
Di tempat berbeda, di waktu yang sama
Hotel Singapura
Kamar 211
****
Ranjang empuk di dalam sana tengah berdecit sangat hebat karena gelora na*su yang tak pernah usai sejak seminggu yang lalu, mengundang rasa penuh damba dari sepasang kekasih yang tak tahu malu ini.
Selama berhari-hari, keduanya tengah menikmati kemenangan atas keberhasilan merobohkan pertahanan musuh yang tengah lengah.
"Sayang, si ******* itu belum sadar sampai sekarang," ucap Finna sembari mengambil tissue untuk membersihkan sisa-sisa percintaan yang baru selesai mereka lakukan. Ia mengetahui informasi itu dari seseorang yang menjadi mata-matanya.
"Hm."
"Semoga dia tak bisa bangun lagi. Dia selalu menghalangi jalanku sejak dulu," geram Finna.
Dreett
Dreett
Ponsel yang sejak tujuh hari lalu terus berdering, tak dijawab sama sekali oleh lelaki itu. Dia sangat malas berbicara dengan seseorang yang sejak dulu selalu membuatnya kesal karena tak pernah sejalan dengannya.
"Apa?!" jawabnya ketus.
"Sialan! Apa yang kau lakukan pada Nada?! Sudah aku katakan bahwa dia tak bersalah!!" teriak orang di seberang sana.
"Dia bersalah!! Dia penyebab kita menderita!!" balasnya penuh kesakitan.
"Kau gila!! Yang bersalah adalah ayah kita!! Nada dan Samuel tak bersa-"
Brak
Lelaki yang dipanggil Lukas oleh Finna itu langsung melempar benda mungil tersebut menjadi hancur berkeping-keping di lantai sana. Finna yang sedang duduk di sisi ranjang pun seketika merasa takut karena tatapan lelaki itu sungguh mengerikan.
Lukas akan bersikap kejam dan melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Seperti sekarang ini, Finna harus merelakan tubuhnya diperlakukan kasar ketika mereka mengulangi pergumulan panas itu.
Tiba-tiba...
Crashhh
__ADS_1
.........
Keesokan harinya
Rumah Sakit Metropolitan
Pukul 7 pagi
****
Pagi hari yang indah terasa mendung karena wajah muram seorang lelaki tampan yang belum berhasil membujuk pujaan hatinya. Bawah matanya terlihat semakin menghitam dengan bibir kering tengah duduk di sebelah wanita yang membuatnya pusing sejak semalam.
Nada, wanita itu sejak tadi sudah terbangun, namun tetap merapatkan matanya untuk menghindari percakapan dengan Samuel.
"Cherry, aku tak berselingkuh. Aku hanya mencintaimu sejak dulu," ucap Samuel memelas.
Itulah kalimat yang sejak semalam ia tuturkan untuk mendapatkan maaf dari Nada yang semakin suka dengan rayuan maut itu.
Dasar, malu-malu tapi mau.
Samuel buru-buru mengecup kening Nada yang terlihat baru saja menguap. Lelaki itu membelai lembut rambut Nada yang perlahan membuka pelan matanya hingga tatapan keduanya langsung berbenturan.
Lelaki itu memberikan senyum terindahnya bagi Nada yang seketika terhenyak. Nada jelas melihat bahwa Samuel berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, namun aura dari matanya memperlihatkan kesedihan karena amukan Nada semalam.
Cup
Ciuman permintaan maaf Nada berikan di pipi kanan Samuel yang terdiam mematung hingga perlahan wajah lelaki itu memerah bak kepiting rebus.
Samuel menggigit bibir bawahnya dengan pandangan tak fokus seakan memberi tahu pada dunia bahwa dia sungguh malu bukan kepalang. Jantungnya berdegub sangat cepat hingga segala kerisauan yang dia rasakan semalam langsung menguap entah ke mana.
"Selamat pagi, sayang," ucap Nada lembut sembari membelai pipi Samuel yang tengah menegang mendengar panggilan itu.
"Sa-sayang?" tanya Samuel memastikan dan memegang lebih erat tangan Nada dengan gemetar yang dapat dipastikan jika lelakinya itu sedang gugup.
"Ya, sayang. Kau pacarku sekarang."
Deg
Samuel langsung tumbang dan terbaring di bawah lantai sana karena terlalu syok dengan perkataan Nada barusan.
Pacaran
__ADS_1
Pacaran
Pacaran
Hanya kata itu yang menggema di otaknya menarik rasa penasaran Nada yamg melihat lelaki itu seperti orang bodoh.
Apa ucapanku salah? Batin Nada kebingungan.
Beberapa detik kemudian, Samuel langsung berdiri dengan kaku. Biarlah orang berpikir dia lelaki yang cupu, hanya mendengar panggilan itu sudah membuatnya berdebar-debar tak karuan. Namun ingat, Samuel adalah pria single 24 tahun yang tak pernah berpacaran bahkan dekat dengan wanita mana pun, selain keluarganya. Dan jangan lupa, yang mengucapkan kalimat itu adalah wanita yang sudah ia nantikan sejak 13 tahun yang lalu.
"Ki-kita berpacaran? k-kau melamarku?" tanya Samuel gagap sembari duduk kembali di tempat semula.
"Aku menembakmu, bukan melamarmu, sayang. Tapi menikah juga bagus. Apa kau ingin menjadi pacar dan suamiku?" tanya Nada yang langsung dibalas anggukan kepala dengan sangat cepat dari Samuel.
"TENTU!! TENTU SAJA!!" teriak Samuel lantang.
Samuel langsung naik kembali ke ranjang Nada hingga membuat wanita itu terkikik geli. Keduanya saling bercanda hingga Samuel yang tak tahan menganggurkan bibir merah itu, bertanya kesediaan Nada yang langsung dijawab dengan wajah memerah.
Keduanya saling pandang mesra dan mulai mengikis jarak yang kian membuat jantung keduanya menari indah di dalam sana. Samuel memegang pipi kiri Nada dan dengan perlahan menempelkan bibirnya ke bibir Nada yang menerimanya dengan suka rela.
Cup
Keduanya saling memangut pelan dengan penuh rasa sayang meskipun ciuman itu sungguh menggelikan. Bagaimana tidak? Keduanya tak memiliki pengalaman dalam hal ini.
Cup
Samuel mencoba menekan semakin dalam hingga dengan perlahan ia berhasil menjadi lelaki profesional. Mereka menikmati ciuman cinta di pagi hari sebelum teriak dari arah pintu sana mengagetkan keduanya.
"APA YANG KAU LAKUKAN, SAM?!!!!"
Duuaarrrr
****
..."Bis apa yang bikin mabuk? ...
...Bisikan sayang dari kamu."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
__ADS_1