Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 23 : Mari Kita Pulang


__ADS_3

"Ti-tidak!!!!"


Bug


Bug


Samuel mendobrak pintu ruang operasi ketika mendengar suara nyaring dari dalam sana. Dia bukan orang bodoh yang tak tahu arti dari sinyal itu.


Deg


Samuel menegang di depan pintu dan tatapannya langsung tertuju ke arah wanita yang sangat ia cintai telah terbujur kaku di atas meja operasi.


"Maafkan ka-kami, Tuan. Nona tak bisa kami sela-"


Bug


Bug


Samuel menghujami wajah dokter yang baru saja bicara dengan tinju panasnya hingga Adipati dan Steve berusaha melerai, namun Samuel sudah tak bisa terkontrol lagi. Kekuatan lelaki itu bertambah berkali lipat.


"Dia belum mati, brengsek!! Aku akan merobek mulutmu!!"


Samuel berteriak dan langsung mengambil gunting yang sudah berlumuran darah milik Nada. Melihat situasi yang berbahaya, semua orang di dalam sana langsung di tarik keluar oleh Leo dan beberapa satpam yang sudah datang membantu.


Bug


Samuel meninju wajah Steve dan Adipati yang berusaha menahan lelaki yang sudah tak waras itu.


"Sam!! Sadar!!" teriak Adipati yang sudah dibuat geram oleh sifat Samuel. Semua orang terluka bukan hanya Samuel saja.


"Na-nada!!" teriak Samuel berlari ke arah ranjang.


Tubuh lelaki itu sudah bergetar dengan sangat hebat, air matanya rasanya sudah mengering karena terlalu banyak menangis. Hatinya seperti ditusuk ribuan pisau ketika tubuh indah itu tak lagi bergerak.


"H-hei, bangun. Nada ... bangun kataku, brengsek!!"


Samuel berteriak sambil mengguncang tubuh kaku itu hingga Steve yang sejak tadi tak mampu berkata apa-apa lagi, langsung berlari keluar ruangan.


"Che-cherry ... ma-maafkan a-aku, hem? A-aku janji tak akan meninggalkanmu la-lagi. Ta-tapi a-aku mohon kau ba-bangun sekarang!!"


Teriakan penuh kepiluan itu semakin terdengar kencang ketika Samuel tak mendapat respon apa pun. Lelaki itu semakin menggila. Tangannya menyentuh kedua pipi Nada yang sudah pucat pasih.


"A-aku sa-ngat mencintaimu. Ba-bangun aku mohon. A-aku tak pernah meminta apa pun darimu. Ini adalah permintaan pertamaku."


Namun, sang wanita tetap tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Ini adalah hari paling kelam baginya. Samuel rela tak memiliki Nada asalkan wanita itu tetap baik-baik saja. Ia rela menyakiti dirinya sendiri asalkan Nada mendapatkan kebahagiaan. Namun, kenapa malah berakhir seperti ini?


Takdir sungguh tak adil bagi keduanya. Disaat orang lain seharusnya berbahagia pada hari pertunangan mereka, Samuel justru harus kecewa dan menelan pil pahit yang tak ia duga. Sedangkan Nada, wanita malang itu lebih menderita lagi. Apa dosa yang ia lakukan hingga Tuhan selalu mempersulit jalan hidupnya?


"Ka-kalau kau pergi bagaimana dengan Leo? Di-dia sangat mencintaimu. A-aku memukulnya tadi jadi seharusnya kau memarahiku karena telah melukai pacar sialanmu itu ... Nada, hei ...."


Samuel menepuk pelan pipi chubby yang sudah tak memiliki rona kehidupan itu lalu menempelkan dahinya ke dahi dingin Nada seakan mentransfer seluruh sari-sari kehidupannya untuk wanita itu.

__ADS_1


Nada tanpa Samuel mungkin akan tetap menemukan kebahagiaannya bersama Leo, namun Samuel tanpa Nada, hanya akan menjadi raga tanpa nyawa.


Bagi Samuel, kematian lebih baik datang menghampirinya lebih dulu karena jika Nada yang lebih dulu diselubungi kematian, Samuel akan menjadi pria tanpa tujuan hidup.


.........


Di atas sebuah rooftop rumah sakit, terlihat seorang pria dengan pundak bergetar tengah berteriak histeris. Tangannya terkepal kuat dengan isakan yang sedari tadi ia tahan akhirnya bisa ia nyanyikan dengan merdu di atas sana.


Leo, lelaki itu memukul dinding hingga tangannya terluka parah, namun rasa sakit itu tak seberapa dengan apa yang Nada alami.


"Seharusnya aku yang mati!! Seharusnya aku yang tertembak!! Kenapa? Kenapa kau lakukan itu, Nada?!!" teriak Leo menggelegar.


Dia terus menghantam dinding yang tadinya rata dan bersih, kini telah hancur dan berubah warna. Perasaannya sangat terluka karena tak mampu melindungi sang kekasih.


"Aku lelaki tak becus!!"


Bug


Bug


"Lebih baik aku mati!!"


Bug


Bug


Leo menghantam kuat dinding itu dengan kepalanya hingga badan rapuhnya langsung terbaring lemah tak berdaya di atas lantai. Matanya menatap sayup-sayup ke atas langit sana dengan isakan yang sangat memilukan.


