
Seorang wanita cantik dengan penampilan yang berantakan, terlihat sedang melamun menatap langit malam kota Bandung. Ia sejak tadi tak bergerak sama sekali dengan air mata yang sudah menganak bak air sungai. Sedangkan di depan pintu kamar sana, seorang pria yang tak kalah berantakan pun tak henti-hentinya menatap nanar pintu kamar yang dikunci dari dalam itu. Bisa saja dia mendobraknya, namun ia berusaha menahan diri karena tak ingin sang istri semakin membencinya.
Setelah Finna ditangkap, Nada langsung kembali menuju kamar hotel dengan Samuel yang berjalan mengikutinya sejauh 5 meter. Samuel sebenarnya ingin mendekati Nada, namun ia tak memiliki keberanian sama sekali. Ia takut jika salah bertindak dan malah membuat Nada benar-benar pergi meninggalkannya.
"Ayah ... maafkan aku telah melupakanmu. Bukankah aku anak yang begitu durhaka?" ucap Nada dengan isak tangis semakin terdengar memilukan hingga Samuel langsung bersandar di pintu itu. Kedua telapak tangannya menutupi wajah tampan miliknya yang tengah ikut menangis.
Di dalam sana, Nada dengan perlahan mengangkat sebuah pisau makan yang diambilnya. Ia meringis kecil ketika ujung pisau tersebut mengoyakkan kulit di paha mulusnya. Nada mengukir nama sang ayah agar sampai kapan pun tak akan melupakan lelaki yang begitu berjasa baginya itu.
"Ayah."
Ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya saat ini juga, namun dia perlu menyelesaikan kompetisi besok hari. Dan masih banyak yang harus Samuel maupun Steve jelaskan padanya. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Banyak pertanyaan yang Nada pikirkan hingga membuat kepalanya semakin terasa sakit.
"Sa-sayang," panggil Samuel gemetar karena tak mendengar apa pun dari dalam. Telinganya ia rapatkan di pintu, namun hening. Tiba-tiba segala pikiran buruk pun mulai tersusun dalam otaknya. Namun, ditepisnya jauh-jauh karena Nada bukan anak kecil lagi yang tak bisa mengontrol diri sendiri.
Ceklek
Pintu terbuka dari dalam, menampakkan sang istri yang memandang Samuel begitu dingin.
Glek
Lelaki itu menelan ludahnya kasar ketika Nada menyuruhnya masuk dengan suara yang begitu datar. Nada kemudian berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Samuel yang dengan setia menunggunya tepat di depan pintu kamar mandi itu. Mendengar bunyi shower, sedikit menarik rasa lega bagi Samuel.
Nada mengguyur seluruh badan dan menggosok kulitnya dengan begitu kasar hingga memerah. Ia mencoba menghapus jejak Gustaf yang 13 tahun lalu menjamahnya dengan begitu beringas. Memikirkannya saja membuat Nada kembali emosi. Sejak tadi, Nada menahan diri untuk tak meruntuhkan kamar hotel ini. Dia butuh pelampiasan untuk mengekspresikan segala gejolak kemarahan yang ada di hatinya.
Tahan. Belum saatnya. Batin Nada.
Ceklek
Samuel buru-buru berdiri tegak dan menyingkir memberi jalan pada Nada yang tak menatapnya sama sekali. Nada yang sebenarnya melirik ke arah suaminya itu, berusaha tegar agar tak memeluk tubuh yang selalu menjadi tempat ternyamannya ini. Ia hanya mampu menggigit bibir dan tetap memilih mengacuhkan Samuel.
"Sayang," panggil Samuel lembut. Terlihat jelas dari tatapan lelaki itu jika ia sangat terluka akan sikap Nada. Samuel tahu ini salahnya karena tak jujur sejak awal, namun ia melakukan itu semua karena ingin Nada tetap dalam keadaan baik-baik saja.
"Cherry ..." panggilnya lagi yang seketika menghentikan gerakan tangan Nada yang tengah mencari baju ganti.
__ADS_1
Srekk
Samuel langsung mendekap erat tubuh Nada. Ia tahu jika Nada sedang menangis dalam diam karena pundak yang bergetar itu telah menjelaskan segalanya.
"Maafkan aku ..."
