
Perjalanan menuju Bandung terasa begitu indah bagi seorang wanita yang tertidur lelap di kursi bagian belakang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu pria di sebelahnya itu dengan tangan memeluk erat seolah takut ditinggalkan sendiri.
Begitu pun halnya dengan wanita yang tertidur di kursi tengah. Ia terlalu nyaman merasakan dekapan lelaki yang juga tertidur karena suasana hening dengan alunan musik merdu membuat para penumpang memilih tidur sejenak.
Nada menggeliat ketika ia merasakan dirinya dipeluk begitu erat oleh lengan kekar yang sangat dikenalnya. Pelukan hangat yang selalu mampu membuatnya terbuai tanpa mengenal tempat.
Deg
Nada yang terbangun langsung disuguhkan dengan wajah Samuel yang terlihat begitu menggemaskan. Nada terdiam sejenak menikmati objek indah di hadapannya ini. Dia mengelus pipi Samuel dengan perlahan hingga lelaki itu ikut terbangun dibuatnya.
"Selamat pagi, sayang," bisik Samuel lalu mencuri ciuman singkat di bibir merah delima Nada.
"Pagi juga. Kenapa kau pindah ke sini?" balas Nada berbisik dengan mengangkat setengah badannya karena sandaran kursi yang diturunkan Samuel membuat ia sedikit kesulitan memantau situasi kalau-kalau ada yang melihat mereka.
Srreekk
Nada kembali masuk ke dalam pelukan sang suami yang menenangkannya jika tak ada yang melihat mereka. Semua orang menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat karena kegiatan di Bandung akan menguras banyak tenaga.
Mereka pun menghabiskan waktu dengan saling menggoda lewat bisikan sembari menikmati pemandangan langit yang semakin cerah di luar sana. Pengantin baru itu terus bermesraan hingga tak menyadari jika bus tersebut sebentar lagi akan sampai ke tujuan.
"Aaarrgggg!!"
Teriakan dari kursi belakang menjadi alarm bagi semua orang membuat Nada secara refleks mendorong Samuel yang tadinya tengah menggigit pipinya gemas. Lelaki itu terjatuh dari kursi dengan tatapan tajam langsung menghunus Nada yang tersenyum kikuk.
"Sialan!! Kenapa kau di sini?!" teriak Finna pada Faris yang hanya pasrah. Tanyakan pada Samuel yang memaksanya duduk di sana. Begitu pun dengan Adel yang tadinya duduk berdampingan dengan Nada, dipaksa pindah oleh lelaki arogan itu.
Darius langsung menenangkan situasi hingga akhirnya semua orang bersiap turun dengan koper di tangan masing-masing, kecuali Nada. Semua barangnya telah direbut oleh Samuel yang berjalan santai menuju hall hotel untuk melakukan sambutan.
Nada mendesah frustasi. Apakah dia sanggup melewati 4 hari ini dengan Samuel yang terus menempel pada dirinya? Bukannya Nada tak menyukai hal tersebut. Hanya saja ia takut tak bisa fokus dan malah mengurusi bayi besarnya itu.
.........
"Selamat pagi!" sapa Adel yang menjadi MC pada pagi hari ini.
"Selamat Pagi!!" ucap semua orang secara serempak.
__ADS_1
"Baiklah. Selamat datang bagi semua para peserta yang akan mengikuti kompetisi pada 4 hari ke depan. Acara kita akan dilaksanakan secara live yang akan dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia, tak terkecuali mancanegara. Saya akan menjelaskan secara terperinci rundown acara kita. Tapi sebelum itu, mari dengarkan kata sambutan dari Tuan Samuel yang bersedia meluangkan waktunya mendampingi kita selama acara ini berlangsung."
Samuel dengan gagahnya berjalan menaiki podium mengundang tatapan penuh damba semua wanita di sana. Terlebih Finna yang merasa bangga jika lelaki itu datang karena dirinya.
"Selamat pagi. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk mengikuti program ini. Acara ini diselenggarakan untuk melihat kemampuan kalian masing-masing. Selain itu, bagi yang beruntung maka akan menjadi utusan VC Restaurant pada lomba kuliner berskala internasional yang akan diadakan beberapa minggu lagi di Singapura. Semangat dan tunjukkan performa terbaik kalian."
