Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 40 : Trauma yang Kembali Datang


__ADS_3

"Sa-sayang? Hei ...."


Nada menepuk pelan pipi Samuel yang masih mengigau tentang dirinya.


"Le-lepaskan dia. Di-dia tak bersalah," ucap Samuel yang masih setia dengan mimpinya.


"Che-cherry!!!!"


Lelaki itu berteriak dan langsung terbangun sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah. Rasa takut yang dirasakannya mampu memenuhi seluruh sendi-sendi Samuel hingga tatapan tak fokusnya bertemu dengan mata bulat Nada yang memandangnya penuh pertanyaan.


Srekk


Samuel langsung memeluk erat tubuh Nada. Ia memeluk sangat kencang seolah sangat takut mimpi itu baru saja terjadi di kamar mereka.


Dengan buru-buru, Samuel terdiri dan mendorong tubuh Nada yang tersentak kaget. Samuel kemudian membuka kasar pakaian yang menutupi tubuh istrinya yang telah berbaring, bermaksud mengecek setiap inci tubuh wanita itu yang sedikit ketakutan dengan sikap Samuel yang sangat aneh.


"Sa-sayang, k-kau kenapa?" tanya Nada sembari berusaha menghentikan sikap Samuel.


"Di-dimana mereka menyentuhmu? A-aku akan menghapusnya," ucap Samuel dengan tubuh bergetar, bukan karena nafsu, namun itu benar-benar rasa takut yang sungguh luar biasa.


Samuel, lelaki itu menyimpan sebuah trauma karena melihat kejadian menjijikkan tepat di hadapannya semasa kecil. Trauma itu kembali datang setelah ia melihat Nada disentuh oleh Lukas.


"Apa maksudmu, sayang? Hei ..."


Sreekk


Kini tubuh Nada sudah polos seluruhnya membuat Samuel memeriksa setiap lekuk tubuh menggoda itu. Sedangkan Nada yang diperlakukan seperti itu semakin ketakutan karena wajah Samuel terlihat seperti orang linglung. Ini pertama kalinya ia melihat wujud Samuel yang bisa dikatakan seperti orang yang tak waras.


"Sa-sayang ...."


Nada yang sudah tergolek lemah di atas kasur sana mencoba merapatkan kedua pahanya karena Samuel ingin memeriksa inti tubuhnya.


Perlawanan serta isakan yang semakin kencang, menyadarkan Samuel dari perlakukan kejinya. Lelaki itu menatap penuh rasa bersalah pada Nada yang langsung menggulung tubuh polosnya masuk ke dalam selimut.


"Sa-sayang, a-aku ... ma-maafkan a-aku," ucap Samuel berbata. Ia langsung memeluk dan mengecup pelan pucuk kepala Nada yang menyembul keluar.


Samuel mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Dengan perlahan, ia berdiri dan berjalan menuju ruang kerja di lantai dua dengan pakaian yang sudah tak lengkap. Untung saja para pelayan tak ada lagi yang bekerja di tengah malam seperti ini hingga tampilan seksi lelaki itu masih menjadi milik Nada seorang.


Brak


Brak


Samuel menghancurkan setiap benda yang ada di dalam sana. Ia meraung kencang dan memegang kepalanya frustasi. Bukan inginnya membuat Nada takut, namun trauma ini kembali menyerangnya tiba-tiba. Padahal Samuel pikir, jika ketakutan itu tak akan datang lagi setelah bertahun-tahun ia pergi berobat ke psikiater.


"Ma-maafkan aku ..." ucapnya lirih.

__ADS_1


Bayangan masa lalu seketika menghantam telak otaknya hingga setiap kepingan mengerikan itu akhirnya tersusun sempurna, membuat tubuh Samuel menggigil dengan hebatnya.


Dengan tangan gemetar, ia mencoba menelepon dokter yang juga merawat Nada ketika kecil.


"Dok, be-berikan obat ya-yang seperti dulu," pinta Samuel.


Deg


"Tu-tuan, anda-"


"Berikan sekarang!!"


Brak


Samuel langsung melempar benda mungil itu hingga hancur berkeping-keping. Tubuh tegapnya tak ada lagi. Hanya menyisakan seorang pria yang terlihat sangat menyedihkan tengah meringkuk di bawah meja sana.


.........


