
Dor
Dor
Dor
Bruk
Semua anak buah Leo seketika tewas di tempat, sedangkan Leo mendapat tembakan di betisnya hingga ia langsung jatuh terduduk di jalan yang lembab itu.
"Sial!" umpat Leo menahan sakit sembari melihat seorang pria memakai pakaian serba hitam dan masker yang menutupi wajah, tengah berlari ke arah Lukas yang sudah sekarat.
Crasshh
"Arrrggghh!!"
Leo melempar pisau di tangannya dan mengenai punggung lelaki itu yang tengah memapah pergi mainnya. Dia berusaha berdiri dan berlari pincang mengejar sampai ke persimpangan jalan, mengundang rasa penasaran orang-orang yang melihatnya, namun tak ada yang berani ikut campur.
"Sial! Sial! Sial!" Umpatan kekesalan terus Leo lontarkan hingga ketika ia berhenti untuk mencari jalan memutar, seseorang menabraknya dari arah belakang.
Bruk
"Aawww, sakit!!" teriak seorang wanita.
Deg
"K-Kau!!"
Mata Leo membulat sempurna hingga wajahnya semakin terlihat tampan bagi wanita yang tengah terduduk di atas jalan itu.
Ya ampun, sangat tampan. Batinnya terpana.
"KIA!!" teriak Leo menggelegar hingga mampu menerbangkan burung-burung yang bersantai di ranting pohon sana.
"Ka-kak," sahut Kia tersenyum canggung.
.........
Rumah Sakit Metropolitan
Pukul 3 sore
Kamar VVIP Nada
****
__ADS_1
"Sayang," panggil Samuel lembut.
Sejak tadi Samuel terus membujuk Nada yang hanya mengacuhkannya dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Samuel dengan sabar menyuapi bubur yang sudah mendingin meskipun beberapa kali mendapat penolakan. Entahlah, kenapa Samuel bisa sesabar ini menghadapi sifat Nada.
"Aaaaaa."
Nada akhirnya pasrah menerima suapan demi suapan membuat Samuel sangat senang karena Nada mau menurutinya.
Cup
Samuel memberikan kecupan di kening Nada yang seketika luluh dengan kelembutan lelaki itu. Sejak dulu, Samuel selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
Nada memperhatikan lekat wajah tampan di hadapannya yang terus menerus berbicara tanpa henti, hingga tiba-tiba Nada menarik leher Samuel yang langsung menegang bagaikan tersengat listrik bertegangan tinggi.
Nada mencium lembut bibir tipis Samuel hingga piring yang dipegangnya hampir saja jatuh.
Cup
Ini adalah ciuman kedua mereka dan rasanya sangat berbeda ketika ia yang mencium lebih dulu wanita itu.
Samuel memajukan kepalanya hingga Nada kembali berbaring nyaman. Mereka saling memangut dengan sedikit gigitan kecil Nada berikan membuat Samuel semakin memperdalam ciuman itu.
Mereka tak perlu khawatir lagi jika sampai ketahuan oleh para orang tua, karena hanya akan ada Samuel yang menjaga Nada sampai besok pagi. Samuel mengambil kesempatan emas ini untuk bisa bermesraan bersama kekasih satu harinya.
Tentu para orang tua awalnya keberatan, namun dengan segala bujuk rayu Samuel akhirnya mereka mengalah. Dengan catatan, tak bertindak kelewatan batas. Mereka pun memaklumi perasaan Samuel yang sekarang pasti sangat bahagia setelah penderitaan panjang yang lelaki itu alami.
Wajah keduanya sangat memerah, entah karena oksigen yang menipis atau na*su yang kian merebak di seluruh tubuh.
"Sayang, ayo kita menikah," ucap Samuel sembari tersenyum setelah berhasil menguasai diri.
"Mari kita bicarakan itu lain kali, hem?" sahut Nada tak ingin mengecewakan Samuel.
