Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 33 : Aku akan Menikahimu Besok!


__ADS_3

Di waktu yang sama, di tempat berbeda


Kediaman Nada


****


Seorang dokter paruh baya tengah memijit pelipisnya yang terasa sangat sakit karena perdebatan antara dua kubu di hadapannya ini tak pernah berhenti sejak satu jam yang lalu.


"Aku sudah katakan, bukan? Aku merestui hubungan mereka, tapi aku tak menyetujui permintaan kalian itu!" geram Steve.


"Kau sangat egois. Apa kau ingin Nada melupakan ayahnya sendiri, hah? Semua ini memang harus Nada hadapi, entah sekarang atau nanti!" balas Adipati yang sudah tersulut emosi.


"Kau bilang aku egois?! Kalau aku memang egois, aku sudah membiarkan Nada mati malam itu juga!" teriak Steve.


Plak


Jasmine langsung menampar Steve yang sudah kesetanan karena menolak mentah-mentah terapi untuk membantu mengembalikan ingatan Nada. Adipati dan Jasmine beranggapan bahwa Nada telah dewasa dan ia bisa melawan rasa traumanya, apalagi sekarang sudah ada Samuel di sisinya, namun berbeda dengan Steve yang tak ingin Nada mengingat apa pun.


Lelaki itu takut jika Nada akan kecewa setelah tahu bahwa Steve lah penyebab awal mula tragedi yang menimpa keluarga mereka, juga Nada yang harus merasakan dan melihat sesuatu yang sangat memilukan.


Steve tak membalas tamparan Jasmine yang sudah merah padam menatapnya, sedangkan Yuni hanya mampu menangis sejak tadi karena mengingat apa yang terjadi 13 tahun lalu. Mereka harus kehilangan dua anggota keluarga karena kesalahan suaminya.


"Su-sudahlah, biarkan waktu yang menjawab semuanya. Biarkan Nada yang menentukan jalan hidupnya seperti apa. Kita hanya bisa menunggu waktu itu akan tiba," sahut Yuni menyudahi perdebatan itu.


"Ya, kau benar. Mari kita bersiap dengan segala konsekuensi karena kebohongan yang kita lakukan padanya sudah terlalu banyak. Semoga Nada tak membenci kita karena peran yang kita mainkan masing-masing," balas Jasmine dengan isakan tertahan.


.........


Hotel Singapura


Pukul 8 malam


****


Leo menatap kesal ke arah wanita yang sejak tadi tersenyum tanpa dosa ke arahnya sambil memakan kue cokelat yang ia pesan melalui room service.

__ADS_1


"Sebaiknya kau kembali ke Jakarta, Kia," ucap Leo malas.


"No! Kata papa, aku harus bersamamu dan merawatmu dengan baik."


Kia terus menatap Leo yang sedang bersandar di sofa dengan mata tertuju ke arah TV besar di depan sana. Dia tahu bahwa kehadirannya tak pernah diharapkan oleh Leo, namun ia tak bisa berhenti memikirkan lelaki yang sudah merebut seluruh hatinya meskipun itu hanya akan menyakitinya.


"Apa kakimu masih sakit, Kak?"


Leo hanya diam tak menghiraukan kicauan burung di sebelahnya yang terlihat menarik nafas panjang, namun bukan Kia namanya jika dia akan menyerah. Dia akan membuktikan pada seseorang bahwa dia mampu mendapatkan lelaki ini.


"Apa kau lapar, Kak? Aku akan memasak untukmu," ucap Kia langsung melangkah ke arah dapur minimalis yang didesain mewah itu.


Leo terus mempertahankan wajah datarnya meskipun sebenarnya ia tak ingin bersikap kejam pada Kia. Leo sudah menganggap Kia seperti adiknya sendiri, ditambah dengan gangguan kepribadian yang dideritanya, Leo tak ingin menyakiti Kia karena wanita itu sangat baik. Kia pantas mendapatkan yang lebih baik darinya.


"Aawww!!"


Leo buru-buru berlari ke arah dapur dan mendapati Kia sedang mencuci tangan di wastafel dengan air yang telah berubah warna menjadi merah.


"Kau!! Dasar bodoh, bisakah kau berhati-hati, hah? Dari dulu kau selalu ceroboh!"


Bentakan Leo mampu membuat mata Kia mengembun. Entahlah, di hadapan orang lain, Kia akan menjelma menjadi wanita yang kuat, namun jika sudah berhadapan dengan Leo ia menjadi lemah.


Pelukan ini yang sangat Kia rindukan. Bersama lelaki itu selalu membuat Kia merasa terlindungi meskipun badai besar menghantam tubuhnya.


Lama keduanya berada di posisi itu sebelum akhirnya Leo menjauhkan dirinya dan membelai lembut kepala Kia. Baginya, Kia selalu menjadi adik kecilnya dan tak mungkin mereka akan bersama karena di hati Leo hanya ada Nada seorang, posisi wanita itu tak akan bisa digeser oleh siapa pun. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran Leo selama ini.


"Selesaikan tugasmu dengan baik sampai akhir dan jaga dirimu baik-baik. Kau mengerti?"


"Aku mengerti, Kak."


Perlahan Leo mulai memutar tubuhnya, namun tiba-tiba ...


Cup


"K-kau!"

__ADS_1


.........


Rumah Sakit Metropolitan


Pukul 7 malam


Kamar VVIP Nada


****


Cup


Bunyi sesapan dua bibir yang saling memangut itu terdengar di seluruh penjuru ruangan mewah yang terlihat temaram. Samuel sangat bersemangat mencuri madu di bibir manis Nada yang hanya bisa pasrah dan merelakan benda lunak itu dinikmati sejak satu jam yang lalu.


Nada pun tak bisa membohongi jika dirinya sangat menyukai ciuman Samuel yang semakin lama semakin profesional dalam bidangnya.


"Sa-sayang," ucap Samuel terbata karena dirinya tak bisa bertahan lagi dengan semua ini. Dia lelaki dewasa, tentu sangat menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


"Besok kita harus menikah," geram Samuel mencoba menekan sesuatu di bawah sana yang sudah membengkak.


"Arrggh!" Samuel mende*ah pelan karena tangan Nada tak sengaja menyentuh adik kecilnya.


"Ma-maaf," ucap Nada tergagap.


Sial! itu sangat besar. Batin Nada sembari menelan ludah yang tersangkut di tenggorokan.


"Pokoknya aku akan menikahimu besok. Titik!!"


"Ta-tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapi!!"


****


..."Kenangan tetap ada tapi jangan terfokus di sana. Hidup kita bukan untuk kenangan tapi buat masa depan. Tetap semangat!"...

__ADS_1


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...


__ADS_2