
Di sebuah restoran mewah dengan penyekat yang menempel di belakang kursi, terlihat dua pria paruh baya sedang saling tatap penuh permusuhan. Tak ada yang ingin mengalah setelah perdebatan yang terjadi selama 10 menit itu.
"Apa kau masih ingin keras kepala Steve?" tanya Arnold sang Perdana Menteri. Dia adalah kakak dari ibu Nada.
"Keras kepala? Kalau bukan karena keluargamu yang terlalu sombong itu, mungkin Nada masih bisa merasakan kebahagiaan bersama Mikael dan Ayu!" geram Steve.
"Harusnya adikmu yang tahu diri. Kalian hanya keluarga petani, tapi ingin meminang adikku. Dan bukan salah kami jika Ayu harus meninggal dunia karena dia telah menjadi tanggung jawab Mikael," tegas Arnold.
"Kau!"
"Apa? Bukankah aku berkata benar? Dan kau sebaiknya menyerahkan Nada pada kami. Aku akan mengurusnya seperti putriku sendiri. Berikan dia padaku dan aku tak akan mengganggu hidupmu lagi."
"Kau gila?! Dia adalah putriku!" tekan Steve berusaha tak membentak.
"Oh ya? Kau lupa jika dia bukan putri kandungmu? Dianada Safaluna Abiyaksa adalah anak dari Mikael dan Ayunda. Kau hanya merawatnya karena rasa bersalahmu, bukan? Atau karena jantung anakmu ada dalam tubuh Nada makanya kau bersikeras mempertahankan wanita itu?"
Steve langsung terbungkam setelah mendengar ucapan pedas dari Arnold. Dia tak berani membantah statement itu karena selain merawat Nada karena rasa bersalah, mereka juga tak ingin jauh dari Nada karena jantung milik Andre berada dalam tubuh Nada. Namun, apa pun alasannya, mereka menyayangi Nada seperti putri sendiri.
"Sebaiknya kau jujur padanya tentang kejadian sebenarnya. Aku yakin Nada akan sangat kecewa padamu, Steve. Bagaimana jika Nada tahu bahwa ayahnya meninggal karena menyelamatkannya ketika dia dilecehkan? Bagaimana jika dia tahu kalau ibunya meninggal karena memilih tetap melahirkannya? Dan itu semua akibat dari kebodohanmu. Nada berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik bersama keluarga dari ibunya," ucap Arnold panjang lebar hingga Finna yang memilih menahan langkahnya agar tak beranjak dari sana, dibuat terkejut setengah mati dengan ponsel yang masih merekam percakapan itu.
Tubuh Steve bergetar hebat ketika ingatannya kembali pada 13 tahun yang lalu. Kala itu, ia memiliki hutang yang begitu banyak karena ditipu oleh seseorang yang mengajaknya memulai bisnis. Steve yang tak mampu membayar hutang yang sudah menyentuh angka miliaran itu, terpaksa harus menerima serangan brutal dari seorang rentenir di kota Bandung.
Bug
Bug
Bug
"Bayar hutangmu! Sudah berapa lama aku memberimu waktu, hah?!" teriak Gustaf sang rentenir. Tubuh Steve sudah berlumuran darah setelah tadi ia didorong begitu kasar ketika tengah berjalan kembali ke rumahnya.
"Berikan aku beberapa hari lagi. Aku akan berusaha mencari pinjaman ..." ucap Steve lirih. Mereka memukulinya di antara semak-semak belukar tak jauh dari rumah Nada.
"2 hari. Bayar hutangmu atau keluargamu yang akan menerima akibatnya!" teriak Gustaf dan langsung melangkah pergi bersama para anak buahnya.
Steve kemudian mencoba berdiri dan berjalan tertatih-tatih menuju sebuah rumah sederhana tempat tinggalnya bersama Yuni dan anak semata wayangnya, Andre. Sedangkan tak jauh dari sana, terdapat rumah Nada bersama sang ayah. Lokasi rumah mereka terletak di tempat yang asri dan cukup sepi. Hanya ada beberapa rumah dan sebuah panti asuhan di sepanjang jalan itu.
"Sayang!!" teriak Yuni terkejut melihat Steve yang sudah bersimbah darah, sedangkan Andre langsung memeluk ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Pa, maafkan aku tak bisa membantu papa. Tunggu aku besar dan aku akan melindungi papa dan mama," ucap Andre terisak. Umurnya masih 9 tahun, tentu ia tak memiliki kekuatan apa pun untuk melawan rentenir itu. Andre ikut terluka setiap kali melihat Steve pulang dengan babak belur.
__ADS_1
"Ssttt. Maafkan papa hanya membuat kalian sengsara."
Steve memeluk dua orang kesayangannya itu hingga teriakan melengking dari arah pintu masuk sana, membuat tubuh mereka seketika berjarak. Yuni buru-buru pergi ke dapur mencari obat untuk Steve, sedangkan Andre langsung memenangkan Nada yang tengah menangis melihat pamannya yang terlihat mengerikan.
"Paman, apakah sangat sakit?" ucap Nada kecil sembari meniup pelan luka Steve dengan mata polos berairnya tak henti memeriksa setiap luka itu.
"Kalau hanya meniup seperti ini, bagaimana bisa akan sembuh, Nada?" sahut Andre malas.
"Ihh, Kakak. Kata ayah, setiap luka itu hanya pergi ditiup dan boom! Akan langsung sembuh," jawab Nada tak menghiraukan Andre yang menggeleng jengah.
