
Tak ... tak ... tak
Bunyi sepatu heels dengan tinggi 3 cm itu tengah beradu dengan marmer di restoran yang menjadi tempat paling favorit di pusat kota Jakarta. Semua mata memandang wanita dengan senyum secerah bak mentari pagi hingga mampu membuat para tamu terpesona.
Gleg
Para lelaki di sana langsung menelan ludahnya kasar ketika melihat lelaki yang begitu tampan tengah berjalan satu langkah di belakang bidadari itu. Mata tajam serta aura membunuh telah dikobarkan Samuel karena begitu emosi melihat mereka memandang penuh nafsu pada sang istri.
Cup
Nada begitu terkejut ketika Samuel mencuri ciuman di bibirnya. Sebelum cecaran itu keluar, ia melihat sekeliling dan mengerti maksud dari perilaku Samuel barusan. Nada hanya bisa menarik nafas panjang. Suaminya semakin hari semakin posesif padanya. Namun, dirinya justru menyukai hal itu. Lucu, bukan?
"Sayang, ayo."
Nada langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang suami yang langsung tersenyum penuh kemenangan dan memandang penuh ejekan pada para lelaki yang memanyumkan bibir mereka.
Keduanya melangkah menuju dapur yang terlihat sibuk pada jam nya. Mereka datang tepat jam makan siang dan langsung disuguhkan dengan para Chef yang sibuk bekerja.
"Pergilah. Aku menantikan makan siangku di meja makan," kata Samuel memberi izin setelah Nada memandang penuh harap padanya.
Cup
"Tapi, kau harus ingat untuk berhati-hati. Segores saja luka yang aku dapatkan di tubuhmu, maka kau harus berhenti," ancam Samuel pada Nada yang seketika meneguk ludahnya kasar.
"Iya, sayang. Aku akan berhati-hati."
Cup
Nada langsung mengambil seragam kebanggaan miliknya yang ternyata masih disimpan begitu rapih oleh suaminya.
"Aku mencintaimu," bisik Nada dan buru-buru berlari kecil untuk mengganti pakaian.
Samuel hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah setelah mendengar bisikan mesra itu. Namun, beberapa detik kemudian ia berteriak kencang, "Jangan berlari!!"
.........
Nada dengan penuh percaya diri mulai memegang pisau miliknya yang diberikan Samuel setahun yang lalu. Wanita itu memotong daging terderloin menjadi 4 bagian. Kemudian memukul daging dengan alat pemukul daging. Setelah mendapatkan hasil yang sesuai keinginannya, Nada melumuri daging dengan olesan bumbu yang telah diraciknya terlebih dahulu.
Nada menarik nafasnya berat. Kehamilannya sungguh membuatnya cepat lelah. Ia kemudian mengusap lembut perut datarnya dengan senyum sangat indah. Ia sungguh tak sabar menanti sang buah hati untuk segera keluar menatap dunia.
"Ah, bukankah masih lama?" ucapnya mendesah halus.
Lamunannya buyar setelah mendengar timer yang diaturnya berada di menit ketiga puluh telah berbunyi. Nada kembali bergerak begitu gesit dan beberapa kali bersenandung riang.
"Kau hangat harum. Pasti rasamu sangat enak."
Seperti biasa, Nada akan menganggap makanannya adalah makluk hidup. Ia akan selalu mencurahkan semua cinta untuk masakannya. Untuk itulah, setiap apa yang dibuat oleh tangannya akan selalu memiliki cita rasa yang begitu unik.
Cesss ...
Bunyi panggangan serta aroma yang memenuhi dapur itu membuat Chef yang lain ikut menelan ludah. Mereka akui jika nyonya muda mereka ini sangat berbakat dalam dunia kuliner. Nada selalu memiliki sesuatu yang meskipun ditiru mereka, maka itu tak akan pernah sama.
"Selesai!!" seru Nada kegirangan.
