Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 27 : I Love You, Vio


__ADS_3

Rumah Sakit Metropolitan


Pukul 10 malam


Kamar VVIP


****


Samuel tak pernah beranjak lagi dari sisi Nada sejak ia kembali dari rumah untuk membersihkan diri. Dia tak ingin kejadian siang tadi kembali terjadi, dimana Nada mengalami kejang-kejang hingga membuat jantung Samuel serasa ingin lompat dari tempatnya.


"Apa kau masih betah dalam mimpimu, hem? Aku sangat merindukanmu."


Cup


Samuel mencium lembut tangan Nada dan meletakkan di pipinya seakan mencari kekuatan dari sentuhan itu.


Malam semakin larut hingga membuat Samuel yang memang jarang tidur pun akhirnya terlelap dengan sangat nyaman di samping Nada. Ia tak merasa sakit meskipun harus tidur dengan posisi duduk selama seminggu.


Beberapa saat kemudian, Samuel telah mengarungi mimpinya. Sungguh sangat disayangkan ia melewatkan momen, ketika sepasang mata sayu dengan bulu mata lentik itu perlahan terbuka setelah satu minggu lamanya menyelami mimpi yang tak kunjung usai.


Mata itu mengerjap beberapa kali, seiring dengan langit-langit kamar mulai terlihat semakin jelas dengan aroma yang sangat menusuk indera penciumannya, seakan menyuruhnya untuk segera bangun.


Wanita itu berusaha menggerakkan tangannya, namun rasanya terlalu sulit. Ia harus menggunakan seluruh tenaganya hanya demi jari telunjuk yang ingin digerakkannya tidak lebih dari satu cm.


Bola mata hitamnya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, mengerjap beberapa kali hingga kelopak mata cantik itu berhasil terbuka sempurna. Beberapa saat berlalu, berkat kegigihannya mengumpulkan seluruh tenaga, akhirnya ia bisa mengucapkan satu kata dengan suara lirih.


"Vio ..."


Wanita itu hanya memandangi langit kamar hingga ia menyadari bahwa ada sebuah kepala yang sedang bersandar di sisi ranjangnya.

__ADS_1


"Vio ..."


Dia tersenyum cantik di balik senang oksigennya karena orang yang sedang ia cari ternyata tak meninggalkannya. Air matanya pun perlahan menyeruak membuat ia berusaha agar tak mengeluarkan suara.


Dalam ingatannya, sosok lelaki ini adalah kakak tampannya. Banyak hal yang dimimpikannya ketika masih terjerat dalam dunianya sendiri. Samuel, mereka berdua telah lama saling mengenal bahkan sejak 13 tahun lalu, bukan di depan gerbang sekolah seperti yang Nada kira selama ini.


Lelaki inilah yang selalu menemaninya di restoran ketika ayahnya bekerja di dapur. Lelaki ini yang rela menjemputnya di halte yang cukup jauh ketika sang ayah sangat sibuk bekerja. Lelaki ini yang selalu menghiburnya ketika ia menangis karena teman sekolahnya yang sering mem-bully-nya.


Dada Nada semakin sesak, bukan karena bekas operasi, namun ia mengingat masa kecilnya bersama Samuel yang datang menerjang otaknya. Ingatan-ingatan itu masuk sedikit demi sedikit hingga tercipta memori yang utuh.


Banyak pertanyaan dalam benak Nada. Kenapa dia bisa melupakan Samuel? Apa yang terjadi padanya? Nada tak mampu mengingat lebih dari mimpinya. Namun, bagaimana jika Nada berhasil mengingat masa lalunya yang kelam, apakah dia sanggup menerimanya? Apa dia akan meninggalkan Samuel?


Mungkin sekarang Nada masih bisa bersikap sedikit santai sebelum akhirnya semua fakta masa lalunya terungkap. Jadi, mari kita tunggu saja tanggal mainnya.


"Terima kasih ...."


Nada berucap sembari membelai lembut kepala Samuel yang terlihat sangat nyaman dengan sentuhan darinya.


Samuel yang mulai merasakan bahwa sentuhan itu nyata seketika terbangun dan menegang diposisi yang sama. Netra tajamnya membulat sempurna dengan mulut yang menganga lebar.


Plak


"Hei! Apa yang kau lakukan?" cegah Nada pada Samuel yang ingin menampar pipinya sendiri karena sangat terkejut dan takut kalau-kalau ini hanya mimpi.


Deg


Samuel semakin menegang mendengar suara merdu itu hingga Nada yang melihat raut wajah lucu Samuel tak bisa lagi menahan tawanya. Nada sejak tadi telah menyingkirkan sahabat barunya, yaitu selang oksigen.


"Nada!!" teriak Samuel kencang setelah berhasil menguasai diri.

__ADS_1


Lelaki itu langsung memeluk Nada yang masih berbaring, namun tetap meninggalkan jarak antara tubuhnya dan dada Nada. Samuel terisak seperti anak kecil yang akan ditinggalkan ibunya pergi ke pasar. Sungguh lucu.


"Berhentilah menangis."


Nada menepuk pelan lengan Samuel yang tersadar bahwa ia harus memanggil dokter, namun langsung dicegat Nada yang masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Samuel.


Cup


Samuel mencium lembut dahi Nada yang langsung menutup mata meresapi ciuman itu hingga hatinya bergetar hebat. Nada sangat bersyukur masih diberikan kesempatan sekali lagi untuk hidup dan melihat lelaki yang sangat ia cintai sejak dulu.


"I love you, Vio."


Deg


****


..."Kamu adalah rumah untukku dan selalu menjadi tempatku pulang."...


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...


.......


Akhirnya Caca bisa nulis part menghappy kayak gini. 😍


Udah lelah hati Caca nulis yang mengsad mulu karena kalo udah nulis yang sad, Caca bakal ikutan nangis sambil ngetik dgn tangan gemetar 🤧🤧🤧


Beberapa bab ke depan, Caca bakal kasih yang manis2 dulu sblm kita masuk ke konflik yg sedikit runyam 🤣🤣

__ADS_1


Jadi, stay tune ya kakak2 sayang 🥰🥰🥰


__ADS_2