Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 74 : Anakku atau Anakmu


__ADS_3

21+ Mohon pengertiannya ⚠️


Suara erangan dan ******* terus terdengar nyaring di dalam kamar yang menjadi saksi bisu betapa penyatuan itu sangat hebat dan sungguh memabukkan. Pacuan yang tiada henti dari Samuel, membuat Nada takluk tak berdaya pada pesona sang suami.


Samuel menggelengkan kepalanya merasa ini sangat gila. Gerakannya begitu cepat, namun cukup lembut karena mengingat sang buah hatinya masih sangat kecil.


"Sayang, aahh ahhh ...."


Nada mendesah tak karuan ketika Samuel mengulum pucuk buah dadanya seperti bayi yang kehausan.Wajahnya semakin menegang karena merasakan jika sebentar lagi akan ada sesuatu yang keluar. Sesuatu yang sangat nikmat hingga membuatnya harus menggigit bibirnya dengan badan bergetar hebat setelah sukses mendapatkan puncaknya.


"Aahh baby ... aahhh ...."


Samuel menghentikan sejenak pacuannya karena begitu hanyut dengan kedutan yang menjepit tubuhnya dengan sangat erat.


"Sayang, kau sangat nikmat," sahut Samuel yang melanjutkan gerakannya dengan pinggul memutar.


"Tatap aku, sayang," pinta Samuel tak berhenti dengan aktivitasnya.


"Kau sangat cantik. Kau milikku. Aahhh ...."


Samuel mendesah karena Nada yang ikut menggerakkan pinggulnya melawan arah hingga adik kecil Samuel semakin terbenam di dalam sana.


"Aaahh ssshh baby ... enak sekali ...."


Nada memeluk erat tubuh Samuel hingga beberapa saat kemudian keduanya mendapatkan pelepasan hebat bersama-sama.


Samuel kemudian memiringkan tubuhnya agar tak menimpah perut sang istri. Ia mengucap lembut kening Nada dengan adik kecil yang masih diam di dalam sarangnya.


"Sayang, lepaskan dulu," pinta Nada malu karena merasa benda itu tak mengecil dan justru tetap tegak menantang.


"Aku suka seperti ini. Biarkan saja aahh ...."


Nada semakin memerah karena Samuel mendorong maju mundur sangat pelan, namun memantik nafsu Nada yang memang tinggi sejak kehamilannya. Bahkan ia yang sering meminta lebih dulu pada Samuel yang menang banyak.


Akhirnya, keduanya kembali melakukan olaraga panas itu dengan posisi yang lebih intim. Tak lupa, Samuel selalu bergerak lembut karena takut anaknya memberontak.


Beberapa saat kemudian


"Sayang, kau siap untuk mengikuti kompetisi?" tanya Samuel dengan bersandar manja pada dada polos sang istri.


"Tentu saja!" sahut Nada penuh semangat.


"Kau memang luar biasa. Ya sudah, ayo kita membersihkan diri dulu." Samuel memasang kembali kaki palsu miliknya dan menggendong tubuh mungil Nada.


Nada menatap lekat wajah Samuel yang dengan penuh kehati-hatian memasukkannya ke dalam bathup. Lalu ia mengusap lembut kaki yang telah diamputasi itu. Nada selalu bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untuk Samuel.


"Kau tahu, kau selalu menjadi lelaki terbaik untukku. Aku tak membutuhkan yang lain karena yang aku butuhkan sudah ada di sini, sedang memelukku erat. Aku begitu mencintaimu tak peduli apa pun juga. Jadi, kau harus berjanji padaku. Kau akan selalu menjadi Samuel yang aku kenal, Vio milikku seorang."


Deg

__ADS_1


Samuel semakin memeluknya erat. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Yang ia tahu Nada adalah hidupnya. Nada adalah nafasnya. Meskipun dua bulan yang lalu Samuel begitu depresi karena masih belum bisa menerima kondisi kakinya, namun ia bisa melewati semuanya karena Nada selalu mendukung dan tak pernah meninggalkannya sedetik saja.


"Aku juga sangat mencintaimu selama 13 tahun dan itu akan tetap sama sampai aku meninggalkan dunia ini. Bahkan jika bisa, di kehidupan selanjutnya aku akan tetap mencarimu dan menjadikanmu milikku."


Nada berkaca-kaca mendengar setiap kata yang diucapkan begitu tulus dari lelaki yang ada di belakangnya itu. Tentu ia akan mempercayai ucapan Samuel karena ia tahu Samuel bisa dan akan mewujudkan hal itu.


"Terima kasih, sayang."


Cup


.........


H-3 Kompetisi


Kediaman Admadewa


****


Hari ini disibukkan dengan segala persiapan keluarga besar Admadewa-Abiyaksa. Para orang tua sibuk mengurus segala keperluan sang nyonya muda yang sejak tadi hanya bisa berenggut masam di atas sofa empuk sana.


Sejak 2 jam yang lalu, Nada hanya bisa memandangi mereka yang tak mengizinkannya membantu sama sekali. Apalagi sang suami yang begitu overprotektif padanya. Samuel bahkan tak mengizinkan beranjak dari sofa dan hanya menyuruhnya memakan cemilan sehat.


"Sayang, aku bosan," sungut Nada frustasi.


