
Kediaman Finna
Pukul 10 malam
****
"Kau harus bisa menikah dengan Samuel. Kalau tidak, papa akan menjualmu di rumah bandit," ucap Damar sembari memeluk Finna dari arah belakang.
"Tentu saja, Pa. Aku akan tetap menikah dengannya. Kau tenang saja. Lebih baik sekarang puaskan aku," pinta Finna tak tahu malu.
"Bagaimana kalau kita menjual wanita itu saja? Dia masih suci, bukan? Kita akan memiliki uang yang sangat banyak," ucap Damar dengan tangan yang mulai bergerak masuk ke dalam handuk Finna.
Tadi, ketika rencananya gagal, Finna memilih kembali ke rumah ayahnya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Ya, itu rencana yang baik, Pa," girang Finna yang langsung menyambar tubuh gempal Damar yang sangat menyukai permainan anaknya.
"Baiklah. Sekarang ayo kita kembali mengarungi surga dunia," ajak Damar dengan penuh nafsu.
.........
21 + yang gak suka bisa skip
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda
Kediaman Admadewa
****
Nada menatap kosong wajah Samuel yang terlihat menyimpan bebannya seorang diri. Terbuat dari apa hati lelaki ini hingga lebih memilih terluka seorang diri daripada menyakitinya?
Samuel baru saja selesai menceritakan tentang traumanya meskipun objek sebenarnya tak diungkapkan oleh Samuel karena ini bukan waktu yang tepat.
"Kau pasti sangat tersiksa, hem?" Nada membelai lembut pipi Samuel yang sedang berbaring di paha mulusnya.
Mereka tengah berada di balkon kamar menikmati langit malam yang terasa sangat indah hingga menjadi pelipur larah di hati keduanya.
"Aku baik-baik saja, sayang. Kau tak perlu khawatir. Hm ... dan maafkan aku yang sudah salah paham padamu, tapi apa kau yakin lelaki itu tak berbohong?" tanya Samuel yang kini telah duduk memegang kedua pipi Nada yang tersenyum ke arahnya. Wanita ini terlihat semakin cantik di bawah sinar bulan, Samuel tak mungkin bisa berpaling dari cinta pertamanya ini.
"Ya, aku percaya padanya. Jadi, kau harus percaya padaku. Aku tak mungkin menduakanmu, sayang."
__ADS_1
Nada memang sudah menceritakan siapa Lukas dan siapa Dika. Samuel jelas terkejut mendengar hal tersebut, namun ia percaya bahwa Nada tak mungkin salah menilai.
"Baiklah."
Cup
Samuel mengecup lembut bibir merah ceri yang sejak tadi membuatnya hilang fokus. Nada membalas ciuman itu dengan tak kalah membuai hingga rasa nikmat itu langsung terkumpul pada satu titik tubuh Samuel.
Lelaki itu perlahan mengangkat tubuh langsing Nada ke pangkuannya dan langsung duduk mengangkang hingga adik kecil Samuel semakin mengembang. Posisi itu sangat nikmat membuat Samuel semakin tak kuasa.
Ciuman yang awalnya lembut berubah semakin liar membuat burung-burung di pohon sana malu seketika.
Sial. Ini terlalu nikmat. Batin Samuel
Nada melingkarkan tangannya di leher Samuel yang tengah menurunkan piamanya dengan tangan bergetar.
Tatapan Samuel jatuh pada bekas operasi yang masih terlihat bekasnya. Luka itu telah mengering berkat pengobatan canggih yang dilakukan dokter hingga Nada pulih begitu cepat.
Cup
Samuel mengecup lembut bekas itu dan berdoa dalam hati agar istrinya tak mengalami insiden berbahaya lagi. Ia terlalu takut kehilangan Nada.
Netra keduanya saling bertatap mesra dengan senyum indah terukir di bibir masing-masing. Tak ada kata yang mampu mereka utarakan lagi, hanya melalui tatapan itu maka semua rasa di hati akan tersampaikan dengan baik dan tulus.
Samuel kemudian membuka menutup benda bulat itu. Ia menelan ludahnya kasar melihat bentuk yang sangat menggiurkan dengan puncak pink yang telah menyambut sang pemiliknya.
"Vi-vio."
Nada menggigit bibirnya menahan des*han karena Samuel sudah melahap dadanya seperti bayi yang kehausan.
"Seperti ini, sayang ... aahh."
Samuel menggerakkan pinggul Nada hingga inti tubuh keduanya saling bergesekan. Piama daster Nada mempermudah segalanya dengan Samuel yang menurunkan sedikit celana piamanya membuat adik kecil yang sudah mengeras itu semakin menikmati gesekan panas di bawah sana.
"Aah, sayang ..."
Nada mende*sah dengan pinggul yang terus bergerak maju mundur hingga beberapa saat kemudian ia bergetar hebat. Bungkusan yang menutupi senjata masing-masing telah basah oleh cairan lengket Nada membuat adik kecil Samuel ikut berkedut nikmat.
"Sekarang?" tanya Samuel dengan wajah merah padam.
__ADS_1
"Hm," sahut Nada yang sudah tergolek lemah di dalam pelukan Samuel.
Lelaki itu berbinar senang dan buru-buru menuju ranjang yang akan menjadi saksi malam ini. Samuel kemudian meletakkan tubuh Nada dengan hati-hati di peraduan sana, kemudian membuka semua pakaian sang istri yang hanya bisa pasrah.
"Vi-vio, ahh ...."
Nada semakin dibuat tak berdaya karena Samuel sudah bergerak liar di bawah sana berusaha merenggut madu yang terus keluar itu.
Tubuh Nada kembali bergetar hebat ketika ia mendapatkan pelepasan kembali. Entahlah, rasanya tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
"Sa-sayang, itu terlalu besar. Tak akan muat," ucap Nada memelas karena Samuel tengah membuka semua pakaiannya hingga memperlihatkan betapa perkasanya tubuh suaminya itu.
"Muat, sayang," ucap Samuel tersenyum geli. Ia telah siap menerobos pertahanan Nada yang terus merengek ketakutan.
"Aku takut. K-kau kecilkan dulu, sayang."
"Hei! Banyak wanita yang mencari ukuran besar, tapi kau malah menyuruhku mengecilkannya."
"Ta-tapi-"
Cup
Samuel langsung menyambar bibir cerewet itu dan bersiap masuk sebelum akhirnya ....
Tok. tok. tok
"Sam! Nada!" teriak Jasmine sambil mengetuk pintu tiada henti dari arah luar hingga membuat adik kecil Samuel seketika layu.
"SHITTT!! MAMA!!!!!!!!" teriak Samuel kesal.
****
..."Diganggu pada saat yang tak tepat, rasanya ah mantap."...
...- Caca -...
.......
Eh, gak jadi unboxing 🤪🤪🤪🤪
__ADS_1