Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 46 : Penculikan Nada


__ADS_3

Bug


Nada mencoba memukul wajah Dika dengan tangan kosong. Lelaki itu tak menghindar, namun hanya tersenyum licik pada Nada yang dibuat semakin geram.


Daerah perkantoran Admadewa Grup memang tergolong sepi. Di sekelilingnya terdapat banyak pepohonan tinggi hingga aksi itu tak akan terlihat siapa pun selain dua pengawal bayangan Nada yang berlari membantu sang nyonya.


Bug


Bug


Terjadi perkelahian sengit antara kubu Nada dan kubu Dika sebelum akhirnya dua pengawal itu tewas di tempat. Dika telah membayar orang-orang yang sangat terlatih untuk menjalankan rencana jahatnya ini.


Sedangkan Nada, wanita itu sudah babak belur dan terjatuh lemah di atas rumput hijau. Kacamatanya sudah retak, rambutnya acak-acakan, dan tubuhnya telah bersimbah darah.


Mereka tak membiarkan Nada mati saat itu juga, karena Dika masih ingin bermain dengan Nada. Ia ingin mencicipi terlebih dahulu wanita itu sebelum akhirnya akan mengirimkan Nada bertemu Mikael.


"Angkat dia!" titah Dika.


Nada masih berusaha melawan walaupun tenaganya telah habis terkuras. Dia memang bisa bela diri, namun melawan para pria kuat itu, tentu ia akan kalah.


Sedangkan tak jauh dari sana, handphone Nada yang terlempar terus berdering karena Samuel menghubunginya tiada henti.


Brak


Handphone itu hancur berkeping-keping berkat injakan kuat dari kaki Dika. Lelaki itu tersenyum licik karena rencananya akan berhasil kali ini, yaitu membunuh Nada dan membuat Samuel depresi. Akan lebih bagus jika lelaki itu bunuh diri.


.........


Samuel mengumpat kesal ketika nomor Nada sudah tak aktif. Tadinya, ia ingin bermesraan dengan Nada di ruang kerjanya, namun Leo memanggilnya karena ada rapat darurat yang tak bisa digantikan oleh siapa pun.


Ke mana wanita nakal itu. Apa dia terlalu sibuk hingga tak memedulikan aku lagi? Sial! Sepertinya aku harus menghukumnya nanti. Batin Samuel kesal


Leo yang melihat wajah Samuel yang ditekuk masam itu hanya bisa geleng kepala saja. Mereka mengikuti rapat selama 2 jam tanpa jeda hingga tak menyadari bahwa seisi kantor tengah dihebohkan dengan dua mayat lelaki yang ditemukan di samping perusahaan.

__ADS_1


"Ah, akhirnya selesai. Aku sudah merindukan Nada," ucap Samuel dan langsung berlari menuju lift. Tujuannya hanya satu, yaitu lantai 25.


"Astaga, dasar," keluh Leo hingga fokusnya teralihkan pada handphone yang bergetar sejak tadi. Itu adalah notifikasi dari grup petinggi perusahaan.


Leo kemudian membukanya malas hingga sedetik kemudian dia mematung dengan raut wajah sangat terkejut.


Sementara itu, Samuel baru saja keluar dari lift yang berhenti di lantai 25. Ia dengan penuh semangat melangkah menuju meja pink yang terlihat kosong, mengundang tanya dalam benaknya.


"Ke mana Dianada?" tanya Samuel pada karyawan di sana yang terlihat takut menatap sosok sempurna itu.


"Dianada be-belum kembali sejak 2 jam yang lalu," sahut seorang pria.


Deg


Ke mana dia? Batin Samuel kebingungan.


Teriakan lantang dari lift sana mengagetkan semua orang. Leo, lelaki itu langsung menarik kerah baju Samuel dan berlari kembali ke lift. Ia terlihat sangat khawatir setelah membaca berita tersebut.


Buk


"Na-nada ... kau tak melihatnya, bukan?"


"Ya, dia sudah tak kembali sejak 2 jam yang lalu. Mungkin dia sedang istirahat di luar," ucap Samuel kesal.


"Na-nada sepertinya diculik."


Deg


.........


Di sebuah kamar sederhana, seorang wanita dengan lebam yang memenuhi tubuh rampingnya, sudah basah kuyup karena siraman air dingin hingga membuat luka di sekujur tubuh itu terasa sangat perih.


Matanya memandang sayu pada pria yang sudah tak mengenakan pakaian sehelai pun tengah tersenyum mengejek ke arahnya.

__ADS_1


"K-kau! Sangat jahat ..." ucap Nada lirih.


Apakah kali ini aku akan mati? Kenapa Tuhan sangat jahat padaku hingga selalu memberikanku masalah bertubi-tubi? Apa aku tak pantas bahagia? Dosa apa yang aku lakukan di masa lalu? Kalau Kau ingin mengambil nyawaku, kumohon lakukan sekarang juga. Aku tak akan sanggup bertemu Vio lagi. Batin Nada kecewa.


Nada tak mampu bergerak lagi. Badannya terasa remuk, namun yang paling sakit adalah hatinya. Hatinya bagai ditusuk ribuan pisau karena merasa telah menghianati Samuel.


Ia mencoba melakukan perlawanan terakhir ketika Dika mulai merobek bajunya penuh nafsu. Lelaki itu bak kesetanan ingin segera mencicipi tubuh moleknya.


Nada yang sudah tak sanggup melawan akhirnya hanya bisa pasrah sembari menatap langit kamar dengan tatapan penuh damba. Di sana, ia seakan melihat tayangan film yang menunjukkan semua kebersamaannya bersama Samuel. Nada tersenyum samar ketika tayangan itu memperlihatkan Samuel yang sedang menciumnya mesra.


Kini badannya telah polos seluruhnya hingga Dika mengangkat tubuh lemah itu menuju peraduan sana. Wanita itu menatap lemah Dika yang semakin bernafsu dibuatnya.


"Ja-ngan ..." ucap Nada lemah.


"Aku akan memuaskanmu, sayang. Tenanglah."


Nada menangis dalam hati ketika Dika mulai mendekatkan wajah ingin mencium bibir bengkaknya itu. Air matanya sudah luruh sejak tadi, namun kali ini semakin deras dan datang bersamaan dengan kepingan ingatan masa kecil yang tiba-tiba menerjang otaknya.


Ini. Apa aku pernah mengalami ini? Batin Nada.


Kepalanya terasa ingin meledak hingga kegelapan dengan perlahan menyelubungi matanya dengan hati yang dihujati lahar panas. Menyesakkan dan terlalu menyakitkan.


"Vio," panggil Nada dalam hati sebelum kesadarannya menghilang seluruhnya.


Bug


Bug


Bug


****


..."Kalaupun ada begitu banyak penyesalan, aku harap aku dapat bisa memaafkan diriku sendiri."...

__ADS_1


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...


__ADS_2