
Samuel memandang tajam ke arah Nada yang berpura-pura tertidur. Sejak tadi, Samuel mendapatkan ceramah dari para orang tua, yaitu Yuni, Steve, Adipati, dan Jasmine.
Mereka berempat terus menghakimi Samuel karena telah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Samuel bahkan mendapat pukulan di bahunya karena Steve mengira Samuel ingin merusak putrinya.
"Aku sudah katakan, bukan? Nada sudah sadar dan kami berciuman. Aku tak seperti yang kalian kira!" ketus Samuel.
Suara isakan terdengar dari Jasmine yang mengira bahwa Samuel sudah tak waras karena Nada tak kunjung bangun.
"Sudahlah, Nak. Kau harus bersabar," ucap Jasmine menghapus air matanya dengan Yuni yang mengelus pundak bergetar itu.
Samuel memijit pelipisnya yang sangat sakit. Bagaimana lagi caranya menjelaskan bahwa wanita yang berada di atas ranjang sana tengah bersandiwara.
Ting
Tiba-tiba ide jahil muncul di otak seksi Samuel. Lelaki itu kemudian tersenyum cerah dan semakin membuat Jasmine menangis histeris karena anaknya semakin menjadi gila.
"Ma, percepat pernikahanku dengan Finna," ucap Samuel santai, namun matanya sedari tadi terus memperhatikan objek di seberang sana.
Deg
Nada menegang mendengar ucapan dari pacarnya yang tak tahu malu itu. Sialan! Aku akan memberimu pelajaran, Vio! Batin Nada kesal dengan kedua tangan terkepal kuat.
Samuel yang melihat pun semakin menunjukkan aksinya. Dia seakan lupa tengah berhadapan dengan wanita seperti apa. Nada, bukan wanita biasa.
"Kau yakin?" tanya Adipati menatap instens pada putranya. Dia sebenarnya sudah melihat pergerakan kecil dari atas kasur, namun bukan Adipati namanya jika dia akan melewatkan momen penuh sandiwara ini.
"Ya, Pa. Minggu depan."
"Aku akan membunuhmu!! Dasar lelaki brengsek!!"
Deg
__ADS_1
Semua terkejut mendengar teriakan lantang dari Nada yang perlahan mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat wajah Samuel yang sudah menggigil karena Nada benar-benar marah.
Sial! Dia sangat menakutkan seperti dulu! Batin Samuel.
"Nada!!"
Yuni dan Jasmine langsung menyerbu ke arah Nada yang masih memicingkan matanya pada lelaki yang sudah menggagalkan rencananya. Tadinya, Nada berniat ingin bangun dengan kesan yang elegan, namun semua harus hancur karena Samuel yang mencari gara-gara.
"Kau sudah sadar, Nak," sahut Yuni sembari menangis.
Jasmine pun sama, hingga membuat Nada sedikit heran. Bukankah wanita ini jelas-jelas tak menyukainya dan melarangnya mendekati Samuel? Kenapa sekarang malah menangisi dirinya?
Merasa dipandangi oleh Nada, Jasmine hanya membalas dengan senyuman. Mereka akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini dengan Nada. Untuk sekarang, mereka hanya akan fokus pada kesembuhan wanita itu.
"Sam, keluar sebentar. Ada yang ingin kami bicarakan."
Ketiga lelaki itu langsung melangkah ke luar ruangan meninggalkan Nada dengan sejuta pertanyaan.
"Kenapa, Pa?" sahut Samuel.
"Apa kau serius dengan Nada?" tanya Steve pada Samuel yang langsung membalas tegas.
Sebagai seorang ayah, tentu Steve menginginkan yang terbaik bagi putrinya. Meskipun mereka semua sudah saling mengenal sejak dulu, namun Steve perlu sesuatu untuk bisa meyakinkan dirinya bahwa Nada berada di tangan yang tepat.
"Aku sangat mencintainya dan aku akan melindunginya dari apa pun."
"Lalu bagaimana dengan masa lalunya? Apa kau bisa menerima dirinya yang seperti itu?"
"Itu bukan masalah. Aku menerima apa yang ada dalam dirinya."
Helaan nafas lega terdengar di koridor sunyi itu. Steve akhirnya menganggukkan kepala pertanda ia merestui hubungan keduanya.
__ADS_1
"Baiklah. Lalu bagaimana dengan lelaki itu?" tanya Adipati ikut menimpali.
"Tunggu dia kembali ke Indonesia. Aku tak bisa meninggalkan Nada sendirian sekarang ini," sahut Samuel dengan tangan terkepal. Selama seminggu, ia tak bisa ke mana-mana karena ingin menjaga Nada.
"Tak perlu menunggu dia kembali ke Indonesia. Leo sudah bergerak ke Singapura dan sepertinya dia sedang menikmati perannya sebagai mafia abal-abal," ucap Adipati dengan santai.
"Apa?!!"
.........
Seorang pria dengan tubuh penuh luka tengah bersembunyi di sebuah gang sunyi karena sejak semalam, pria yang ia kenal bernama Leo telah menyerangnya dengan sebuah pisau.
Sempat terjadi perkelahian antar keduanya, namun karena ia tak siap menerima serangan tersebut, juga karena tak menggunakan sehelai pakaian pun, ia terpaksa harus kabur dari sana dengan bertel*njang bulat. Badannya penuh luka dengan beberapa daging yang keluar dari tempatnya yang hanya ditutupi dengan sehelai kain tipis yang ia curi dari jemuran orang lain.
"Sial! Ponselku ketinggalan!"
Hari semakin siang ketika ia masih meringkuk di samping tempat sampah berharap tak akan ditemukan oleh Leo yang tengah mencarinya di segala tempat. Darah yang semakin pekat menempel di kain putih itu pun mengundang tatapan lapar dari para anjing liar yamg sedang meraup sampah di dekat sana.
Ggggrrr
"Pergi!" Lelaki itu berteriak tertahan dan mengumpat karena usahanya sia-sia.
Suasana yang awalnya sepi menjadi semakin ramai hingga para anak buah Leo yang tengah berpencar berhasil menemukannya.
"Di sana!!"
Deg
****
..."Pertarungan tidak dimenangkan dengan satu pukulan atau tendangan. Pelajarilah bertahan atau sewalah pengawal."...
__ADS_1
...- Bruce Lee -...
...♡♡♡♡...