat kesal karena tak bisa bertemu lagi dengan Samuel. Lelaki itu selalu menghindarinya dan tak pernah memedulikan dirinya yang notabene adalah tunangan Samuel. Pergi ke kantor Samuel pun percuma karena ia langsung dihadang ketika baru sampai di lobby.
Nada memilih tak menanggapi dan berjalan ke tempat cuci piring untuk mencuci tangan. Ia sengaja bergerak perlahan hingga mata Finna menangkap cincin emas yang terlihat sangat mahal berada di jari manis kanan Nada.
"Sebelah kiri? Helo! Aku di sebelah kanan," ucap Nada santai dan berjalan melewati Finna yang semakin kesal.
Sialan! Cincin dari mana itu? Jangan bilang dari Samuel. Batin Finna.
__ADS_1
Sedangkan para senior Nada hanya saling pandang bingung, berbanding terbalik dengan Mira. Ia menatap penuh kecewa pada Nada yang dianggap sebagai penggoda. Rumah tangga yang hancur karena orang ketiga membuat Mira sangat sensitif dengan para wanita murahan seperti ini.
"Sebaiknya kau berhenti, Nad. Tuan Samuel sudah bertunangan dengan Nona Finna. Kau jangan menghancurkan hubungan keduanya," sahut Mira langsung melangkah pergi.
Sabar. Batin Nada.
Teriakan dari Faris mengejutkan semua orang di dapur. Mereka langsung bergerak cepat ketika mengetahui tamu spesial baru saja datang, yaitu perdana menteri dan istrinya.
"Seperti biasanya, aku yang akan menyajikan makanan untuk mereka karena mereka hanya menyukai masakanku," sahut Finna sombong.
"Ta-tapi kali ini istri perdana menteri ingin mencoba sesuatu yang baru. Beliau sepertinya sudah bosan dengan menu kita," ucap Faris.
"Hm, bisakah aku juga membuat sesuatu untuk mereka?" tanya Nada hingga Finna menatapnya penuh permusuhan.
"Cih! Apa kemampuanmu, hah? Masakanmu saja sangat tak enak!" hardik Finna mencoba menjatuhkan mental Nada, namun tak semudah itu. Nada adalah Nada.
"Tak ada yang melarangmu jika ingin memasak. Pisaumu adalah milikmu. Gunakan itu untuk membuat makanan yang enak," sahut Darius yang bersandar di pintu dapur.
Nada seketika berbinar dan buru-buru memasak dengan Finna yang tak ingin kalah. Keduanya bergerak dengan lincah dengan alat masak yang terdengar nyaring saling berbenturan.
Kini di atas troli yang dilapisi kain putih itu telah ada dua hidangan yang terlihat menggiurkan dan begitu harum semerbak.
Finna memilih membuat Iga Bakar Saus BBQ, sedangkan Nada membuat Nasi Goreng Pete lengkap dengan 3 varian sambel. Finna melirik ke arah makanan Nada yang terlihat kampungan itu dengan tatapan meremehkan. Sudah ia pastikan makanan tersebut rasanya tak enak.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju meja nomor 4 hingga dua orang paruh baya yang duduk di sana sangat kaget melihat sosok yang datang ke arah mereka. Wanita muda dengan kacamata ini terlihat sangat mirip dengan ibu kandungnya yang begitu cantik, namun harus berakhir mengenaskan.
Perdana Menteri dan istrinya sejak dulu tengah mencari keberadaan Nada, Steve, dan Yuni, namun sangat sulit seakan semua akses ditutup rapat oleh seseorang hingga kedatangan wanita misterius di kediaman mereka kemarin membuat semuanya terasa lebih mudah.
"Ayunda?"
Deg
****
..."Masa lalu ada sebagai pembelajaran. Kita tak bisa mengubah masa lalu, namun kita bisa mengubah masa depan."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
__ADS_1