Steve hanya tersenyum lucu melihat interaksi kedua bocah itu hingga rasanya luka ditubuhnya tak ada artinya lagi selama melihat Nada dan Andre saling mengejek, namun penuh kasih sayang.
"Pelan-pelan, sayang." Steve sedikit meringis ketika Yuni mengobati lukanya dengan obat merah.
"Apakah ayahmu belum pulang, Nak?" tanya Steve pada Nada yang tengah duduk manis di sampingnya dengan kaki yang bergerak bergantian ke depan dan ke belakang.
Anak ini begitu cantik. Sudah dipastikan akan menjadi buruan banyak lelaki ketika dewasa nanti, namun tentu harus melawan Samuel terlebih dahulu yang sudah mendeklarasikan bahwa Nada adalah miliknya. Bocah tampan itu beberapa kali datang ke rumahnya untuk bermain bersama Nada dan Andre meskipun Samuel dan anaknya selalu bertengkar karena berusaha merebut perhatian Nada.
"Mungkin sebentar lagi, Paman."
"Hm ... kau bermainlah bersama kakakmu," ucap Steve yang langsung diangguki oleh Nada.
"Sayang, apa sebaiknya kita meminta bantuan dari Mikael? Dia baru saja kembali dari Singapura dan membawa pulang uang ratusan juta setelah menjadi runner up di kompetisi itu," kata Yuni.
"Tapi kita harus bagaimana? Kita tak memiliki uang sebanyak itu untuk membayar hutang. Aku tak bisa melihatmu terus dipukuli."
"Ssssttt ... aku akan tetap berusaha mencari pinjaman. Kau cukup merawat Andre dengan baik. Urusan ini biar aku yang selesaikan."
Malam harinya, keluarga Steve makan malam ala kadarnya saja. Hanya ada tempe goreng dan sambal di atas meja, namun itu sudah terasa begitu mewah bagi mereka. Mikael pun sudah datang dan makan bersama di meja yang sudah lapuk itu.
"Ka, gunakan ini untuk membayar hutang. Sisanya aku akan pikirkan," sahut Mikael tersenyum. Ia tak mempermasalahkan hal itu karena dia mengikuti lomba di Singapura, selain untuk menguji kemampuannya, hadiahnya pun sangat besar hingga bisa membantu sang kakak.
"Tidak. Kau gunakan itu untuk sekolah Nada," tolak Steve.
"Terima saja, Paman. Aku sekarang bersekolah gratis karena beasiswa," ucap Nada ikut menimpali.
"Ya, Nada benar. Dia baru saja menerima beasiswa penuh selama bersekolah. Jadi, uang ini untuk kakak saja. Aku tak membutuhkannya," kata Mikael tersenyum hangat hingga membuat Steve langsung menarik Mikael ke dalam pelukannya. Suasana haru pun terjadi di atas meja makan yang akan menjadi akhir dari kebahagiaan mereka.
2 hari kemudian
__ADS_1
"Pa, mereka datang," kata Yuni yang mengintip di balik jendela. Suasana di luar terlihat remang-remang dari lampu jalan yang berusaha menerangi halaman rumah mereka di malam hari.
Steve pun buru-buru keluar dan menyambut sang rentenir. Ia berharap uang dari Mikael bisa diterima meskipun masih jauh dari nominal sebenarnya.
Bug
Lelaki itu langsung tersungkur karena mendapat bogem mentah dari Gustaf yang tak ingin menerima uang tersebut.
"Bayar semuanya sekarang juga!"
Bug
Bug
Steve dikeroyok habis-habisan oleh anak buah Gustaf hingga Yuni dan Andre langsung berlari keluar berusaha menyelamatkan Steve yang sudah setengah sadar.
Plak
Yuni pun ikut terhempas dengan kepala terbentur di pot bunga setelah mendapatkan tamparan keras karena menggigit tangan Gustaf.
"Wanita sialan!!"
"Kalian tak ingin membayar hutang, bukan? Baiklah, aku akan menjual anak kalian!"
Srekk
Gustaf kemudian menarik kasar dan melempar tubuh kecil Andre yang terbatuk berdarah karena ulah bejatnya. Ia tak memandang jika Andre masih kecil, sama seperti dua anak kembarnya yang terdiam mematung di dalam mobil sana.
Andre berusaha melawan dengan tinju kecilnya ketika anak buah Gustaf menyeretnya seperti sampah, sedangkan Yuni dan Steve sudah tak mampu bergerak lagi. Hanya ada suara lirihan serta air mata yang mengalir di wajah keduanya. Anak yang selalu mereka cintai sepenuh hati, anak yang mereka besarkan dengan susah payah, anak yang sangat begitu mereka lindungi, kini diperlakukan seperti binatang tepat di depan mata mereka. Hati orang tua mana yang tak sakit?
Andre sudah berlumuran darah karena mendapat pukulan di wajahnya hingga gadis cilik yang sedari tadi bersembunyi di balik semak-semak pun langsung berteriak karena jika sekali lagi Andre di pukuli, sudah dipastikan bocah itu akan meregang nyawa detik itu juga.
"HENTIKAN!!!!!" jerit Nada histeris.
"Na-nada, la-lari. LARIIII!!!!!!"
****
..."Api menguji emas, penderitaan menguji manusia pemberani."...
__ADS_1
...- Seneca -...
...♡♡♡♡...