
Adegan penuh kekerasan ⚠️
****
Mobil mewah Samuel tengah melaju di jalanan yang cukup padat. Suara klakson terdengar begitu nyaring ketika di depan sana beberapa mobil belum melaju padahal telah ada space di depan mobil tersebut.
Samuel kecil terlihat menguap tiada henti karena hari ini tenaganya banyak terkuras. Dia adalah orang yang paling bersemangat mendekorasi taman di belakang restoran hanya untuk sang putri.
Samuel kemudian mulai memejamkan mata, sebelum akhirnya tatapannya jatuh pada benda yang tadi diberikannya pada Nada. Cherry-nya itu meninggalkan hadiahnya dan hanya membawa hadiah dari Leo.
Apa-apaan ini? Batin Samuel begitu kesal.
Jiwa cemburu dan posesifnya langsung membuat Leo dan Pak Ujang terkejut karena Samuel berteriak meminta putar arah dan kembali ke rumah Nada. Pak Ujang pun buru-buru mencari jalan pintas agar tiba lebih cepat. Ia tak tahan dengan aura Samuel yang sudah mengerikan di belakang sana.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai depan di rumah Nada yang terlihat sepi. Hanya ada terdengar sayup-sayup orang yang sedang berbicara.
"Kalian tunggu di sini. Aku akan masuk sendiri!" ketus Samuel sembari mengambil hadiahnya dan berjalan menuju rumah Nada, sedangkan Leo hanya dibuat geleng kepala saja.
"Cherry," panggil Samuel sambil mengintip lewat jendela. Beberapa saat dia menunggu, namun orang yang dicarinya tak kunjung menampakkan diri juga.
Ah, apa di rumah paman Steve? Batin Samuel lalu berjalan sendiri menuju rumah Steve, sedangkan Pak Ujang dan Leo hanya menurut saja ketika pangeran kecil itu menyuruh mereka agar tetap tinggal.
Langkah kaki Samuel terlihat begitu ringan dengan senyum di wajah tampan miliknya karena membayangkan reaksi Nada yang pasti senang bertemu dengannya lagi. Namun, semua itu hancur ketika mendengar suara teriakan yang begitu ia kenal.
Deg
Samuel terkejut setengah mati di tengah jalan sana. Hadiahnya jatuh bagaikan ber-slow motion. Kepalanya tiba-tiba terasa begitu sakit. Keringat dingin mulai keluar dari keningnya. Badannya bergetar hebat melihat pemandangan yang begitu menjijikkan ini.
Tubuh Nada kecil telah polos dan sedang dinikmati oleh seorang lelaki dewasa tanpa tahu malu. Dan sekarang, terlihat lelaki itu memukuli Nada dan Andre yang berusaha melawan. Samuel yang akhirnya sadar dari keterkejutannya seketika berteriak lantang hingga Pak Ujang dan Leo mendengar teriakannya.
"BRENGSEKKK!!! SIALAN!!!! MATI KAU BANGSAATTTT!!!!"
Bug
Bug
Bug
Samuel memukul Gustaf dengan batu besar yang ia temukan di dekat situ. Fisik Samuel yang lebih kuat dari kebanyakan anak seusianya, membuat Gustaf sedikit kesulitan dalam menangkis serangan tersebut. Sedangkan tak jauh dari sana, Pak Ujang berusaha melawan anak buah Gustaf.
Lelaki itu berhasil mengalahkan 5 orang meskipun akhirnya ia tetap terluka parah karena memang tak memiliki basic dalam bela diri. Leo kecil pun ikut membantu Samuel menghantam tubuh Gustaf yang akhirnya bisa bangkit dan membalas perbuatan dua bocah lelaki itu.
Bug
Bug
"Kakak ..." panggil Nada lirih.
Tubuhnya telah remuk, namun yang paling sakit adalah hatinya. Harga dirinya tak ada lagi ketika Gustaf kembali mengungkung tubuhnya setelah berhasil mengalahkan Samuel dan Leo yang sudah tergeletak di dekat situ.
"Mari kita lanjutkan yang tadi," ucap Gustaf.
__ADS_1
"TIDAK!! LE-LEPASKAN DIA!! CHERRY!!"
Samuel meraung kencang ketika ia kembali harus melihat Gustaf mencumbu tubuh Nada yang tengah memandang dirinya penuh rasa sakit. Bocah itu merangkak berusaha mendekati Gustaf yang tak memedulikan apa pun lagi karena benda beruratnya itu harus segera masuk ke dalam sana.
Nada kecil hanya mampu terdiam dengan tatapan tak pernah putus pada Samuel yang menangis sejadi-jadinya. Leo pun sudah pingsan karena tadi berusaha melindungi Samuel dari pukulan maut Gustaf.
"LEPASKAN DIA!! AKU MOHON!!"
Samuel tak menyerah dan terus menyeret tubuh lemahnya. Dia semakin jantungan ketika Gustaf mulai mengarahkan bagian inti yang telah menegang sempurna itu menuju sela paha Nada yang mulai memejamkan mata.
Ayah. Batin Nada menangis.
"TIDAK!! TIDAK!! CHERRY!!!!!!" teriak Samuel semakin histeris.
Inti keduanya telah saling menempel dan siap memasuki milik Nada yang masih belum bisa menampung benda besar itu. Entah apa jadinya jika pukulan keras di kepala Gustaf barusan tak menghentikan aksi gilanya.
