
2 minggu telah berlalu dan mengubah hidup seorang pria yang terlihat begitu berantakan. Tak ada lagi sosok yang tegas dan berwibawa, kini hanya ada lelaki dengan penampilan lusuh dan kotor. Sejak kembalinya ingatan sang istri, lelaki itu kehilangan arah hidupnya begitu pun dengan anggota keluarga yang lain. Canda, tawa, kebahagiaan terasa begitu jauh untuk mereka raih.
"Sam ..." panggil Jasmine pada Samuel yang terduduk merenung di samping jendela kamar. Jasmine kemudian berjongkok menatap kepiluan pada sang putra yang tak menanggapi dirinya.
"Nak, ayo makan dulu," ajak Jasmine. Samuel hanya menggeleng dan melanjutkan lamunannya.
Lelaki itu sangat merindukan sosok Nada yang lebih memilih menetap di rumah Mikael. Berbagai cara Samuel lakukan untuk membawa Nada pergi dari sana, namun Nada malah memarahinya seperti anak kecil.
Dia yang awalnya ingin tinggal di sana, diharuskan untuk kembali ke Jakarta karena pekerjaannya yang sudah sangat menumpuk. Samuel tak ingin menyusahkan Leo dan Adipati meskipun kedua pria itu telah tersedia memegang pekerjaannya. Meski begitu, Samuel selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Nada.
Jasmine akhirnya mengalah dan memilih keluar dari kamar, meninggalkan Samuel yang langsung membalikkan badannya dengan air mata yang tumpah. Dia sangat lelah dengan segala pekerjaan, ditambah harus memantau kondisi Nada yang belum ada perkembangan.
"Sayang, aku merindukanmu yang dulu," kata Samuel sembari menatap foto dirinya bersama Nada di layar ponsel miliknya.
Sementara itu, Nada menjalani harinya penuh kebahagiaan. Dia terus berbicara seakan di sampingnya ada Mikael dan Andre. Wanita itu masih terjebak dalam dunia yang ia ciptakan sendiri walaupun kadang kala Nada merasakan kekosongan, namun buru-buru ditepisnya ketika melihat Mikael dan Andre datang menghampirinya.
"Ayah, aku mau cokelat, boleh?" tanya Nada pada sosok Mikael yang dilihatnya. Sedangkan Steve dan Yuni yang memilih mendampingi Nada di rumah itu, dibuat semakin frustasi karena sikap Nada semakin menjadi-jadi.
"Sayang, apa yang harus kita lakukan?" ucap Yuni yang tengah menangis menatap Nada di seberang sana. Steve hanya terdiam. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa. Dokter yang dulu merawat Nada pun telah melakukan sebisanya, namun trauma Nada kali itu sangat berat hingga membutuhkan proses yang begitu lama.
.........
Keesokan harinya
Admadewa Grup
Ruangan Presdir
****
Brak
"Dasar bodoh!!" teriak Samuel pada seorang karyawan.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya akan memperbaikinya," ucap karyawan itu ketakutan. Sudah 2 minggu ini, Samuel sangat temperamental. Lelaki itu sensitif terhadap semua orang hingga Leo yang menjadi asistennya pun dibuat kewalahan akan sifat Samuel.
"Kau pergilah," usir Leo tak ingin menambah sakit kepalanya. Leo menarik nafasnya sembari menatap kasihan pada Samuel. Dia begitu tahu jika perubahan Samuel karena Nada.
"Sam, kau pergilah dampingi Nada. Aku akan mengurus perusahaan bersama papa."
__ADS_1
"Kau tak tahu apa yang paling sakit? Saat kau begitu mencintai seseorang, tapi dia tak menganggapmu ada. Itulah yang aku rasakan sekarang," kata Samuel dan langsung melangkah pergi meninggalkan Leo yang terdiam karena ucapan itu pun berlaku untuk dirinya.