Pagi hari di kediaman Admadewa


****


Cahaya yang perlahan masuk melalui celah-celah tirai yang tak tertutup sempurna, menghantarkan sang putri kembali ke dunia nyata untuk memulai hari yang akan semakin terasa berat ke depannya.


Mata bengkak itu masih terpejam dengan tangan yang terulur meraba permukaan ranjang dingin di sebelahnya berniat mencari kehangatan yang semalam tak disadarinya telah menghilang.


Merasa tak menemukan objek yang dicarinya, Nada membuka mata beratnya itu dan mengedarkan pandangannya mencari sang suami, namun nihil. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya yang mencoba berdiri dengan selimut yang ia lingkarkan di dadanya.


"Kenapa dia? Apa sudah pergi bekerja?" tanya Nada kebingungan.


Nada membulatkan matanya melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan dengan tergesa-gesa masuk ke kamar mandi bersiap pergi ke kantor.


.........


Admadewa Grup


Pukul 9 pagi


****


Ting


Nada secepat kilat keluar dari lift yang berada di sebelah kanan. Tujuannya hanya satu, yaitu lantai 35. Nada tak memedulikan lagi tentang pekerjaan dan keterlambatan dirinya karena Samuel adalah yang terpenting sekarang ini. Ia butuh penjelasan tentang kejadian semalam.


Brak

__ADS_1


Nada mendorong kasar pintu ruang kerja Samuel, namun lelaki itu tak berada di sana.


"Hei cupu! Jangan kurang ajar kau!" geram seorang sekretaris wanita pada Nada yang dengan lancang memasuki ruangan tersebut.


"Dimana dia?!!" teriak Nada frustasi dengan luapan kekhawatiran yang nyata.


"Kau! Dasar tak sadar diri! Untuk apa kau mencari presdir! Pergi dari sini!"


Plak


Nasa langsung menampar wanita itu hingga tersungkur ke lantai, membuat seorang lelaki yang berdiri di pintu masuk sana hanya memandang mereka datar lalu berjalan masuk menuju meja kerjanya.


"Sam!"


Nada langsung berlari mengejar langkah Samuel yang terlihat tak memedulikan dirinya. Namun percayalah, kepalan tangan yang bergetar di saku celana Samuel, sejak tadi seakan ingin mengoyakkan tempat persembunyiannya itu.


"Sam, kau kenapa? Apa ada masalah?" tanya Nada lembut meskipun hatinya terasa sakit dengan tatapan datar suaminya.


Ruangan itu terasa sangat mencekam karena aura yang dikeluarkan Samuel sungguh berbeda hingga sang sekretaris pun buru-buru pergi tak ingin ikut campur.


"Ada apa?" tanya Samuel sembari duduk dengan elegan mempertahankan raut wajah yang sangat dibenci Nada.


"K-kau kenapa? A-apa kau marah karena masalah kemarin? A-aku bisa jelaskan. Aku mohon dengarkan penjelasanku," ucap Nada memelas.


"Aku tak ada waktu."


Samuel langsung mengambil berkas yang tadinya akan ia bawa dalam rapat, namun niatnya untuk pergi, ditahan oleh Nada yang masih ingin meluruskan kesalahpahaman ini.


"Sam. Dengarkan aku!" geram Nada karena lelaki itu tak menghiraukannya sama sekali.


Entah apa yang terjadi pada Samuel yang sekarang telah berubah dingin. Tak ada lagi kehangatan yang Nada rasakan. Samuel menganggap Nada hanya angin lalu meskipun nyatanya Samuel merasa bersalah melakukan itu.


Samuel memilih tak mendekati Nada karena kesehatannya sedang tak baik. Ia takut akan membuat Nada terluka dan menangis. Juga rasa takutnya apabila trauma yang sejak dulu ia sembunyikan dari semua orang bisa terbongkar dan membuat Nada meninggalkannya.


Banyak hal yang menjadi pertimbangan lelaki itu. Samuel mengira dengan melakukan hal tersebut maka Nada dan dirinya akan tetap baik-baik saja, namun Samuel lupa jika Nada adalah seorang wanita. Wanita akan jauh lebih terluka jika pasangannya tak lagi memedulikannya.


"Pergi dari sini. Aku sibuk!"


Jleb


****


..."Ada luka yang tidak pernah terlihat di tubuh yang lebih dalam dan lebih menyakitkan dari apa pun yang berdarah."...


...- Laurel K. Hamilton -...

__ADS_1


__ADS_2