
Taburan bunga di atas tiga makam bersih dan rapi itu sudah menjadi rutinitas setiap minggu oleh sepasang suami istri yang tengah memanjatkan doa dengan khusyuk.
"Mik, kau tahu? Nada telah menikah dengan Samuel. Meskipun kami mencoba memisahkan keduanya, tapi takdir membuat mereka akhirnya bersatu," kata Steve sembari menyentuh nama sang adik yang dicetak di atas keramik hitam itu.
"Maafkan aku tak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Aku tak akan pernah berhenti meminta maaf padamu karena perbuatanku, kau harus berpisah dengan Nada," sambungnya dengan pundak bergetar, sedangkan Yuni sudah menangis sedari tadi.
Mereka berpindah ke makam yang ada di sampingnya. Sosok cantik jelita yang harus dipaksa pergi dari dunia akibat keegoisan keluarganya sendiri. Semua berawal dari penolakkan pernikahannya dengan Mikael yang hanya seorang petani. Lelaki itu datang dengan penuh keberanian melamar Ayunda, wanita cantik yang terlahir di dalam keluarga kaya raya.
Ayunda harus merelakan harta warisan keluarga agar bisa tetap bersama Mikael, lelaki yang sangat baik dan penuh tanggung jawab. Meskipun mereka akhirnya menikah dan hidup dengan pas-pasan, namun keduanya merasakan kebahagiaan luar biasa walau hanya sekejap karena penyakit jantung yang Ayunda derita.
Mikael yang kala itu masih bekerja sebagai petani tak memiliki uang lebih untuk mengobati sang istri. Keluarga Ayunda pun tak ingin membantu hingga perjuangan wanita itu harus berakhir setelah ia berusaha keras melahirkan putrinya ke dunia.
"Ayu, kami menjaga putrimu dengan baik. Dia secantik dirimu dan sifat keras kepalanya menurun darimu juga. Kami bahkan kesusahan mengontrol dirinya. Sampai kapan pun kau adalah sahabat terbaikku. Terima kasih dan tolong jaga Andre untuk kami," ucap Yuni.
Steve langsung menarik Yuni yang menangis kencang. Wilayah pemakaman itu sangat sepi karena berada di tempat khusus yang disediakan oleh Adipati. Makam yang awalnya terpisah, kini telah saling berdampingan penuh rasa sesak akan kisah tragis. Ditambah dengan satu makam kecil yang berada di sana semakin membuat keduanya tak sanggup untuk mengemban beban berat ini.
"Hai, Nak," sapa Steve yang telah duduk di makam kecil tersebut.
"Apa kabarmu, hem? Papa sangat merindukanmu. Lihatlah adikmu Nada. Dia telah menikah dengan musuhmu."
Steve tersenyum mengingat masa lalu anaknya yang sangat tak suka pada Samuel karena selalu mengambil perhatian Nada dari Andre. Dua bocah lelaki itu selalu bertengkar dan membuat Nada kecil pusing tujuh keliling.
"Kau anak yang sangat baik, Nak. Maafkan papa dan mama tak bisa menjagamu dengan baik," sambung Yuni dengan dada sangat sesak.
Anak semata wayangnya itu sangat menyayangi Nada hingga rela menukar hidupnya agar sepupunya tetap bertahan hidup. Andre, bocah lelaki yang sangat posesif terhadap Nada. Apa jadinya jika Nada mengetahui tentang Andre? Bisakah ia menerima semua ini?
"Kau malaikat kami, sayang."
.........
__ADS_1
Nada terpaku di depan cermin toilet setelah tadi buru-buru pergi meninggalkan meja nomor 4 karena kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit.
"Ayunda? Bukankah itu nama yang ada di belakang foto kusam itu?" gumamnya tak menyadari sepasang mata telah memantaunya dari depan pintu sana.
Nada ingat dengan jelas tentang foto sepasang pengantin yang ia temukan beberapa tahun lalu terselip di antara buku tua yang ada di gudang. Foto itu telah buram hingga wajah keduanya terlihat tidak jelas. Awalnya Nada mengira jika itu adalah Steve dan Yuni, namun ia dibuat bungkam setelah membalikkan foto tersebut.
Di situ ada sebuah puisi cinta yang sepertinya ditulis sendiri oleh pengantin pria untuk istrinya.
...❤❤❤...
...Istriku Ayunda...
...Kau adalah cahaya terang hingga mampu membuatku menemukan arah pulang...
...Kau membuat hidupku utuh dengan cinta tulusmu...
...Kau laksana angin surga membuatku sungguh bahagia...
...Kau adalah satu-satunya dan milikku selamanya...
...❤❤❤...
Nada selalu menitikkan air mata setiap kali membaca kata demi kata yang sedikit memudar itu. Seperti sekarang ini, air matanya telah luruh. Hatinya terasa sakit dengan gejolak rindu yang entah untuk siapa.
Nada mencoba menghilangkan rasa kompleks tersebut yang telah menyeruak ke dalam hatinya. Ia memukul dadanya pelan, namun rasa sesak semakin membuat kakinya goyah hingga memaksa lelaki yang memperhatikannya sedari tadi langsung berlari masuk untuk menenangkan dirinya.
Nada menangis melampiaskan semuanya pada dada bidang yang selalu ada untuknya itu. Tanpa Nada lihat, ia tahu bahwa yang memeluknya erat adalah suaminya.
"Sssttttt ...."
__ADS_1
Samuel menepuk pelan punggung rapuh Nada berusaha memberitahukan bahwa dirinya tak akan pernah meninggalkan Nada dalam keadaan apa pun.
"Menangislah. Ada aku yang akan selalu menghapus air matamu."
Tangisan menyayat hati itu semakin terdengar hingga Leo yang berjaga di depan pintu sana ikut menangis. Ia tahu jalan hidup Nada tidak mudah. Sudah terlalu banyak keringat, air mata, dan darah yang wanita itu korbankan demi sebuah kata bahagia.
"Kenapa ini sangat sakit, sayang?" tanya Nada sembari menunjuk dadanya.
"Setiap orang pasti pernah merasakan sakit. Hanya tergantung dari diri sendiri, apakah bisa bertahan dengan rasa sakit itu atau tidak. Aku tahu kau kuat. Bertahanlah, hem?" ucap Samuel lembut.
Ia melepas kacamata Nada dan menghapus air mata itu penuh kasih sayang. Keduanya saling pandang lekat dengan Samuel yang perlahan mencium bibir bergetar itu mengantarkan rasa hangat ke dalam hati Nada yang tadinya tak tentu arah.
Ciuman itu tanpa pergerakan sama sekali hingga sukses memantik sebuah rasa yang lebih besar dari rasa cinta itu sendiri, yaitu pengorbanan.
Pengorbanan adalah ketika kita menyadari bahwa pentingnya cinta dalam kedewasaan. Mengerti jika pusat dari segalanya adalah kebahagiaan orang yang kita cintai. Mengerti bahwa pasangan membutuhkan diri kita melebihi apa pun.
"I love you."
Samuel dan Nada mengucapkan kalimat sakral itu bersama-sama. Keduanya tersenyum dengan tatapan yang memperlihatkan segala isi hati masing-masing dari mereka.
Lelaki ini selalu berdiri di segala arah untuknya hingga Nada berhasil menemukan kembali semangatnya untuk mengubah masa depan yang perlahan mulai mengungkap masa lalu.
****
..."Hidup hanya bisa dipahami secara terbalik; tapi itu harus dihayati ke depan."...
...- Soren Kierkegaard -...
...♡♡♡♡...
__ADS_1