Samuel berjalan cepat menuju lift. Meskipun ia selalu mendapat penolakan dari Nada, namun kali ini dia akan berusaha lebih keras lagi. Dia tak akan pernah meninggalkan Nada apa pun kondisi wanita itu.
"Halo Pak Ujang, tolong antarkan mobil di depan perusahaan. Aku akan menyetir sendiri menuju Bandung," ucap Samuel dan langsung mematikan sambungan telepon.
Beberapa saat kemudian
"Shitt!! Kenapa sangat macet?" umpat Samuel kesal dan memutar arah melewati jalan lain menuju Bandung. Perjalanan yang terasa begitu lama bagi dirinya yang sangat ingin memeluk Nada.
"Sayang, aku datang," ucap Samuel tersenyum, namun tiba-tiba ...
BRAK
BOMMMM
DUAARRRR
.........
PRANGGG
Bug
Wanita itu jatuh pingsan, membuat Steve dan Yuni langsung berlari menuju Nada yang tengah kejang-kejang.
"NADA!!!"
.........
...1 tahun kemudian...
"Hai," sapa seorang wanita dewasa pada Nada yang tengah duduk manis di dalam sebuah kafe.
"Hai, akhirnya kau datang," sambut Nada memeluk temannya.
"Bagaimana pengobatanmu? Lancar?"
"Ya, begitulah. Aku hanya perlu rutin memeriksakan diri. Bagaimana dengan pekerjaanmu, Dina?"
__ADS_1
"Semua berjalan lancar," sahut Adel yang dipanggil Dina. Keadaan telah kembali ke titik awal dimana Nada tak mengenali mereka semua. Meskipun rasa trauma Nada tak seperti dulu lagi, namun ingatannya kembali hilang. Tak ada yang tahu kenapa ini bisa terjadi, namun mungkin ini yang terbaik bagi semua orang.
"Syukurlah. Oh iya, aku akan melanjutkan study-ku di Amerika. Aku mendapatkan beasiswa penuh di sana," ucap Nada girang.
"Wah, benarkah? Selamat!" Adel langsung mendekap Nada. Ia sangat menyayangkan takdir Nada dan Samuel yang harus terpisah lagi dan lagi.
"Nad, apa kau ingin bertemu kakakku?" tanya Adel penuh harap sembari memegang tangan Nada.
"Kakakmu?"
"Ya, kakakku. Aku hanya ingin kau bertemu dengannya sekali saja."
"Baiklah."
Kedua wanita itu akhirnya berjalan menuju tempat Samuel. Selama perjalanan, Adel memegang erat telapak tangan Nada. Entah apa yang dia lakukan ini benar atau tidak, namun ia sangat berharap Nada bisa mengingat Samuel, sekali lagi.
Mobil yang membawa mereka akhirnya berhenti di sebuah daerah asing. Perjalanan tersebut memakan waktu kurang lebih satu jam. Nada memutar kepalanya merasa tak pernah ke tempat ini. Ia kemudian menatap Adel yang ternyata tengah menatap dirinya dengan air mata yang sudah tumpah.
"Din, kau kenapa? Jangan menangis," kata Nada lembut.
"Aku tak apa-apa. Ayo, turun. Pak Ujang, tolong tunggu sebentar, ya."
Nada dan Adel pun berjalan menelusuri jalan setapak yang dipenuhi bunga mawar merah. Tempat itu sangat sepi dan asri. Burung-burung berkicau seakan menyambut sang pemilik yang telah lama menghilang.
"Din ... i-ini."
"Ya, ini kakakku, Nad. Samuel Oktavio Admadewa."
Deg
Nada menegang di tempat mendengar nama yang terasa tak asing di telinganya. Ia menatap sebuah pusara yang terpahat nama seorang lelaki di sana. Nama yang sering muncul dalam mimpinya serta bayangan samar lelaki yang selalu tersenyum indah pada dirinya.
"Sa-samuel?"
****
..."Ketidakhadirannya seperti langit, tersebar di atas segalanya."...
...- Lewis -...
__ADS_1
...♡♡♡♡...