
"Ada apa sayang?" tanya Yuni pada Steve yang terdiam di atas motor. Keduanya sudah bersiap kembali ke rumah ketika teleponnya berdering.
"Mereka sudah bertemu Nada ..." ucap Steve lirih.
Deg
"Ba-bagaimana bisa?"
Yuni sangat terkejut mendengar hal itu. Selama ini, mereka tengah bersembunyi berkat bantuan Adipati karena sangat takut jika keluarga Ayunda mengetahui keberadaan Nada dan membuat wanita itu terluka.
"Sudah waktunya, sayang. Samuel baru saja menghubungiku dan berkata mereka telah bertemu Nada di restoran. Sebentar lagi mereka akan datang pada kita," kata Steve sembari menjalankan sepeda motornya.
.........
VC Restaurant
Pukul 9 malam
****
"Nama yang sudah terdaftar untuk mengikuti kompetisi restoran, jangan lupa untuk besok berkumpul di sini pukul 5 pagi. Lomba akan diselenggarakan di Bandung selama 4 hari. Siapkan diri kalian," tutur Darius.
"Baik, Pak!!" ucap mereka serentak.
Beberapa saat kemudian
"Kau yakin akan ikut?" tanya Adel pada Nada yang sejak siang tadi penuh semangat. Wanita itu tak merasa lelah sedikit pun meskipun kakinya terasa sakit karena terlalu lama berdiri.
"Ya, tentu saja. Selagi ada kesempatan, harus aku ambil," jawab Nada sembari bersiap pulang karena Samuel telah menunggunya sejak tadi.
"Baiklah. Sampai jumpa besok, ya."
Mereka akhirnya berpisah di depan restoran dengan Leo yang memperhatikan Adel yang sedang menyalakan motornya. Hari semakin larut, namun wanita itu tak memedulikan kesehatannya jika terkena angin malam. Lamunannya buyar ketika bunyi pintu belakang mobil ditutup oleh Nada.
"Hai, Kak," sapa Nada sedikit gugup.
Ini pertama kalinya Nada bertemu Leo setelah ia sadar dari koma. Beberapa kali Nada menanyakan soal keberadaan lelaki itu pada Samuel, namun suaminya hanya berkata jika Leo sangat sibuk.
"Hai, Nad."
Leo membalasnya hangat. Tak ada rasa dendam atau marah pada Nada karena Leo telah mengikhlaskan segalanya. Dia akan selalu mendukung Samuel dan Nada karena ia tahu jika wanita itu telah menjadi milik Samuel seutuhnya.
"Sayang, apa tanganmu sudah lebih baik?" tanya Nada pada Samuel yang tengah memeluknya dari samping. Kepala lelaki itu masuk ke ceruk leher Nada dan terkesan manja hingga membuat Leo sangat geli.
Tadinya Samuel ingin seharian di restoran untuk menguntit istrinya, namun Leo yang masih waras berusaha menarik Samuel pergi ke perusahaan karena banyak pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.
"Sudah lebih baik, sayang."
Cup
__ADS_1
Nada memegang lembut tangan Samuel yang penuh luka. Kemarin malam setelah keduanya melewati malam yang indah, Nada baru menyadari jika punggung tangan Samuel terluka dan hanya diberi obat merah saja.
Sedangkan Samuel, ia tak berkata jujur jika setelah membawa pergi Nada dari tempat terkutuk itu, trauma hebatnya kembali datang. Merasa tak mampu menahan, Samuel lebih memilih menghancurkan dinding ruang kerja hingga Adipati yang melihat anaknya seperti itu akhirnya mengetahui tentang trauma Samuel.
.........
"Apa kau tak ingin tinggal di sini saja?" tanya Samuel pada Leo yang bersiap pergi.
"Tidak. Aku pergi dulu."
Semuel menghela nafasnya ketika Leo buru-buru pergi dari sana. Sejak dulu, Leo memilih tinggal di apartemen karena tak ingin bertemu Kia di kediaman Admadewa. Samuel sendiri pun tahu jika Leo sebenarnya memiliki ketertarikan pada Kia, namun lelaki itu tak menyadari perasaannya sendiri hanya karena terlalu terpaku pada cinta pertama yang tak akan pernah bersatu.
Samuel kemudian masuk ke dalam rumah menyusul Nada yang sudah lebih dulu menuju kamar. Hari ini terasa melelahkan bagi Samuel yang harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting karena 4 hari ke depan, ia akan pergi ke Bandung sebagai tamu. Setidaknya itulah yang Nada ketahui. Suaminya diundang karena berteman baik dengan Darius padahal fakta sebenarnya adalah restoran itu milik suaminya sendiri.
Dan Samuel, tentu tujuan utamanya adalah menjaga sang istri. Di mana Nada berada, di situ juga Samuel menguntit.