Langit malam sangat indah dengan semua objek yang menempel di layar besar itu, namun kini harus menjadi saksi betapa semua orang sangat terluka dan kehilangan.


Di langit sana, wajah wanita yang paling ia cintai tengah tersenyum ke arahnya hingga Leo semakin menangis. Tangan lelaki itu terulur ingin menggapainya, namun tangannya tak sampai.


"Ja-jangan pergi, hem? Sa-sam masih membutuhkanmu. A-aku mengalah, tapi aku mohon k-kau kembali. Sam akan sa-sangat terluka, Nad ...."


"Se-sejak awal kau memang miliknya. Ma-maafkan aku. Tolong kembalilah."


Wajah wanita di atas sana hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Leo yang semakin berteriak histeris. Wajah cantik berseri itu semakin memudar dan perlahan digantikan dengan satu bintang yang paling menyilaukan mata.


"NADA!!!!!!"


.........


"Wow ... ayah lihat itu! Sinarnya semakin terang! Apakah ibu sedang menyapaku?!" seru Nada kecil lantang.


"Ya, sayang. Ibu sedang menyapamu sekarang. Dia pasti sangat merindukanmu," ucap Mikael lembut.


Sontak Nada semakin kegirangan. Meskipun ia tak pernah melihat wajah asli ibunya, namun ada satu foto kusam milik sang ibu yang ayahnya selipkan di dalam dompet kecil miliknya. Foto itu selalu menjadi sumber semangat bagi Nada.


"Kau sangat cantik, sayang. Seperti ibumu."


Cup

__ADS_1


Cup


Mikael mencium gemas kedua pipi Nada kecil yang merasa geli dengan bulu-bulu halus di rahang ayahnya. Mereka berdua tertawa riang seakan melupakan kesedihan yang selama ini selalu mereka berdua rasakan.


Perlahan, bianglala itu mulai bergerak kembali dan kotak yang membawa tubuh ayah dan anak itu pun tengah berhenti tepat di atas tanah. Nada terus berceloteh tentang segala hal dan mulai melangkahkan kakinya bergegas untuk turun.


"Ayah, kenapa masih di dalam situ? Ayo, kita pulang," ajak Nada pada ayahnya yang hanya diam di dalam sana dan terus tersenyum indah. Mata lelaki itu berkaca-kaca memandangi wajah putrinya yang masih belum mengerti apa pun.


"Nada, ayah akan mengantarmu sampai di sini saja, hem? Kau berjalanlah kembali ke arah tadi kita masuk ke sini," ucap Mikael lembut dan mencium dahi anaknya itu.


"Kenapa? Memangnya Ayah akan ke mana? Aku tak tahu arah pulang. Di sini sangat luas. Ayo, kita pergi bersama," bujuk Nada yang mulai ketakutan karena ayahnya bersikap aneh. Bagaimana bisa dia yang masih kecil ini disuruh pulang sendiri?


"Hei jangan menangis, sudah waktunya ayah harus kembali ke atas sana, sayang."


"A-aku ikut," ucap Nada kecil terbata-bata karena menangis.


"Belum waktunya. Kau harus kembali sekarang. Kau bahagia bersama ayah?"


"Te-tentu saja ..." ucap Nada lirih.


"Ayah dan ibu akan datang ke dalam mimpimu. Ingat pesan ayah, kau harus tetap kuat. Lakukan seperti apa yang ayah sampaikan tadi jika kau merindukan ibu dan ayah ...."


"Satu lagi, jangan pernah menyimpan dendam di dalam hatimu karena Tuhan sangat membenci itu. Kau mengerti?"


"A-aku mengerti."


"Sekarang kau harus kembali. Lihat ..." tunjuk Mikael pada seorang bocah lelaki yang terlihat tengah berlari ke sana kemari seperti mencari sesuatu, "dia telah mencarimu sejak tadi, pergilah bersamanya," ucap Mikael sambil tersenyum ke arah bocah lelaki yang terlihat sangat khawatir itu.


"Kak Vio?" tanya Nada kecil.


"Ya, Vio ... kakak tampanmu. Pergilah, hem? Ayah akan terus memperhatikanmu dari atas sana."


Cup


Nada yang masih belum mengerti akan ucapan ayahnya akhirnya menuruti permintaan lelaki itu.


Perlahan, badan mungil Nada berjalan ke arah bocah tampan yang sedang berteriak memanggil namanya. Sesekali, Nada akan menoleh ke belakang dan mendapati ayahnya menganggukkan kepala dan mengangkat tangan yang terkepal memberi semangat.


Semakin lama, langkah Nada semakin dekat dengan bocah lelaki yang ia panggil Vio hingga bola mata keduanya saling berbenturan.


"CHERRY!!!!!!!" teriak Vio lantang sambil berlari ke arah Nada lalu memeluk tubuh Nada dengan sangat erat. Tubuh Vio bergetar karena sangat takut Nada meninggalkan dirinya.


Aku belum terlambat. Batin Vio lega.


"A-ayo kita pulang, hem?" ajak Vio pada Nada yang tersenyum cantik.


"Ya, Kak Vio. Mari kita pulang."


****


... "Sadarlah bahwa Tuhan mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga. Bangkit. Hidup tak akan menunggu."...

__ADS_1


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...


__ADS_2