"SIALAN KAU!!!! MATI MATI KAU!!!!!" teriak Mikael yang baru saja sampai.
Dia tadinya sudah sampai di depan pintu rumahnya, namun suara berisik yang terdengar sayup dan cukup mengganggu itu, membuatnya memutuskan mengecek situasi yang ada. Namun begitu sampai, jantungnya seperti berhenti detik itu juga dan tanpa pikir panjang Mikael menyerang Gustaf yang sudah pas pada posisi kenikmatan itu.
Bug
Bug
"KUBUNUH KAU!!!!"
Mikael berteriak penuh kesakitan dengan air mata yang mengalir deras. Mikael merasa gagal menjadi ayah karena tak mampu melindungi sang putri. Dia terus memukuli Gustaf yang memang memiliki fisik kuat hingga keduanya saling adu jotos.
"Ssssttt ... ini aku. Jangan ta-takut, hem?" ucap Samuel kecil penuh kelembutan padahal tubuhnya pun sudah bergetar. Bayang-bayang barusan terus menghantui kepalanya yang terasa ingin pecah.
Bug
Mikael jatuh tersungkur dengan badan yang sudah berlumuran darah, namun ia tak akan pernah bisa memaafkan lelaki bejat ini. Tiba-tiba ...
Jleb
Sebuah pisau telah menembus perut Mikael. Tusukan bertubi-tubi Gustaf berikan setelah tadi anak buah satu-satunya yang tersisa di sana melemparkan sebuah pisau lipat padanya.
"A-ayah ..." panggil Nada lirih. Ia melihat dengan jelas jika ayahnya sedang bertarung nyawa di sudut sana.
Sedangkan Steve, lelaki itu akhirnya bisa berdiri setelah sejak tadi berusaha keras untuk bangkit. Dia berjalan sempoyongan dan mengeluarkan seluruh tenaganya mengalahkan anak buah Gustaf yang masih bertahan.
Bug
"Minggir!"
Anak buah Gustaf itu tak menyerah dengan sebotol bensin di tangannya. Bosnya memang menyediakan benda itu sejak awal untuk membakar rumah Steve jika tak membayar hutang hari ini.
Bug
Steve mendorong keras pria itu tepat di sebuah kayu runcing hingga menembus jantungnya. Steve kemudian mencoba melawan Gustaf yang sekarang sudah kehabisan tenaga hingga Gustaf berhasil dipukul mundur oleh Steve.
__ADS_1
"Mik, hei! Bangun. Maafkan aku," ucap Steve menangis sembari menepuk pelan pipi Mikael yang masih setengah sadar.
"Na-nada. Ba-bawa dia ke-kemari, Kak," pinta Mikael karena merasa waktunya tak akan lama lagi.
Steve pun berdiri dengan susah payah menuju Nada dan Samuel yang tengah memandangi dirinya itu. Dengan perlahan, ia mengangkat tubuh Nada dengan jaket yang menutupi tubuh kecil dan polos itu. Dia sedikit kesusahan ketika tadi membujuk Samuel agar melepaskan Nada sebentar saja.
Steve kemudian berjalan kembali menuju Mikael yang tengah tersenyum menanti buah hatinya itu.
Cup
"Nak, ma-maafkan pa-pa, hem? Pa-pa sa-ngat men-cintaimu, sa-yang," ucap Mikael berbata-bata sembari memeluk Nada yang tengah menangis.
"Ja-dilah a-nak yang ba-ik, ya?" Nada hanya menganggukkan kepalanya saja dengan membenamkan kepalanya di dada bidang dingin sang ayah.
"To-long ja-ga dia," pinta Mikael pada Steve yang menggeleng.
Cup
Mikael mengecup lembut kening Nada yang tak ingin menjauh dari Mikael yang secepat kilat mendorongnya dan Steve dengan kekuatan terakhir yang dimiliki, hingga akhirnya ...
Sssyyuuurrrrrr
Ceesssss
"AYAHHH!!!!!!!"
"MIKAELLLL!!!!!"
Mereka berdua menjerit histeris karena tubuh Mikael telah diselubungi api yang membara setelah Gustaf yang merangkak mengambil botol bensin tadi, langsung menyiramnya ke arah mereka bertiga. Untungnya Mikael melihat tindakan itu dan bisa menyelamatkan Nada dan Steve, namun sayang, dirinya harus menjadi korban.
Gustaf tertawa melihat api yang menyala semakin besar itu hingga tubuh Mikael tak bergerak lagi. Sudah begini, lebih baik dihabisi saja, pikirnya. Tiba-tiba ...
Dor
Dor
Dor
"TANGKAP SIALAN ITU!!"
****
..."Ayah, panggilan untuk memiliki bahu terlapang. Tulang punggung terkuat, pelindung terkokoh, meski tak pandai bicara cinta, pun tak mahir mengurai air mata. Namun di tiap tengadahnya tak pernah lupa menyebut namamu dalam doa."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
.......
Mau curhat dikit. Sebenarnya aku gak kuat nulis bab ini, tapi aku berusaha keras selesaiin. Emosiku campur aduk dan ini bahaya krna aku bakal kesulitan nulis di bab selanjutnya 😭😭😭
__ADS_1
Btw 3 bab sebelumnya aku ganti judul ya, tpi isinya ttp sama 🤧