"Sayang," panggil Samuel, namun tak ada jawaban.
Bunyi gemercik air dari dalam kamar mandi membuat Samuel tersenyum licik. Ia buru-buru membuka seluruh pakaiannya dan berjalan dengan tubuh polos untuk menikmati santapan makan malamnya.
Sreekkkk
"Aarrrggg!"
Nada terpekik kaget ketika tubuhnya ditarik ke belakang oleh Samuel hingga punggung polosnya langsung menempel dengan dada bidang Samuel yang terasa panas. Jangan lupa dengan adik kecil Samuel yang menusuk pinggang ramping Nada.
"Sa-sayang ...."
Keduanya pun memulai pertempuran panas dengan Samuel yang membalikkan tubuh Nada menghadap dirinya. Ia mengangkat Nada dan masuk ke sela-sela paha putih mulus itu. Kedua kaki Nada tak menapaki lantai licin di bawah sana hingga posisi adik kecil Samuel terasa sangat pas dengan pompaan liar di bawah guyuran shower.
Skip 🤣
Wajah Samuel berbinar sangat cerah, berbanding terbalik dengan Nada yang terlihat lelah. Selama satu jam lebih mereka di dalam kamar mandi karena Samuel tak melepaskannya begitu saja. Lelaki itu terus menerkamnya dengan berbagai gaya dan berakhir setelah 2 kali pelepasan.
Cup
"Terima kasih, sayang."
Samuel membaringkan Nada dengan lembut di atas kasur. Keduanya saling pandang mesra dengan handuk yang masih melingkar di tubuh masing-masing.
"Istirahatlah, hem? Besok pagi kita harus berangkat," tutur Samuel lembut. Ia sedang bersandar di kepala ranjang sembari mengeringkan rambut Nada yang tengah memeluk pinggangnya.
"Kau pasti ikut karena tak ingin jauh dariku, bukan?"
Wajah Samuel seketika memerah hingga Nada tertawa melihat ekspresi suami tampannya itu. Bagaimana nanti jika ia hamil? Pasti anak mereka adalah bibit unggul.
"Sudah. Ayo tidur."
Samuel kemudian memeluk Nada hingga wanita itu terlelap dan berjalan ke arah lemari mengambil piama istrinya. Dengan telaten ia memakaikan benda tersebut tanpa membangunkan Nada.
__ADS_1
Cup
"Selamat tidur, sayang. I love you," bisik Samuel di telinga Nada dan perlahan ikut mengarungi alam mimpi.
.........
Keesokan harinya
VC Restaurant
Pukul 5 pagi
****
"Selamat pagi semuanya!" teriak Darius yang langsung dibalas penuh semangat oleh mereka semua.
"Apakah semuanya sudah lengkap?" sambungnya lagi.
"Sudah, Pak!" jawab Adel yang menjadi asisten dadakan Darius.
"Baiklah. Di sana bersikapnya baik dan bertanggung jawab. Acara kita kali ini akan diikuti setidaknya oleh tiga puluh orang chef dari semua cabang VC Restaurant. Semangat dan mari kita berangkat ke Bandung!"
"Yeah!!!"
Mereka berjalan masuk ke dalam bus yang sudah disediakan, namun yang menjadi perhatian di sana adalah sosok tampan dengan pakaian santai itu tengah duduk manis di kursi paling belakang.
"Tuan Samuel?"
Mereka saling berbisik dan menatap Finna dan Nada bergantian. Apakah lelaki itu ikut karena tunangannya Finna? Atau karena si cupu ini? Entahlah, tak ada yang berani bertanya.
Sementara itu, Finna dengan penuh percaya diri duduk di samping Samuel yang langsung menatapnya penuh rasa jijik. Sedangkan Nada, ia langsung melotot ketika melihat gelagat Samuel yang ingin memanggil dirinya untuk duduk berdampingan. Pernikahan mereka sampai sekarang memang belum diketahui siapa pun selain keluarga saja.
Akhirnya, Samuel dengan pasrah duduk bersama Finna yang berusaha menggunakan kesempatan ini agar dekat dengan tunangannya itu.
Nada hanya mengintip sedikit dan tersenyum lucu melihat Samuel yang seperti cacing kepanasan. Nada sama sekali tak cemburu karena ia tahu hati Samuel hanya untuknya.
Bus perlahan berjalan menuju kota yang menjadi awal mula dari segala peristiwa di masa lalu. Kota yang penuh dengan kenangan yang terkubur dan terlupakan. Kota yang menjadi saksi kejadian tragis 13 tahun lalu. Kota kelahiran Nada.
"Bandung, aku datang!!!"
****
..."Rumah, tempat istimewa yang selalu dirindukan."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
.......
__ADS_1
Udah start menuju puncak cerita, loh 🤧