Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 67 : Pengorbanan Andre


__ADS_3

"Sayang, kata Samuel mereka pergi ke rumah Nada," ucap Yuni panik hingga Steve yang tadinya ingin beristirahat sebentar setelah membereskan barang-barang mereka, seketika terkejut dan berlari keluar ruangan diikuti oleh semua orang yang ada di dalam kamar sana.


"Sial!" umpat Steve yang langsung masuk ke dalam taksi.


Beberapa saat kemudian


Steve buru-buru keluar dari taksi dan berlari ke dalam rumah yang telah begitu lama tak ia singgahi. Sejak dulu Steve selalu menyalahkan dirinya sendiri atas meninggalnya sang adik. Mikael adalah orang yang selalu menemaninya bahkan ketika ayah mereka meninggalkan mereka berdua dipinggir jalan pada saat Steve berumur 8 tahun dan Mikael berumur 6 tahun.


Ingatan Steve kembali pada berpuluh tahun lalu ketika dia dan Mikael kehujanan sembari menahan lapar di bawah pohon pisang. Masa kecil keduanya penuh kesulitan dan begitu menderita karena ayah mereka sering mabuk-mabukan dan melakukan KDRT pada mereka dan ibu mereka entah pergi kemana.


Steve mengusap air matanya ketika ia telah sampai di depan sebuah foto hitam putih milik Mikael yang telah dibingkai begitu indah dan besar oleh Samuel. Kenangan tentang Mikael begitu membekas dalam hati dan pikirannya. Lelaki itu begitu luar biasa. Mikael selalu berkorban untuknya sejak masih kecil. Rela terluka demi dirinya ketika Steve kecil yang begitu keras kepala melakukan keonaran hingga sang ayah berniat memukulnya, namun Mikael kecil adalah orang pertama yang berdiri melindunginya.


"Ke-kenapa? Ka-kau terlalu baik. Se-seharusnya a-aku yang mati. Ma-maafkan aku, Mik," ucap Steve menangis.


Steve kemudian berjalan menuju kamar Mikael yang terbuka lebar hingga dia dapat mendengar apa pun dari dalam sana.


"Ta-tapi ... a-aku ingin ikut ayah."


Bug


Steve langsung memukul pintu kamar karena begitu geram mendengar ucapan tak masuk akal dari Nada.


"Apa maksudmu?!!" geram Steve.


Deg


"Papa ..."


Nada begitu terkejut melihat Steve telah berdiri di hadapannya dengan tampilan yang begitu berantakan. Wajah tua itu terlihat begitu lelah. Matanya merah dengan bekas air mata yang tak di sapu bersih.


Wanita itu kemudian berjalan tertatih menuju Steve yang terdiam dengan tangan yang dikepal erat. Meskipun Nada bukan anak kandungnya, namun Steve begitu menyayangi Nada seperti putrinya sendiri. Dia pun tak pernah membedakan antara Andre maupun Nada.


"Kau datang, Pa." Kini Nada telah berdiri berhadapan dengan Steve yang terlihat memandangnya dengan sejuta rasa.


"Ya, papa datang, Nak."


"Jadi, apa yang ingin papa jelaskan sekarang?" tanya Nada tanpa basa basi. Ia memang merindukan Steve, namun ia harus mendengar penjelasan dari lelaki itu. Terlebih tentang Andre yang hilang bagai ditelan bumi.


"Kita duduk dulu," pinta Steve yang langsung mengiring Nada berjalan menuju ruang tamu diikuti Samuel yang setia mengekori sang istri.

__ADS_1


"Jadi?"


Setve terlihat menarik nafas perlahan sebelum akhirnya ia membuka suaranya. Mungkin memang sekarang waktu yang paling tepat, pikirnya.


"Nak ... ma-maafkan papa ..." ucap Steve sembari menunduk, sedangkan Nada hanya terdiam mendengarkan.


"Semua adalah kesalahan papa. Seandainya papa tak memiliki hutang, ayahmu akan tetap di sini bersama kita."


"Hm ... aku tahu. Lalu dimana kak Andre?"


Deg


Steve menelan ludahnya kasar. Ingatannya kembali pada malam ketika Andre mengambil keputusan tersulit bagi semua orang.