Tepuk tangan langsung terdengar riuh dengan Nada yang dibuat terpesona dengan sosok di depan sana. Dia memang tak pernah melihat Samuel tampil di depan publik karena sejak dulu lelaki itu sangat misterius dan tak menyukai keramaian.
Ya ampun, suamiku sangat tampan. Batin Nada tersipu malu.
Adel kemudian mengambil alih kembali dan menjelaskan tentang susunan acara. Diakhiri dengan mempersilahkan para peserta untuk beristirahat sejenak karena tantangan hari pertama akan dimulai pukul 4 sore.
.........
"Ah, empuknya."
Nada mend*sah lembut di atas kasur empuk itu. Tadinya dia bingung, kenapa kamarnya berada di kelas VVIP? Sangat berbeda dengan para peserta lain yang mendapat kamar biasa meskipun tetap terhitung mewah bagi mereka yang tak pernah menginap di hotel kelas atas.
"Pasti ini ulah lelaki itu."
Wanita itu mulai terbuai dalam mimpi ketika ia merasa bibirnya dikecup lembut. Nada berusaha menjauhkan wajahnya, namun orang tersebut berganti mencumbu lehernya.
"Sayang, berhentilah. Aku lelah," ucap Nada tanpa membuka mata.
Samuel mendesah frustasi karena adik kecilnya selalu on setiap kali dekat dengan istrinya. Entahlah, dia terlalu menggilai seorang Nada.
Cup
"Tidurlah."
.........
Hotel Maesa
Pukul 3.45 sore
__ADS_1
****
Wajah tegang terlihat jelas di wajah para peserta lomba kali ini. Mereka telah bersiap dengan segala atribut seorang chef. Jika mereka berhasil menjadi juara, maka karier mereka akan semakin menderang.
Termasuk Nada yang sejak tadi pun dibuat gemetar di pojok dapur sana. Ini adalah kali pertamanya ia mengikuti lomba seperti ini. Entah kenapa rasa percaya dirinya turun karena semua peserta adalah mereka yang sudah berpengalaman. Sedangkan dia?
"Tenanglah."
Adel mencoba menenangkan Nada yang mulai sedikit tenang setelah matanya bertemu tatap dengan mata Samuel yang memandangnya dari seberang sana. Keduanya saling pandang hingga beberapa saat kemudian Nada berhasil mendapatkan kembali kepercayaan dirinya dengan Samuel yang memberikan senyum terbaik untuk sang istri.
Tak jauh dari sana, terlihat Finna sedang berbicara dengan seorang panitia sebelum akhirnya orang itu mengangguk dan berjalan pergi meninggal Finna yang kegirangan.
"Aku tak akan membiarkanmu menang," kata Finna memandang penuh kebencian pada Nada yang terlihat meminum air putih.
"Baiklah. Semuanya bersiap di tempat sesuai dengan nama yang ditempelkan di meja kalian."
Semua peserta buru-buru mencari tempatnya dan mulai bergerak ketika membaca tantangan pertama yang tertulis di layar besar di depan sana.
...OLAHAN DAGING AYAM...
Bunyi alat masak seketika saling beradu nyaring di dapur luas itu. Mereka berusaha melakukan yang terbaik agar bisa berhasil ke tahap selanjutnya. Waktu yang diberikan pun hanya 40 menit hingga para peserta bergerak begitu gesit, namun beda halnya dengan Nada.
Wanita itu dilanda kepanikan luar biasa ketika kompor miliknya tak bisa menyala sedangkan waktu semakin berkurang. Nada melirik pada saingan yang sejajar dengan mejanya yang berada di barisan kedua. Mereka masih sibuk dan jika meminjam kompor orang lain, tentu itu sungguh tak etis. Nada pun telah mencoba memperbaiki kompornya, namun tetap tak bisa menyala.
Sedangkan Samuel, lelaki itu ikut menegang karena merasa ada yang salah dengan Nada. Ia yang awalnya ingin membantu, langsung berhenti di tempat ketika Nada mengisyaratkan dapat menanganinya sendiri.
Sial! Sial! Sial! Apa yang harus aku lakukan? Batin Nada berpikir keras.
****
..."Keluar dari kekacauan, cari kesederhanaan. Dari perselisihan, cari harmonis. Di tengah kesulitan terletak kesempatan."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
__ADS_1