Ia kemudian mulai menata hasil masakannya dengan begitu rapih dan cantik di atas piring hitam kotak berukuran 22 cm, lengkap dengan kentang dan sayuran sebagai pelengkap. Tak lupa juga dengan saus lada hitam yang sejak tadi dicicipi olehnya.
__ADS_1
Ini enak sekali. Aku jadi tak rela memberikannya pada Samuel. Batin Nada dengan air liur yang hampir menetes.
Nada berjalan keluar menuju meja yang di tempati suaminya. Langkahnya begitu anggun dan terlihat semakin cantik dengan seragam yang dikenakannya. Setidaknya, itulah yang dilihat Samuel tanpa sedetik pun berkedip memandangi sang istri yang tersenyum ke arahnya.
"Silahkan, Tuan. Selamat menikmati," ucap Nada sopan dengan sedikit membungkuk.
Grep
"Aarrgghh!!" teriaknya ketika Samuel menariknya lembut dan mendudukkannya tepat di pangkuan lelaki itu.
"Sam, lepaskan aku!" geram Nada dengan wajah memerah malu. Semua tamu di restoran tengah memandangi adegan romatis mereka hingga rasanya Nada ingin tenggelam ke dalam lubang semut.
"Ayo, makan bersama," ajak Samuel tak memedulikan Nada yang masih berusaha berdiri.
"Sangat enak, sayang. Kau memang andalanku," puji Samuel yang begitu lahap memakan masakan sang istri.
Nada yang melihat jika dagingnya tersisa 3 potong, buru-buru mengambil garpu dan pisau yang dipakai Samuel.
"Kenapa, sayang?" tanya Samuel kebingungan.
"Aku juga ingin mencobanya," sahut Nada acuh hingga Samuel tersenyum kecil.
Lelaki itu membiarkan makanannya habis tak tersisa oleh sang istri yang terlihat begitu meresapi setiap gigitannya. Ia memandangi objek di depannya itu dengan tatapan begitu lembut. Sesekali Samuel mengusap lembut surai istrinya.
"Ah, kenyangnya."
"Sudah?" tanya Samuel tersenyum.
Nada seketika tersadar jika makanan itu seharusnya untuk Samuel. Ia buru-buru memutar tubuhnya. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, "Maafkan aku telah menghabiskan makananmu."
"Hei, kau bicara apa? Aku senang jika kau makan banyak. Badanmu semakin montok dan aku suka itu," sahut Samuel gamblang hingga Nada tersedak ludahnya sendiri.
"Aaww, kenapa memukulku, sayang?" sungut Samuel.
"Jangan mesum!" tekan Nada seraya berdiri dan berjalan menuju dapur.
Samuel tak tinggal diam. Dia mengejar langkah pendek sang istri dan langsung menggendongnya menuju mobil.
"Kau telah menghabiskan makananku. Sekarang waktunya aku memakanmu," kata Samuel dengan seringai licik.
"A-apa?!"
Nada langsung pucat pasih karena ia tahu kekuatan Samuel di atas ranjang seperti apa. Berdebatan kecil pun terus terdengar sampai pintu mobil milik Samuel tertutup rapat dan pergi melaju ke tempat yang seharusnya.
"Kalian harus bahagia sekarang ..." ucap Leo memandangi mobil Samuel yang semakin menjauh.
Leo sejak tadi melihat bagaimana pasangan suami istri itu mengumbar kemesraan di sana. Meskipun ia telah mengikhlaskan Nada, namun rasa sakit itu masih saja terasa. Entah kapan akan hilang, ia pun tak tahu.
Lamunannya buyar ketika melihat sosok yang ia kenal tengah memasuki restoran dengan menggandeng tangan seorang pria. Leo terus memperhatikan keduanya yang terlihat berbicara dengan bahasa tubuh malu-malu kucing.
Leo memicingkan matanya dan mencoba menajamkan indera pendengarannya, namun ia semakin geram karena tak bisa menangkap apa pun. Leo kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Adel yang terlihat acuh.