"Hm, nanti kau tak akan bosan setelah ini. Aku akan menemanimu istirahat," sahut Samuel dengan senyum nakal.


"Baiklah, semuanya sudah siap. Ayo, kita harus segera berangkat!" seru Adipati penuh semangat.


Semua orang tak terkecuali Pak Ujang ikut berangkat ke Singapura untuk menyaksikan kompetisi kuliner internasional yang akan disiarkan di seluruh dunia itu. Ini merupakan ajang paling bergensi yang ditunggu-tunggu semua orang karena hadiah yang disuguhkan begitu fantastis. Di samping itu, akan ada banyak orang penting dan artis yang menghadiri acara ini.


.........


"Sayang, kalau aku gagal bagaimana?" tanya Nada yang saat ini berada dalam dekapan hangat Samuel.


Perjalanan yang memakan waktu satu setengah jam itu dipergunakan sebaik mungkin oleh Samuel dan Nada untuk mengistirahatkan tubuh sejenak.


"Tak masalah. Kau gagal sekarang, kau bisa mencoba lagi tahun depan. Gagal lagi, coba lagi. Tak ada yang instan di dunia ini, tapi kalau hanya dalam sekali aja kau berhasil berarti itulah jalan hidupmu. Kau tak bisa menentukan seperti apa masa depanmu, tapi tak ada salahnya bukan jika kau mengeluarkan seluruh kemampuan yang kau miliki?"


Nada diam sejenak. Ucapan suaminya barusan memberikan dia kekuatan untuk mengejar apa yang memang patut ia perjuangkan. Masa depannya, cita-citanya. Tak ada yang bisa mewujudkannya selain dirinya sendiri.


"Kau benar, sayang. Apa pun hasilnya nanti, aku tak masalah. Setidaknya aku sudah berjuang."


Cup


"Pintar. Sebaiknya kau beristirahat," pinta Samuel sembari mendekapnya semakin erat di bawah selimut hangat.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini mereka telah sampai di Singapura. Barang bawaan yang begitu banyak membuat Nada hanya bisa geleng kepala. Bagaimana tidak? Samuel membawa hampir semua perlengkapan yang ada di kediaman mereka.


"Ayo, sayang."

__ADS_1


Samuel menggandeng tangan Nada yang hanya menurut saja. Sedangkan di belakang sana, para orang tua terlihat begitu sibuk berfoto layaknya anak kecil, terlebih Steve dan Yuni. Mereka berdua yang tak pernah merasakan ke luar negeri sungguh sangat bahagia. Rona kebahagiaan jelas terlihat di wajah keriput mereka. Apalagi kepergian kali ini adalah mengantarkan sang putri tercinta menuju puncak kariernya.


.........


Hotel Cleson's Singapura


Pukul 7 malam


***


"Ahh, lelahnya."


Nada merebahkan dirinya di kasur empuk hotel bintang lima yang akan menjadi tempat kompetisi berlangsung. Ia menggerakkan tangannya yang begitu pegal hingga membuat Samuel yang baru saja selesai mandi, buru-buru menghampirinya dengan handuk yang menutup area terlarang itu.


"Sini aku pijat, sayang," ucap Samuel.


"Terima kasih."


Nada begitu menikmati pijatan itu hingga membuatnya tertidur lelap. Samuel kemudian menghentikan kegiatannya dan memandang lekat wajah sang istri. Setiap kali memandang objek di hadapannya, maka ingatan tentang segala berjuangan dan usahanya untuk mendapatkan Nada seketika menyeruak.


"Aku sangat mencintaimu."


Cup


.........


Sementara itu, di kamar yang berbeda terlihat seorang lelaki seusia Steve tengah melamun memandang suasana di luar sana. Langit malam begitu pekat, namun justru semakin indah karena lampu-lampu dari gedung di dekat sana menyala bak cahaya surga.


"Kau yakin itu anaknya?" tanya lelaki itu.


"Saya yakin, Tuan. Informasi yang saya dapatkan tak mungkin salah. Wanita itu adalah anak dari Michael Abiyaksa," sahut sang asisten.


Lelaki itu tersenyum miris. Sungguh ia tak menyangka bahwa akan bertemu darah daging dari lelaki yang dulu ia kalahkan atau lebih tepatnya, lelaki yang ia curangi.


Ya, demi mendapatkan gelar Master Chef, ia rela melakukan kecurangan dengan membayar para juri dengan nilai yang begitu besar.


"Menarik. Mari kita lihat, apakah wanita itu akan sehebat ayahnya atau tidak? Kau persiapkan Cester sebaik mungkin," perintahnya.


"Baik, tuan."


Sang asisten pun pergi meninggalkannya yang sejenak terkurung dalam kenangan belasan tahun yang lalu. Keegoisannya dan ketakutannya jika tak berhasil menjadi Master Chef membuatnya tega melakukan hal jahat.


"Dulu kau dan aku. Sekarang malah anak kita berdua. Tak kusangka dunia begitu sempit. Dua hari lagi dan kita lihat siapa yang akan menang. Anakmu atau anakku, Michael," ucapnya bergetar.


****


..."Yang paling menjijikkan dari semua penindasan adalah mereka yang menyamar sebagai keadilan." - Robert H. Jackson -...


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2