Bukan karena ia tak mencintai lelaki itu, namun masih ada hal mengganjal yang perlu dicari kebenarannya. Mulai dari sikap Jasmine dan Adipati yang langsung berubah baik padanya, Lukas yang menembak dirinya di malam itu, dan alasan dibalik ingatannya yang hilang.
Nada tak ingin orang tua Samuel hanya memanfaatkannya demi satu tujuan dan dia perlu mendengar penjelasan langsung dari Lukas tentang kejahatan yang dilakukan padanya. Apa dia melakukan kesalahan hingga harus berakhir seperti ini? Bukankah Lukas lelaki yang baik selama di kantor? Lelaki itu juga tak pernah macam-macam padanya.
"Hem, baiklah. Kau memang perlu sembuh dulu," balas Samuel dan kembali menyuapi Nada yang tengah berpikir keras.
"Sayang, bagaimana dengan Lukas?" tanya Nada sembari mengunyah buburnya.
"Dia urusanku. Kau tak usah memikirkannya, hem? Pikirkan kondisimu saja."
Adipati langsung bergerak cepat ketika malam penembakan itu. Dan Samuel sungguh terkejut bahwa Lukas adalah pegawainya sendiri. Data dari kantor menunjukkan, jika Lukas sudah dua tahun bekerja di Admadewa Grup. Namun anehnya, jika lelaki itu memang memiliki masalah dengannya, kenapa malah menyerang Nada dan Leo? Kenapa tak langsung meracuninya ketika di kantor? Bukankah itu lebih mudah?
Selama dua tahun bekerja, Lukas juga memiliki trek rekor yang baik di kantor. Bahkan ia mendapatkan promosi kenaikan jabatan hanya dalam kurun waktu 6 bulan bekerja. Apakah Lukas seorang mata-mata dari pesaingnya dan ingin menghancurkan perusahaan dari dalam? Tapi itu tak akan mungkin karena Admadewa Grup memiliki pertahanan IT yang sangat kuat. Apakah kejadian malam itu disengaja agar membuatnya depresi jika Nada tewas? Atau Lukas adalah orang yang sama yang sejak dulu selalu mencelakai Nada?
__ADS_1
Samuel sebenarnya tak terlalu yakin jika lelaki itu yang menembak Nada karena bukti yang kurang, namun berdasarkan informasi yang Nada berikan bahwa memang Lukas lah yang mengacungkan senjata pada malam itu.
"Hei."
Lamunannya buyar ketika Nada menegurnya karena melihat Samuel tengah memandanginya dengan tatapan kosong.
"Kau baik-baik saja?" tanya Nada mengusap lembut rahang Samuel yang sudah bersih terawat. Tak ada lagi bulu-bulu halus seperti kemarin.
Cup
"Aku baik-baik saja," balas Samuel tersenyum.
.........
Singapura
Pukul 7 malam
****
Bruk
Tubuh lemah Lukas langsung dilempar ke atas kasur empuk. Lelaki itu beberapa kali tak sadarkan diri sejak pelarian mereka tadi.
"Cihh!! Dasar bodoh!!"
Brak
Brak
Lelaki yang menyelamatkan Lukas hanya mampu menghancurkan perabotan di dalam kamar mewah itu untuk meredamkan emosi yang selalu memuncak jika berurusan dengan kakaknya.
"Brengsek!! Harusnya aku membiarkanmu mati, tapi aku tak bisa. Hanya kau yang aku miliki di dunia ini!! Berhentilah kau bertindak gila!!" teriaknya frustasi.
"A-air ..." ucap Lukas yang masih memiliki sedikit kesadaran.
Lelaki itu buru-buru mengambil air di atas nakas dan langsung membantu Lukas menelan semuanya hingga tandas.
"Berhentilah ... kumohon, Dika."
****
..."Tidak ada balas dendam yang selengkap pengampunan."...
...- Josh Billings -...
__ADS_1
...♡♡♡♡...