"Pa ..." panggil Andre lemah. Bocah itu baru beberapa saat yang lalu terbangun dari koma selama 3 hari. Kondisinya sangat memprihatinkan karena pukulan yang diberikan oleh Gustaf sangat keterlaluan pada bocah seusia Andre.


"Hm, kenapa, Nak?" sahut Steve.


"Na-nada ... Na-da dimana, Pa?"


"Dia ada di ruangan sebelah. Kondisinya baik-baik saja. Kau pikirkan dirimu dulu, hem?"


"Pa ... bagaimana dengan penyakit jantung Nada?"


Deg


Steve bimbang. Apakah ia harus memberitahukan kondisi Nada yang sebenarnya atau tidak? Karena sejujurnya, Nada saat ini membutuhkan transplantasi jantung sesegera mungkin. Semua orang termasuk keluarga Admadewa telah berusaha mencari jantung yang sesuai, namun sudah berhari-hari mereka belum mendapatkan juga.


Melihat Steve yang terdiam, Andre langsung mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bocah cilik itu tersenyum dengan genangan air mata yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Andre bukan anak yang bodoh. Dia tentu mengetahui kondisi dirinya sendiri yang tak bisa bertahan lebih lama, namun rasa sakit di tubuhnya tak seberapa jika ia harus kehilangan Nada.


"Pa ... to-tolong berikan ja-jantungku untuk Na-nada," pinta Andre membuat Steve membulatkan mata.


"Kau gila!" geram Steve begitu terkejut.


"Pa, aku tahu kondisiku tak bisa ditolong lagi. Me-meskipun aku sedih ha-harus berpisah dengan Na-nada, tapi jika jantungku ada dalam dirinya maka aku a-akan bisa menjaganya ke-kemana pun ia pergi."


"Ti-tidak, ja-jangan," kata Yuni yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengeluarkan suaranya. Ini adalah keputusan berat. Bagaimana bisa mereka mengorbankan putra mereka sendiri?


"Kumohon, Ma ...."

__ADS_1


"La-lalu bagaimana dengan kami, Nak? Kau te-tega meninggalkan kami?" ucap Steve sembari menangis. Kedua orang tua itu sedang duduk di kedua sisi ranjang Andre yang dipenuhi alat medis.


"Ma-maafkan a-aku. Tapi, Nada lebih membutuhkan aku ..."


Yuni memegang erat telapak tangan Steve. Wanita itu menggeleng tanda menolak, sedangkan Steve berusaha bernegosiasi dengan Andre yang tetap bersikeras untuk mendonorkan jantungnya bagi Nada.


Beberapa saat berlalu


Plak


Yuni menampar keras wajah Steve yang akhirnya menyetujui permintaan Andre. Mereka bertengkar hebat di koridor rumah sakit dan semua itu didengar dengan jelas oleh Andre yang telah berbaring di samping Nada yang masih belum bangun.


"Nada ... kakak sangat mencintaimu. Jadilah anak yang baik, hem? Maafkan kakak tak bisa melindungimu lagi. Maafkan kakak tak bisa tumbuh bersama denganmu, tapi meskipun kita harus berpisah, kakak selalu ada di sini," ucap Andre menunjuk dada Nada.


Andre, bocah itu menangis seraya memeluk tubuh lemah Nada. Sekuat tenaga dia kerahkan untuk mendekap hangat tubuh adik kesayangannya itu. Pelukan yang akan menjadi pelukan terakhirnya bagi Nada. Pelukan hangat yang mampu menggetarkan sampai di bawah alam sadar Nada.


Kakak. Batin Nada kecil menangis.


Steve kembali dari lamunannya ketika Nada menepuk pundak bergetarnya. Lelaki itu menatap Nada yang masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"A-andre ... di jantungmu," ucap Steve gagap.


"Apa maksudmu, Pa?" tanya Nada kebingungan.


"Kakakmu, di-dia me-mendonorkan jantungnya untuk dirimu ...."


Deg


"A-APAAA?????!!!!!!!"


BRAK


****


..."Kunci utama dalam menghadapi suatu cobaan adalah sabar, ikhlas, ikhtiar, dan tawakal, karena Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan mereka."...


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2