Entah kenapa, setahun ini Adel terus menghindarinya. Tak ada lagi Adel yang berusaha mengejarnya seperti dulu. Leo patut bersyukur, namun ia merasakan sesuatu yang penting telah hilang.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Leo datar dan dingin.
__ADS_1
Adel hanya melirik sekilas dan melanjutkan percakapannya dengan lelaki yang telah menyandang status sebagai tunangannya. Semua itu karena hukuman Adipati. Ia harus menikah dengan lelaki pilihan sang ayah sesuai kesepakatannya dulu.
Aura membunuh seketika menyeruak. Adel merasakan situasi mencekam karena Leo menatap tunangannya dengan wujud seperti iblis.
Gleg
"A-ayo, kita pergi dari sini." Adel langsung menarik tunangannya pergi, namun tangannya langsung dicekal kuat oleh Leo.
"Kau ikut denganku. Dan kau! Pergi dari hidupnya!" sahut Leo lantang.
Bukan tanpa alasan Leo bersikap seperti ini. Ia tahu jika lelaki di hadapannya adalah lelaki yang suka bermain perempuan. Jangan tanya dari mana Leo mengetahuinya karena apa pun yang menyangkut keluarga Admadewa akan ia telusuri sampai ke akar-akarnya.
Sedangkan Adel, hanya bisa terpaku memandangi si pengecut yang berlari meninggalkan dirinya agar diterkam singa di sebelahnya itu.
"Kau kenapa sih?!" geram Adel menghempaskan tangan Leo meskipun tak berhasil.
"Kau harus berpisah dengannya!"
Leo tak memedulikan tempat pertengkaran mereka karena emosinya telah sampai di ubun-ubun. Ia harus melindungi Adel dari lelaki yang tak baik. Itulah yang diyakini Leo tanpa melihat lebih dalam ke dalam hatinya bahwa sosok Nada telah lama tergantikan oleh wanita yang tengah memasang wajah cemberut di hadapannya itu.
"Kau gila! Aku sebentar lagi akan menikah dengannya!" pekik Adel tak terima.
Tentu saja Adel tahu sifat sebenarnya dari lelaki yang memiliki gelar sebagai tunangannya, namun ia harus menepati janji pada ayahnya. Disamping itu, ia ingin melupakan Leo yang tak pernah memandang ke arahnya sekalipun Nada telah menikah.
Adel berlari keluar restoran setelah berhasil melepaskan diri dari Leo yang ternyata mengejarnya.
"Sial!" umpatnya kesal karena Leo berlari sangat cepat.
Grep
"Aaarrgghh!!" teriaknya terkejut.
"Kau lelaki sialan! Kenapa aku bisa mencintai lelaki sepertimu?! Kau brengsek! Aku membencimu!!" Adel berteriak memukul dada bidang Leo yang hanya pasrah dipukuli.
"Kau tak bisa menikah dengannya!"
"Kenapa??!!!" tanya Adel frustasi.
"Karena kau harus menikah denganku!" sahut Leo datar.
"A-apa??!!!" pekik Adel sangat terkejut.
"Apa kau tuli? Aku bilang, kau harus menikah denganku."
Deg
****
..."Mereka berdua saling mendoakan satu sama lain, sedikit yang mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan takdir mereka satu sama lain bahkan sebelum mereka dilahirkan."...
...- Anonim -...
...โกโกโกโก...
.......
__ADS_1
Hai, Caca kembali lagi. Maafkan baru nongol skrg krn rl yg sangat2 sibuk sekali. Ditambah, ada beberapa urusan yg menjadi prioritas harus diselesaikan. Novel ini sbntr lgi akan tamat jdi Caca usahain akan update secepatnya lagi. Dan makasih buat kakak2 yg masih setia mengikuti cerita ini. Maaf klo ceritanya mngkin gak sesuai harapan. Kedepannya, Caca akan berusaha jdi lbh baik lagi ๐๐๐
ILU GUYS ๐ฅฐ