
Seminggu kemudian
****
"SAYANG!!"
Teriakan Nada menggelegar di seluruh penjuru rumah mewah Samuel. Nada telah diboyong olehnya 3 hari yang lalu hingga membuat suasana yang awalnya sepi bak kuburan, kini terasa indah dan penuh warna.
Brak
Samuel langsung membuka pintu kamar mereka dengan kasar karena terlalu panik mendengar teriakan dari istri imutnya itu.
"Kenapa? Kenapa? Apa yang sakit?!" teriak Samuel panik.
Lelaki itu sedang berada di ruang kerjanya di lantai dua, namun teriakan dari nyonya baru tersebut terdengar sampai ke seluruh sela-sela rumah yang luasnya tak main-main.
Deg
Samuel terkejut karena Nada sudah memandanginya dengan tatapan yang sangat menusuk. Kali ini apa lagi salahnya?
"Ke-kenapa, sayang?" tanya Samuel gagap. Penampilan lelaki itu sudah sangat berantakan, namun justru semakin seksi di mata Nada.
Tahan, tahan. Batin Nada.
Ia sudah sembuh dan bisa berjalan dengan sangat leluasa ke segala tempat, namun tak boleh terlalu lelah.
"Kau melupakan sesuatu!" ketus Nada dengan berpangku tangan.
"Hah? Apa?" tanya Samuel kebingungan, namun seketika ia tersadar bahwa Nada memintanya membelikan bakso.
"Maaf, sayang. Aku terlalu sibuk," rayu Samuel tak ingin disalahkan.
Nada menarik nafasnya pelan berusaha tak tertawa. Dia sebenarnya hanya ingin mendapat perhatian dari Samuel karena beberapa hari ini Samuel mengabaikannya karena pekerjaan yang sudah menggunung.
Adipati dan Jasmine sudah pergi beberapa hari lalu, entah ke mana. Leo juga sedang sakit. Jadi hanya Samuel yang bisa diharapkan di sini. Namun, Nada hanya ingin terus bersama Samuel setiap detik.
"Kau mengidam bakso? Apa kau sudah hamil?"
Puk
Nada menepuk pelan bibir lelaki itu. Bagaimana dia bisa hamil? Melakukan adegan lebih hot saja mereka belum pernah. Paling hanya sekedar membelai saja.
__ADS_1
"Kita belum pernah melakukannya. Bagaimana bisa kau berkata aku sudah hamil?" ucap Nada mencubit gemas hidung mancung Samuel.
"Ah iya, bagaimana kalau malam ini?" goda Samuel dengan tatapan nakalnya. Mereka sudah membaca seputar adegan ranjang untuk malam pertama di internet dan Samuel adalah orang yang paling bersemangat untuk mempraktikkannya.
"Kalau begitu, izinkan aku bekerja kembali. Aku ingin bekerja," pinta Nada.
"Tidak!" tegas Samuel. Raut wajahnya langsung berubah murka mendengar permintaan yang sejak 3 hari lalu selalu Nada utarakan.
"Tolonglah, aku sudah sehat. Aku janji akan menjaga diriku dengan baik," bujuk Nada memelas.
"Kau juga harus mengerti. Aku melarangmu karena kau masih dalam tahap penyembuhan. Kalau kau terluka tanpa aku di sampingmu, bagaimana?"
"Aku akan baik-baik saja. Kau pasti akan terus memantauku di kantor, bukan?"
Samuel memandang Nada yang sudah mulai mengembun. Wanita ini memang sangat keras kepala sejak dulu dan Nada paling tahu kelemahan Samuel.
"Sudah, jangan menangis."
Samuel mengusap lembut air mata yang telah luruh di wajah cantik itu dan mengecup pelan berusaha memberi kehangatan.
"Jadi boleh?" tanya Nada yang langsung dijawab anggukan dari suaminya.
"Tapi kau harus menjaga dirimu. Kau mengerti? Sekali saja kau berbuat sesuatu yang bahaya, aku akan mengurungmu di dalam kamar."
"I-iya, sayang," ucap Nada patuh, namun berbeda dengan isi hatinya. Dia memaksa bekerja karena ingin bertemu Lukas dan mendengar penjelasan dari lelaki itu.
"Hmm ... sayang, bagaimana dengan pekerjaanku di VC Restaurant?"
"Apa uangku tak cukup untuk menghidupimu?"
"Bukan begitu. Kau tahu aku sangat ingin menggapai cita-citaku. Aku bahkan sudah membuang waktuku terlalu banyak sejak dulu. Bisakah kau mendukungku?"
Samuel mengusap wajahnya frustasi. Ia sungguh tak ingin melihat Nada lelah, namun dirinya tak mungkin menghalangi cita-cita istrinya. Dia tahu bahwa dirinya terlalu buru-buru mengajak Nada menikah dan tentu wanita seusia Nada pasti sedang bersemangat meraih sesuatu.
"Aku selalu mendukungmu. Baiklah, lakukan apa pun yang kau mau. Tapi ingat kesehatanmu, ok?"
"Ok, sayang!!" teriak Nada lantang dan langsung menghadiahi wajah tampan itu dengan ciuman.
"Jadi malam ini?" tanya Samuel sembari menaik turunkan alisnya.
"Be-besok saja bagaimana? A-aku takut itu sangat sakit kalau baru pertama kali," ucap Nada mencari celah.
__ADS_1
"Hem, baiklah. Aku tak akan memaksamu, sayang."
Cup
"Terima kasih," ucap Nada terharu.
Samuel selalu berusaha untuk mengerti dirinya sejak dulu. Apakah dia bisa melepaskan lelaki seperti Samuel? Tentu saja tidak. Tapi bagaimana jika masa lalu akhirnya terungkap? Bisakah Nada tetap di samping Samuel dan tak meninggalkan lelaki baik itu?
.........
Admadewa Grup
Pukul 8 pagi
****
Seorang wanita dengan dandanan cupunya, perlahan keluar dari dalam mobil Avanza Toyota Veloz yang telah berhenti tepat di depan gedung 35 lantai itu.
"Terima kasih, Pak Ujang," ucap Nada tersenyum ceria. Nada sungguh bahagia bisa kembali bekerja dan ia akan memulai kembali semuanya dari awal.
"Sama-sama, Nona."
Pak Ujang terus memperhatikan nona mudanya sampai masuk ke dalam gedung kantor. Lelaki paruh baya itu hanya bisa geleng kepala dan tersenyum mengingat kejadian pagi tadi.
"Pak Ujang, pergilah beli mobil yang biasa saja. Nada tak ingin menaiki Ferrari 488 Pista yang aku hadiahkan padanya. Dia wanita yang sungguh aneh," keluh Samuel padanya.
"Dia wanita yang berbeda, Tuan," sahut Pak Ujang yang sungguh bahagia mengetahui keduanya telah menikah.
"Kau benar. Kau belilah sekarang. Aku akan membawa mobil sendiri. Mulai sekarang kau jadi sopir Nada. Aku tak bisa percaya pada siapa pun."
"Baik, Tuan."
Pak Ujang tersadar dari lamunannya karena bunyi klakson dari belakang sana. Ia pun buru-buru membawa mobil tersebut keluar area perusahaan, meninggalkan seorang pria yang sejak tadi memantau dari kejauhan.
"Akhirnya kau datang," ucapnya girang.
****
..."Satu-satunya batasan untuk meraih mimpi kita adalah keragu-raguan kita akan hari ini. Marilah kita maju dengan keyakinan yang aktif dan kuat."...
...- Franklin Roosevelt -...
__ADS_1
...♡♡♡♡...