Nada akhirnya menyerah dengan egonya sendiri. Nyatanya, ia sangat membutuhkan pelukan Samuel. Nada memutar tubuhnya dan masuk lebih dalam ke dekapan hangat Samuel yang memeluknya sangat-sangat erat. Tak ada yang bersuara lagi, selain tangisan keduanya yang begitu menyayat hati. Samuel dengan seribu penyesalannya dan Nada dengan kesakitannya.
.........
Keesokan harinya
Kompetisi
****
"Hari ini adalah hari terakhir. Selamat bagi ketiga kontestan yang menjadi unggulan pada acara ini. Baiklah, saya tak akan berlama-lama. Tunjukkan tantangan hari keempat," pinta Darius yang menjadi MC hari ini.
Dia baru hadir kembali setelah mengurus kekacauan yang Samuel lakukan pada salah satu panitia yang melakukan kecurangan pada hari pertama kompetisi. Dan juga, harus mengurus masalah Finna karena Darius merupakan penanggung jawab kompetisi tersebut sekaligus manajer restoran tempat Finna bekerja.
Begitu pun dengan acara ini. Banyak orang yang meminta stasiun TV agar menghentikan tayangan tersebut, namun para penggemar Nada tentu saja tak menerima. Mereka saling adu komentar pedas di sosial media untuk membela Nada karena usut punya usut, Finna sudah menyebar berita jika Nada menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Samuel.
☆Kembali ke laptop☆
...MENU BEBAS...
Para peserta dengan gesit mulai bergerak memilih bahan di tempat yang sudah disediakan oleh panitia untuk menunjang segala keperluan para kontestan. Nada kemudian memilih membuat sandwich dengan isian berupa sosis, selada air, tomat, timun, dan keju. Selain mudah, ia tak perlu menyalakan api. Menu ini adalah menu yang pertama kali dibuatkan oleh sang ayah ketika mendapatkan gaji pertama sebagai chef di Heros Restaurant.
Nada tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena mengingat wajah berbinar ayahnya kala itu. Ia tengah menata sandwich miliknya ketika kontestan di sebelahnya melakukan teknik flambe, yaitu salah satu teknik memasak dengan menyalakan api pada masakan.
Deg
Tubuh Nada oleng seketika. Bayang-bayang ayahnya yang dibakar hidup-hidup pun menari-nari di pelupuk matanya. Kejadian itu seperti sedang berlangsung di hadapannya hingga membuat tubuh Nada menggigil begitu hebat. Samuel yang melihat Nada telah ambruk pun langsung meleset secepat kilat berusaha menenangkan Nada yang terlihat ketakutan.
__ADS_1
"A-ayah ..."
"Sssttt ... hei, tenang. Ok? Kau harus tenang," ucap Samuel yang ikut terduduk di lantai.
"Ti-tidak ... a-ayah." Mata Mada tak fokus hingga membuat Samuel semakin panik.
"Hei! Sadar. Kau tak boleh begini. Ini kesempatan berhargamu. Kau jangan sia-siakan apa yang sudah ada di depan matamu. Lawan rasa traumamu. Kau harus bisa," ucap Samuel memberi semangat.
"Vi-vio ..."
"Aku di sini. Aku selalu bersamamu. Jangan takut, hem?"
Cup
Semua orang yang melihat betapa lembutnya Samuel pada Nada, tak terkecuali dengan masyarakat yang menonton secara live pun dibuat melongo tak percaya. Apakah benar keduanya memiliki hubungan spesial? Apakah Nada yang menjadi orang ketiga?
"Ta-tapi ..."
"Tatap aku."
Keduanya pun saling adu tatap. Samuel memberikan semua perlindungannya untuk wanita itu hingga Nada bisa merasakan betapa Samuel sangat ingin ia menyelesaikan apa yang dimulainya.
"Hi-hidanganku belum selesai. A-aku harus menyelesaikannya dulu."
"Ya, ya, ya. Kau harus menyelesaikannya. Tak peduli hasilnya seperti apa nanti, kau hanya perlu memberikan yang terbaik yang kau bisa," kata Samuel tersenyum haru sembari memegang kedua pipi Nada.
"Ya!" sahut Nada lalu kembali berdiri tegak. Ia kemudian memejamkan matanya sejenak lalu menghirup nafas dalam-dalam.
Aku bisa. Aku bisa. Batin Nada kembali semangat.
****
..."Kesalahan yang paling besar bukanlah kegagalan, tetapi adalah berhenti dan menyerah sebelum merasakan keberhasilan."...
__ADS_1
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...