Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 65 : Andre Abiyaksa


__ADS_3

Nada terlihat berdiri di depan sebuah pintu ruangan VVIP rumah sakit di Bandung. Sejak tadi ia hanya menggenggam gagang pintu tanpa berani masuk ke dalam sana. Tak jauh darinya, Samuel hanya diam membatu tak ingin memaksa sang istri.


"Sayang, kalau kau tak siap, jangan memaksakan diri. Aku sudah katakan padamu, bukan? Di dalam sana kau akan mendapatkan sebuah fakta baru. Jika kau siap, bukalah pintu itu," seru Samuel yang kini berdiri di samping Nada.


Sangat terlihat jika wanita itu takut mendengar kebenaran dari para orang tua di dalam sana yang tengah berdiri tepat di balik pintu. Mereka terdiam mendengar percakapan Nada dan Samuel. Sedangkan Steve, semakin gemetar jika Nada sampai membuka benda penghubung antar mereka itu.


Nada kemudian mundur satu langkah dan langsung melangkah pergi, meninggalkan Samuel yang menarik nafas lega. Setidaknya Nada tak perlu mengetahui tentang Andre. Harapan Samuel jika Nada bisa fokus mempersiapkan diri pada kompetisi di Singapura nanti.


"Kami akan kembali ke Jakarta sekarang," ucap Samuel dan berlalu pergi mengikuti jejak sang istri.


.........


"Sayang, sebaiknya kita juga kembali ke Jakarta," pinta Yuni pada Steve yang terdiam mematung.


Apakah harus sekarang? Batin Steve gelisah. Dia belum siap bertemu dengan Nada dan terlalu pecundang untuk mengakui segalanya, terlebih soal Andre.


Ingatannya kembali pada 13 tahun yang lalu, ketika ulang tahun Andre yang ke-8 tahun. Kala itu, Nada yang masih berumur 7 tahun, meniup lilin di atas martabak milik Andre.


"Selamat ulang tahun!" seru Nada setelah memanjatkan doa.


"Hei! Kan aku yang berulang tahun!" sungut Andre gemas.


"Ladies first, Kak," ucap Nada tersenyum kikuk.


"Lalu apa doamu?" tanya Andre kepo.


"Aku ingin bisa tumbuh dewasa bersamamu, Kak."


Nada berucap sembari menatap Andre yang ikut menatapnya juga. Kedua bocah itu tersenyum hangat dan penuh kasih sayang. Tak ada yang bisa memisahkan mereka, kecuali kematian.


Steve kemudian mengusap air matanya yang jatuh, sedangkan Yuni hanya bisa menepuk punggung Steve. Ia sangat tahu bagaimana rasa bersalah lelaki itu pada Nada.

__ADS_1


.........


Nada berjalan sembari menundukkan kepalanya. Ia hanya ingin cepat pulang ke Jakarta dan mencari tahu tentang Andre. Sejak semalam ia terus bertanya tentang Andre, namun Samuel hanya berkata tak mengetahui keberadaan kakaknya itu.


Nada mengangkat wajahnya ketika melihat jemari tangannya telah berpaut erat dengan jemari gagah milik sang suami. Keduanya saling pandang sejenak, sebelum akhirnya berjalan menuju mobil untuk kembali ke Jakarta.


Perjalanan cukup macet karena terjadi kecelakaan di depan sana, namun itu semua tak dirasakan oleh Nada yang sejak tadi melamun.


"Kakak!" seru Nada kecil.


"Apa cerewet?" sahut Andre yang tengah mengerjakan tugas sekolah.


"Ayo, kita ke kebun belakang. Bibi sedang memanen singkong. Kita harus membantunya agar mendapatkan singkong gratis!" teriak Nada penuh semangat.


Andre akhirnya mengalah dan memilih menuruti Nada yang langsung menariknya berlari ke belakang sana. Keduanya penuh canda dan tawa layaknya anak kecil tanpa beban padahal nyatanya kehidupan mereka sangat jauh dari kata baik. Mikael dan Steve masih bekerja sebagai petani, sedangkan Yuni bekerja menjual kue hasil olahan singkong.


"Bibi! Nada datang!!!" teriak Nada kencang.


"Jelek? Kakak tak tahu? Aku memiliki banyak penggemar di panti asuhan sana."


Andre hanya menggeleng kepala lalu mulai membantu Yuni yang tersenyum melihat dua bocah ini. Ibu dan anak itu terlihat menikmati waktu kebersamaan mereka hingga suara teriakan dari belakang sana mengagetkan mereka berdua.


"Aarrgggg!!"


"Nada!!!"


Andre langsung berlari secepat kilat melihat Nada yang terjatuh karena menarik batang singkong yang terlepas setelah ia menariknya begitu keras. Bocah lelaki itu buru-buru mengecek lutut Nada yang berdarah.


"Kau! Dasar bodoh!" geram Andre pada Nada yang hanya tertunduk takut pada Andre yang sangat menakutkan jika sedang marah.


Andre kemudian membawa Nada kembali ke rumah dengan Yuni yang mengikuti mereka sembari membawa 1 keranjang penuh dengan singkong.

__ADS_1


"Ma-maaf ..." kata Nada lirih pada Andre yang masih menunjukkan sisi garangnya itu.


Melihat Nada yang ketakutan pun membuat Andre hanya bisa menarik nafasnya frustasi. Dia sangat menyayangi Nada. Tentu satu goresan luka saja akan sangat menyakitkan bagi Andre yang sejak Nada bayi pun keduanya tak pernah terpisah.


"Kau jagalah dirimu dengan baik, hem? Kalau kakak tak ada lagi, siapa yang akan menjagamu?" ucap Andre lembut seraya mengusap kepala Nada yang hanya terdiam mencerna ucapan ambigu itu.


"Memangnya kakak mau ke mana? Bukankah kita akan selalu bersama?" tanya Nada polos.


"Semua di dunia ini tak ada yang abadi, Nada." Andre berkata dengan senyum tampan yang hanya dia berikan pada Nada seorang.


Andre Abiyaksa adalah anak semata wayang dari Steve dan Yuni. Dia anak yang pendiam di sekolah dan tak memiliki teman sama sekali. Andre sama seperti Nada, selalu di-bully karena berasal dari keluarga miskin. Meskipun demikian, namun Andre adalah anak yang pintar dan dewasa. Dan yang paling penting, dia anak yang begitu bertanggung jawab.


Tepukan di pahanya membuat lamunan Nada buyar seketika. Samuel sejak tadi terus memanggil Nada, namun tak kunjung mendapat jawaban.


"Are you, ok?" tanya Samuel.


"Yeah," ucap Nada berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya pada Andre.


Kakak, kau dimana? Batin Nada menangis.


****


..."Engkau selalu menguatkanku dalam situasi yang sulit, dan engkau selalu melindungiku dalam keadaan takut. Kau adalah kakak terbaik!"...


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...


.......


Hai, maaf aku akhir2 ini jarang up karena nanti aku ada tes dan wawancara kerja. Jadi, aku lgi persiapan diri, tapi aku akan usahain up sebisaku. Up akan lancar setelah wawancara selesai yaa.. ❤

__ADS_1


__ADS_2